
"Makasih dok." Jawab Agung lalu tersenyum.
"Sama-sama, jaga istrinya ya pak. Jangan sampai kejadian kemarin terulang." Ucap Widi.
"Insyaa ALLAH dok." Jawab Agung.
Sepeninggal dokter itu, Agung tersenyum dan lalu mengirim pesan ke Rani agar tidak kuatir.
("Tante, alhamdulillah istriku tidak apa-apa. Dia hanya kecapean." Tulis pesan Agung.)
Sementara Rani masih menunggu di rumah Agung, sambil menunggu balasan pesan dari keponakannya. Tak lama ada pesan masuk, gegas Rani membukanya.
"Alhamdulillah Sar, nona kamu tidak apa-apa." Ucap Rani lega.
"Alhamdulillah nyonya. Tapi wajahnya pucat banget ya nya ?" Jawab dan tanya Sari.
"Namanya juga kecapean Sar, tahu sendiri Didi aktifnya kaya apa. Belum lagi keponakan aku yang selalu mengganggu. Dan di tambah acara kemarin." Jawab Rani.
"Iya juga ya nya, apalagi nona selalu bangun sepertiga malam habis itu tidak tidur, kalau den Didi belum tidur." Jawab Sari.
"Lah emang Didi kalau malam tidur jam berapa ?" Tanya Rani.
"Jam 8 malam nya, cuma kemarin nangis keras banget. Sampai kedengeran di kamar saya." Jawab Sari.
"Jam berapa ?" Tanya Rani penasaran.
"Jam 12 malam nyonya." Jawab Sari sambil melirik ke arah Sri palsu.
"Kamu enggak tidur Sar, sampai Didi nangis kamu kedengeran ?" Tanya Rani lagi.
"Tidur nya, kan kebangun nya. Masa iya denger anak majikan nangis kenceng enggak bangun." Jawab Sari.
"Oh ya juga sih." Ucap Rani.
Sedangkan Sri hanya menyimak tanpa ikut berkomentar.
"Sri, tumben diem ?" Tanya Sari.
"Terus aku harus ikut nimbrung kamu gitu, sory ya enggak level." Jawab Sri palsu.
Rani yang mendengar itu hanya diam, enggak mau berdebat dengan orang itu.
Sementara di RS, Mawar sudah bangun.
"Mas, kita dimana ?" Tanya Mawar lirih.
"Alhamdulillah sudah bangun sayang, kita di RS. Tadi kamu pingsan sayang." Jawab Agung lalu tersenyum.
"Maaf mas, sudah merepotkan kamu." Ucap Mawar.
"Shht, itu sudah jadi tugas aku." Jawab Agung lirih.
"Ya sudah yuk balik." Ajak Agung lagi.
"Ya." Jawab Mawar.
Sampai di parkiran RS, Agung membuka pintu mobil untuk istrinya terlebih dulu. Dan barulah dirinya.
"Makasih mas." Ucap Mawar.
"Sama-sama bidadariku." Jawab Agung.
Tak lupa dia pun membayar uang parkir.
"Ke arah mana pak ?" Tanya bapak itu.
"Ke kanan pak." Jawab Agung.
"Ok, ayo pak terus." Ucapnya memberi aba-aba.
Selesai itu, Agung memberinya uang 100 ribu pada pak parkir itu lalu melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Senang banget kamu mas, habis menang lotre ya ?" Tanya Mawar.
"Lebih dari itu sayang." Jawab Agung dengan tersenyum.
"Terus apa ?" Tanya Mawar.
Agung lalu menepikan mobilnya dan berkata.
"Makasih hadiah terindah yang kini sedang kau kandung." Jawab Agung lirih.
Mendengar itu Mawar langsung memeluk suaminya dan menangis bahagia.
"Maksud kamu, aku hamil mas ?" Tanya Mawar seraya terisak.
"Iya." Jawab Agung.
"Alhamdulillah." Ucap Mawar senang.
"Wasyukurillah." Jawab Agung.
"Berapa minggu mas ?" Tanya Mawar sambil mengelus lembut perutnya.
"3 bulan." Jawab Agung.
"Serius ?" Tanya Mawar.
"Ya, kata dokter tadi begitu ay. Pas aku tanya, kok sampai selama itu baru ketahuan ? Dokter menjawab, karena kehamilan yang sekarang belum begitu jelas. Antara hamil dan enggak. Jadi harus diperkuat dengan vitamin." Jawab Agung jujur.
"Oh begitu ya." Jawab Mawar.
"Ya." Jawab Agung lalu kembali menyalakan mesin mobilnya dan pulang ke rumah.
Tak lama mereka pun sampai, sayangnya Mawar tertidur di mobil. Alhasil Agung membuka gerbang sendiri.
"Tuan, kok enggak membunyikan klakson ?" Tanya Sari.
"Nona sedang tidur." Jawab Agung.
Sedangkan Agung langsung memasukkan mobil, dan mematikan mesin mobilnya lalu keluar membopong Mawar.
"Lah, masih tidur ?" Tanya Rani.
"Sudah bangun tan, tapi tidur lagi." Jawab Agung seraya tersenyum.
Rani yang sudah hafal dengan raut wajah keponakannya, langsung mengikuti mereka ke kamar dan menutup pintu kamar.
"Ada kabar baik ni sepertinya ?" Tanya Rani.
"Maaf tante aku tadi enggak langsung bilang, karena aku trauma kejadian kemarin." Jawab Agung.
"Ya nak, tante paham itu. Istrimu hamil ?" Ucap dan tanyanya.
"Alhamdulillah ya tan, tapi tolong rahasiakan ini dulu." Jawab Agung lirih.
"Ya Gung." Jawab Rani.
Mereka pun langsung keluar, dan kembali diskusi lagi. Sekarang tambah kedatangan Reza. Ya sengaja Rani memanggil Reza, untuk membawa serta Sri palsu.
Tin...Tin...
Bunyi klakson mobil diluar, membuat Sari langsung bergegas keluar.
"Siapa ?" Tanya Sari.
"Aku." Jawab Reza.
"Hmm, gentong." Jawab Sari lirih.
"Biji salak, aku dengar ya." Ucap Reza.
"Hehe mangap tuan." Jawab Sari sambil tersenyum.
__ADS_1
Reza langsung masuk, membawa teman perempuannya.
"Ehem. Is cose me, assalamualaikum." Ucap Reza.
"Waalaikumsalam." Jawab Agung lalu menghampiri Reza.
"Masuk Za, Cie siapa lagi ni ?" Ajak dan tanyanya.
"Biasa bang, eh ck kenalkan dia ini em calon ipar abang. Nak tolong doaken ye bang." Jawab Reza.
"Alhamdulillah, pasti Za." Jawab Agung sambil tersenyum.
Sedangkan perempuan itu langsung mencubit perut buncit Reza.
"Akhyang jangan keras dong atit nih." Ucap Reza.
"Ayang kepala kau tu yang p*yang." Jawab perempuan itu dengan galak.
"Aje gile garang sangat dia." Ucap Reza.
Mereka lalu duduk dan Sari pun sudah menyediakan minuman untuk mereka.
"Silahkan di minum tuan, nyonya dan Mbaknya." Ucap Sari ramah lalu melangkah pergi.
"Makasih." Jawab mereka bersama.
"Langsung ke pokoknya saja ya, jadi sementara waktu kamu ikut Reza dulu mbak. Kalau ikut tante, kamu tadi sudah menolak, makanya aku panggil Reza." Ucap Agung langsung to the poin.
"Dengan alasan apa saya pindah tuan ?" Tanya Sri palsu.
Bukan Agung yang menjawab, namun teman Reza yang bernama Mega.
"Dalam rangka merawat anak kecil yang baik dan benar." Jawab Mega.
"Aku tidak Tanya kamu." Ucap Sri palsu.
"Aku menjelaskan dengan tuan Agung." Jawab Mega.
Yang terkenal keras dan galak, jika dibantah dialah yang bisa menggugurkan bantahannya.
"Mau kamu apa sih ?" Tanya Sri palsu.
"Aku mau kamu." Jawab Mega.
"Ya anda ayo bawa aku." Tantang Sri.
"Ayo." Jawab Mega.
Mereka pun langsung berlalu. Dan tak lama Rani juga berlalu, kini Agung mengetuk pintu kamar tamu.
Tok...Tok...
Ceklek.
Pintu dibuka oleh Sri yang asli.
"Keluarlah, dan itu putraku sudah bangun. Berikan dia makan, karena ini jam makan siang." Ucap Agung.
"Baik tuan." Jawab Sri lalu mendekati Didi.
"Assalamualaikum adek." Salam Sri ramah dan lembut.
"Alam, amu sapa ?" Tanya Didi.
"Saya pengasuh adek yang baru." Jawab Sri jujur.
"Oh." Jawab Didi.
"Makan siang dulu yuk." Ajak Sri.
"Ayo." Jawab Didi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, semoga yang ini beneran tulus." Ucap Agung penuh rasa syukur.