Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 38


__ADS_3

Mawar. Panggil Agung yang kini nampak terkulai lemas. Ya ALLAH ampuni aku, bangunkan ia ya ALLAH. Ucap dan doa Agung.


Marfel dan yang lain langsung mendekati Agung, sementara dokter dan suster melepas alat bantu oksigen dan infus Mawar.


"Tunggu sebentar." Ucap Agung lantang.


"Gung." Jawab Marfel.


"Tolong tinggalin aku dan istriku sendiri." Ucap Agung seraya menangis.


Mendengar itu mereka langsung keluar dan meninggalkan Agung sendiri di ruangan bersama Mawar.


Sayang, bawa aku juga bersama kamu. Jujur ay, saat bertemu kamu lagi hatiku bahagia. Ucap Agung.


Setelah menyampaikan kalimat itu Agung menatap wajah Mawar, dia melebarkan netranya saat tahu kelopak mata Mawar basah.


Ay, kamu dengar aku sayang, kamu juga menangis. Sadarkan dia ya ALLAH. Ucap dan doa Agung.


Tak lama, tangan Mawar pun bergerak dan mulai membuka mata.


Alhamdulillah sayang kamu sudah sadar. Ucap Agung antara sedih dan bahagia.


"Dokter, istriku sudah sadar." Ucap Agung lantang.


Mendengar itu mereka semua mengucapkan rasa syukur yang tiada henti.


"Masyaallah, terima kasih ya ALLAH." Jawab mereka bersama lalu kembali masuk.


Dokter pun kembali masuk, dan memeriksa Mawar.


"Ibu Mawar." Panggil Widianto dokter yang memeriksa Mawar.


"Ya." Jawab Mawar merespon cepat panggilan dokter itu.


"Alhamdulillah, saya salut dengan keyakinan anda pak Agung." Ucap Widi penuh bahagia.


Namun Agung hanya tersenyum tipis, dengan menatap wajah Mawar tanpa berkedip.


"Alhamdulillah ibu Mawar sudah sadar dan sehat, begitu juga dengan calon putranya. Sehat terus ya bu." Ucap Widi.


"Ya dokter." Jawab Mawar singkat.


Mereka pun kini hanya tinggal berdua, yang lain sudah keluar.


"Sayang, kamu enggak makan ?" Tanya Agung.


Mawar pun langsung menoleh dan menatap wajah Agung.


"Mas." Panggil Mawar lalu menangis lagi.


"Shht, kenapa ay ?" Tanya Agung lirih.


"Kinar mas." Jawab Mawar sambil menangis dan memeluk Agung.


"Ikhlasin ay walau sulit, ingat masih ada yang harus kamu rawat dan jaga. Yaitu aku dan calon anak kita." Jawab Agung.


"Maafin aku ya mas." Ucap Mawar.


"Kamu enggak salah sayang." Jawab Agung lalu mencium kening Mawar.


Mereka pun langsung melerai pelukannya dan menghapus air mata.


"Sudah ya, jangan menangis lagi, kasihan debaynya." Ucap Agung.


"Iya." Jawab Mawar lalu tersenyum.


"Jangan pingsan lagi, aku belum siap kehilangan kamu. Kita akan tiada bersama. Aamiin." Ucap dan doa Agung.

__ADS_1


"Aamiin ya ALLAH ya Rohman ya Rohim." Jawab Mawar.


"Makasih." Ucap Agung.


"Sama-sama mas suami." Jawab Mawar.


"Makan yuk." Ajak Agung.


"Ya." Jawab Mawar.


"Mereka pun akhirnya makan walau jujur Mawar malas makan, karena nafsu makan yang berkurang masih teringat akan putri semata wayangnya yang meninggal dengan mendadak.


"Jangan melamun." Ucap Agung membuyarkan lamunannya.


"Siapa juga yang melamun, aku pengen ke makam putriku mas." Jawab Mawar.


"Putri kita sayang, walau aku tak ikut andil dalam membuatnya, tapi dia tetap putriku juga." Jawab Agung lirih.


"Hmm." Ucapnya.


Mereka pun langsung makan.


"Dimakan ay, jangan hanya diaduk aja." Ucap Agung.


Mendengar itu Mawar langsung menyuapkan ke dalam mulutnya, dan tanpa di komando air matanya langsung jatuh membasahi pipinya. Melihat itu, Agung langsung memeluknya.


"Sabar dan ikhlas ay, yakinlah kita bisa lewati ini semua." Ucap Agung.


"Iya." Jawab Mawar.


"Habis ini kita shalat bersama ya." Ucap Agung.


"Ya." Jawab Mawar.


"Ya sudah makanlah." Ucap Agung.


Selesai makan, mereka pun lalu sholat dan berdoa.


"Alhamdulillah." Ucap Agung lalu berbalik badan menatap istrinya.


Mawar nampak takzim dan wajahnya masih dipenuhi dengan kesedihan.


"Ay, debaynya sudah banyak gerak belum ?" Tanya Agung.


Mawar hanya menganggukkan kepala dan mengelus lembut perutnya yang sudah agak membuncit.


"Ehem, jangan sedih terus. Kasihan Kinar di sana juga ikut sedih." Ucap Agung lirih.


"Mas, aku banyak salah sama dia." Ucap Mawar dengan menunduk.


"Shtt, dia sudah tenang di alam sana. Jangan kamu bebani dengan tangisan dan cerita lamamu. Aku tahu itu berat untukmu, tapi jangan berlarut-larut menangisinya." Ucap Agung memberi nasehat untuk Mawar.


"Insyaa ALLAH mas." Jawab Mawar.


"Jangan sedih lagi ya." Ucap Agung.


"Insyaa ALLAH." Jawab Mawar.


Malam yang semakin larut, membuat Agung semakin dilanda rasa kantuk. Tak sadar dia pun terlelap di tempat duduknya. Sedangkan Mawar, tidak bisa tidur. Sayup-sayup terdengar suara Kinar.


"Ibu, Kinar rindu ibu. Kenapa ibu tidak menemani Kinar, di hari terakhir Kinar bu ?" Tanya suara itu yang menyerupai suara Kinar.


"Maafin ibu nak, ibu tadi ingin menemani kamu. Tapi ibu tiba-tiba pingsan." Jawab Mawar jujur seraya mencari Kinar.


"Ibu jahat." Teriak suara itu lagi.


"Enggak nak, ibu mohon maafin ibu." Jawab Mawar lalu beranjak turun dari tempat tidur, namun tidak bisa karena masih terpasang selang.

__ADS_1


"Kinar benci ibu." Teriak Kinar.


"Jangan nak." Jawab Mawar.


"Kalau gitu ibu harus ikuti kata Kinar." Ucap suara itu lagi.


"Tapi jangan minta ibu untuk ikuti kamu berpulang ya nak." Jawab Mawar.


"Enggak ibu." Ucap suara itu.


"Apa yang harus ibu lakukan ?" Tanya Mawar.


"Gugurkan kandunganmu." Jawab suara itu.


"Maaf, kamu bukan putriku." Jawab Mawar.


"Ibu jahat." Ucap suara itu lagi.


Mawar pun langsung berzikir dan membaca alquran. Hingga akhirnya suara itu menghilang dengan sendirinya.


Alhamdulillah, terima kasih ya ALLAH. Jawab Mawar penuh syukur.


Subuh pun sudah tiba, namun Agung masih terlelap.


"Mas, bangunlah sudah pagi, Suster mau bersihkan badanku." Ucap Mawar.


"Hmm, biar aku saja." Jawab Agung.


"Apanya mas ?" Tanya Mawar.


"Suster tunggu di luar saja, biar saya saja yang bersihkan istri saya." Ucap Agung sambil menatap wajah Mawar.


"Oh ya pak." Jawab Suster itu dengan ramah.


Agung pun lalu membuka atribut istrinya dan membasahi tubuh sang istri dengan waslap. Setelah selesai, barulah Agung memberikan baskom tadi kepada suster.


Sepeninggal suster itu, Agung menatap Mawar yang nampak terdiam.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Enggak apa-apa mas." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Tumben enggak merias diri ?" Tanya Agung.


"Enggak, lagi pengen rehat sebentar." Jawab Mawar.


"Ya sudah, tidurlah." Ucap Agung.


"Nanti saja. Kamu enggak kerja mas ?" Tanya Mawar.


"Enggak, 6 hari aku diliburkan sama bos aku." Jawab Agung jujur.


"Maaf ya." Jawab Mawar.


"Kenapa minta maaf, ini itu musibah sayang." Ucap Agung.


"Ya." Jawab Mawar.


Cup


"Ih mulai deh curi-curi kesempatan dalam kesempitan." Ucap Mawar kaget, karena dicium oleh suaminya.


"Memangnya kamu enggak kangen, dianggurin selama lima tahun ?" Tanya Agung.


"Kangen, tapi aku enggak mau dianggurin lagi. Aku maunya diapelin." Jawab Mawar.


"Itu kamu tahu, jadi kalau aku cium jangan kesal." Ucap Agung.

__ADS_1


"Bukan kesal mas, tapi kaget. Tahu sendirikan dulu aku gampang kaget." Jawab Mawar.


__ADS_2