Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 97


__ADS_3

"Biar aku bersihin dulu mas." Ucap Mawar.


"Shht, tidak perlu. Aku ke toilet dulu ya." Jawab dan pamit Agung.


"Ya." Jawab Mawar.


"Mi, aku titip istri dan anak-anak." Ucap Agung sambil tersenyum.


"Ya." Jawab Ratih.


Sepeninggal Agung, Mawar nampak memejamkan mata. Sementara Ratih hanya melihat Mawar dari belakang. Mawar kemarin kamu dihujat banyak orang, tapi kini kamu begitu mami puji nak. Karena kamu sudah menunjukkan bahwa kamu bisa berubah, maafin mami mertuamu ini nak yang pernah nyakitin kamu dan sempat menolak kamu. Ucap Ratih dalam hati.


Oe...oe...oe...


Bayi Mawar menangis, membuat Mawar langsung terjaga.


"Haus ya nak." Ucap Mawar lalu membuka pintu mobil dan menggendong bayinya.


"Iya ni, padahal baru setengah jam lho." Jawab Ratih.


"Enggak apa-apa nek, aku kan cowok." Jawab Mawar sambil tersenyum dan menirukan suara anak kecil.


Membuat Ratih ikut tertawa senang. Tak lama Agung datang, dengan wajah cemberut.


"Kenapa ?" Tanya Ratih.


"Enggak apa-apa mi." Jawab Agung.


"Mas, sabar." Ucap Mawar lirih sambil mengelus lembut lengan tangan suaminya.


"Astagfirullahhallazim." Jawab Agung lalu menarik nafas panjang dan mengeluarkan secara perlahan.


"Kamu kenapa, datang-datang langsung cemberut ?" Tanya Ratih.


"Kesel mi, aku di tuduh melecehkan perempuan itu." Jawab Agung.


"Kok bisa ?" Tanya Ratih.

__ADS_1


"Bisalah mi, sekarang apa-apa itu dikaitkan dengan bisnis." Jawab Agung.


"ALLAH Akbar, kalau ketemu aku jitak tu perempuan." Ucap Ratih.


Sedangkan Mawar hanya mendengarkan, sambil menyusui dan menenangkan suaminya. Setelah merasa stabil, Agung lalu melajukan mobilnya dengan perlahan.


"Kita ke rumah mami dulu ya." Ucap Agung.


"Ya." Jawab Mawar.


"Enggak usah, langsung ke rumah kalian saja." Jawab Ratih.


"Terus mami gimana ?" Tanya Agung.


"Papimu ada di belakang mobil kamu." Jawab Ratih.


"ALLAH Akbar." Ucap Agung lirih.


Sesampai di rumah, Ratih dan Hengki mampir sebentar.


"Lain kali saja ya boy, Kakek sedang ada urusan penting." Jawab Hengki.


"Iya boy, kakek dan nenek sedang sibuk." Ucap Agung.


"Hmm, akek ama enek lebih ayang kakak." Jawab Didi lalu pergi.


Melihat itu, Agung pun langsung mengikuti putranya.


"Hai boy." Panggil Agung.


"Inggalin atu sendili ayah." Ucap Didi.


"Baiklah, tapi ingat marahnya enggak boleh lama-lama." Jawab Agung.


Didi hanya diam, enggan berkata lagi.


"Masih marah ?" Tanya Hengki.

__ADS_1


"Enggak pi, sudah biarin saja." Jawab Agung.


"Ya sudah kami pulang dulu ya, sampaikan ke istrimu juga." Ucap mereka.


"Ya mi, pi." Jawab Agung.


Sepeninggal orang tua Agung, Agung lalu tiduran di kursi sofa. Sedangkan Mawar kini nampak mau melangkah keluar.


Kok sepi, pada kemana ya ? Tanya Mawar lirih.


"Cari siapa ?" Tanya Agung yang melihat Mawar mau berjalan keluar.


"Cari mami sama papi." Jawab Mawar.


Mereka sudah pulang." Ucap Agung.


"Oh." Jawab Mawar lalu beranjak ke kamar Didi.


"Didi, kamu di dalam kamar enggak ya ?" Tanya Mawar.


Tidak ada jawaban, Mawar langsung memutar knop pintu kamar putranya.


Tok...Tok...Tok...


"Didi sayang buka pintunya nak." Ucap Mawar lirih.


Hingga ketukan tujuh kali, masih tidak di buka. Agung yang melihat itu, langsung ambil kunci cadangan. Dan membukanya.


"Didi, kok ibu Panggil sedari tadi diam saja. Kamu kenapa nak ?" Tanya Mawar lembut.


"Bibu." Panggil Didi lalu memeluk ibunya.


"Its ok sayang. Cerita sama ibu, kenapa Didi mengunci pintu kamarnya ?" Jawab dan tanya Mawar.


"Atu sebel ama akek dan enek, tiap di ajak tidul sini selalu menolak." Jawab Didi.


"Bukan menolak Boy, tapi nenek dan kakek sedang ada urusan." Ucap Agung.

__ADS_1


__ADS_2