
Hari berganti hari, bulan pun juga sudah berganti bulan. Sri yang asli memanglah tulus merawat anak Agung dan Mawar. Hingga berat badan Didi selalu meningkat, dan tak hanya itu juga dia juga pintar dalam segala hal.
Sedangkan Mawar kini duduk di ranjangnya seorang diri. Rasa trauma itu kembali muncul. Tepat di usia kandungannya yang ke 6 bulan.
Tok...Tok...
"Ya." Jawab Mawar.
"Nona, ada non Mida sama tuan Akbar di luar." Ucap Sari.
"Oh ya." Jawab Mawar sambil berdiri dan melangkah keluar.
"Mana bik ?" Tanya Mawar.
"Di ruang tamu nona." Jawab Sari.
"Bik, tapi beneran mereka kan ?" Tanya Mawar.
"Insyaa ALLAH bener nona. Mari saya antar." Jawab Sari seraya mengajak.
"Ya, maaf ya bik." Ucap Mawar.
"Ya nona." Jawab Sari.
"Hai kak." Ucap mereka.
"Alhamdulillah, hai juga." Jawab Mawar sambil tersenyum dan duduk di sebelah Mida.
"Abang kemana kak ?" Tanya Akbar.
"Masih kerja." Jawab Mawar.
"Didi ?" Tanya Akbar.
"Tidur." Jawab Mawar.
"Sudah berapa bulan Mia ?" Tanya Mawar.
"Sama kak, 6 bulan juga." Jawab Mida.
Tak lama Agung pun pulang, ya sejak istrinya hamil lagi. Dia selalu pulang tiap makan siang.
Tin...Tin...
"Ya." Jawab Sari sambil berlari.
"Ada tamu bik ?" Tanya Agung.
"Iya tuan, keponakan tuan bersama istrinya." Jawab Sari.
"Oh." Jawab Agung.
"Tuan, nona masih trauma ya ?" Tanya Sari.
"Memangnya kenapa ?" Tanya Agung.
Sari pun menceritakan semua yang terjadi pada majikannya. Mendengar itu Agung langsung tersenyum dan berkata.
"Sabar ya bik, mungkin karena yang dulu. Aku harap bibik bisa sabar hadapi istriku." Ucap Agung.
"Insyaa ALLAH tuan, saya kasihan saja tuan dengan psikis nona dan janinnya." Jawab Sari lirih.
"Ya. Nanti akan ku periksakan dia." Ucap Agung.
Mereka pun masuk.
"Assalamualaikum." Salam Agung.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka bersama.
"Weh, Bar apa kabarnya nih ?" Tanya Agung.
"Alhamdulillah baik bang." Jawab Akbar dengan memeluk tubuh Agung.
"Syukurlah. Mid, berapa bulan ?" Ucap dan tanyanya.
"6 bulan bang." Jawab Mida sambil tersenyum.
Mawar pun langsung mendekati suaminya dan takzim. Tak lupa juga memberi Agung minuman tah hangat.
"Diminum dulu mas." Ucap Mawar.
"Makasih ay." Jawab Agung.
__ADS_1
"Sama-sama." Ucap Mawar.
"Tumben sudah pulang bang ?" Tanya Akbar.
"Aku sejak istriku hamil, aku sempatin pulang kalau siang." Jawab Agung.
"Baguslah, irit uang jajannya." Ucap Akbar dengan tertawa.
"Hmm, bisa saja kamu." Jawab Agung.
"Yuk makan siang sekalian." Ajak Agung dan Mawar.
"Ok." Jawab mereka berdua.
Mereka kini pun pindah ke meja makan, dan makan bersama di sana. Selesai makan, Mawar dibantu Sari dan Mida membersihkan meja makan. Sedangkan Agung dan Akbar ke teras belakang.
"Bang, kakak ipar apa masih trauma dengan kehamilan yang sekarang ?" Tanya Akbar.
"Masih Bar. Tadi kata Sari." Jawab Agung.
"Sabar bang, jangan marah." Ucap Akbar.
"Insyaa ALLAH aku enggak marah Bar, tapi aku merasa kasihan tiap ada tamu takut." Jawab Agung lirih seraya menatap wajah Mawar.
"Gimana kalau nanti sore kita jalan ?" Tanya Akbar.
"Boleh." Jawab Agung.
Selesai berbincang itu, Agung pamit kerja lagi. Namun sebelum berangkat, dia masuk kamarnya. Mawar pun pamit sebentar mau nyusul suaminya.
Sampai di kamar, Mawar lalu menatap suaminya.
"Cari apa ?" Tanya Mawar.
"Cari baju ganti." Jawab Agung.
"Buat apa ?" Tanya Mawar.
"Nanti aku mandi di kantor,karena Akbar ajak kita jalan bersama." Jawab Agung lalu tersenyum.
"Enggak mas, a-aku enggak mau." Ucap Mawar penuh takut.
"Shtt, aku tahu. Tapi aku mohon demi calon buah hati kita." Jawab Agung.
Mida dan Akbar yang melihat itu, langsung menenangkan Mawar.
"Aku enggak mau Mia." Ucap Mawar dengan terisak.
Sari dan Sri yang yang melihat itu ikut menangis. Begitu juga dengan suami dan keponakannya.
"Iya, kita enggak kemana-mana kok." Jawab Mida menenangkan Mawar.
Setelah tenang, Mawar pun terlelap di sandaran kursi sofa. Melihat itu Agung lalu mendekati dan memeluknya.
"Sabar bang." Jawab Akbar.
"Iya Bar." Jawab Agung.
Tiba-tiba gawainya bergetar, gegas dia angkat. Dan ternyata dari nasabahnya.
"Siapa bang ?" Tanya Akbar.
"Nasabahku." Jawab Agung.
"Mau lunasi ?" Tanya Akbar.
"Minta libur dulu." Jawab Agung.
"Oh." Jawab Akbar.
"Hmm, kalian mau disini dulu atau pulang ?" Tanya Agung.
"Disini dulu bang, istriku rindu Didi." Jawab Akbar.
"Titip Mawar ya." Ucap Agung.
"Insyaa ALLAH aman bang." Jawab mereka.
"Aamiin makasih. Ya sudah aku kerja dulu, nanti jam 5 aku sudah sampai." Ucap Agung seraya berlalu.
Sepeninggal Agung, Mida langsung menatap wajah Akbar dan menarik dagunya lalu menciumnya.
"Hanny, ini rumah abang. Bukan rumah kita." Ucap Akbar lirih.
__ADS_1
"Ya." Jawab Mida.
Sementara Agung kini, nampak fokus mengerjakan pekerjaannya. Hingga tak terasa waktu pulang pun tiba, dan kini dia langsung bersiap pulang.
"Semangat banget." Ucap Rendi.
"Ya dong." Jawab Agung seraya berlalu.
Di perjalanan arah pulang, dia nampak memikirkan istrinya. Hingga akhirnya dia sudah sampai di rumah.
"Pada kemana bik ?" Tanya Agung yang tak sengaja melihat Sari di luar.
"Main di lapangan tuan." Jawab Sari.
"Sama nona juga ?" Tanya Agung.
"Enggak tuan, nona di kamarnya." Jawab Sari.
Mendengar itu Agung langsung masuk ke dalam rumah. Dan membuka pintu kamar pintu perlahan.
Ceklek.
"Mas, sudah pulang ?" Tanya Mawar lirih sambil tersenyum dan mendekati Agung seraya takzim.
"Sudah ay, baru saja." Jawab Agung dengan tersenyum juga.
"Sudah mandi ?" Tanya Mawar.
"Sudah sayang." Jawab Agung.
"Coba cium." Ucap Mawar lirih sambil mendekati tubuh suaminya dan memang benar, ada bau sabun mandi di tubuh Agung.
"Gimana ?" Tanya Agung.
"Harum sabun mandi." Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Ya sudah yuk keluar, enggak baik bumil ada di kamar terus." Ucap Agung.
"Ya." Jawab Mawar mengalah.
"Susul Didi yuk." Ajak Agung lagi.
Mawar pun langsung terdiam, dia hanya diam tanpa mengucapkan separah kata pun.
"Enggak apa-apa ay, ya sudah kita ke taman saja yuk." Ajak Agung mengalah.
"Ya." Jawab Mawar ceria lagi.
Melihat itu, Agung lalu memeluk istrinya sambil mengelus lembut perut Mawar yang sudah membuncit.
"Mas, maaf sudah buatmu bosan." Ucap Mawar.
"Shht, enggak boleh gitu sayang." Jawab Agung.
"Aku bener takut mas, aku takut." Ucap Mawar lirih.
"Istighfar ay, lawan rasa takutmu." Jawab Agung lirih.
Mawar pun langsung menunduk. Melihat itu Agung lalu mengecup kening Mawar.
"Kita mulai dari sekarang ya." Ucap Agung.
"Tapi mas." Jawab Mawar.
"Ada aku disini, dan ALLAH di hatimu. Apa kamu tidak kasihan dengan calon anak kita ?" Ucap dan tanyanya.
"Baiklah akan ku coba." Jawab Mawar.
Sesampai di luar gerbang, rasa takut itu muncul lagi.
"Lawan ay, ada aku di sini." Ucap Agung berbisik.
"Iya." Jawab Mawar.
Hingga akhirnya Mawar pun bisa melewati rasa takutnya, Didi yang melihat kedua orang tuanya menyusul langsung menghampiri mereka.
"Ayah, Bibu." Panggil Didi.
"Hai sayang." Jawab mereka.
"Alhamdulillah." Ucap mereka bersama karena melihat Mawar sudah berani keluar. Ya walaupun masih menggenggam tangan Agung dengan erat, setidaknya sudah ada perubahan.
"Bibu, tangan Bibu dingin banget.
__ADS_1
"Oh, itu karena Bibu tadi selesai minum es boy." Jawab Agung bohong.