
"Enggak perlu malu Kinar, karena mulai sekarang hingga akhir hayat aku akan tetap bersama kamu. Mulai sekarang Kinar harus terbiasa denganku." Ucap Agung.
"Insyaa ALLAH yah." Jawab Kinar.
Sementara Mawar nampak ngobrol dengan ayahnya.
"Yah, Kinar aku bawa ya." Ucap Mawar lirih.
"Ya." Jawab Ayah Mawar singkat seraya beranjak pergi.
"Mau kemana yah ?" Tanya Mawar.
"Mau pulang." Jawabnya.
"Ayah enggak sedang marahkan ?" Tanya Mawar.
Mendengar itu sang ayah langsung menghembuskan nafasnya dengan pelan-pelan dan menjawab.
"Kinar itu anakmu, kalau mau kamu minta ya Ayah enggak bisa melarang. Walau ada rasa khawatir, tapi ayah enggak bisa melarang kamu untuk bawa dia bersama suami baru kamu." Jawab Ayah.
Mawar pun langsung bersujud di kaki ayahnya.
"Maafin Mawar yah, Mawar sudah buat ayah kecewa terus." Ucap Mawar dengan menangis.
"Sadar nak, hidup di dunia ini hanya sementara. Dan hidup seseorang bisa hancur karena dari ulah perbuatan dia sendiri. Apalagi selama ini kamu sudah banyak menyakiti banyak orang. Hukum tabur tuai itu ada, ayah juga enggak bisa selamanya bantu kamu." Jawab ayah lalu melepas genggaman tangan Mawar.
"Iya yah, Mawar ingat itu." Jawab Mawar lirih.
Tanpa mereka sadari Agung mendengar perbincangan mereka. Hingga ia pun merasa bersalah.
Kalau tahu daridulu kamu jodohku, sudah sejak pertama aku melamarmu agar kamu tak salah jalan. Tapi takdir berkehendak lain. Ucap Agung lirih, namun masih bisa di dengar oleh Kinar.
"Andai ibuku orang baik, pasti hidupku tidak seperti sekarang." Ucap Kinar.
"Kinar, kita hanya peran, bukan penulis skenario kehidupan. Baik dan buruknya ibu, dia tetaplah ibumu nak. Hargai dan hormati dia." Ucap Agung bijak.
"Tapi ibu jahat." Ucap Kinar.
"Hidup ini pilihan nak, ada yang salah jalan dan ada pula yang tetap bagus. Mungkin ibu salah jalan, makanya ALLAH beri teman hidup lagi untuk kembali ke jalan yang benar." Jawab Agung.
"Tapi kenapa baru sekarang ?" Tanya Kinar.
"Karena inilah waktu yang tepat dan terbaik." Jawab Agung seraya tersenyum.
__ADS_1
"Makasih ya yah, sudah mau nerima aku dan ibu. Padahal tahu sendiri ibuku kaya apa." Ucap Kinar.
"Ya sayang. Ya sudah yuk hibur ibu biar enggak sedih." Ajak Agung.
"Ayo." Ucap Kinar.
"Sayang." Panggil Agung.
"Mas." Jawab Mawar sambil mengusap air mata.
"Ibu kenapa menangis ?" Tanya Kinar.
"Karena ibu bahagia." Jawab Mawar dusta.
"Bohong." Jawab Kinar.
"Sudah yuk kita ke tempat lain." Ajak Agung mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ya." Jawab mereka bersama.
Sesampai di tempat yang di tuju, lagi-lagi Mawar mendapatkan kejutan dari suami tercinta. Kinar yang baru melihat ketulusan ayah sambungnya nampak bahagia. Terima kasih ya ALLAH, di antara beribu pria masih ada yang mau tulus menerima ibuku. Doa Kinar lirih.
"Selamat ulang tahun sayang." Ucap mereka semua tak terkecuali teman dan kerabat terdekat keluarga besar Agung.
Mereka semua pun langsung membawa Mawar untuk mendekati kue ulang tahun. Lalu tiup lilin, barulah acara pun diakhiri dengan menyalakan kembang api.
"Makasih mas." Ucap Mawar.
"Sama-sama sayang." Jawab Agung lalu tertawa dan mengecup bibir Mawar.
"Ck, dasar adik lucnut." Ucap Marfel yang tak sengaja melihat Agung mencium Mawar.
"Haha, ada yang lagi kesel." Ucap Akbar dan Reza.
"Sialan kalian." Ucap Marfel seraya mengejar mereka berdua.
"Ampun-ampun bang." Ucap mereka bersama.
Melihat 3 orang dewasa saling kejar-kejaran membuat mereka semua tertawa. Namun berbeda dengan Agung dan Mawar, mereka masih saling berciuman. Walaupun Mawar sudah mencoba untuk menyudahi, namun Agung makin mempereratnya.
Bukan karena ingin pamer, namun di sisi barat nampak Vika mengawasi mereka.
Ck, dasar tak tahu malu. Ucap Vika kesal lalu berlalu.
__ADS_1
Melihat Vika pergi, Agung lalu menyudahi ciumannya.
"Ish, nakal." Ucap Mawar lirih.
"Maaf, aku ketagihan sama bibirmu." Jawab Agung seraya tersenyum.
"Alhamdulillah hirobbil allaamiin." Jawab Mawar.
"Aamiin." Jawab Agung.
Baru saja bahagia, tiba-tiba Mawar pingsan.
"Sayang, bangun." Ucap Agung lirih.
Karena tak ada respon, Agung lalu memanggil Linda. Sementara Kinar, sudah di bawa pulang oleh ayah mertuanya.
"Linda, istriku pingsan." Teriak Agung dengan suara serak.
Mendengar hal itu keluarga besar langsung lari dan mendekati Mawar. Begitu juga dengan Linda.
"Kamu tenang saja, kakak ipar hanya kecapekan." Jawab Linda.
"Alhamdulillah, ya sudah sebaiknya kamu bawa pulang istrimu." Saran mereka semua.
"Ya." Jawab Agung sambil mengusap air matanya dan membopong Mawar.
Sepeninggal mereka, Keluarga besar langsung tanya sama Linda.
"Sebenarnya ada apa dengan Mawar ?" Tanya Mami Ratih.
"Bude, jangan marah ya sebenernya sih kak Mawar sedang hamil bude." Jawab Linda.
"Hamil ?" Tanya Ratih.
"Iya bude, saya tadi di telfon kak Agung, lalu ke hotel tempat mereka menginap." Jawab Linda jujur.
"Alhamdulillah, tokcer juga dia." Ucap mereka semua.
Berbeda dengan Marfel yang nampak seperti orang kecewa.
"Kenapa bang ?" Tanya Akbar.
"Enggak apa-apa." Jawab Marfel.
__ADS_1