
Kini acara pun berganti, pengantin baru kini sedang duduk di kursi pelaminan. Sementara Agung kecil asik sendiri dengan mainannya sambil di gendong ayahnya.
"Mawar." Panggil Oma Agung.
"Ya nek." Jawab Mawar.
"Nenek mau tanya, kenapa kamu tega bohongi kami ?" Tanya nenek.
"Maafin Mawar nek, Mawar terpaksa melakukan ini. Karena Mawar enggak mau nyawa suami Mawar dalam bahaya." Jawab Mawar lirih.
"Halah alasan, bilang saja biar dicari." Ucap nenek.
Mendengar itu Mawar kembali menjawab.
"Jika nenek enggak percaya, enggak apa-apa kok nek. Mawar paham, yang penting Mawar tidak bohong. Cukup ALLAH saksinya." Jawab Mawar dengan sopan.
"Enggak perlu bawa-bawa nama ALLAH, kalau sikap kamu masih sama dengan yang lalu. Buruk." Jawab nenek dengan nada tak suka.
"Astagfirullahhallazim, kalau penilaian nenek begitu tolong bantu cucu menantumu ini nek. Biar saya bisa berubah lebih baik lagi." Jawab Mawar bijak.
Nenek hanya memandang Mawar sekilas, lalu pergi meninggalkan Mawar. Tanpa mereka tahu keluarga besar suaminya mengamati mereka.
"Mama ih, kenapa sih masih Tanya begitu ?" Tanya Ratih.
"Jadi kalian ngupil ?" Tanya Risa nenek Agung.
""Nguping ma." Jawab Ratih.
"Nah itu." Ucap Risa.
Sedangkan di sini Mawar nampak merenung atas apa yang ia perbuat. Hingga tangan kecil putranya menyenggol kepalanya.
"Sayang." Panggil Mawar dengan tersenyum.
"Mam...mama..." Jawab Agung kecil sambil tersenyum.
"Mikirin ucapan nenek ?" Tanya Agung lirih.
"Iya mas." Jawab Mawar.
"Enggak perlu kamu risaukan." Ucap Agung.
"Insyaa ALLAH." Jawab Mawar.
"Ingat, ada anak yang butuh kita." Ucap Agung lirih dan mengecup bibir Mawar.
"Mas, malu dilihat Agung dan orang." Jawab Mawar.
"Biarin, aku sedang bahagia karena ALLAH mengabulkan doaku."Ucap Agung lirih.
Agung kecil nampak tertegun memandang orang tuanya yang bergelayut manja.
"Sayang." Panggil Agung.
"Hmm." Jawab Mawar.
"Perasaan anak kita baru 4 bulan, kok bisa sebut yayah ya ?" Tanya Agung.
"Wallahualam mas, mungkin ini semua anugerah dari ALLAH." Jawab Mawar.
"Aamiin." Jawab Agung lalu tersenyum ke mereka.
Anak dan istrinya pun juga membalas tersenyum. Dan kini acara sesi foto lagi, tapi dengan keluarga dulu. Tak terasa Agung dan keluarga kecilnya maju ke depan.
"Masnya di dekat pengantin pria ya." Ucap Mia.
"Sea, kamu di dekat Mbaknya." Ucap Mia lagi.
Di tempat duduk Akbar menatap Agung yang nampak kurang setuju. Akhirnya dia mengajak Reva foto bersama.
"Tunggu." Ucap Akbar.
"Ya mas." Jawab Mia.
"Saya ikut foto juga, tapi sama adik saya." Ucap Akbar.
"Oh ya silahkan." Jawab Mia.
Kini Agung pindah posisi dan tersenyum bersebelahan dengan istrinya.
"Ok, satu, dua, tiga."Ucap Mia seraya memoto mereka.
__ADS_1
"Sekali lagi ya." Ucap Mia lagi.
Tanpa Mawar tahu, Agung memberi isyarat fotografernya. Beruntung Mia langsung paham. Dan dalam hitungan ke 3 Agung lalu mencium Pipi Mawar.
Membuat para tamu undangan dan keluarga besarnya tertawa.
"Cie serasa pengantin baru nih yee." Goda mereka semua.
Nenek pun ikut tertawa.
"Mam, kok nangis ?" Tanya Ratih dan Rani.
"Gimana enggak nangis, cucuku tidak salah pilih istri. Dan kini sekali bertemu langsung ada cicit. Yang sifatnya persis Agung." Jawab Risa.
"Aamiin mam, terus kenapa tadi mama marah ?" Tanya Ratih.
"Mama hanya ingin tahu, apa benar dia mencintai cucuku dengan tulus atau karena tampan dan hartanya saja. Ternyata dia beneran tulus. Dia rela meninggalkan Agung, hanya demi menyelamatkan nyawa Agung.
Padahal jika dipikir, mereka saling melengkapi. Tapi demi menyelamatkan nyawa suaminya dia rela berpisah dengannya. Makanya mama merasa bersyukur dititipi cucu menantu seperti dia." Ucap Risa panjang lebar.
"Aamiin ya ALLAH." Jawab mereka bersama.
Kembali di acara, kini mereka sudah selesai berfoto, Mawar lalu menyalami kedua pengantin itu dan memberi selamat.
"Mbak, selamat ya semoga sehidup semati dan sesurga bersama." Ucap Mawar.
"Makasih Mawar." Jawab Nadin.
"Sama-sama mbak." Ucap Mawar dengan tersenyum.
"Bang, selamat ya." Ucap Mawar singkat.
"Makasih." Jawab Marfel lalu mencium keponakannya itu yang kini sedang tersenyum ke arahnya.
"Sama-sama." Jawab Marfel.
"Mbak, selamat ya." Ucap Agung sambil tersenyum.
"Iya." Jawab Nadin malu.
"Bang selamat ya." Ucap Agung.
"Ya." Jawab Marfel lalu memeluk adiknya.
"Ya makasih." Jawab Marfel.
"Yoi." Jawab mereka lagi.
Sesampai di tempat duduk, Agung kecil rewel karena mengantuk.
"Ngantuk ya sayang." Ucap Mawar lirih sambil mengambil penutup tubuhnya.
"Mau apa ?" Tanya Agung.
"Mau kasih asi dulu." Jawab Mawar.
Dan akhirnya Agung kecil minum, dengan diintip ayahnya.
"Dia ngantuk yah." Ucap Mawar.
"Iya." Jawab Agung lalu tertawa.
Tak lama Agung kecil tertidur lelap.
Sudah tidur ?" Tanya Agung.
"Sudah." Jawab Mawar.
"Alhamdulillah." Ucap Agung.
Agung langsung menatap wajah putranya yang sangat persis dengan dirinya.
"Kenapa ?" Tanya Mawar.
"Hasil cetakanku." Jawab Agung lirih.
"Emangnya bata." Ucap Mawar.
"Kan benar sayang, hasil dari bikinan aku." Jawab Agung.
"Ya lah." Ucap Mawar.
__ADS_1
Ratih yang melihat cucunya tertidur, langsung memesan stroler atau kereta dorong bayi.
Tak lama pesanan datang, dia lalu membawa pesanan itu dan menyuruh Mawar untuk menidurkan putranya ke kereta dorong.
"Alhamdulillah, makasih mi." Ucap Mawar.
"Sama-sama sayang, biar Agung kecil sama mami saja. Dan Agung besar bersama kamu." Jawab Ratih.
Mendengar itu mereka bertiga tertawa.
"Mami." Ucap Agung sambil tersenyum.
Sepeninggal mami dan putranya, mereka hanya duduk berdua. Agung pun menaruh dagunya di pundak istrinya.
"Mas sakit." Ucap Mawar.
"Maaf." Jawab Agung.
"Ay, jangan pergi lagi dengan alasan apapun." Ucap Agung lirih.
"Insyaa ALLAH." Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Aku benar-benar tulus sayang sama kamu." Ucap Agung.
"Aamiin." Jawab Mawar.
Sesi pemotretan pun berjalan lancar, kini mereka berdua ganti baju.
"Capek." Keluh Marfel sembari duduk.
Mendengar itu cepat-cepat Nadin ambil minum dan memberikan kepada Marfel.
"Makasih." Ucap Marfel.
"Ya." Jawab Nadin.
Sementara di dalam gedung, nampak mereka yang datang tengah makan.
Akbar, Linda, Arsyil, Asyifa dan Reza kini juga sedang makan sambil menatap kereta dorong bayi yang berisi putranya Agung.
"Persis banget ya dengan Bang Agung." Ucap trio cowok itu.
"Ya lah, kalau enggak persis nanti dituduh bukan anaknya." Jawab duo cewek.
Sementara para mami dan papi dan nenek sedang asik ngobrol sama rekan-rekannya.
"Btw, gimana nih acara nanti ?" Tanya Syifa.
"Ya nunggu sampai kelar." Jawab mereka berempat.
"Itu si Cipung juga sampai malam ?" Tanya Syifa.
"Enggaklah, kasian kena angin malam nanti." Jawab Ratih tiba-tiba.
"Budhe, makan bude." Ucap mereka berlima.
"Ya silahkan." Jawab Ratih sambil membuka kereta dorong cucunya.
"Eh bangun ya." Ucap Ratih terkejut.
Begitu pun dengan Agung, namun Agung tidak menangis. Dia malah tertawa.
"Cipung." Panggil mereka.
Mendengar namanya diganti, Agung pun langsung meringis.
"Kenapa nih ?" Tanya Linda.
"Enggak tahu tu, enggak mau mungkin di panggil dengan Cipung." Jawab Akbar seraya mencium Agung.
"Baba...Baba.." Ucap Agung kecil.
"Ahahai, baba pas banget sama nama kamu bang." Ucap mereka bersama.
"Iya." Jawab Akbar.
Tak jauh dari sang putra, kini ayah dan ibu itu nampak makan bersama. Namun Mawar segera mengambil tisu.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
"Asiku penuh." Jawab Mawar.
__ADS_1
Mendengar itu Agung yang mengira putranya masih tidur, langsung membawa Mawar keluar gedung dan menuju ke parkiran.