Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 65


__ADS_3

"Gimana sekarang ?" Tanya Arya.


"Alhamdulillah sudah mulai berubah." Jawab Agung.


"Berarti dia sudah terbuka lewat kamu." Ucap Arya.


"Aku hanya perantara ko, sisanya doa dia yang diijabah ALLAH. Dan ALLAH membantunya." Jawab Agung bijak.


"Ya. Padahal dulu kamu enggak suka lihat dia." Ucap Arya.


"Qodarullah ko, aku hanya umatnya." Jawab Agung.


"Ya ya ya." Jawab Arya, lalu pindah ke kerjaannya.


Sementara Ratih kini masih terbayang akan kelakuan putranya. Ih Agung kok bisa sih kaya gitu. Pantes sekarang tubuhnya sedikit berisi, minum itu ih. Merinding aku, menantuku juga kok ya pasrah saja. Ucapnya dalam hati.


"Mi." Panggil suaminya.


"Hmm." Jawab Ratih.


"Mikirin apa ?" Tanya suaminya.


"Mikirin kamu tuh, dah jarang ajak aku liburan." Jawab Ratih seraya berlalu.


Mulai deh. Ucap papi Agung.


Di rumah Agung, kini Mawar dan putranya nampak terlelap karena semalam Mawar kurang istirahat.


Sedangkan Sari, baru selesai membersihkan halaman depan rumah.


"Sari." Panggil seseorang.


"Sari lalu naik ke atas gerbang untuk melihat siapa yang datang.


"Etdah den Akbar, kirain siapa." Ucap Sari lalu membuka gerbang.


"Iya, kakak ipar ada ?" Tanya Akbar.


"Ada den, tapi maaf sedang tidur. Karena tuan tadi berangkat kerjanya subuh." Jawab Sari lirih.


"Oh, ya sudah aku masuk dulu saja." Ucap Akbar.


"Mobilnya enggak di masukin den ?" Tanya Sari.


"Enggak usah, tapi gerbangnya jangan lupa di kunci." Jawab dan ucapnya.


"Iya den." Ucap Sari.


Akbar pun lalu masuk ke dalam rumahnya abang keponakan itu. Hmm Cipung tidur juga pasti ni. Enggak terasa bentar lagi dia 6 bulan. Ucap Akbar lirih.


Hingga tepat jam 10 pagi, Cipung terbangun dan tersenyum memandang ibunya yang masih tidur.


"Hmm, ao mamam." Celoteh Agung kecil.


Netra Mawar langsung terbuka, kalau mendengar suara celoteh putranya.


Eh sayangnya ibu sudah bangun ya. Maaf ya sayang ibu ketiduran. Ucap Mawar, lalu beranjak bangun untuk cuci muka bersama anaknya.


Bangun tidur, cuci muka dulu sayang. Ucap Mawar. Tak lupa ia memakai hijabnya lagi.


Yuk, keluar dulu yuk. Bentar lagi ayahmu pulang. Ucap Mawar sambil melangkah keluar.


Ceklek.


Bunyi knop pintu kamar terbuka, membuat Akbar langsung mengalihkan pandangan ke kamar kakak keponakannya itu.


"Assalamualaikum, kak." Salam Akbar.


"Waalaikumsalam, om." Jawab Mawar.


"Salim dulu sama om." Ucap Mawar seraya mengajari putranya salim.


"Tercipung-cipungku, sini om sudah rindu berat sama kamu." Ucap Akbar sambil menggendong Agung kecil.


Sedangkan Agung kecil malah tertawa karena Akbar.


"Sudah lama ?" Tanya Mawar.


"Baru 2 jam kak." Jawab Akbar.


"Astagfirullahhallazim, maaf ya." Ucap Mawar.


"Santai saja kak, aku nunggu Cipung ini." Jawab Akbar dusta.


"Mau minum apa ?" Tanya Mawar.


"Enggak usah repot-repot kak, aku kesini cuma rindu Cipungku ini." Jawab Akbar.


"Hmm." Jawab Mawar.

__ADS_1


"Kak, boleh tanya enggak kak ?" Tanya Akbar.


"Boleh." Jawab Mawar.


"Kak, Mia itu sudah menikah belum sih kak ?" Tanya Akbar.


"Belum, dia masih fokus kerja. Memangnya ada apa ?" Tanya Mawar.


"Enggak apa-apa cuma tanya saja, kalau pacar kak ?" Tanya Akbar lagi.


"Enggak punya, dia itu fanatik om. Jadi daripada pacaran mending langsung ta'arufan." Ucap Mawar.


"Oh begitu ya." Jawab Akbar.


"Iya, memangnya kamu suka sama dia ?" Tanya Mawar.


"Enggak kak, aku lihat hasil fotonya bagus. Mau aku ajak kerjasama." Ucap Akbar.


"Oh, yang itu sudah ku sampaikan sama Mia, Mia setuju. Asal tidak mengganggu dengan job panggilan dia." Jawab Mawar.


"Alhamdulillah." Jawab Akbar.


"Iya." Jawab Mawar.


"Baba." Panggil Agung kecil.


"Apa Cipung." Jawab Akbar.


"Om Akbar sayang." Ucap Mawar.


Tak berselang lama Agung pulang.


"Assalamualaikum." Salam Agung.


"Waalaikumsalam, mas." Jawab Mawar lalu takzim dan tersenyum.


"Bar, tumben kesini ?" Tanya Agung lalu menemui keponakannya.


"Iya bang, soal yang dua minggu lalu itu." Jawab Akbar.


"Oh itu." Ucap Agung.


"Diminum dulu mas." Ucap Mawar.


"Iya sayang makasih ya." Jawab Agung seraya minum teh hangatnya.


"Bang, gimana kerjaan kamu ?" Tanya Akbar.


"Alhamdulillah lancar." Jawab Agung sambil tersenyum menatap wajah istri dan anaknya.


"Syukurlah, aku fikir dulu kamu akan diberhentikan. Karena enggak fokus kerja." Ucap Akbar.


"Amit-amit jabang bayi nauzubillahminzalik, jangan sampailah aku sudah nyaman disana." Jawab Agung.


"Dulu bang, pas kamu enggak mau kerja. Sibuk urus kak Mawar." Ucap Akbar.


"Hampir sih, beruntungnya Mawar enggak kabur lagi." Jawab Agung.


"Memangnya aku kabur kemana ?" Tanya Mawar lirih.


"Mau resain dari rumah abang." Jawab Agung.


"Oh." Jawab Mawar.


"Kak, kok bisa mau sama abangku ini ?" Tanya Akbar.


"Hadeh, itu biar jadi rahasia kami." Jawab Mawar yang kini sudah mulai merubah diri.


"Yah, padahal aku sudah penasaran banget." Jawab Akbar.


Sedangkan Agung hanya tersenyum dan menyimak.


"Maaf Bar, biar itu menjadi kenangan kami saja." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Ya juga sih, enggak baik diumbar." Ucap Akbar.


"Ya sudah bang, aku pamit dulu. Mau ketemu Mia. Kak pamit dulu ya, makasih sudah disampaikan kepada Mia." Ucap dan pamit Akbar.


"Ya sama-sama." Jawab mereka.


"Semoga kalian berjodoh ya." Ucap Agung sambil tertawa.


"Ck, Aamiin." Jawab Akbar.


Sepeninggal Akbar, Mawar lalu menutup gerbang dan menguncinya.


Sedangkan Agung langsung masuk kamar, ganti baju dan ibadah.


"Sayang." Panggil Mawar.

__ADS_1


"Mamam." Celoteh Agung kecil.


"Minum." Jawab Mawar.


"Hmmm." Ucap Agung kecil.


"Makasih ya bik." Ucap Mawar pada Artnya, yang tepat ngobrol sama Akbar dan suaminya tadi. Lalu ia titipkan kepada Sari.


"Sama-sama non." Jawab Sari.


"Yuk sholat dulu yuk nak yuk." Ajak Mawar.


Mawar lalu menggendong Agung, dan membawanya untuk berwudhu. Selesai Wudhu, mereka keluar dan Agung di dudukkan di kursi bayi. Sementara Mawar memakai mukenanya.


Selesai sholat, Mawar lalu mengaji. Agung kecil nampak begitu anteng. Sedangkan suaminya makan siang di meja makan.


"Alhamdulillah." Ucap Agung lalu kembali ke kamarnya.


"Masyaallah dingin banget ayah lihat kamu anteng dibacain ayat suci alquran sayang." Ucap Agung lirih.


Alhamdulillah hirobbil allaamiin. Ucap Mawar.


Agung kecil nampak senang dan tersenyum.


"Sudah ngantuk lagi nih ?" Tanya Mawar.


"Hiks..hiks..." Jawab Agung kecil.


"Aduh-aduh, sabar sayang." Ucap Agung.


"Bentar ya, ibu lipat dulu mukena dan sajadahnya." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Hmmm." Ucap Agung kecil.


"Iya sayang." Jawab Mawar.


Selesai melipat, mereka langsung tidur di tempat tidur.


"Baca doa dulu dong nak." Ucap Mawar lirih.


"Bismillahirrohmannirohim bissmikolloh humma ahya wabis mikka amud. Aamiin. Ucap Mawar barulah memberi asinya.


"Kamu ini sudah tahu anaknya nangis minta minum, malah di suruh doa." Ucap Agung lirih.


Mawar diam tanpa mau menjawab.


Setelah Agung kecil terlelap, barulah Mawar menjelaskan.


"Mas, pernah dengar enggak, bahwa saat kita di beri amanah yang susah itu bukan merawat, namun mendidik." Ucap Mawar.


"Ya tahu, tapi dia tadi menangis, kamu malah asik baca." Ucap Agung kesal.


"Sekarang aku tanya sama kamu, kamu pengen anakmu sholeh enggak ?" Tanya Mawar.


"Ah tahu ah, semua orang tua menginginkan anak sholeh. Gitu saja ditanyakan." Jawab Agung ketus.


Mendengar suara suaminya yang menjawab dengan ketus, Mawar terdiam dan memeluknya.


"Astagfirullahhallazim." Ucap Mawar lirih sambil mengelus lembut dada suaminya.


"Minggir." Ucap Agung.


"Ya." Jawab Mawar lalu pindah ke sofa.


"Kemana ?" Tanya Agung.


"Tidur, ngantuk." Jawab Mawar sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


"Balik ke tempat tidur." Ucap Agung.


"Tadi katanya suruh minggir." Jawab Mawar.


"Ck, jangan membantah." Ucap Agung.


"Iya." Jawab Mawar lalu pindah lagi ke tempat tidurnya.


"Aku enggak bisa tidur, sebelum minum ini." Ucap Agung.


"Makanya jangan marah-marah saja." Ucap Mawar.


"Maaf." Jawab Agung lalu minum milik anaknya.


Tak lama dia juga istrinya tertidur.


Tak jauh beda dengan sang adik, kini Marfel pun juga tengah membuat debay. Namun sayang belum juga hamil.


"Mas, apa aku enggak di percaya ya ?" Tanya Nadin.


"Shht, jangan bilang begitu." Jawab Marfel.

__ADS_1


__ADS_2