
"Kenapa ?" Tanya Mawar.
"Ya karena kami belum resmi menikah." Jawab Marfel dengan ramah.
Tak lama Agung keluar, dengan rambut yang klimis.
"Bang, aku keluar bentar ya." Ucap Agung.
"Ya." Jawab Marfel.
"Mas ikut." Ucap Mawar dengan menyusul suaminya.
"Kamu enggak capek ?" Tanya Agung.
"Insyaa ALLAH enggak." Jawab Mawar.
"Ya sudah ayo, kamu di depan." Ajak dan ucap Agung sambil tertawa.
"Belum bisa akunya." Jawab Mawar lalu tersenyum.
"Belajar, sini aku ajarin." Ucap Agung.
"Okelah." Jawab Mawar.
"Ini modelnya kopling ya, bukan seperti motor mio." Ucap Agung.
"Ya mas." Jawab Mawar.
"Sudah siap ?" Tanya Agung.
"Sudah." Jawab Mawar.
"Bismillahirrohmannirohim." Ucap mereka bersama.
"Kamu kaku banget sayang." Ucap Agung.
"Iya nih takut jatuh, tapi pengen bisa." Jawab Mawar.
"Rileks sayang, anggap saja kamu sedang naik aku." Ucap Agung sambil tersenyum.
"Babang, serius napa ?" Tanya Mawar.
"Maaf." Jawab Agung lalu tersenyum.
Tak terasa mereka sampai di tempat.
"Alhamdulillah." Jawab mereka.
"Gimana sudah bisa kan ?" Tanya Agung.
"Sedikit." Jawab Mawar.
"Ya pelan-pelan nanti pasti bisa." Ucap Agung sambil tersenyum.
"Aamiin." Jawab Mawar.
"Buk, pesan 3 bungkus ya." Ucap Agung.
"Ya mas, dibungkus atau makan disini ?" Tanya ibu itu.
"Dibungkus bu." Jawab Agung.
Sementara Mawar kini sedang cuci tangan dan kaki.
"Tumben cuci kaki ?" Tanya Agung.
"Ya mas, biar bersih saja." Jawab Mawar.
"Kirain karena sentuhan dengan aku, lalu cuci kaki." Ucap Agung pura-pura merajuk.
"Astagfirullahhallazim, enggak lah. Tidur saja bareng, masa iya gara-gara sentuhan denganmu terus cuci kaki." Jawab Mawar lalu tersenyum dan minta pangku suaminya.
"Canda sayang." Ucap Agung.
"Hmm." Jawab Mawar seraya membersihkan pipi Agung yang terkena air.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
__ADS_1
"Kena air." Jawab Mawar.
"Oh." Ucap Agung.
Tak lama pesanan mereka pun jadi, kini mereka pulang. Namun saat ingin pulang, tiba-tiba kaki kanan Mawar disayat dengan sajam oleh seseorang yang langsung kabur.
"Akhhhh." Teriak Mawar.
Spontan Agung langsung mengerem motornya dengan mendadak. Dan bertanya.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
"Aw, sakit mas." Jawab Mawar dengan menahan perih.
"Astagfirullahhallazim, kenapa ay ?" Tanya Agung.
"Enggak tahu mas, tiba-tiba saja ada yang mepet aku dan pas ku lihat dia menyayat kaki aku.
"Astagfirullahhallazim." Ucap Agung lalu melepas jaketnya dan menutup luka Mawar dengan jaket itu.
Saat ingin naik, ada seseorang yang datang tiba-tiba.
"Mbak yang kena sayatan pria tadi ya ?" Tanya orang itu.
"Iya." Jawab Mawar lalu menggenggam tangan Agung dengan erat.
Agung mengelus lembut tangan Mawar.
"Kenapa ya mas ?" Tanya Agung.
"Mohon maaf mas dan mbak jika perjalanan kalian diganggu olehnya, dia memang begitu dan sekarang sedang kami kejar. Karena sudah banyak korbannya." Jawab orang itu.
"Oh begitu." Ucap Agung.
"Mas, pulang yuk." Ajak Mawar lirih sambil memejamkan mata.
"Ya." Jawab Agung.
Mereka pun akhirnya pulang dan tak lama mereka sampai.
"Ay, turun yuk sudah sampai." Ucap Agung.
"Ya sudah aku bopong lagi ya." Ucap Agung.
Belum sempat menjawab, Mawar langsung terlelap dengan tiba-tiba membuat Agung langsung panik.
"Astagfirullahhallazim, ay." Ucap Agung.
"Bang tolong telfon Linda, Mawar pingsan." Ucap Agung.
"Astagfirullahhallazim." Jawab Marfel lalu menelepon Linda.
Tak lama Linda sampai, dia terkejut melihat warna kulit kakak iparnya yang berubah jadi kebiruan. Sementara Agung nampak menangis tergugu di samping istrinya.
"Ay, jangan tinggalkan aku." Ucap Agung sambil menangis.
"Bang, ini kenapa bisa kena racun sih bang ?" Tanya Linda.
"Racun apa ?" Tanya Agung.
Belum sempat Linda jelaskan, Linda lalu membuka lilitan jaket di kaki kakak iparnya itu.
"Bang segera ke RS. Racun ini berbahaya untuk janin." Ucap Linda seraya memberi suntikan untuk memperlambat racunnya.
Mereka pun kini meninggalkan rumah Linda, dan dengan kecepatan tinggi Linda membawa Mawar ke RS.
Sampai di sana, cepat-cepat Mawar di bawa ke UGD.
3 jam kemudian, dokter Widi keluar dengan menggelengkan kepala ke arah Linda.
"Gimana dok ?" Tanya Linda dan Agung.
"Maaf, pasien tidak dapat tertolong. Kalian terlambat lima menit." Jawab Widi.
"Enggak, Mawarku masih hidup. Dia tidak mungkin meninggal." Ucap Agung.
"Marfel dan Linda mencoba menenangkan Agung, Namun dia tetap histeris tidak terima.
__ADS_1
"TUHAN ambil nyawaku juga TUHAN." Ucap Agung sambil histeris.
Mereka berdua pun ikut sedih, namun apalah daya takdir berkata lain.
Linda memutuskan untuk masuk ke dalam. Kak, baru sebentar kalian bahagia. Tapi kenapa kakak meninggal dunia ? Tanya Linda sambil menangis.
Dan kabar meninggalnya Mawar pun sudah terdengar di mana-mana. Kini Agung nampak sedikit berbeda, tidak seperti di RS.
Dengan di peluk oleh maminya, Agung nampak meneteskan air mata.
"Mi, jasad itu bukan jasad istriku mi." Ucap Agung.
"Sabar nak, istighfar sayang." Ucap Ratih.
"Cintaku hilang mi." Ucap Agung sambil menangis.
Teman-teman kantor Agung mulai berdatangan. Memberi ucapan bela sungkawa.
Disini ada yang buat keluarga besar Agung merasa janggal dengan tingkah Sita, teman kerja Agung.
"Tante, saya turut berduka cita ya tante." Ucap Sita.
"Hmm." Jawab Ratih yang nampak merasa janggal dengan sikap Sita. Tidak seperti teman-teman yang lain ikut berduka dan melihat jenazah Mawar.
Sita malah memilih mendekati maminya Agung.
"Mau kemana ?" Tanya Ratih.
"Ketemu teman mi." Jawab Agung.
"Oh ya sudah." Jawab Ratih.
"Tante saya permisi dulu ya." Ucap Sita.
"Hmm." Jawab Ratih.
"Kak, ngerasa aneh enggak sih dengan tu perempuan ?" Tanya Rani adik kandung Ratih.
"Iya, dia nampak bahagia." Jawab Ratih.
"Wajib kita selidiki kak." Ucap Rani.
"Tentu." Jawab Ratih.
Tak lama Linda pun mendekati budenya dan memberi tahu hasil visum jenazah Mawar. Dan rupanya selain racun juga ada penggugur janin.
Keluarga besar Agung tak mau tinggal diam, Reza ikut turun tangan juga. Namun tetap waspada, jangan sampai ada yang curiga bahwa dirinya itu intel.
Beruntung sikap slengekan dia berhasil menutupi pekerjaan aslinya dia.
Sementara Akbar, sedang bersembunyi di balik pohon untuk mengintai Sifa.
("Halo, ada apa sih ganggu saja ?" Tanya Sifa. )
("Oke makasih sayang sudah berhasil melenyapkan Mawar, nanti habis ini aku akan kembali." Ucap Sifat lalu menutup sambungan telepon.)
"Sudah ku duga, dialah dalangnya." Ucap Agung secara tiba-tiba.
"Sabar bang." Jawab Akbar.
"Ya, karena aku yakin jasad itu, bukanlah jasad istriku." Ucap Agung tak patah semangat.
Mendengar itu Akbar memeluk Agung.
"Ikhlasin bang." Ucap Akbar.
Agung lalu menarik tangan Akbar dan menunjukkan foto di gawainya.
"Kamu yang suka edit foto, coba bedakan ini dengan foto ini. Sama atau ada perbedaan ?" Tanya Agung.
Akbar lalu melihat dan menatap Agung.
"Sama atau enggak ?" Tanya Agung.
"Enggak." Jawab Akbar yang kini mulai percaya dengan kakak keponakannya itu.
"Tolong rahasiakan ini, dan aku akan mencari anak istriku." Ucap Agung.
__ADS_1
"Ya." Jawab Akbar.
Mereka lalu meninggalkan taman belakang rumah.