
Astagfirullah, mesti di waspadai dia. Ucap Arsyil lalu menghubungi orang kepercayaannya.
Tak terasa malam pun tiba, Didi pun kini sedang makan malam bersama orang tua dan keluarga besarnya. Selesai menyuapi suami dan anaknya, kini Mawar mengambil makan ditemani pengasuhnya.
"Ayah, Didi nanti satu mobil sama tante Lilin ya." Ucap Didi dengan berbisik.
"Kenapa, kan arahnya berlawanan boy ?" Tanya Agung.
"Atu tesel sama sus." Jawab Didi dengan cemberut.
Melihat expresi putranya demikian, Agung lalu bertanya.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
"Sustel main hp telus, pas atu sholat dia malah vc sama cowok. Didi lisih yah." Jawab Didi jujur.
Mendengar hal itu, Agung lalu menatap wajah putranya dan tersenyum.
"Ya sudah nanti biar suster naik taksi saja." Jawab Agung.
"Ayah enggak tatut, sus mayah ?" Tanya Didi.
"Enggak." Jawab Agung lalu tersenyum.
"Hole kita pulang tanpa sus." Ucap Didi senang lalu pergi menghampiri ibunya.
Melihat itu Agung memiliki rencana untuk memberhentikan Sri, namun dia akan mencarikan Sri kerja. Karena menurut dia, menutup rejeki seseorang itu hukumnya dosa. Walau seburuk apapun orang itu.
Dan kini Didi mendekati ibunya yang baru selesai makan.
"Bibu ayo." Panggil dan ajak Didi.
"Kemana boy ?" Tanya Mawar lirih.
"Ayo itut atu." Jawab Didi.
Tanpa terduga Sri langsung mendekati Didi dan melepas genggaman tangan ibu dan anak tersebut, namun Didi menolak.
"Sudah sus, kamu istirahat dulu saja. Biar dia sama aku." Ucap Mawar menengahi.
"Tapi nona." Jawab Sri.
"Sudah, ini juga melebihi batas jam kerja. Istirahatlah, biasanya di rumah kan gitu." Ucap Mawar lirih dan sopan.
"Ya." Jawab Sri dengan cemberut.
Tanpa sadar mertua dan keluarga besar suaminya melihat mereka.
"Tunggu deh kak, perasaan Sri enggak kaya gitu deh." Ucap Rani yang mulai curiga.
"Maksudmu ?" Tanya Ratih.
"Sri yang ku kenal, enggak kasar begitu. Dan tiap ditegur pun tetap tersenyum dan langsung minta maaf." Jawab Rani.
"Terus dia siapa ?" Tanya Ratih.
"Bentar ya aku hubungi keluarganya." Jawab Rani.
Kembali ke Mawar, kini Didi nampak terdiam setelah dibentak Sri dengan berbisik.
"Eh anak ayah, sedang apa nih ?" Tanya Agung.
Melihat kondisi putranya, Mawar langsung mengajak ke tempat rias. Agung yang sedari tadi penasaran pun menatap Mawar.
"Ayah, kita ke tempat om Akbar yuk, lihat om dirias." Ucap Mawar mengalihkan perhatian suaminya.
"Ayo, sini ayah gendong. Aduh - aduh capek ya boy." Jawab Agung lalu menggendong putranya.
__ADS_1
Sampai di ruang rias, Mawar lalu menarik lengan suaminya pelan.
"Sayang, lihat tante Mia nak." Ucap Mawar.
Didi pun langsung menatap Mia, dan tertawa terbahak-bahak karena Mia sedang menggoda dirinya.
"Alhamdulillah." Ucap Mawar.
"Ya." Jawab Agung lirih.
"Bibu atu antuk." Ucap Didik.
"Oh ya sini sayang." Jawab Mawar sambil tersenyum.
Tak lama Didi tertidur. Agung lalu bertanya.
"Dia tadi kenapa ?" Tanya Agung.
Mawar pun menceritakan semua kepada Agung. Mendengar hal itu, Agung langsung memesan taksi dan menyuruh Sri untuk pulang dulu.
"Za." Panggil Agung.
"Ya bang." Jawab Reza.
"Tolong sampein ke Sri ya, dia sudah di tunggu taksi." Ucap Agung.
"Ok." Jawab Reza.
Sesampai di tempat Sri, Reza langsung menyampaikan amanah Agung.
"Mbak, aku di minta tolong bosmu. Kamu suruh pulang sekarang, dan sudah di pesankan taksi." Ucap Reza jujur.
"Daritadi kek, mata sudah ngantuk juga." Jawabnya seraya berlalu.
"Aje gile, seumur hidup baru kali ini aku dengar pengasuh ucapannya kasar." Ucap Reza.
"Ya." Jawab Reza.
Acara demi acara sudah dilewati, kini acara pun sudah selesai.
"Alhamdulillah selesai sudah." Ucap mereka bersama.
"Nampak pengantin wanita sudah terlelap di pelukan suaminya.
"Lah tidur dia." Ucap Rani.
"Iya." Jawab Ratih.
Saat mau duduk, Agung mendekati Rani.
"Tan, bisa kita bicara sebentar ?" Tanya Agung.
"Bisa." Jawab Rani.
Sesampai di tempat agak sepi, Agung bertanya.
"Tan, maaf ni aku sudah tidak bisa meneruskan hubungan kerja dengannya. Karena Didi mulai menolak kehadiran Sri, tapi aku sudah mencarikan dia kerja yang lebih layak untuknya Tan." Ucap Agung.
"Harusnya tante yang minta maaf sama kalian, ternyata yang mengasuh putramu bukan Sri." Jawab Rani.
"Terus dia siapa ?" Tanya Agung.
"Dia Santi, saudara kembar Sri." Jawab Rani.
"Astagfirullahhallazim." Ucap Agung lalu pamit. Karena mendengar suara tangisan Didi.
"Kenapa ?" Tanya Agung panik.
__ADS_1
"Enggak tahu mas, dia enggak biasanya begini." Jawab Mawar sambil menangis juga.
"Akbar lalu mendekati keponakannya begitu juga dengan Mida. Sementara keluarga yang lain sudah pulang.
"Kenapa Bar ?" Tanya Agung lirih.
"Dia tantrum bang, karena kejadian tadi." Jawab Akbar.
"Astagfirullahhallazim." Ucap Agung dan Mawar.
Rani pun tak henti-hentinya menyalahkan dirinya karena gagal mencarikan pengasuh untuk keponakannya.
"Sudah tante, ini bukan salah tante." Ucap Mawar menenangkan tantenya.
"Tapi Mar." Jawab Rani ikut menangis.
"Tante, kita ini hanya lakon. Dan mau enggak mau, kita harus menjalaninya." Jawab Mawar sambil memeluk tantenya itu.
"Iya sayang, yang dikatakan my love itu benar." Ucap Andi.
"Daddy, dia keponakan kita." Jawab Rani.
"Ah iya. Maaf salah sebut." Ucap Andi.
Agung dan yang lain ikut tersenyum melihat itu. Alhamdulillah ay, kamu dewasa sekarang. Ucapnya lirih sambil menggendong Didi.
Karena sudah malam, Agung dan Mawar pamit untuk pulang dan melanjutkan obrolan itu esok lagi.
Dalam perjalanan, Mawar nampak memikirkan psikis putranya.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
"Aku takut psikis Didi kena lagi mas." Jawab Mawar.
"Shht, enggak perlu takut. Aku yakin putra kita kuat." Jawab Agung lalu menepikan mobilnya dan memberi nasehat kepada Mawar.
"Ingat, ALLAH menguji kita, karena ALLAH yakin kita bisa melewati ini semua. Walaupun harus dengan menangis." Ucap Agung.
"Iya." Jawab Mawar.
Melihat Mawar sudah mulai membaik, Agung melanjutkan perjalanan lagi. Tak terasa, mereka sudah sampai di rumah.
"Lho, belum masuk ?" Tanya Agung terkejut.
"Belum tuan, kuncinya tadi hilang." Jawab Sri palsu.
"Jatuh dimana ?" Tanya Agung.
"Di mobil mungkin tuan." Jawab Sri.
"Ck, lain kali hati-hati. Itu kunci gerbang ini." Ucap Agung mengingatkan.
"Ya." Jawab Sri.
Selesai buka pintu gerbang, Agung lalu memasukkan mobilnya ke dalam dan kembali mengunci pintu gerbang. Namun belum sampai tertutup, ada seseorang yang memanggil namanya.
"Mas, tunggu mas." Ucap pak Rt.
"Ya pak, ada apa ya ?" Tanya Agung.
"Ini mas, tadi saya lihat pegawai anda membuang kunci rumah. Di sungai, beruntung ada istri saya yang sedang buang sampah, kalau enggak saya enggak tahu mas nanti akan jadi gimana." Ucap Galih Rt kampung Agung.
"Makasih pak, dan maaf bila bapak dan yang lain kurang nyaman dengannya." Jawab Agung lirih.
"Enggak apa-apa mas, sesama manusia kan harus tolong menolong." Ucap Galih lalu pamit.
Sepeninggal Rt itu, Agung lalu mengunci gerbangnya, dan menggendong putranya dulu masuk ke dalam. Selesai itu, kini Mawar yang ia gendong.
__ADS_1
Kasian kamu ay, harus menahan luka. Ucap Agung lirih.