Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 40


__ADS_3

Selesai merias diri dan berganti pakaian, Mawar lalu bersiap-siap ke makam. Sedangkan Agung sudah menunggu di mobil.


"Sari, nanti kami pulangnya larut malam. Kamu kalau mau tidur, enggak apa-apa, aku akan bawa kunci sendiri." Ucap Mawar.


"Iya Nona." Jawab Sari.


"Ya sudah, baik-baik di rumah ya." Ucap Mawar.


"Iya Nona." Jawab Sari dengan sopan.


Sampai di mobil, Mawar ditatap suaminya.


"Kenapa ?" Tanya Mawar.


"Cantik." Jawab Agung lalu tertawa.


"Aamiin." Jawab Mawar.


Mereka pun kini meninggalkan rumah dan kini dalam perjalanan ke makam. Lalu mendoakan ibu, putri dam sanak saudaranya.


"Sudah yuk." Ajak Agung.


"Iya." Jawab Mawar lalu beranjak pergi karena sudah selesai menabur bunga dan kirim doa di makam putrinya.


Tak lama, mereka sampai di rumah ayah.


"Assalamualaikum." Salam Mawar.


"Waalaikumsalam." Jawab Edi, Yuda dan Dion.


"Sudah sembuh ?' Tanya Edi.


"Alhamdulillah sudah yah." Jawab Mawar.


"Alhamdulillah." Jawab mereka bersama.


Tak terasa malam pun tiba, kini di rumah Edi sedang banyak orang yang ingin mendoakan Kinar. Dan di dalam Mawar juga ikut serta membacakan tahlil untuk putrinya ditemani oleh suaminya.


Belum selesai membaca, tangis Mawar lagi-lagi pecah. Beruntung suaminya dengan sigap langsung memeluk dan menguatkan Mawar.


"Istighfar ay, istighfar terus." Ucap Agung lirih.


Mawar pun langsung istighfar, namun lagi-lagi dia pingsan. Agung lalu meninggalkan Mawar dan mendekati Dion.


"Mas, Mawar pingsan lagi." Ucap Agung lirih.


"Astagfirullah, sebentar." Ucap Dion lalu meminta mereka untuk minggir.


"Ya ALLAH pingsan lagi dia. Kasihan banget, beruntung yang sekarang dapat suami yang bener." Ucap salah satu tetangganya.


Dan disini Agung nampak menunggu keajaiban lagi.


Tak lama dokter itu keluar, dari ruang rawat.


"Alhamdulillah, istri anda dan calon anak anda tidak apa-apa. Kalau dia pingsan lagi, olesi dia minyak kayu putih. Untuk sementara jauhkan dulu dia dari hal-hal yang buat dia sedih." Ucap Widi.


"Ya dok." Jawab Agung lalu mendekati Mawar dan mencium bibirnya. Namun Mawar masih terlelap.


Hingga lewat tengah malam, Agung masih terjaga dan Mawar masih terlelap. Agung lalu mendekati Mawar dan mengecup kening istrinya seraya melafazkan doa terbaik untuk istrinya.


Sementara di rumah keluarga Agung, nampak mereka mendoakan Mawar agar segera sadar. Begitupun di rumah keluarga Mawar. Hingga tepat sepertiga malam Mawar membuka netranya.


"Sayang kamu sudah bangun ?" Tanya Agung.


Mawar hanya menganggukkan kepala dan tersenyum lalu berkata.

__ADS_1


"Maafin aku mas, aku harus pergi." Ucap Mawar lirih.


"Shtt, enggak sayang kamu enggak boleh pergi." Ucap Agung sambil menangis.


"Titip ayahku ya mas." Ucap Mawar lalu kembali terpejam lagi.


"Tidak ay, jangan tinggalkan aku. Tidaaaaakkkk." Ucap Agung sambil teriak.


"Tuan bangun tuan." Ucap Sari.


"Sari, dimana nona ?" Tanya Agung.


"Nona ada di kamar tuan." Jawab Sari dengan mimik wajah terkejut.


"Sayang." Panggil Agung sambil berlari.


"Hai mas." Jawab Mawar.


"Kamu Mawar kan ?" Tanya Agung sedikit bingung.


"Iya, ini aku. Ada apa dengan kamu mas ?" Jawab dan tanya Mawar penuh selidik.


Agung pun melangkah mundur, hingga tubuhnya terhenti di belakang dinding kamarnya. Dia lalu menceritakan kejadian yang ia alami. Mendengar itu Mawar lalu memeluk tubuh Agung.


"Ya aku memang pingsan mas, tapi hanya sebentar. Ayah meminta kita untuk balik ke rumah, beliau takut aku mengalami kejadian seperti kemarin. Pas kita sudah pulang, kamu pamit ingin nonton televisi aku mengizinkan. Ucap Mawar panjang lebar.


"Tengah malam aku terbangun, karena kamu enggak ada di kamar, aku menyusul kamu. Tapi kamu sudah tertidur, aku bangunin juga enggak mau. Akhirnya aku kasih kamu selimut dan ku tinggal di ruang tv." Ucap Mawar jujur.


"Alhamdulillah, jangan tinggalkan aku lagi." Jawab Agung lalu menarik tubuh Mawar untuk ia peluk.


"Insyaa ALLAH mas." Jawab Mawar sambil mengelus lembut punggung suaminya.


"Aku tak bisa hidup tanpa kamu." Ucap Agung lirih.


"Aamiin." Jawab Mawar.


"Iya istriku." Jawab Agung.


Agung lalu beranjak berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Selesai mandi, dia keluar dengan hanya mengenakan handuk saja. Sedangkan Mawar, sudah di luar menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Sari, kamu sudah sarapan belum, kalau belum sini sekalian bareng sarapannya." Ucap Mawar ramah.


"Sudah nona." Jawab Sari sambil tersenyum.


"Enggak usah malu-malu Sar, ayo sini." Ucap Mawar.


"Aduh non, beneran saya sudah kenyang." Jawab Sari lalu menunjukkan perutnya yang sedikit membuncit.


"Ya sudah, kalau gitu selesaikan tugasmu." Ucap Mawar.


"Iya Nona." Jawab Sari.


"Mas." Panggil Mawar.


"Hmm." Jawab Agung.


"Sarapan dulu yuk." Ajak Mawar.


"Iya." Jawab Agung.


Sesampai di meja makan, mereka pun lalu makan. Agung nampak terdiam, tidak seperti hari-hari biasanya.


"Alhamdulillah." Ucap Mawar.


"Mas, hai kamu kenapa ?" Tanya Mawar lagi.

__ADS_1


"Enggak apa-apa ay." Jawab Agung lalu beranjak pergi dan melangkah ke dekat taman rumahnya.


Mawar mengikutinya dari belakang dan memeluk pinggang suaminya.


"Kamu marah sama aku ?" Tanya Mawar.


"Enggak sayang." Jawab Agung.


"Serius ?" Tanya Mawar.


"Duo rius." Jawab Agung lalu membalikkan badannya menatap istrinya tercinta.


"Alhamdulillah, terus kenapa menjauh ?" Tanya Mawar.


"Karena aku sedang mikirin mimpi tadi. Aku takut kamu tinggal duluan." Jawab Agung.


"Sama mas, aku juga takut." Ucap Mawar.


"Kamu jodoh terindah yang ALLAH berikan kepada aku." Jawab Agung.


"Begitu juga denganmu. Dulu aku fikir menikah dengan kamu itu enggak akan mungkin, tapi takdir ALLAH berkata lain." Jawab Mawar seraya mengecup leher jenjang suaminya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana.


"Aamiin, doaku dan doamu disatukan oleh ALLAH dan diijabah." Jawab Agung.


"Aamiin." Ucap Mawar sambil memberi bekas merah di leher suaminya.


"Makasih ya sudah sabar menanti aku." Ucap Agung.


"Kebalik babang." Jawab Mawar.


"Haha, sengaja biar enggak terlalu tegang." Ucap Agung sambil mencium bibir Mawar.


"Kita pindah ke kamar yuk." Ajak Agung lagi.


"Ya." Jawab Mawar.


Di tempat lain, Marfel beserta rombongan keluarganya sedang mendatangi rumah Nadin.


"Assalamualaikum." Salam Marfel.


"Waalaikumsalam." Jawab Nadin, dengan pakaian feminimnya.


"Masyaallah cantik banget ya, tapi lebih cantik dan manis istrinya Agung. Sayangnya dia tak bisa ikut." Ucap Reza yang langsung kena pukulan oleh Linda.


"Akhh, sakit kak." Ucap Reza.


"Sadar Za, dia kakak ipar kita." Ucap Linda lirih.


"Iya tahu." Jawab Reza.


Nadin pun menyalami mereka satu persatu, lalu mengajak mereka untuk masuk ke dalam.


"Silahkan duduk." Ucap Nadin.


"Ya nak." Jawab mereka.


"Anak mami pintar banget sih milih calon istri." Puji Ratih.


"Aamiin." Jawab Marfel.


"Sudah cantik, pintar, sopan kaya lagi." Puji Ratih.


"Aamiin mi, tapi aku enggak tahu kenapa pertama ketemu dia, hatiku langsung nyes dan ngeklik." Jawab Marfel.


"Aamiin." Ucap Ratih.

__ADS_1


__ADS_2