Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Part 71


__ADS_3

Pagi harinya Mawar nampak di datangi dokternya. Lalu di periksa.


"Gimana dok ?" Tanya Agung.


"Alhamdulillah, hari ini boleh pulang." Jawab Widi.


"Alhamdulillah, terus luka lengannya dok ?" Tanya Agung.


"Seminggu lagi bawa kesini, saya mau lihat hasil jahitannya." Jawab Widi lalu pamit.


Sepeninggal dokter itu, Akbar, Mida, Mawar dan Agung semobil lagi. Sedangkan Arsyil dan Linda sudah kembali kerja.


Selesai bayar dan tebus obat mereka langsung pulang. Dalam perjalanan menuju parkiran, Mawar nampak menggenggam tangan Agung dengan erat.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Pusing mas." Jawab Mawar.


Mendengar itu Agung langsung membopong Mawar hingga sampai ke parkiran.


"Ay." Panggil Agung.


"Kenapa ?" Tanya Akbar.


"Dia tadi bilang pusing." Ucap Agung.


"Mungkin dia tidur." Jawab Akbar.


"Mungkin." Jawab Agung.


Mida langsung menatap Mawar dengan tersenyum dan berkata.


"Kalian ini sedang di jahilin Mawar, tuh lihat dia tersenyum sendiri." Ucap Mida.


Mereka lalu menatap Mawar dan tak berapa lama Mawar membuka netranya lalu sembunyi di ceruk lehernya Agung.


"Hais kena prank kita." Ucap Agung dan Akbar bersama.


"Aku pusing beneran mas." Jawab Mawar sambil menatap wajah Agung.


"Iya aku percaya, tidurlah.


"Ya." Jawab Mawar.


Hening.


Hingga Akbar memecah keheningan itu.


"Tidur bang ?" Tanya Akbar.


"Ya." Jawab Agung sambil tersenyum.


"Semoga tidak terjadi apa-apa lagi dengan mereka bang. Aamiin." Ucap dan doa Akbar.


"Aamiin." Jawab Agung dan Mida.


"Mia kamu ikut kami enggak apa-apa kan ?" Tanya Akbar.


"Enggak apa-apa, aku juga masih belum tega tinggalin Mawar." Jawab Mida lalu menatap wajah sahabatnya itu yang nampak pucat pasi.


Agung hanya menyimak obrolan mereka sembari menatap wajah istrinya yang masih pucat.


Hingga hal tak terduga terjadi dan membuat Akbar berhenti tepat di masjid.


"Astagfirullahhallazim." Ucap Agung sambil mengangkat badan istrinya. Yang nampak mimisan.


Spontan Akbar dan Mida langsung menatap mereka.


"ALLAH Akbar." Jawab mereka berdua.


"Alhamdulillah kita tepat di masjid, kita bersihin dulu kakak ipar bang." Ucap Akbar.


"Ya." Jawab Agung dengan suara parau menahan nangis,namun bulir-bulir air mata tak bisa ia bendung lagi.


"Sabar bang, akan ada hikmah terindah yang nanti abang dapatkan." Ucap Akbar setelah selesai membersihkan darah Mawar.


"Insyaa ALLAH, tapi jika dia tiada sekarang. Aku akan minta kepada ALLAH untuk memanggilku juga beserta Agung kecil." Jawab Agung.


"Astagfirullahhallazim, jangan begitu bang, tak baik bicara begitu." Ucap Akbar.


"Itu janji kami." Jawab Agung lalu memeluk tubuh Mawar.


Masyaallah, begitu tulus cintamu bang, hingga kamu minta hal demikian." Ucap Akbar lirih.

__ADS_1


Mida yang mendengar pun bersyukur karena di dunia ini baru ia temui 1 lelaki yang cintanya begitu tulus kepada pasangannya.


"Kenapa ?" Tanya Akbar.


"Aku bahagia, Mawar mendapatkan lelaki yang tepat. Padahal Mawar terkenal buruk di mata semua orang, namun ALLAH mempertemukan dia dengan lelaki yang bisa merubah hidupnya." Jawab Mida.


"Alhamdulillah." Jawab Akbar.


Tak lama Mawar terbangun karena air mata Agung menetes tepat di pipinya.


"Jangan tangisi aku." Ucap Mawar lirih seraya mengusap air mata Agung.


"Aku takut kamu meninggalkan aku." Jawab Agung.


"Shht, aku enggak akan tinggalkan kamu mas." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Makasih." Ucap Agung langsung memeluk Mawar.


"Sudah ya jangan menangis lagi." Ucap Mawar.


"Iya sayang, asal kamu selalu ada untukku." Jawab Agung.


"Iya mas. " Jawab Mawar.


"Alhamdulillah sudah terbangun." Ucap Mida dan Akbar.


"Laper." Jawab Mawar sambil mengusap perutnya.


"Yuk makan." Ajak Agung dan Mida.


"Ayo." Jawab Mawar.


Mereka pun langsung naik mobil dan berangkat ke restoran terdekat.


"Mau makan apa kak ?" Tanya Akbar.


"Makan seafod." Jawab Mawar.


"Oke." Jawab Akbar.


Tak lama mereka pun sampai di restoran. Mawar pun keluar lebih dulu bersama Mida.


"Sea, pelan-pelan napa." Ucap Mia.


Sementara Agung dan Akbar mengikuti mereka dari belakang.


"Dasar perempuan kalau laper langsung buru-buru turun." Ucap Akbar sambil tersenyum.


"Dia enggak biasanya begitu, mungkin karena ingin menutupi sakitnya." Jawab Agung yang merasa Mawar sedang menyembunyikan luka.


"Huznuzdon bang, jangan buruk sangka. Mungkin kakak ipar sedang lapar." Ucap Akbar menetralkan suasana.


"Bar, walau baru 2 setengah tahun aku sudah mengenalnya." Jawab Agung.


"Iya bang, udah yuk makan." Ucap Akbar.


"Ya." Jawab Agung.


Sampai di sana, nampak Mawar ingin ke kamar mandi.


"Ehem, aku izin ke toilet bentar ya." Ucap Mawar.


"Ya." Jawab mereka.


Tak lama Agung pun menyusul Mawar ke toilet.


"Mas." Panggil Mawar.


"Sudah selesai ?" Tanya Agung.


"Sudah." Jawab Mawar.


"Yuk." Ajak Agung.


"Ya." Jawab Mawar sambil memeluk tubuh suaminya dari belakang dan berjalan.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Bajuku basah, karena asinya tadi penuh." Jawab Mawar lirih.


Agung lalu melepas jaketnya dan memakaikan jaketnya pada Mawar.


"Sudah, yuk." Ajak Agung.

__ADS_1


"Ya." Jawab Mawar lalu bergelayut manja di lengan Agung.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Kangen kamu." Jawab Mawar.


Mendengar itu Agung langsung tersenyum dan memeluk pinggang Mawar.


"Aje gile, mesra amat." Goda Mida.


"Aamiin." Jawab mereka berdua.


Mereka lalu duduk dan makan. Selesai makan, mereka lalu mencuci tangan dan bergegas kembali.


"Sea, besok aku libur. Gimana kalau kita jalan ?" Tanya Mida.


"Boleh enggak mas ?" Tanya Mawar.


"Enggak." Jawab Agung.


"Duh, maaf Mida suamiku enggak ngizinin." Ucap Mawar.


"Huff resiko punya teman yang udah merit." Jawab Mida pura-pura kecewa.


Sedangkan Agung dan Akbar hanya tersenyum dan bergumam.


Pantes abang Agung begitu tulus, dianya nurut. Gumam Akbar.


Alhamdulillah ya ALLAH, Engkau beri aku kemudahan dalam membimbing istriku. Gumam Agung lirih.


"Maaf ya." Ucap Mawar.


"Iya." Jawab Mida.


Hening...


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Enggak apa-apa." Jawab Mawar lalu mencium kening Agung.


"Bang, besok kamu sudah kerja ya ?" Tanya Akbar.


"Sudah." Jawab Agung seraya menatap Mawar yang sedang asik main gawainya.


"Kirain belum, kalau belum aku pengen ngajakin kalian ke rumah Mia." Ucap Akbar.


"Mau ngapain ?" Tanya Mida.


"Melamar kamu, mumpung ibumu masih di sini." Jawab Akbar to the poin.


"Alhamdulillah." Ucap Mawar.


"Ish Sea, kok alhamdulillah sih ?" Tanya Mida.


"Kan kabar baik supermi." Jawab Mawar lalu meletakkan gawainya dan mendekati Mida.


Agung menggelengkan kepala dengan tingkah istrinya.


"Aku belum siap bang, rumah saja masih ngontrak." Jawab Akbar.


"Kan baru lamaran Mia." Ucap mereka bersama.


"Ya tetap saja aku belum bisa." Jawab Mida.


"Istiqoroh dulu Mia." Saran Mawar.


"Sudah." Jawab Mida.


"Tetap lakukan sampai ALLAH menjawab Istiqoroh kamu." Ucap Mawar lagi. Lalu di tarik suaminya.


"Mas, aku masih ngobrol." Ucap Mawar.


"Disini saja." Jawab Agung.


"Ya." Jawab Mawar.


Tak lama Mida buka suara. Aku sejak ketemu abang, aku sudah Istiqoroh, tahajud dan berdoa. Dan jawabannya aku nyaman sama kamu bang." Jawab Mida lirih.


Mendengar itu Mawar lalu mengucap syukur begitu pun dengan Agung dan Akbar.


"Ya sudah nanti aku ke rumah kamu ya." Jawab Akbar.


"Ya tapi aku bukan anak orang kaya." Jawab Mida.

__ADS_1


"Aku juga bukan." Ucap Mawar lirih.


__ADS_2