Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 90


__ADS_3

"Oh." Jawab Didi.


Baru saja senyumnya terbit, tiba-tiba senyuman Mawar memudar. Mereka semua yang melihat pun, langsung menatap arah pandangan Mawar.


"Siapa kak ?" Tanya Akbar.


"Mika teman virtualku dulu. Yang nyumpahin aku dalam keadaan hamil besar, Kinar akan meninggal." Jawab Mawar.


"Tenang kak, ada aku dan suamiku di sini." Ucap Mida.


"Ya, selain itu ada aku ay." Jawab Agung.


"Ada Didi uga Bibu." Jawab Didi sambil memeluk ibunya.


"Makasih." Jawab Mawar.


"Sama-sama." Ucap mereka.


Mika pun semakin mendekati mereka, dan ingin memeluk Mawar. Namun ditahan oleh Mida.


"Sabar neng, kakakku sedang sensitif." Ucap Mida.


"Hai Gung, hai Bar." Sapa Mika pada mereka. Namun mereka berdua hanya diam tanpa merespon, melihat itu Mika langsung pergi.


Sepeninggal Mikha, mereka tertawa lepas. Dan tak lama azan maghrib berkumandang, mereka lalu pulang.


"Bibu sama anti lucu, peyutnya besal." Ucap Didi sesampai di rumah.


"Ini karena ada adik bayinya sayang." Jawab Agung dan Akbar.


"Hole, dapet adik balu lagi." Ucap Didi sambil tertawa.


Melihat sang putra bahagia, Agung dan Mawar pun juga ikut bahagia. Begitupun dengan Akbar dan Mida. Saat tengah asik makan, gawai Agung berbunyi ada panggilan masuk dari abangnya.


("Assalamualaikum bang." Jawab Agung melalui sambungan telepon.)


("Akhhhh sakit sayang. Gung cepet ke RS sekarang, istriku mau brojol." Ucap Marfel langsung mematikan sambungan telepon.)


Mendengar itu tak sedikit yang mendengar langsung tertawa.


"Astagfirullahhallazim abang ini, kalau panik bahasanya kaya Sule." Ucap two A.


"Bibu, bojol tu apa ?" Tanya Didi polos.


"Pak dhe kamu salah sebut boy, bukan brojol. Tapi melahirkan." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Oh, nti luar dek ayi ya bu ?" Tanya Didi.


"Iya sayang." Jawab mereka bersama.


Tak lama mereka pun bersiap ke RS, dan Sari pun juga di ajak oleh Mawar. Itulah yang membuat Sari tambah sayang dengan majikannya.


"Ay, mau kemana ?" Tanya Agung.


"Ajak bibik sama suster mas, boleh ya." Jawab Mawar.


"Tapi mereka kan capek sayang." Ucap Agung.


"Cuma sebentar, biar nanti Didi ada yang jaga." Jawab Mawar.


"Baiklah." Jawab Agung lalu menemani istrinya ke kamar dua karyawannya.


Tok...Tok...


"Ya." Jawab Sari.


"Nona dan tuan ada apa ya ?" Tanya Sari.


"Ganti baju bik, kita mau ke RS jenguk adek bayi." Jawab Mawar.


"Kok saya diajak nona ?" Tanya Sari.


"Buruan." Jawab Agung tegas.


Membuat Sari langsung ganti baju, begitu juga dengan Sri. Setelah semua siap dan pintu terkunci rapat mereka pun langsung ke RS.

__ADS_1


"Sus, angku." Ucap Didi.


"Oh ya, sini Didi." Jawab Sri.


Sementara Mawar, nampak mengelus lembut perutnya. Agung yang melihat langsung bertanya.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Nendang - nendang mas." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Jangan keras-keras ya nendangnya, kasihan ibu nak." Ucap Agung lirih sambil mengelus lembut perut Mawar.


"Iya ayah." Jawab Mawar dengan menirukan suara anak kecil.


"Mereka yang mendengar pun langsung tertawa terutama dengan putranya.


"Bibik dan suster nanti pulang naik taxi enggak apa-apakan ?" Tanya Mawar.


"Enggak apa-apa nona, memangnya nona mau nginep disini ?" Tanya mereka.


"Ya bik, enggak enak juga kan masa kakaknya lahiran enggak mau bantu." Jawab Mawar.


"Ya nona, tapi nanti Didi gimana non ?" Tanya Sri.


"Kalian tidur di kamar tamu saja, nanti juga ada Dion dan Hari di rumah." Jawab Agung.


"Oh, baik tuan." Jawab mereka bersama.


Tak lama mereka pun sampai di RS.


"Buju buneng, banyak amat ya yang lahiran." Ucap Sari.


"Ya." Jawab Sri.


Sementara Didi dan yang lain hanya menyimak.


Sampai di ruangan Nadin, mereka lalu masuk.


"Assalamualaikum." Salam mereka bersama.


"Waalaikumsalam." Jawab Marfel, Nadin, Ratih dan Hengki.


"Sudah boy, hai cucu kakek tambah gendut ya sekarang." Jawab Hengki.


"Iya." Jawab Didi lalu minta gendong kakeknya.


"Bude." Ucap Akbar dan Mida lalu takzim.


"Weh kalian disini juga." Jawab Ratih terkejut.


"Iya bude, silaturahmi ke rumah abang." Jawab mereka.


"Alhamdulillah, sudah berapa bulan sayang ?" Tanya Ratih.


"6 bulan bude." Jawab Mida.


"Sama ya, dengan Mawar." Ucap Ratih lagi.


"Iya bude." Jawab mereka.


Sementara Mawar, setelah takzim dengan mertuanya. Dia mendekati Nadin.


"Sudah pembukaan berapa kak ?" Tanya Mawar.


"Baru 6 dek." Jawab Nadin.


"Buat miring ke kanan saja kak, insyaa ALLAH cepat." Ucap Mawar.


"Betulkah ?" Tanya Marfel.


"Insyaa ALLAH bang, karena dulu aku juga gitu." Jawab Mawar.


Nadin pun langsung miring ke kanan, dan benar saja tepat jam 7 malam bayi perempuan telah lahir dengan selamat.


"Alhamdulillah." Ucap mereka bersama.

__ADS_1


"Selamat ya bapak dan ibu, putrinya lahir selamat dengan berat badan 4 kilogram." Ucap Suster itu.


"Makasih sus." Jawab Marfel dan Nadin.


Mereka pun langsung ingin melihat wajah anak Marfel. Hingga membuat berisik ruangannya.


"Mida memilih keluar dan di temani Akbar, begitu juga dengan Agung.


"Kalian lihat istriku enggak ?" Tanya Agung.


"Ada di dalam bang." Jawab Mida.


"Enggak ada." Jawab Agung.


Akbar pun langsung menghubungi Marfel, dan benar saja Mawar enggak ada di sana.


Mawar, Didi, Sari, Sri dan Hengki tak ada di RS. Agung langsung panik, sementara Akbar dan yang lain mencari mereka.


"Istighfar nak." Ucap Ratih menenangkan Agung.


"Aku enggak akan maafin diriku, kalau sampai mereka kenapa-kenapa mi." Jawab Agung.


Tak lama salah satu seorang satpam, menemukan Didi di luar seorang diri.


"Permisi, apakah ini anak tuan ?" Tanya Satpam itu.


"Alhamdulillah, ya pak itu anak saya. Dia dimana pak ?" Tanya Agung.


"Di luar pak sendirian." Jawab Satpam itu.


Di RS, mereka mencari keberadaan Mawar, dan disini keberadaan Mawar dan kedua karyawan juga mertuanya sekarang.


"Woi bangun." Ucap seseorang itu dengan kasar seraya menyiram wajah mereka dengan air es.


Tak lama mereka pun bangun, Hengki menatap wajah menantunya yang sudah memerah.


"Mau apa kalian ?" Tanya Hengki.


"Aku mau dia tiada." Jawab seseorang disana. Yang ternyata Mikha.


"Sudah ku duga." Ucap Mawar lirih.


Sari dan Sri kini tengah mencoba membuka tali pengikatnya, namun masih belum berhasil.


"Hai kamu, kenapa kamu hamil lagi hah ?" Tanya Mikha.


"Jangan sakiti mantuku." Ucap Hengki mengalihkan pembicaraan mereka seraya memencet jam tangannya yang di modifikasi menjadi alarm bahaya.


Hanya Agung yang belum punya, karena setiap diberi selalu menolak.


Saat tengah terdiam, jam tangan mereka berbunyi semua.


"Dion, lacak lokasi papi." Ucap Marfel.


"Ketemu tuan." Jawab Dion.


"Cepat ke lokasi sekarang." Jawab Agung lalu titip anaknya ke maminya.


Mereka pun langsung berangkat dengan menggunakan pesawat pribadi milik keluarga besar Agung. Sampai di lokasi, nampak Mawar akan di telanjangi.


"Lepasin nonaku." Teriak Sari dan Sri bersama.


Namun Mika hanya tertawa. Akbar yang melihat itu langsung menyelinap ke tempat gelap. Begitu juga dengan Agung.


Dan saat akan mau merobek pakaiannya, Agung berhasil menembak tepat di kaki Mika.


Dor.


"Akhhhh." Teriak Mika.


Membuat anak buahnya terkejut dan menolong bosnya. Sementara Mawar langsung pingsan, karena terkejut dengan bunyi tembakan.


"Ay." Panggil Agung lirih.


Akbar dan Dion langsung menyelamatkan Hengki dan kedua karyawan Agung.

__ADS_1


Setelah itu mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Sepeninggal mereka, Mikha langsung diobati anak buahnya. Namun saat ingin istirahat, ajudan keluarga besar Agung langsung menangkap mereka semua dan membawa ke markas. Kini bukan Akbar yang memberi hukuman. Tapi Arsyil lebih kejam dibanding kedua keponakannya.


__ADS_2