
"Cie marah." Jawab Agung menggoda.
"Udah dong by, kita tidur. Besok pagi bersih-bersih rumah, kamu tahu sendiri aku kalau bersih-bersih lama banget." Ucap Mawar.
Mendengar ucapan istrinya, Agung hanya tersenyum dan memandang wajahnya.
"Kenapa senyum-senyum ? Tanya Mawar.
"Aku suka kamu yang begini ay, cerewet dan enggak cuek." Jawab Agung lalu tertawa.
"Masa ?" Tanya Mawar balik.
"Iya sayangku." Jawab Agung.
Mereka pun langsung terlelap. Berbeda dengan Marfel dan keluarga besarnya yang kini tengah sibuk membicarakan hari pernikahan untuk Agung dan Mawar.
"Mi, apa enggak sebaiknya acaranya di rumah saja mi ?" Tanya Marfel.
"Fel, kamu tahu kan Vika dan Agus kaya gimana ?" Tanya Mami.
"Iya sih mi." Jawab Marfel.
"Mendingan di rumah aja deh mi, soal bekas istri dan ipar Agung kita urus nanti." Ucap papi menengahi.
"Papi malah buat gali lubang kubur sendiri." Ucap mami.
"Mi, papi kasih saran begini karena Papi sudah memikirkan hal ini dengan matang." Jawab papi.
"Betul apa kata suamimu, turuti saja." Ucap nenek.
__ADS_1
"Yah, kalau kanjeng mami sudah bilang gitu, ya apa boleh buat." Jawab mami.
"Hehehe, gitu dong mi." Ucap papi.
"Mentang-mentang dibela jadi gembira." Jawab mami sebel.
"Cie ada yang marah, karena enggak ada yang bela." Ucap mereka bersama seraya tertawa.
"Tau ah." Jawab mami.
Malam yang semakin larut, membuat mereka akhirnya membubarkan diri masing-masing untuk istirahat di rumah Marfel. Sementara Marfel dan Reza sepupu Marfel, masih sibuk dengan urusan kerja.
"Gimana bang usaha kamu lancarkan ?" Tanya Reza.
"Alhamdulillah lancar Za, apalagi setelah aku nolongin Mawar. Rezeki aku makin lancar." Jawab Marfel jujur.
"Serius kamu bang ?" Tanya Reza.
"Padahal kan dia dikenal enggak baik ya, kok bisa abang menang terus ?" Tanya Reza.
"Wallahualam, awalnya aku ragu mau bantu dia, tapi setelah kerja dapat 2 hari hatiku langsung srek sama dia." Jawab Marfel.
"Ya juga sih, kadang yang nampak baik belum tentu baik, dan yang nampak jahat tidak selamanya jahat." Ucap Reza.
"Maka dari itu Za, jangan nilai seseorang dari kesalahan yang dia perbuat saja. Tapi nilailah kebaikannya walau hanya sedikit." Jawab Marfel.
"Ya bang, pantes adik abang bisa kepincut dengan bekas karyawan abang." Ucap Reza sambil tertawa.
"Iya, padahal dulu Agung kalau ketemu Mawar, selalu buang muka. Giliran Mawar cuek bingung dia." Jawab Marfel.
__ADS_1
"Emangnya bingung kenapa bang ?" Tanya Reza.
"Ya pernah pas hari apa gitu, Mawar nampak selesai mandi. Agung menyapa, namun dia nampak cuek bebek." Ucap Marfel.
"Mawar yang cuek bang ?" Tanya Reza.
"Ya. Eh dia langsung kebingungan, enggak bisa tidur dan berkali-kali mendekati pintu kamar Mawar, tapi takut untuk mengetuk pintu." Jawab Marfel.
"Adikmu itu berbanding terbalik dengan kamu bang, dia sok kecakepan. Padahal aslinya di bawah kamu." Ucap Reza.
"Hmm, kalau itu sih wallahualam Za, karena aku enggak merasa tampan." Jawab Marfel.
"Kamu ini bang, selalu merendah." Ucap Reza.
"Ya enggak apa-apa lah." Jawab Marfel.
"Oya bang, Mawar ini cewek yang pernah mau dilamar adikmu itu bukan ya ?" Tanya Reza.
"Iya." Jawab Marfel.
"Oh jadi benar ya dia itu cewek yang 12 tahun lalu mau dilamar adikmu itu ?
"Ya." Jawab Marfel.
Marfel dan Reza pun saling berdiam diri, Beda lagi dengan pasangan yang satu ini
"Mas, bangun sudah pagi." Ucap Mawar.
"Iya sayang." Jawab Agung.
__ADS_1
"Mandi terus sholat, dan ngaji. Barulah mereka memulai aktivitasnya.