
Tepat sepertiga malam, Mawar terbangun. Dia menatap wajah Agung, lalu mengecup kening Agung.
"Hmm, hanny jam berapa ?" Tanya Agung.
"Jam 3 jelang pagi mas." Jawab Mawar.
"Yuk sholat." Ajak Agung.
"Ya." Jawab Mawar.
Mereka kini langsung keluar dan berwudhu, lalu sholat.
"Mas." Panggil Mawar.
"Hmm." Jawab Agung lalu menghentikan langkahnya.
"Hari ini kamu jadi daftar nikah kita ?" Tanya Mawar.
"Jadi sayang, kenapa udah enggak sabar ya ?" Tanya Agung seraya tersenyum.
"Bukan gitu mas, tapi apa bisa ?" Tanya Mawar.
"Insyaa ALLAH bisa." Jawab Agung.
"Aamiin." Jawab Mawar lega.
"Aamiin, kenapa kamu pasti takut ya ?" Jawab dan tanya Agung.
"Bukan takut mas, tapi aku ingat pesan almarhumah ibu." Jawab Mawar.
"Iya sayang, aku tahu." Jawab Agung lalu mengecup bibir Mawar.
"Ish, mulai deh." Ucap Mawar.
"Mulai apa ?" Tanya Agung.
"Mulai ambil kesempatan dalam kesempitan." Jawab Mawar kesel.
"Kan kita sudah sah." Ucap Agung.
"Tahu ah." Jawab Mawar.
"Gelap enggak ?" Tanya Agung.
"Putih seputih warna kulitmu." Jawab Mawar.
"Terang dong." Ucap Agung.
"Kamu tanya ?" Tanya Mawar.
"Enggak tanya, tapi bertanya." Jawab Agung.
"Sama saja babang." Ucap Mawar.
"Beda mimin."Jawab Agung.
"Sama." Ucap Mawar lagi.
"Beda istriku, bedanya terletak di huruf depan." Jawab Agung.
"Hmm, ber." Ucap Mawar.
"Ya." Jawab Agung dengan tersenyum.
"Dingin dong." Ucap Mawar.
"Dingin, maksudnya ?" Tanya Agung.
"Ya kan berrr, hii dingin." Jawab Mawar sambil menirukan gerakan orang yang sedang kedinginan.
"Haha ya betul, tapi bukan itu hanny, bunny, swetyku." Ucap Agung dengan tertawa.
"Terus ?" Tanya Mawar.
"Terus nabrak kamu, aku jadi makin wiu-wiu." Jawab Agung bercanda.
"Ish, mulai deh ditanya serius, jawabnya ngebanyol." Ucap Mawar.
"Cie marah ya ?" Tanya Agung.
__ADS_1
"Enggak." Jawab Mawar dengan cemberut.
"Enggak apa, enggak salah atau enggak benar atau enggak nolak ?" Tanya Agung dengan berbisik.
"Ck, salah semua." Jawab Mawar.
"Terus apa dong ?" Tanya Agung seraya menghampiri Mawar.
"Enggak marah, cuma kesel dengan tingkah banyolan kamu." Jawab Mawar.
"Hmm, yakin kesalnya hanya karena itu ?" Tanya Agung.
"Masih banyak." Jawab Mawar.
"Waduh, apalagi sayang ? Jangan banyak-banyak dong, nanti apa kata dunia kalau istriku ini dalam hatinya selalu kesal denganku ?" Tanya Agung sambil merangkul Mawar dari belakang.
"Haha, kamu ini mas selalu saja begitu. Habis buat kesel, langsung merayu pakai ikutan dialognya Nagabonar lagi." Jawab Mawar lalu tertawa.
"Ya habisnya aku grogi dan takut sama kamu, takut kamu marah lagi seperti 16 tahun yang lalu dan takut kamu tinggalin lagi. Jawab kenapa pertanyaan aku tadi ?" Ucap dan tanyanya.
"Maaf, habisnya kamu lucu sih. Ya udah aku jawab, kamu bikin aku kesal itu berkali-kali. Tapi yang bikin aku kesel itu waktu kamu nikahin aku, posisi aku tertidur. Itu yang buat aku kesal." Jawab Mawar jujur.
Agung langsung berlutut di kaki Mawar dan minta maaf.
"Maaf." Ucap Agung dengan berlutut.
"Astagfirullahhallazim, jangan begini mas." Jawab Mawar seraya menarik tangan Agung agar berdiri.
"Aku minta maaf, aku enggak tahu lagi harus berbuat apa. Agar kamu tidak meninggalkan aku, aku tahu aku salah dan aku mohon maafin aku. Aku juga sudah terima ganjarannya-." Ucap Agung lirih dan terhenti karena pelukan Mawar.
"Yang lalu tidak perlu di bahas lagi, aku sudah memaafkan kamu. Sekarang ayo berdiri, enggak enak jadi tontonan abang Marfel dan Hari." Jawab Mawar.
"Makasih." Ucap Agung.
"Ya, sama-sama." Jawab Mawar lalu tersenyum.
"Sudah jam 5 pagi, aku siap-siap dulu ya." Ucap Agung.
"Ya." Jawab Mawar.
Sepeninggal Agung, Mawar langsung melanjutkan memasak dan menyiapkan minuman untuk suaminya. Selesai semua, Mawar pun beranjak dari dapur kembali ke kamar. Untuk siapin baju suaminya.
Tok....Tok....Tok...
Ceklek
"Assalamualaikum." Salam seseorang di depan pintu dengan tersenyum ramah.
"Waalaikumsalam, maaf dengan siapa ya ?" Jawab Mawar ramah juga.
"Saya yang ditugaskan pak Marfel kesini, Mbak ini istrinya mas Agung kan ?" Jawab dan tanya seseorang itu.
"Oh iya, silahkan masuk mbak." Ucap Mawar.
"Ya, makasih mbak." Jawab mbak itu.
"Duduk mbak, saya panggilkan bang Marfel dulu." Ucap Mawar ramah.
"Oh iya." Jawab mbak itu.
Mawar pun menghubungi Marfel lewat telfon rumah, seraya menatap mbak itu.
("Halo." Jawab Marfel.)
("Halo bang, ada yang cari abang ni di lantai bawah." Ucap Mawar.)
("Siapa ?" Tanya Marfel.)
("Katanya yang suruh abang, aku belum kenalan soalnya." Jawab Mawar.)
("Ya sudah, aku turun dulu." Jawab Marfel langsung mematikan sambungan telepon.)
"Ditunggu sebentar ya mbak." Ucap Mawar.
"Iya mbak." Jawab mbak itu.
Tak lama Marfel pun datang. Pria bertubuh sixpack itu kini makin tampan, dengan pakaian kantornya.
"Oh kamu Dea, kirain siapa." Ucap Marfel.
__ADS_1
"Ya pak." Jawab Dea.
"Bang, saya pamit dulu." Ucap Mawar dengan menunduk.
"Oh iya, makasih ya." Jawab Marfel.
"Iya mas eh maksudnya bang." Jawab Mawar lalu beranjak pergi.
"Dasar adik ipar, masih saja kaku dan tegang dan juga belepotan." Ucap Marfel seraya tersenyum.
"Itu tadi istrinya Agung pak ?" Tanya Dea tiba-tiba.
"Hmm." Jawab Marfel.
Mendengar jawaban Marfel, Dea enggan bertanya lagi.
Dan kini setelah pamit dengan Marfel, Mawar pun masuk ke kamar niatnya ingin mengambilkan baju untuk suaminya. Namun sayang sudah terlambat.
"Mas, sudah selesai kamu ?" Tanya Mawar.
"Sudah." Jawab Agung.
"Maaf ya, tadi diluar ada tamu." Ucap Mawar.
"Ya." Jawab Agung dengan tersenyum.
"Mas, mau sarapan nanti apa sekarang ?" Tanya Mawar.
"Sekarang saja ay, takut telat soalnya." Jawab Agung seraya menatap wajah Mawar.
"Di kamar apa di meja makan ?" Tanya Mawar lirih.
"Meja makan sayang." Jawab Agung lirih sambil tersenyum dan tak lupa mengecup pipi Mawar.
"Ya sudah, ayo." Ajak Mawar.
"Ya." Jawab Agung.
Sampai di depan pintu kamar, Agung lalu menarik pinggang Mawar dan berjalan berdua.
"Astagfirullahhallazim, mas malu ih dilihat mereka." Ucap Mawar lirih.
"Enggak apa-apa, aku kangen kamu." Jawab Agung.
Tanpa Agung dan Mawar duga, Dea nampak tersenyum getir. Ck, kenapa mesti harus ketemu dia lagi, dulu saja pas dekat sama aku enggak berani narik aku. Ucap Dea bermonolog sendiri.
"Hmm, bukan jodoh." Jawab Marfel yang tak sengaja mendengar keluhan Dea.
"Maaf pak." Jawab Dea.
"Ya." Ucap Marfel.
"Kalau gitu saya pamit dulu pak." Ucap Dea.
"Sarapan bareng saja." Jawab Marfel.
"Makasih pak, tapi tadi sebelum kesini saya sudah sarapan." Ucap Dea dusta.
"Oh ya sudah." Jawab Marfel.
"Ya, mari pak." Ucap Dea.
"Ya." Jawab Marfel.
Sepeninggal Dea, Marfel langsung mendekati meja makan.
"Hmm, harum banget bikin cacing di perut berontak." Ucap Marfel.
Membuat mereka langsung menatap dan mempersilahkan Marfel untuk makan.
"Makan bang." Ucap Agung.
"Ya dong, masakan adik ipar menggoda iman." Jawab Marfel.
"Aamiin." Ucap Agung dan Mawar.
"Ay, aku berangkat dulu ya." Ucap Agung langsung kecup kening Mawar.
Melihat itu Mawar langsung melotot ke arah suaminya.
__ADS_1
"Udah enggak apa-apa, bang Marfel dah biasa lihat aku begini." Ucap Agung yang sudah tahu akan tatapan tajam sang istri.
Marfel yang mendengar itu hanya tersenyum.