
8 bulan berlalu, kini Agung sedang bersiap menghadiri pernikahan kakak kandungnya.
Harusnya kamu ada disini sayang, bertiga bersama aku dan anak kita. Tapi mungkin ALLAH sedang menjauhkan kita lagi seperti 16 tahun yang lalu. Semoga kita bisa bersama lagi. Aamiin. Ucap dan doa Agung.
"Sudah siap ?" Tanya Melati.
"Sudah." Jawab Agung.
"Ayo." Ajak Melati.
"Ya." Jawab Agung.
Tak terasa mereka sampai di gedung.
"Pi, Mi maaf aku telat." Ucap Agung sambil takzim.
"Enggak apa-apa sayang." Jawab mereka.
Acara pun nampaknya mau dimulai. Ruangan yang tadinya riuh, kini nampak sepi. Dan acara pun dimulai.
Mawar Seroja, aku yakin kita pasti ketemu disini lagi. Ucap Agung lirih sambil mencium cincin di jari manisnya.
"Gung, mami harap kamu bisa ikhlasin Mawar ya dan lanjutin hidup kamu." Ucap Ratih.
"Hmm." Jawab Agung.
"Hmm te-." Ucap Ratih terhenti karena tanpa sengaja netranya melihat wajah menantunya.
"Kenapa mi ?" Tanya Agung.
"Itu tadi kaya mendiang istrimu." Jawab Ratih.
Agung lalu melihat ke samping, dan menatap sekeliling.
"Aamiin." Jawab Agung lirih.
"Kok aamiin? " Tanya Ratih.
"Ya berarti Mawar hidup di hati mami." Jawab Agung lalu tersenyum.
"Alhamdulillah, walau hanya sebentar dia sudah membuat warna di kehidupan putra mami." Ucap Ratih.
"Aamiin." Jawab Agung.
Dan benar saja, wajah yang mirip Mawar memang ada disana. Sambil menggendong bayi yang wajahnya persis Agung.
"Alamak can, itu bayi kok mirip adiknya Marfel ya ?" Tanya teman Marfel.
"Omedong iya." Jawab teman yang lain.
"Buruan foto." Ucap teman Marfel.
"Iya sabar napa sih." Jawab Dito.
Sementara saat mau mulai ijab qobul, manager Marfel datang dan berbisik.
"Maaf bos, ini apakah istri dan anak adik bos? " Tanya Ridwan manager Marfel.
"Masyaallah ya." Jawab Marfel lirih.
Tak lama sang manager pun berlalu.
Sedangkan Mawar yang belum tahu bahwa ini acara keluarga suaminya nampak fokus kerja sambil gendong putranya.
"Sea." Panggil temannya.
"Ya." Jawab Mawar.
"Sudah mulai foto." Ucap Mia.
"Ok." Jawab Mawar sambil menggendong putranya yang kini masih berusia 4 bulan.
Mawar pun mulai beranjak dan menghampiri pengantin.
"Maaf mas dan mbaknya mohon berdiri dulu." Ucap Mawar.
__ADS_1
Mereka pun langsung berdiri, dan ketika pengantin pria itu menghadap ke arah Mawar.
Mawar yang pangling dengan kakak iparnya belum tahu, bahwa ini acara kakak iparnya.
"Maaf mas tangannya ditaruh di bahu istrinya." Ucap Mawar.
Marfel pun pura-pura tidak paham. Sementara Agung nampak menatap tajam dengan potografer itu.
Kenapa aku merasa itu Mawar ya ? Tanya Agung dalam hati.
"Maaf ya, tangannya disini mas." Ucap Mawar.
""Nah gitu." Ucap Mawar lalu kembali turun sambil menatap putranya.
"Bentar ya ibu kerja dulu." Ucap Mawar.
"Gendut banget ya bu putranya." Ucap tamu undangan.
"Alhamdulillah iya bu." Jawab Mawar sambil tersenyum.
Sementara Agung kini, masih duduk di tempat. Mawar aku rindu kamu. Ucapnya dalam hati.
Lagi-lagi Marfel berusaha untuk memberi tahu Agung, namun belum berhasil. Hingga terbesit di fikiran dia untuk pura-pura sakit.
"Oke siap ya satu-." Ucap Mawar terhenti karena Marfel tiba-tiba pingsan.
Reflek Agung dan yang lain naik ke tempat Marfel.
"Mbak, tolong kasih minyak mbak suaminya." Ucap Mawar.
"Iya mbak." Jawab Nadin.
"Aduh, baru juga sesi pertama sudah pingsan." Ucap Reza.
"Sudah yuk pindah ke kursi." Ucap Agung yang belum sadar sang fotografer adalah istrinya.
"Ya." Jawab mereka.
"Mbak makasih ya minyaknya." Ucap Nadin.
"Ih lucu banget sih anaknya, namanya siapa mbak ?" Ucap dan tanyanya.
"Agung Widiatmoko." Jawab Mawar.
Spontan Agung langsung menatap bayi itu dan Mawar.
Nampak anak itu sangat senang. Dan tertawa lebar.
Sementara Mawar nampak tersenyum sambil mengambil foto para tamu undangan.
"Sedangkan Agung langsung memeluk Mawar.
Spontan Mawar menatap Agung. Enggak aku enggak boleh ngaku bahwa aku Mawar. Aku enggak mau suamiku terluka, biar aku yang terluka asal dia bahagia. Ucapnya dalam hati.
"Kamu Mawar kan ?" Tanya Agung.
"Maaf anda salah orang saya Sea." Jawab Mawar.
"Ya Mawar Seroja." Ucap Agung.
"Ini putra kita kan ?" Tanya Agung.
"Bukan, maaf saya ijin sebentar. " Jawab Mawar.
Tak ingin kehilangan lagi, Agung lalu mengejar Mawar. Sementara keluarganya hanya melihat dari kejauhan.
"Mi, cucu kita mi." Ucap Papi.
"Iya pi." Jawab Ratih sambil menangis.
"Mawar tunggu." Ucap Agung.
"Maaf pak, saya bukan Mawar. Bapak salah orang." Ucap Mawar lalu beranjak pergi.
"Baiklah maaf, mungkin aku salah orang. Biar aku nyusul Mawarku." Jawab Agung lalu beranjak pergi.
__ADS_1
Ya ALLAH haruskah aku mengakuinya, tapi jika mengaku aku takut nyawanya dalam bahaya." Ucap Mawar lirih.
"Yayah." Panggil Agung kecil menghentikan langkah Agung.
Deg.
"Yayah." Panggil Agung lagi sambil menangis.
Melihat itu Mawar menjadi dilema, dan doa memutuskan untuk mengejar Agung.
"Tunggu." Ucap Mawar dengan berlari.
"Yayah." Panggil Agung kecil sambil mengangkat kedua tangan mungilnya minta di gendong.
Sampai di dekatnya, Mawar lalu memeluk tubuh Agung dan menangis.
Putranya juga ikut menarik jas Ayahnya.
"Maafin aku." Ucap Mawar.
"Iya, kenapa kamu sembunyi ?" Tanya Agung.
"Aku takut kamu dicelakai mereka."Jawab Mawar.
Cup
Cup
Cup
Kecup Agung diseluruh wajah Mawar dan putranya.
"Ya sudah yuk kembali." Ucap Agung.
"Iya." Jawab Mawar.
"Sini ayah gendong anak ayah." Ucap Agung sambil mengambil alih Agung kecil.
"Alhamdulillah." Jawab mereka semua.
"Mawar lalu takzim dengan seluruh anggota keluarga besar suaminya.
"Ternyata ada kisah nyatanya juga ya. Terpisah dan bertemu lagi." Ucap mereka.
"Aamiin." Jawab Agung bahagia.
Sementara Mawar kembali bekerja, namun langsung di cegah oleh Agung. Dan digantikan dengan fotografer lain.
"Ih Gendut banget cucuku." Ucap Ratih lalu mengambil alih gendongan cucunya.
Dan mereka pun saling berebut menggendong Agung kecil. Beruntung Agung tidak rewel, tapi malah tertawa.
Mawar yang ingin menyusul putranya, langsung di cegah suaminya.
"Mas." Ucap Mawar.
"Kesini dulu." Jawab Agung lalu menarik pinggang Mawar.
"Kamu hutang penjelasan sama aku." Ucap Agung lirih sambil mencium bibir Mawar.
"Ya nanti akan aku jelaskan." Jawab Mawar lalu menundukkan wajahnya.
"Kenapa ?" Tanya Agung seraya menarik dagunya.
"Aku malu." Ucap Mawar.
"Malu kenapa ?" Tanya Agung.
"Malu pas melahirkan putra kita, aku hampir dilecehkan. Beruntung ada Asyifa membantu proses lahiran aku." Ucap Mawar.
"Asyifa keponakan aku ?" Tanya Agung.
"Enggak tahu, yang pasti kami bertemu di jalan menuju puskesmas terdekat. Tapi belum sampai ke tempat putra kita sudah lounching di mobil Asyifa." Jawab Mawar dengan malu-malu.
"Alhamdulillah." Ucap Agung sambil menangis.
__ADS_1