Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 93


__ADS_3

Ko Hai siapa ay ?" Tanya Agung lirih.


"Hari." Jawab Mawar.


"Dia di taman belakang nona." Jawab Sari.


"Bibik, minta tolong berikan ini ke ko Hai ya." Ucap Mawar.


"Siap nona." Jawab Sari.


Sepeninggal Sari, mereka bertiga pun kembali makan. Dan setelah 15 menit mereka selesai makan, Mawar masih nambah satu porsi. Dion yang melihat itu, lalu menatap Agung.


"Hmm, enak ay ?" Tanya Agung lirih.


"Alhamdulillah." Jawab Mawar.


"Alhamdulillah Wasyukurillah." Ucap mereka berdua.


"Bu, selama hamil bbnya naik berapa kilogram ?" Tanya Dion.


Kalau yang dulu 1 kilo, tapi kalau yang sekarang 3 kilo." Jawab Mawar jujur.


"Alhamdulillah, berarti yang sekarang happy ya bu ?" Tanya Dion.


"Aamiin." Jawab Mawar sambil tersenyum dan melirik Agung.


Sedangkan Agung malah sibuk dengan gawainya. Urusan kerja antara penagih dan nasabah yang sering terlambat.


"Ehem, hp terus." Ucap Mawar disela-sela makannya.


"Enggak sayang." Jawab Agung lalu menaruh gawainya.


"Pasti dari nasabah yang centil, bahebol, sexy dan berkulit putih." Ucap Mawar.


"Astagfirullahhallazim, bukan sayang. Ini dari-." Ucap Agung terhenti karena Mawar memilih pergi.


Dion pun memilih pergi juga, dan tutup mata juga tutup telinga. Atas apa yang ia lihat dan dia dengar tadi.


Berbeda dengan Agung melihat istrinya begitu, dia lalu mengejar Mawar dan menunjukkan chatingnya bersama nasabahnya bernama pak Wando.


"Tunggu ay, kamu jangan begini." Ucap Agung sambil memeluk Mawar.


"Mentang-mentang Pipiku masih sakit, main hp terus. Aku juga butuh perhatian kamu mas." Jawab Mawar.


"Iya sudah, sekarang aku temani kamu makan dan gawainya kamu saja yang pegang." Ucap Agung.


"Sudah enggak nafsu." Jawab Mawar.


"Ya sudah dilanjutkan nanti saja." Ucap Agung dengan sabar.


Dion dan Hari yang tak sengaja melihat itu, nampak berdecak kagum dengan mereka.


"Masyaallah ternyata benar ya kalau salah satu pasangan kita marah, kita wajib jadi airnya." Jawab Dion.


"Ya, dengan begitu rumah tangga jadi awet." Jawab Hari.


Meninggalkan mereka, kini Marfel tengah sibuk dengan para tamu yang datang di rumahnya.


"Brow, selamat ya." Ucap Arya teman Marfel, bosnya Agung.


"Trimakasih brow, kamu kapan ni ?" Jawab dan tanya Marfel.


"Enggak tahu brow." Jawab Arya.


Sementara di dalam, banyak pula teman Nadin yang datang.


"Cie sudah lengkap ni." Ucap Sonia teman Nadin.


"Alhamdulillah." Jawab Nadin seraya tersenyum.


Di tempat Akbar, kini Mida tengah menunggu suaminya pulang kerja.


"Abang lama banget sih ?" Tanya Mida setelah melihat mobil Akbar masuk ke halaman rumah.


"Maaf sayang, tadi macet. Sudah lapar ya, ya sudah yuk kita makan." Jawab dan ajaknya.


"Ya." Jawab Mida seraya takzim.


Meninggalkan mereka yang tengah mau makan, kini Arsyil dan Tina saling gotong royong membantu membersihkan rumah.

__ADS_1


"Na, ambilin tangga !" Titah Arsyil.


"Dimana aa ?" Tanya Tina.


"Di gudang." Jawab Arsyil.


"Maaf, gudang yang mana ya ? Serius aku enggak tahu." Tanya dan jawab Tina.


Mendengar hal itu Arsyil langsung berlalu tanpa kata-kata. Setelah dapat tangga, Arsyil lalu kembali ke dalam rumah dan membersihkan atapnya dari sarang laba-laba dan debu.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga." Jawab Arsyil.


"Ini aa, aku buatin minum untuk aa." Ucap Tina ramah.


"Hmm." Jawab Arsyil seraya berlalu.


Hmm saja. Ya ampun dasar kulkas dua pintu. Ucap Tina lirih.


Kembali dengan Agung dan Mawar, yang sedang asik lihat tv.


"Ish, gemesin banget sih dia." Ucap Mawar gemas lalu memberikan cubitan di pipi suaminya.


Agung nampak diam sambil menahan sakit karena dia cubit.


"Ish, gemes banget. Sudah gendut, kulitnya bersih dan nurut sama orang tua." Ucap Mawar.


"Aamiin sayang, semoga anak kita juga sholeh." Jawab Agung.


"Aamiin." Jawab Mawar.


30 menit setelah obrolan itu, Mawar nampak tertidur di bahu suaminya. Dion yang tak sengaja melihat pun, langsung berkata.


"Istrinya sudah tidur tu mas." Ucap Dion lirih.


"Yang benar kamu ?" Tanya Agung.


"Beneran itu lihat." Jawab Dion.


Agung lalu melihat Mawar dan benar saja, dia memang nampak tertidur.


"Aku tinggal dulu ya, kalian kalau ngantuk tidur saja." Ucap Agung sambil membopong Mawar dan membawa Mawar masuk ke kamar.


Hari yang melihat itu langsung berkata.


"Aamiin." Jawab Dion.


Meninggalkan mereka, Kini Agung juga tengah menatap wajah Mawar dan mengelus perut Mawar yang bentar lagi akan lahir.


Jadi anak yang baik dan ikhlas ya sayang. Doa Agung tulus. Dia lalu tertidur sambil memeluk Mawar.


...****************...


Tak terasa bulan launching debay yang ditunggu pun tiba, kali ini baik Agung maupun Akbar harus bisa membagi waktu dan tetap waspada kepada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Termasuk dokter dan susternya.


Pagi ini Mawar nampak bermain dengan putranya bersama Mida. Ditemani Akbar, Arsyil, Reza dan Sri. Sementara Agung harus tetap kerja.


"Didi." Panggil Arsyil.


"Ya om." Jawab Didi.


"Kamu pengen punya adik cewek atau cowok ?" Tanya Arsyil.


"Cowok." Jawab Didi.


"Kenapa ?" Tanya Arsyil.


"Kalena kalau cewek itu libet om. dandannya saja lama, belum ake hijab." Jawab Didi.


"Kalau nanti adikmu lahir cewek gimana ?" Tanya Arsyil.


"Ya tetap belsyukul om. Kan itu hadiah untuk atu jaga dan lindungi." Jawab Didi.


"Masyaallah pintar banget kamu sayang." Puji Mida.


"Alhamdulillah anti." Jawab Didi.


Sedangkan Mawar kini terdiam dan melafazkan zikir, karena mulasnya sudah mulai terasa.


"Kak." Panggil Linda.

__ADS_1


"Kak Mawar." Panggil Linda lagi.


Membuat Mawar langsung mengangkat kepalanya, dan menatap Linda.


"Kak Mawar sudah pembukaan ?" Tanya Linda.


"Astagfirullahhallazim, sudah Lin ini makin mulas." Jawab Mawar sambil meringis.


"Tahan kak." Jawab Linda.


Reza dan Arsyil langsung menolong. Sementara Mida belum merasakan apa-apa.


Sedangkan Akbar langsung memfoto Mawar dan mengirim foto tersebut kepada Agung. Agung yang sudah merasa anaknya akan lahir, langsung pulang.


"Assalamualaikum." Salam Agung sesampai di rumah.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka.


"Istriku mana ?" Tanya Agung.


"Ada di kamar bersama Linda." Jawab Akbar.


Dengan berlari ia langsung ke kamar. Dan mendekati istrinya, memberikan kekuatan untuk istrinya.


"Kamu kuat sayang." Ucap Agung sambil memeluk Mawar.


"Sudah bukaan berapa Lin ?" Tanya Agung.


"Sudah 9 bang, bentar lagi debaynya launching." Jawab Linda.


"Aamiin." Jawab Agung.


"Akhh Astagfirullahhallazim, sakit mas." Ucap Mawar dengan tetap berzikir dan menggenggam tangan Agung.


"Kamu bisa sayang." Ucap Agung sambil mencium seluruh wajah Mawar.


Dan kini mengelus perut Mawar seraya berdoa. Sayang jangan lama-lama buat ibumu sakit, cepat keluar ya." Ucap Agung lirih.


"Alhamdulillah, ayo kak. Ngejan yang kuat ya kak." Ucap Linda lalu memberikan aba-aba.


Mawar pun mengejan sekuat tenaga, dan tak berselang lama bayi laki-laki lahir dengan selamat.


"Alhamdulillah." Ucap mereka semua.


Selesai di mandikan bayi merah itu pun langsung diazani dan di qommati oleh Agung. Barulah di tidurkan kembali.


Sementara Linda nampak sudah selesai membersihkan kotoran bekas lahiran tadi.


"Ay." Panggil Agung.


"Istriku." Panggil Agung lagi dengan lirih dan menggoyangkan tangannya, namun tak ada gerakan sama sekali.


"Sayang, kamu jangan bercanda ay." Ucap Agung mulai panik.


Sedangkan mereka yang di luar langsung masuk, ingin melihat Putra Agung.


"Mawar." Teriak Agung dengan keras.


"Ada apa ?" Tanya mereka semua yang juga panik.


"Mawar." Jawab Agung lalu memeluknya.


"Jangan pergi ay." Ucap Agung sambil menangis.


Mendengar itu, Linda langsung memeriksa Mawar.


"Reza, siapkan mobil dan kita ke RS. Arsyil jaga bayinya." Ucap Linda.


"Dion." Panggil Linda.


"Ya mbak." Jawab Dion.


"Awasi rumah ini." Jawab Linda lalu mengajak Agung membawa ke RS. Sampai di sana, dia pun langsung dirawat.


"Gimana dok ?" Tanya Linda.


"Pasien tidak apa-apa." Jawab Widi.


"Tapi tadi-." Ucap Agung terhenti.

__ADS_1


"Dia mengalami ketakutan hebat dan dari itulah mengganggu sistem sarafnya, tapi sekarang sudah stabil." Jawab Widi.


"Alhamdulillah." Jawab Agung.


__ADS_2