Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 55


__ADS_3

"Yayah." Panggil Agung kecil dengan tersenyum.


"Apa sayang." Jawab Agung.


"Mamam." Celoteh Agung kecil lagi.


"Sudah." Jawab Agung.


"Lanjut jalan atau ngobrol dulu ni ?" Tanya Mawar lirih.


Membuat ayah dan anak saling memandang lama dan tanpa berkedip.


Cup.


Cup


Melihat itu Mawar lalu mengecup pipi mereka secara bergantian.


"Aku malu dilihatin gitu, apalagi sama suami dan putraku." Ucap Mawar lirih dengan tersenyum malu-malu.


"Ini yang aku bikin aku enggak betah ninggalin kamu lama-lama. Dilihat sebentar langsung malu." Ucap Agung sambil tersenyum.


Begitu juga dengan Agung kecil. Dia ikut tersenyum.


"Ayo pulang." Ajak Mawar.


"Kita belanja dulu, stok makanan dan lain-lain habis." Jawab Agung.


"Ya." Jawab Mawar tanpa berani menolak.


Sampai di superindo, mereka lalu turun.


"Mas, kok disini ?" Tanya Mawar.


"Ya sayang, disini banyak ikan lautnya dan aneka sayuran yang bagus buat ibu menyusui. Aku enggak mau Pihoku kekurangan gizi nantinya." Jawab Agung.


"Oh." Jawab Mawar.


"Yuk." Ajak Agung dengan tersenyum dan menggenggam tangan Mawar seraya menggendong putranya.


"Tapi di sini kan mahal mas, boros nanti." Ucap Mawar.


"Enggak sayang, cukup kok." Jawab Agung.


"Hemm, ya sudah deh nurut saja." Ucap Mawar lirih.


"Harus dong. Kalau enggak mau nurut nanti aku minta 7 ronde." Ucap Agung sambil tersenyum.


"ALLAH Akbar. Enggak tidur lagi nanti ?" Ucap dan tanyanya.


"Bercanda sayang." Jawab Agung lalu tertawa karena melihat wajah Mawar dan mendengar jawaban Mawar.


"Mulai deh jahilnya." Ucap Mawar lirih.


"Maaf." Ucap Agung lalu mengambil keranjang belanja.


Sementara Mawar hanya ikuti suaminya tanpa berani mengambil.


"Ay." Panggil Agung.


"Hmm." Jawab Mawar sambil menatap wajah Agung kecil yang ternyata tertidur.


"Kalau mau ambillah yang kamu suka." Ucap Agung.


"Aku gantiin gendong anak kita saja, dia tidur." Jawab Mawar lirih.


Namun langsung di cegah oleh suaminya.


"Enggak usah, biarkan begini dulu. Aku ingin merasakan lelahnya menggendong putra kita. Seperti kamu dulu." Ucap Agung lirih.


"Ya sudah sini aku bawain keranjangnya." Ucap Mawar.


"Enggak usah, kamu cukup begini saja." Jawab Agung lalu menarik pinggang Mawar dan mencium pipi Mawar.


"Mas, ih malu kali." Ucap Mawar lirih.


"Kita sudah resmi sayang, enggak perlu malu. Dan ini juga bukti bahwa aku hanya menginginkan kamu sebagai istriku." Jawab Agung.


"Aamiin. Ya sudah selesaiin belanjanya, aku sudah ngantuk." Ucap Mawar.


"Ya." Jawab Agung.


Tak lama mereka selesai belanja dan kini sedang antri di depan kasir. Tangan Mawar selalu digenggam erat oleh Agung. Sampai jadi pusat perhatian mereka yang di sana. Terutama Putra, anak Agung dari pernikahan yang sebelumnya.


"Papa." Panggil Putra.


"Putra, kamu sama siapa ?" Tanya Agung.

__ADS_1


"Sendiri pa. Oya pa, Putra besok ada acara di sekolah. Papa bisa datang enggak ?" Tanya Putra.


"Insyaa ALLAH sayang." Jawab Agung lalu tersenyum.


Sedangkan Mawar hanya menyimak tanpa mau ikut campur urusan mereka.


"Kalau enggak bisa, enggak apa-apa pa. Aku kan hanya anak broken home." Ucap Putra lirih.


Mendengar itu Agung langsung menatap Putra. Sementara Mawar yang melihat tatapan suaminya begitu, langsung menengahi.


"Nak maaf ya, bukan tante mau ikut campur. Lebih baik Putra tunggu di mobil papa." Ucap Mawar lirih sambil tersenyum.


"Ck, sok polos." Jawab Putra lalu pergi.


"Putra." Panggil Agung sedikit meninggi.


"Mas, sabar." Ucap Mawar lirih seraya mengelus lembut lengan tangan suaminya. Beruntung Agung kecil tidak bangun.


Selesai antri, kini giliran mereka. Mawar pun mengeluarkan semua barang belanjanya. Barulah di hitung.


"Total belanjanya 1500000 rupiah mbak." Ucap mbak kasir itu.


"Ini mbak." Jawab Agung lalu menyerahkan atmnya.


Selesai membayar, Agung dan Mawar kembali ke mobil. Untuk pulang ke rumah. Namun ternyata ada Vika yang nampak menunggu Agung.


"Mas, Vika menunggu kamu tu." Ucap Mawar lirih.


"Ya aku tahu." Jawab Agung.


"Dia gendong anak siapa ?" Tanya Mawar.


"Anaknya dia." Jawab Agung.


"Alhamdulillah dia sudah menikah lagi, semoga yang ini bisa sesurga bersama. Aamiin." Ucap dan doa tulus Mawar.


"Aamiin." Jawab Agung lalu tersenyum dan menarik pinggang Mawar supaya mendekat.


"Gung, aku minta uang." Ucap Vika, setelah mereka bertiga tepat di depan mobilnya.


"Buat Putra enggak apa-apa mbak, tapi kalau buat kamu. Maaf aku sebagai istrinya sangat keberatan." Ucap Mawar.


Mungkin Mawar sudah gemas dengan tingkah Vika, oleh karena itu dia langsung berani bicara.


"Ck, sombong. Makan sisaku saja masih bisa sombong." Jawab Vika.


"Bukan sombong, tapi lebih tepatnya sudah gerah karena terus kamu ganggu." Jawab Ratih mantan mertua Vika.


Tanpa mereka tahu Putra masih di sana.


"Kasian papamu dan istrinya, terus-menerus di ganggu mamamu. Dengan dalih untuk biaya sekolah dan hidup kamu. Tapi nyatanya untuk beli keperluannya." Ucap wali kelas Putra.


"Iya pak, makanya tadi saya coba minta sendiri. Tapi bapak lihat sendirikan, Papa lebih mentingin istri dan anaknya sekarang. Apalagi anaknya yang sekarang wajahnya persis papa, beda dengan aku." Ucap Putra.


"Jangan asal menilai, kalau kamu belum mengenalnya." Jawab gurunya itu.


"Tapi kenyataannya begitu." Ucap Putra.


"Kamu cemburu dengan sikap papamu saja." Ucap gurunya.


"Coba dekati mereka, terutama istrinya. Pak guru yakin, nanti istrinya bela kamu kalau papamu marah." Ucapnya.


"Mana ada." Jawab Putra.


"Sana buktikan." Jawab gurunya itu.


"Sementara di tempat parkiran, Vika masih disana.


"Kenapa Vik ?" Tanya Ratih.


"Enggak apa-apa mi, Putra butuh bayar sekolah." Jawab Vika.


"Putra atau mama yang butuh uang ?" Tanya Putra tiba-tiba membuat Vika mati kutu tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


"Mas, selesaiin urusan kamu dulu, aku bawa anakku disana. Dia enggak boleh tahu atau mendengar masalah orang dewasa." Ucap Mawar lirih sambil meminta putranya.


"Ini anak kita, bukan anakmu saja." Jawab Agung.


"Mi, mami kesini sama siapa ?" Tanya Agung tiba-tiba.


"Sama sopir." Jawab Ratih.


"Aku titip putraku ke sopir mami dulu bisa ?" Tanya Agung.


"Bisa." Jawab Ratih.


"Mas, biar aku saja." Ucap Mawar.

__ADS_1


"Kamu ikut aku !" Titah Agung dengan nada meninggi 1 oktaf. Membuat Mawar langsung menunduk.


"Bu, titip anak saya ya." Ucap Agung.


"Ya mas, ini yang kemarin itu ya." Jawab ibu itu.


Yang tak lain sopir pribadi Ratih dari sejak Ratih kuliah dulu.


"Makasih ya bu." Jawab Agung.


"Ya." Jawab ibu itu.


Sampai di tempat, Vika sudah tidak ada. Kini tinggal Putra di sana bersama Ratih.


"Vika mana mi ?" Tanya Agung.


"Dijemput suaminya." Jawab Ratih.


"Mawar, mami harap kamu terbiasa dan jangan terpengaruh atau pun terpancing dengan ucapan Vika. Dan kamu Agung, kamu harus bisa jaga perasaan 3 orang yang kamu sayang terutama ke dua putramu." Ucap Ratih.


"Insyaa ALLAH mi." Jawab Mawar dan Agung bersama.


"Dan kamu Putra, jangan selalu menyalahkan pasangan papamu. Karena dia tidak menau tentang kamu dan masalah kedua orang tua kamu." Ucap Ratih menasehati cucunya.


"Iya nek." Jawab Putra.


"Putra mau apa nak ?" Tanya Mawar mencoba ambil hati anak sambungnya dan mengalihkan pembicaraan. Karena ini masih diarea tempat umum.


"Putra besok malam, ada perkemahan di sekolah. Papa dan ibu mau kan ke acara Putra ?" Ucap dan tanyanya.


"Jam berapa sayang ?" Tanya Mawar sambil tersenyum lega. Mendengar anak sambungnya mau menerima dan menyebutnya dengan ibu.


"Jam 7 bu." Jawab Putra dengan penuh harap.


"Insyaa ALLAH bisa." Jawab Mawar seraya tersenyum.


"Yeay,akhirnya." Jawab Putra dengan senang. Hingga langsung mencium pipi ibu sambungnya dan memeluk tubuh ibunya dengan erat.


Agung nampak mengernyitkan keningnya, karena melihat Mawar di cium Putra.


"Makasih, ternyata ibu benar-benar baik." Ucap Putra.


"Aamiin, makasih sayang." Jawab Mawar.


Sedangkan Ratih dan Agung hanya menyimak dan ikut tersenyum. Walau jujur Agung ingin menegur anaknya itu.


"Ya sudah, sekarang Putra pulang. Terus besok kita ketemu lagi. Tapi maaf ya sayang anak ibu enggak bisa ikut dulu." Ucap Mawar.


"Iya bu, yang penting kalian datang aku pasti bahagia." Jawab Putra.


Selesai ngobrol, Putra pun langsung pamit kepada mereka. Begitu juga dengan Ratih langsung mau pulang.


"Aku ambil Agung kecil dulu." Ucap Mawar tanpa menatap wajah Agung.


"Hmm." Jawabnya sambil menunggu di dalam mobil.


Tak lama, Mawar pun datang dan memilih duduk di belakang.


"Aku bukan sopir, pindah ke depan." Ucap Agung.


Mendengar itu Mawar lalu pindah ke depan sendiri. Karena Agung kecil ditidurkan di kursi bayi.


"Duduk disini !" Titah Agung meminta Mawar duduk di pangkuannya.


"Maaf aku enggak mau, takutnya ada polisi lewat." Jawab Mawar.


Agung lalu keluar dan membuka pintu mobil sebelahnya. Lalu membopong tubuh Mawar dan masuk ke dalam lagi.


"Kamu ini apa-apaan sih." Ucap Mawar kesal.


"Maafin aku telah membentak dan cemburu karena melihat kamu di cium Putra." Ucap Agung sambil memeluk Mawar.


Mawar lalu terdiam dan menyandarkan kepalanya di stir mobil suaminya. Tapi langsung di angkat Agung.


"Maafin aku." Ucap Agung lagi sambil mencium pipi Mawar.


"Ya, sama anak sendiripun cemburu." Jawab Mawar lirih.


"Aku lelah dengan ini semua." Ucap Agung mengalihkan pembicaraan tentang Putra.


"Apalagi aku, yang tidak tahu apa-apa." Jawab Mawar.


"Maaf atas ini semua." Ucap Agung lagi.


"Iya." Jawab Mawar lalu menyingkirkan tangan suaminya dari pinggangnya.


"Kenapa ?" Tanya Agung.

__ADS_1


"Enggak apa-apa, aku ngantuk." Jawab Mawar dusta. Ia masih terluka dengan bentakan Agung tadi.


"Kamu marah ? Tanya Agung.


__ADS_2