
"Sayang bertahanlah, Akbar cepatlah." Ucap Agung keras.
"Iya bang." Jawab Akbar sambil sesekali menatap mereka.
Darah segar yang merembes di gamis Mawar, membuat Akbar langsung mempercepat laju mobilnya.
Tak lama mereka sampai di RS.
"Suster tolong istri saya dan calon anak saya." Ucap Agung sambil menangis.
"Iya pak." Jawab suster itu dengan ramah.
Mawar pun langsung di masukkan ke UGD, untuk diperiksa.
Sedangkan di luar Agung nampak lemas, terduduk di lantai dengan menangis. Melihat itu Akbar langsung mendekati Agung dan menguatkan Agung.
"Sabar bang." Ucap Akbar lalu memeluk Agung.
"Calon anak dan istriku Bar." Jawab Agung lalu menangis dalam pelukan Akbar.
"Iya bang sabar." Ucap Akbar.
Tanpa mereka tahu, Marfel melihat kesedihan sang adik. Dia lalu mendekati Agung untuk minta maaf. Dan menunjukkan rekaman cctv di kamarnya.
Agung pun menerimanya dan melihatnya. Betapa terkejutnya dia, saat tahu Vika lah yang membuat istrinya celaka.
"Karena kecerobohan aku yang tidak menutup jendela kamar, membuat Vika bisa masuk." Ucap Marfel.
"Bang ini semua sudah takdir, jangan menyalahkan dirimu sendiri." Ucap Akbar.
Sedangkan Agung nampak terdiam. Tak lama dokter pun keluar dari ruangan UGD.
"Gimana dok ?" Tanya mereka bersama.
"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, untung langsung cepat di bawa di sini, telat 5 menit calon anak dan ibunya tak akan selamat." Jawab dokter itu.
"Alhamdulillah." Jawab mereka.
"Dok, kalau boleh tahu istri saya kenapa bisa banyak mengeluarkan darah dok ?" Tanya Agung.
"Ya darah itu keluar, kemungkinan sang ibu terjatuh saat lantai kamar basah atau memang sengaja dijatuhkan seseorang. Dan satu lagi pak, jaga istrinya jangan sampai istrinya meminum pil penggugur kandungan. Karena efeknya sangat bahaya." Jawab Dokter itu.
"Penggugur kandungan ?" Tanya mereka bersama.
..."Ya, tapi saya heran, obat itu masih menempel di atas lidahnya." Jawab dokter itu....
Mendengar hal itu mereka bertiga menganggukkan kepala. Dan dokter itu pun langsung pamit. Sepeninggal dokter itu, mereka bertiga saling pandang, karena tak ingin terjadi kesalahan yang sama, Akbar dan Marfel langsung meninggalkan RS.
Sedangkan Agung langsung masuk ke dalam ruangan UGD.
Cup.
Cup.
Cup
Cup
Agung mengecup kening,pipi, bibir dan tangan Mawar. Maafin aku sayang. Ucap Agung lirih dan ikut tertidur di samping Mawar.
Dan kini, Akbar mengepung rumah Vika.
"Halo jagoan om." Ucap Akbar pada putra.
"Assalamualaikum kali om." Jawab putra Agung.
"Oh iya maaf, assalamualaikum tampan." Ucap Akbar.
"Waalaikumsalam om." Jawab Putra.
"Mama kamu kemana ?" Tanya Akbar.
"Ada di kamar om." Jawab Putra.
"Bisa tolong panggilkan ?" Tanya Akbar.
"Om masuk saja, Putra enggak mau lihat mama." Jawab Putra lalu keluar.
"Pakdhe, sudah lama ?" Tanya Putra.
"Belum sayang." Jawab Marfel.
"Ada apa dhe, tumben malam-malam kesini ?" Tanya Putra.
__ADS_1
Marfel pun langsung menjelaskan semuanya pada putra tanpa ada yang di tutupi, dan juga menunjukkan cctv di kamar tidurnya.
Melihat itu Putra langsung mengucapkan istighfar sebanyak mungkin.
"Astagfirullahhallazim." Ucap Marfel juga.
"Terus keadaan ibu sambungku gimana dhe ?" Tanya Putra.
"Alhamdulillah sudah membaik." Jawab Marfel dusta.
Putra pun langsung menghubungi Agung, namun langsung di cegah oleh Marfel.
"Jangan telfon dulu, ayahmu sedang tidur." Ucap Marfel.
Meninggalkan mereka berdua, kini Akbar sudah ada di kamar Vika.
"Enak ya tidurnya." Ucap Akbar.
"Astaga, Akbar kamu ngapain di sini ?" Tanya Vika.
"Aku kesini minta tanggung jawab kamu, yang sudah mencelakai ipar ku di rumah abang Marfel." Jawab Akbar.
"A-Aku enggak melakukan apapun." Jawab Vika penuh takut.
"Oh ya, tapi cctv berkata lain." Jawab Akbar.
"Ehem, Bar kita bisa nego kan ?" Tanya Vika tanpa rasa malu.
Astagfirullahhallazim, nauzubillahminzalik, jadi ini yang buat Putra jijik melihat mamanya ? Tanya Akbar dalam hati.
"Oke bisa diatur sayang." Jawab Akbar lalu memanggil anak buahnya.
"Leo." Panggil Akbar.
"Ya bos." Jawab Leo.
"Nikmati dia secara gratis." Ucap Akbar.
"Bar, bukan dia tapi kamu yang ku mau." Jawab Vika.
Namun Akbar hanya terdiam seraya merekam mereka.
Kembali di RS, kini Mawar mulai membuka matanya.
Merasakan sentuhan tangan seseorang, Agung lalu membuka matanya.
"Sayang." Panggil Agung lirih.
"Kita dimana ?" Tanya Mawar lirih.
Cup.
"Kita di RS sayang." Jawab Agung lalu menekan tombol merah dan mencium bibir istrinya.
"Ada apa denganku ?" Tanya Mawar.
Belum sempat menjawab, dokter pun sudah datang.
"Alhamdulillah, ibu sudah sadar. Apa yang ibu rasakan saat ini ?" Tanya dokter itu.
"Enggak ada dok." Jawab Mawar jujur.
"Alhamdulillah." Jawab dokter itu.
"Gimana dok ?" Tanya Agung.
"Alhamdulillah pak, hari ini ibu boleh pulang. Tapi harus tetap di pantau ya pak." Ucap dokter itu.
"Baik dok. Tapi kalau buat hubungan boleh enggak dok ?" Tanya Agung.
"Untuk sebulan ini, jangan dulu ya pak. Soalnya bisa membahayakan mereka." Jawab dokter itu.
"Iya." Jawab Agung.
Melihat hal itu Mawar langsung menguatkan suaminya.
Tak lama mereka pun langsung membayar administrasi dan langsung kembali ke hotel lagi.
"Mas." Panggil Mawar.
"Hmm." Jawab Agung lalu memeluk Mawar dari belakang.
"Maafin aku ya." Ucap Mawar.
__ADS_1
"Kamu enggak salah sayang." Jawab Agung.
Mawar pun hanya terdiam, dan tak lama taxi pun lewat. Mereka langsung masuk.
"Ke hotel yang pak." Ucap Agung.
"Baik pak." Jawab sopir itu.
Sepanjang perjalanan Agung memeluk tubuh Mawar dengan penuh rasa sayang. Dan Mawar pun hanya terdiam.
Hingga akhirnya mereka pun sampai di hotel.
"Sayang." Panggil Agung.
"Ya mas." Jawab Mawar.
"Kamu enggak lapar ?" Tanya Agung.
"Belum, masih suamiku lapar ya ?" Tanya Mawar sambil tersenyum.
"Iya Ay." Jawab Agung.
"Ya sudah, pesan makan saja mas." Jawab Mawar.
"Ya sayangku." Jawab Agung.
Tak lama pesanan pun datang, dan Agung pun langsung menyantap makanan itu.
Barulah dia menyusul Mawar tidur.
"Sudah ?" Tanya Mawar.
"Sudah." Jawab Agung.
Mawar pun langsung merubah posisi menghadap ke arah suaminya.
"Makasih ya untuk semuanya." Ucap Mawar tulus.
"Iya sayangku." Jawab Agung.
"Mas." Panggil Mawar lagi.
"Hmm." Jawab Agung.
"Aku takut di tinggal sendiri." Ucap Mawar.
"Aku enggak akan kemana-mana sayang." Jawab Agung yang sudah tahu arah pembicaraan istrinya.
"Aku takut kamu tinggal kerja, terus ada yang datang dan men-." Ucap Mawar terhenti, karena Agung langsung mencium bibir Mawar.
"Sudah ya, disini ada aku. Di rumah nanti akan banyak penjaga dan pembantu." Jawab Agung.
"Hmm." Jawab Mawar.
"Aku ada di sini bersama kamu." Ucap Agung lirih.
"Ya." Jawab Mawar sambil tersenyum dan menatap wajah Agung.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
"Enggak nyangka akhirnya aku bisa bersamamu." Jawab Mawar.
"Aamiin sayang." Jawab Agung.
"Aamiin ya ALLAH." Jawab Mawar juga.
"Besok kita pulang mas ?" Tanya Mawar lagi.
"Iya sayang." Jawab Agung sambil menatap wajah Mawar.
Melihat hal itu, tangan Mawar menyentuh rambut Agung.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
"Dari awal bertemu, ingin menyentuh rambutmu. Dan alhamdulillah sekarang sudah terwujud." Jawab Mawar lirih.
"Hmm, yakin hanya itu saja ?" Tanya Agung.
"Enggak." Jawab Mawar jujur.
"Terus apalagi ?" Tanya Agung.
"Keseluruhan yang kamu punya." Jawab Mawar.
__ADS_1