Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 52


__ADS_3

Lusi langsung membanting pintu rumah dengan keras. Membuat Agung kecil langsung menangis.


ALLAH Akbar." Jawab mereka lalu pulang.


Dalam perjalanan pulang, mereka saling berdiam diri. Mawar yang sedari tadi menyusui putranya, terdiam dengan menatap ke depan. Sementara Agung nampak fokus nyetir.


Saat saling asik dengan pikiran masing-masing, Agung kecil menggigit sumber kehidupannya. Membuat Mawar langsung terkejut dan teriak.


"Akhh, adek." Ucap Mawar dengan tawa khasnya.


Mendengar istrinya teriak lalu tertawa membuat Agung langsung tersenyum.


"Kenapa ?" Tanya Agung lirih.


"Digigit." Jawab Mawar.


"Enggak apa-apa kan belum tumbuh gigi ya boy ya." Ucap Agung sambil tersenyum.


"Tetap saja sakit mas." Jawab Mawar.


Yang tak sadar Agung kecil menatap wajah ibunya. Merasa ada yang merhatiin, Mawar lalu menatap putranya.


"Kenapa liatin ibu sampai segitunya." Ucap Mawar.


"Hemmm..." Jawab Agung kecil sambil mengangkat tangan mungil nya.


"Utu-utu, sayangku. Dimaafkan sayang." Jawab Mawar lalu memeluk putranya.


Suaminya yang sedari tadi hanya menatap, langsung tersenyum. Dan mengelus lembut kaki istrinya.


"Tuh nak, ayah kamu ikut terharu." Ucap Mawar.


"Yayah." Panggil Agung kecil.


"Ya sayang." Jawab Agung.


Tak terasa mereka sampai di rumah.


"Mari kita masuk." Ajak Agung dengan tersenyum.


"Iya." Jawab Mawar.


Sedangkan anaknya kini digendong oleh ayahnya.


"Nona, ada yang cari tuan." Ucap Sari tiba-tiba, saat tahu Mawar masih di dalam mobil. Karena dompet Agung tertinggal.


"Siapa Sar ?" Tanya Mawar.


"Perempuan non." Jawab Sari.


"Ya sudah tolong panggil tuan, dan titip putraku sebentar ya !" Titah Mawar.


"Ya nona." Jawab Sari.


"Ehem, cari siapa ya ?" Tanya Mawar.


"Ck, Ciah pembantu saja pembantu saja belagu." Jawab perempuan itu.


"Maaf, saya istri pemilik rumah ini bukan pembantu." Ucap Mawar.


"Istrinya itu meninggal, pakai ngaku-ngaku segala." Jawab perempuan itu.


Belum sempat Mawar menjawab, nampak Agung langsung datang dan menjawab.


"Istriku benar." Jawab Agung.


"Mas, kamu-." Ucap perempuan itu.


"Iya, dia istriku dan aku sudah punya anak juga." Jawab Agung.

__ADS_1


"Maaf ya mbak." Ucap perempuan itu lalu pergi.


Sepeninggal perempuan itu, Mawar langsung masuk.


Astagfirullahhallazim." Ucap Agung.


"Makasih ya sudah mau jagain sampai tidur pulas banget." Ucap Mawar.


"Iya Nona." Jawab Sari.


Sementara Agung nampak langsung masuk ke dalam kamar. Sambil menutup pintu sedikit agak kencang. Beruntung Agung kecil tidak bangun.


"Non, saya pamit dulu ya." Ucap Sari.


"Ya." Jawab Mawar lalu menggendong putranya dan masuk ke kamar.


Bismillah. Ucap Mawar lirih sambil menidurkan Agung kecil.


"Mas, kamu kenapa ?" Tanya Mawar dengan lembut.


"Aku capek ay, capek dikejar perempuan terus." Jawab Agung lirih lalu menatap Mawar.


"Istighfar mas, jangan sampai itu membuat kamu jadi merasa sombong." Ucap Mawar lirih.


"Iya ay, padahal aku sekarang sudah enggak pernah tersenyum lagi dengan mereka." Jawab Agung.


"Alhamdulillah, anggap saja ini ujian kamu. Kamu tetap setia enggak dengan pasangan kamu ?" Ucap dan tanyanya.


"Insyaa ALLAH tetap setia, karena aku selalu melibatkan ALLAH." Jawab Agung lirih sambil memejamkan mata dan mencium pipi Mawar.


"Aamiin ya ALLAH, ya sudah yuk tidur." Ucap Mawar.


"Aku rindu kamu ay." Ucap Agung.


"Aamiin. Makasih banyak suamiku." Jawab Mawar.


"Sama-sama." Jawab Agung.


"Ya." Jawab Mawar lalu bercerita.


"Flasback On."


Setelah sadar, aku menatap sekeliling dan bertanya lirih.


"Dimana aku ?" Tanya Mawar.


"Alhamdulillah anda sudah sadar bu, masyaallah." Jawab Widi.


"Dok, tunggu. Tolong jangan beritahu mereka tentang saya." Ucap Mawar.


"Kenapa bu ?" Tanya Widi.


"Saya kena sayatan ini, karena sebenarnya yang mereka incar bukan saya, tapi suami saya." Jawab Mawar.


"Maksudnya gimana bu ?" Tanya Widi.


"Jadi sebenarnya tadi seseorang yang melukai saya itu, menginginkan suami saya yang terluka. Namun langsung saya lindungi dengan kaki saya. Dan setelah kena sayatan di kaki, badan saya menjadi sakit semua. Setelah itu saya sudah tidak ingat lagi." Jawab Mawar panjang lebar.


"Sakit itu karena racun ibu, beruntung mereka dengan cepat memberi suntikan untuk memperlambat racunnya." Jawab Widi.


"Dok, bisa minta tolong enggak dok ?" Tanya Mawar.


"Insyaa ALLAH, apa itu bu ?" Tanya Widi.


"Tolong katakan kepada mereka, nyawa saya dan anaknya tidak bisa di tolong." Jawab Mawar.


"Astagfirullahhallazim, mohon maaf bu, saya sudah bersumpah bu untuk menyelamatkan nyawa pasien. Bukan untuk memalsukan kematian." Jawab Widi menolak dengan halus.


"Dok, saya mohon. Saya enggak mau suami saya kehilangan nyawanya, hanya karena saya." Ucap Mawar seraya memohon.

__ADS_1


"Tapi ini salah bu." Jawab Widi.


"Tolong dok." Ucap Mawar.


"Suster tolong ambilkan boneka yang mirip dengan ibu ini." Ucap Widi.


"Baik dok." Jawab Suster itu.


Mereka kini pun langsung membawa Mawar ke luar. Biar tidak curiga, tubuh Mawar di tutupi dengan kain.


"Suster, ini apa ?" Tanya Agung.


"Oh ini, kain kotor pak." Jawab Suster itu.


"Tumben RS, numpuk segini banyaknya." Ucap Agung curiga.


"Mari pak." Jawab Suster itu.


"Iya." Jawab Agung.


Tak lama Mawar sampai di tempat yang aman.


"Makasih ya sus." Ucap Mawar.


"Sama-sama bu." Jawab Suster itu.


Maafin aku mas, semoga kamu bisa bahagia tanpa aku. Dan anak ini akan ku rawat walau tanpa kamu. Ucap Mawar lirih.


Tak ingin ketahuan, dengan langkah cepat Mawar lalu meninggalkan RS dengan mencari kerja. Namun baru sampai di pintu keluar, Akbar melihat Mawar.


"Kakak ipar." Panggil Akbar lalu mengikuti Mawar.


Tin....Tin....Tin...


Bunyi klakson mobil Akbar, menghentikan langkah Mawar. Ya ALLAH itu beneran kak Mawar. Ucap Akbar lalu mengikutinya dari belakang.


Saat ingin mengejar Mawar, tiba-tiba gawai Akbar berbunyi.


("Ya." Jawab Akbar.)


("Kamu dimana kok belum sampai ?" Tanya Reva.)


("Maaf salah belokan." Jawab Akbar dusta.)


("Cepetan ditunggu daddy." Ucap Reva.)


("Ye Vanci versus Vanili." Jawab Akbar.)


"Tuh kan, mesti gitu manggil aku Vanci lagi. Mana langsung di matiin lagi. Enggak sopan banget sih Babang Barbara ini." Ucap Reva menggerutu kesal.


"Sabar." Jawab kedua orang tuanya itu dengan tersenyum.


"Kok bisa sih aku dapat saudara modal madul gitu." Jawabnya.


"Revania Anjani Putri, enggak boleh kaya gitu." Ucap Rani.


"Ya mi." Jawab Reva.


Tak lama Akbar datang, mereka lalu masuk RS bersama. Sampai di UGD, Agung masih menangis histeris.


"Mawar kenapa kamu mesti pergi. Ajak aku sayang." Ucap Agung sambil di peluk abang dan maminya.


"Bang, Agung kenapa ?" Tanya Rani.


"Istri dan calon cucuku meninggal." Jawab ayah Agung.


"Innalillahi wainnalillahi rojiun." Ucap mereka bersama. Lalu menghampiri jenazah Mawar.


Sementara Mawar kini sudah berhasil lolos dari kejaran Akbar. Alhamdulillah sudah tidak ada. Ucapnya seraya kembali berjalan.

__ADS_1


Ya ALLAH aku mesti kemana ?" Tanya Mawar yang sudah tampak kelelahan.


__ADS_2