Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Datang Lagi


__ADS_3

"Tumben pagi-pagi sudah berangkat ?" Tanya Marfel mengalihkan pembicaraan mereka.


"Iya bang, mau daftar nikah dulu." Jawab Agung sambil tersenyum.


"Oh." Jawab Marfel.


"Ay, aku berangkat dulu ya. Doakan aku agar bisa secepatnya memiliki kamu." Ucap Agung sambil tersenyum.


"Hmm." Jawab Mawar penuh malu-malu.


"Pelit amat jawabnya ?" Tanya Agung lirih.


"Terus harus gimana ?" Tanya Mawar.


"Ya hubbyku sayang." Jawab Agung seraya tertawa.


"Ck, apaan sih lebay banget." Ucap Mawar lirih.


"Ya sudah, aku pamit dulu ya. Assalamualaikum istriku." Jawab Agung.


"Iya hati-hati mas. Waalaikumsalam." Ucap Mawar.


"Bang aku berangkat dulu." Ucap Agung lirih.


"Ya." Jawab Marfel sambil mengunyah makan.


Mawar pun langsung mengikuti suaminya keluar.


"Eh sayang, kamu kenapa ikut ?" Tanya Agung lirih yang baru sadar Mawar mengikutinya dari belakang.


"Enggak boleh ya, nganter suamiku sampai ke depan ?" Tanya Mawar balik.


"Ih co cweet banget sih kamu, makin wiu-wiu deh aku sama kamu." Jawab Agung sambil tersenyum.


"Ck, wiu-wiu terus ambulans kali by." Ucap Mawar seraya takzim.


"Hmm, ya sudah nanti dilanjutkan lagi obrolan kita. Ingat jangan nakal dirumah, kamu sudah punya aku." Ucap Agung menasehati dan mengecup bibir Mawar.


"Ck, emangnya aku anak kecil. Ya sudah hati di jalan. Ingat juga sumehnya dikurangi kalau lihat perempuan lain." Ucap Mawar balik menasehati sang suami juga.


"Hahaha, ya sayang. Senyumku memang untuk semua tapi percayalah di setiap doaku, langkahku dan dimanapun aku, hanya kamu prioritas utama aku." Jawab Agung lalu menyalakan motornya.


"Assalamualaikum." Salam Agung.


"Waalaikumsalam." Jawab Mawar.


Setelah sudah tidak terlihat, Mawar pun masuk ke dalam rumah.


"Sudah berangkat ?" Tanya Marfel.


"Sudah bang." Jawab Mawar.


"Ya sudah, aku juga mau siap-siap berangkat dulu. Satu lagi, jika ada tamu dan di rumah sepi, jangan kamu bukakan pintu." Ucap Marfel.


"Iya bang." Jawab Mawar.


Selesai memberi nasehat untuk Mawar, Marfel langsung ke ruang kerjanya. Dan Mawar kembali membersihkan meja makan.


Tok....Tok...Tok...


"Ya, siapa ?" Tanya Mawar.


"Aku Vika, bukain pintunya." Jawab Vika.


"Sebentar." Jawab Mawar, lalu mengetuk pintu kerja Marfel.


Tok...Tok...Tok..


"Ya." Jawab Marfel.


"Di luar ada Vika Bang." Ucap Mawar.


"Oh ya." Jawab Marfel lalu berlalu.

__ADS_1


Sampai di depan pintu, Marfel langsung keluar dan menutup rumahnya.


"Ck, lama banget sih bukanya ?" Tanya Vika.


"Mau apa kamu ?" Tanya Marfel.


"Pantes bukanya lama, ada iparnya. Takut ketahuan selingkuh ya, jadi pintu rumah ditutup." Jawab Vika asal.


"To the poin saja." Ucap Marfel.


"Ok, aku mau ketemu Agung." Ucap Vika.


"Dia keluar, mau daftar nikah." Jawab Marfel.


"Haha, jangan ngaco kamu." Ucap Vika.


"Aku enggak ngaco, ya sudah aku ke dalam dulu." Jawab Marfel.


"Ck, katanya kalau gagal enggak akan nikah, tapi nyatanya ketemu batu kerikil langsung merit." Ucap Vika.


"Batu kerikil lebih berharga sekarang dibanding emas permata, yang ucapannya menusuk hati dan jiwa. Pria mana yang bakal tahan dengan perempuan yang gila harta dan kekuasaan, enggak akan ada yang tahan." Jawab Marfel.


"Apa maksudmu ?" Tanya Vika.


"Instropeksi dirimu sendiri, kenapa adikku memilih menikah dengan orang yang dicintainya dulu." Jawab Marfel seraya berlalu.


Ih, kurang ajar banget dia, mentang-mentang kaya sesuka hati berkata begitu. Ucap Vika kesal.


Di dalam Marfel kini menghubungi Daniel, untuk menjaga rumahnya. Karena firasat Marfel, Vika akan datang lagi.


Sementara Agung yang baru selesai daftar nikah, sudah harus langsung ke rumah konsumen untuk menagih hutang.


"Happy banget ?" Tanya Dion, teman sekerja Agung.


"Alhamdulillah." Jawab Agung dengan tersenyum senang.


"Habis menang lotre ya ?" Tanya Dion.


"Haha, lebih dari itu." Jawab Agung.


"Enak aja, ini cukup aku yang jaga." Jawab Agung.


"Haha, ya maaf." Jawab Dion.


"Hmm." Ucapnya.


Sesampai di rumah konsumen, mereka lalu turun.


"Ck, pintunya kenapa tertutup terus ya ?" Tanya Dion kesal.


"Mungkin sibuk." Jawab Agung.


Mereka pun langsung mengetuk pintu, dan tak lama pintu pun terbuka.


"Etdah mbak, kalau mau buka pake baju dulu kenapa ?" Tanya Dion.


"Maaf mas, kirain pacar saya. Tunggu bentar ya." Jawab gadis itu lalu masuk ke dalam.


"Ngapain ketawa ?" Tanya Dion.


"Etdah, enggak boleh gitu ketawa, ada larangannya gitu ?" Tanya Agung.


"Enggak ada, kamu ngapain disitu ?" Tanya Dion.


Agung lalu mendekati Dion.


"Karena aku tahu, gadis tadi selalu menggunakan handuk saja setiap kali aku datang." Jawab Agung lirih.


"Wadidaw jadi itu cewek suka begitu terus ?" Tanya Dion.


"Ya." Jawab Agung.


"Ck, benar-benar nyebelin." Ucap Dion kesal.

__ADS_1


Tak lama pintu terbuka, dan gadis itu memakai pakaian ketatnya.


"ALLAH ya Qarim, mbak bapaknya ada ?" Tanya Dion tanpa menatap.


"Ada mas, mari silahkan masuk." Ucap gadis itu yang terus menatap Agung.


"Ya mbak, mbak jangan liatin teman saya terus, dia sudah punya istri." Ucap Dion yang sedari tadi menatap mata gadis itu.


"Oh maaf." Jawab gadis itu.


"Heran aku sama orang tadi, suka gitu ngumbar aurat." Ucap Dion menahan kesal.


"Hmm." Jawab Agung sambil menatap layar hpnya.


"Hp terus." Ucap Dion.


"Haha, ya maaf kangen istriku." Jawab Agung dengan tersenyum.


Tak lama bapak pemilik rumah datang.


"Maaf mas, nunggu kelamaan ya ?" Tanya bapak itu ramah.


"Enggak apa-apa pak." Jawab Dion.


"Ini mas, angsuran saya." Ucap bapak itu.


Agung lalu mengeluarkan filenya. Dan meminta bapak itu, untuk tanda tangan.


"Masih berapa kali mas ?" Tanya bapak itu, yang menatap wajah Agung.


"Masih 25 kali lagi pak." Jawab Agung.


"Wah, masih lama ya." Ucap bapak itu.


"Hmm." Jawab Agung.


"Ya sudah pak, kami pamit dulu." Ucap mereka.


"Oh ya mas." Jawab bapak itu.


Sampai di luar, mereka langsung naik motor dan kembali lagi ke kantor.


"Kenapa kamu ?" Tanya Agung.


"Ck, pacar aku minta dilamar." Ucap Dion lirih.


"Ya lamarlah." Jawab Agung.


"Orang tua kami belum setuju, karena usia kami masih muda." Jawab Dion.


"Di, melamar tu enggak harus langsung nikah." Ucap Agung.


"Ya tapi mereka belum srek saja." Jawab Dion.


"Sabar, libatkan ALLAH." Ucap Agung.


"Ck, dasar gunung Agung, gue kristen bukan Islam." Jawab Dion kesal.


"Haha, maaf lupa." Jawab Agung.


"Kebanyakan makan d*b** ayam tu jadinya lupa." Ucap Dion langsung tertawa.


"Sembarangan kamu." Jawab Agung.


Sampai di kantor, mereka langsung melanjutkan kerja lagi.


Tak terasa waktu pun berganti, mereka lalu siap-siap pulang.


"Hai Gung, selamat ya dengar-dengar kamu mau menikah ?" Tanya Vidi.


"Ya Vi, doakan moga lancar ya." Jawab Agung lalu tertawa.


"Pasti dong, moga yang ini hingga maut memisahkan. Aamiin." Ucap dan doa Vidi.

__ADS_1


"Aamiin." Jawab Agung.


__ADS_2