
Itulah mengapa, rumah tangga mereka nampak langgeng. Karena enggak harus perempuan terus yang ngerjain, suami pun juga harus ikut andil selama suami itu ridho.
"Hmm, wangi banget anak ayah." Ucap Agung selesai memandikan putranya.
"Ya dong, kan udah mandi." Jawab Didi.
"Coba lihat giginya." Ucap Agung.
Didi lalu meringis dan memperlihatkan gigi putihnya.
"Pintar, putih juga." Ucap Agung memuji putranya.
"Kasih ayah." Jawab Didi.
"Sama-sama boy." Ucap Agung lalu mengajak anaknya untuk jalan-jalan. Namun alangkah terkejutnya mereka, saat membuka pintu sudah ada seseorang di sana.
"Sri." Panggil Agung.
"Pagi tuan, maaf tuan semalam saya begadang. Jadi bangunnya terlambat." Jawab Sri palsu.
Sementara Didi bersembunyi di belakang tubuh ayahnya.
"Sri, kamu tunggu di kamarmu dulu. Didi masih takut dengan kamu." Ucap Agung jujur.
"Takut kenapa, sini Didi." Jawab Sri.
"Enggak." Jawab Didi sambil teriak.
Sari yang di luar membersihkan taman pun langsung lari dan masuk ke dalam, begitu juga dengan Mawar. Dia hanya memakai piyama langsung keluar.
"Kenapa ini ?" Tanya Mawar sambil mendekati putranya.
Sedangkan Sari, langsung kembali kerja. Begitu juga dengan Sri, dia kembali ke kamarnya.
Akhhhh, kenapa jadi kacau gini sih. Ucap Sri palsu lalu mengunci pintu kamarnya dan tidur.
Sementara di kamar Didi, Mawar memeluk erat tubuh putranya.
"Maafin Bibu ya boy, Bibu kesiangan." Ucap Mawar.
"Nda apa-apa bibu, Didi nyaman di peluk ayah sama Bibu." Jawab Didi.
"Utu-utu sini ayah peluk juga." Ucap Agung sambil memeluk tubuh Mawar dan Didi.
Membuat mereka merasa hangat. Ya ALLAH kalau saja Kinar masih ada, mungkin dia bisa merasakan arti ayah sesungguhnya. Walau itu tidak ia dapatkan dari ayah kandungnya. Semoga kamu bahagia disana nak, bersama nenek. Ucapnya dalam hati.
"Kenapa ?" Tanya Agung lirih.
"Rindu Kinar, kalau saja dia masih ada. Mungkin dia merasakan bahagia di peluk sosok ayah." Jawab Mawar sambil menangis.
"Ikhlasin ay, takdir ALLAH pasti indah." Jawab Agung.
"Insyaa ALLAH mas." Jawab Mawar.
Didi yang sedari tadi menyimak pun hanya menatap wajah kedua orang tuanya dan langsung menciumnya.
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
Kecupan Didi untuk kedua orang tuanya, membuat mereka langsung mencium pipi Didi. Dan Didi pun tertawa terbahak-bahak.
"Bibu aus." Ucap Didi.
"Ya sayang, sini." Jawab Mawar lalu membuka sumber kehidupan Didi.
Didi lalu meminumnya, sedangkan tangan satunya memainkan dot Mawar. Agung yang melihat itu, langsung meminum sumber kehidupan Didi di bagian kanan. Didi yang sudah terbiasa melihat ayahnya begitu, cuma diam dan menatapnya. Sedangkan Mawar, hanya bisa pasrah.
Niatnya mau ajak jalan pun batal. Karena kini Didi tertidur lagi.
__ADS_1
"Tidur dia." Ucap Mawar lirih sambil memberikan selimut untuk putranya. Dan membiarkan suaminya masih minum asinya Didi.
"Mas." Panggil Mawar.
"Hmm." Jawab Agung lalu membuka piyama istrinya.
"Kamu enggak kerja ?" Tanya Mawar.
"Enggak, di kantor sedang liburan ternyata." Jawab Agung dengan tangan yang mulai meraba area inti Mawar.
"Kita pindah saja mas, kasihan Didi." Ucap Mawar.
"Iya ay." Jawab Agung lalu menarik dagu Mawar dan mencium bibirnya.
"Sudah yuk." Ajak Mawar takut anaknya terbangun.
"Bik, nanti kalau ada tamu suruh tunggu bentar ya. Bilang saja kami sedang mandi." Ucap Agung sambil membopong Mawar.
"Asiap tuan." Jawab Sari.
Sepeninggal majikannya, Sari bergumam lirih. Etdah, nona kecapean banget sampai di bopong gitu. Hmm tuan juga sih, sudah tahu lelah masih nambah.
Sesampai di kamar, Agung membuang piyama Mawar, dan memulai lagi.
"Mas." Panggil Mawar lirih.
"Hmm." Jawab Agung lalu menarik dagu Mawar dan mencium bibirnya kembali.
Sementara tangan kirinya masuk ke pusat inti Mawar. Mawar pun menggeliat, dan langsung mencium bibir Agung. Tak lupa sentuhan seperti Agung, membuat Agung juga menggeliat.
Sementara di luar, Rani sudah sampai dan menunggu kedua keponakannya itu.
"Maaf tante kelamaan." Ucap Agung tiba-tiba, membuat Rani dan Sri langsung menatap.
"Enggak apa-apa Gung, maafin tante juga ya." Jawab Rani.
"Iya tante, ini siapa Tan ?" Tanya Agung.
"Ini Sri yang sebenarnya." Jawab Rani sambil menatap keseluruh ruangan.
"Mawar mana Gung ?" Tanya Rani.
"Tidur tan, tadi bilangnya pusing." Jawab Agung.
"Oh, pasti kamu ajak begadang ya ?" Tanya Rani.
"Hehe, ya tante." Jawab Agung jujur.
Sedangkan Sri yang asli hanya menyimak.
"Gini Gung, tante kesini ingin mempertemukan kamu dengan Sri yang asli. Dan ini yang Asli, berhijab dan memakai kacamata." Ucap Rani menjelaskan kedatangan dirinya kerumah keponakannya bersama pengasuh yang sebenarnya.
"Oh, yakin tan yang ini asli ?" Tanya Agung.
"Ya asli." Jawab Rani.
"Mbak, tolong sembunyi dulu di kamar tamu. Biar nanti saya panggil Santi !" Titah Agung.
"Baik tuan. Nyonya saya izin dulu." Jawab dan ucap Sri.
"Ya." Jawab Rani.
"Bibik." Panggil Agung.
"Ya tuan." Jawab Sari.
"Tolong panggilkan Sri." Ucap Agung.
"Ya tuan." Jawab Sari.
Tak lama, Sari dan Sri datang. Sari lalu pamit kembali kerja, sedangkan Sri palsu duduk di lantai.
"Ada apa ya ?" Tanya Sri palsu.
__ADS_1
"Gini Sri, sementara kamu di pindah tugaskan dulu dimana, di rumah tanteku ?" Tanya Agung lirih.
"Maaf tuan, tapi saya sudah nyaman disini. Dan kenapa saya mesti pindah di rumah tante ini ?" Jawab dan tanya Sri palsu.
"Kamu lihat sendirikan perkembangan psikis putraku, jadi biar kami sembuhkan dulu." Jawab Agung.
"Tapi berapa lama tuan ?" Tanya Sri palsu.
"Ya sampai istri saya hubungi kamu." Jawab Agung.
"Kenapa bukan tuan saja yang menghubungi saya, kenapa mesti perempuan itu ?" Tanya Sri palsu.
"Hei, jaga bicara kamu Sri, perempuan itu perempuan itu, perempuan itu juga majikan kamu yang wajib kamu hargai." Jawab Rani mulai kesal.
"Istighfar tante." Jawab Agung.
Di kamar, Mawar nampak terbangun. Dia lalu berlari ke kamar mandi dan muntah tiba-tiba.
"Kok mual gini ya ? Tanyanya dalam hati.
Dia lalu melangkah keluar kamar, dan saat tengah berjalan tiba-tiba dia mual lagi. Gegas dia berlari ke arah wastafel terdekat dan muntah disana.
Diluar Agung tidak mendengar Mawar muntah, dan masih berbicara dengan pengasuh Didi yang makin keruh.
Sari yang mendengar itu, ikut geram dan ingin rasanya menaruh sambal ke mulut Sri palsu. Namun apalah daya, dia juga hanya pekerja di sana. Tak ingin ambil pusing, Sari lalu masuk ke dalam.
"Astagfirullahhallazim, nona." Ucap Sari terkejut.
"Kenapa bi ?" Tanya Mawar dengan tersenyum.
"Nona sakit ?" Tanya Sari.
"Enggak bik." Jawab Mawar.
"Tapi wajah nona pucat banget lho non." Ucap Sari.
"Masa sih ?" Tanya Mawar.
"Iya Nona. " Jawab Sari.
"Kecapean mungkin bi." Ucap Mawar.
"Bisa jadi nona, akhir-akhir ini kan nona sering banget ikut tuan pergi." Jawab Sari.
"Ya bik, soalnya urusan kantor juga perkenalkan sama yang lain." Jawab Mawar.
"Nah itu dia nona." Ucap Sari.
Pyar.
Terdengar suara gelas jatuh dan pecah, membuat Sari yang tadi duduk di lantai tertutup meja dapur spontan langsung berdiri.
Astagfirullahhallazim, nona." Ucap Sari sambil teriak.
Mendengar teriakan dari dapur, Agung dan yang lain langsung mendekati arah dapur.
"Kenapa bik ?" Tanya Agung.
"Nona pingsan tuan." Jawab Sari dengan menangis.
"Astagfirullahhallazim, tante titip rumah dulu." Ucap Agung.
"Ya hati-hati." Jawab Rani.
Sedangkan di kamar tamu Sri yang asli ingin keluar, namun takut ketahuan adiknya.
Dan di sini, Agung nampak berlari ke RS.
"Dok, tolong istri saya dok." Ucap Agung.
"Iya pak." Jawab Widi dokter yang pernah nangani Mawar.
Mawar pun langsung di periksa, dan tak lama dokter Widi mengulurkan tangannya seraya memberi selamat untuk Agung.
__ADS_1
"Selamat pak, bentar lagi anda memiliki momongan lagi." Ucap Widi