Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Part 78


__ADS_3

"Enggak apa-apa ya, kan aku pingin nambah anak." Jawab Agung.


"Ingat umur, aku takut ditinggal lagi dan masih trauma dengan kehamilan yang kemarin. Jauh dari kamu, hingga aku tak bisa menahan rindu." Jawab Mawar.


"Insyaa ALLAH enggak akan terjadi lagi sayang, dan semoga kita tetap bersama. Aamiin." Ucap dan doa Agung.


"Aamiin." Jawab Mawar.


Mereka kini langsung masuk ke mobil dan Agung lalu menyetir mobilnya. Belum sampai di rumah, Mawar nampak terlelap di mobil.


Masyaallah cantik banget menurut aku. Puji Agung dengan tersenyum. Sesampai di rumah, Agung keluar dari mobil dan membunyikan bel di rumah.


Tet...tet...


"Ya sebentar." Teriak Sari.


Sampai di luar, Sari lalu melihat majikannya. Dia langsung membukakan pintu gerbang.


"Sudah pulang tuan ?" Tanya Sari.


"Sudah, Oh ya nanti kalau mami datang, disuruh nunggu sebentar ya. Aku sedang sibuk." Jawab Agung.


"Beres tuan." Jawab Sari.


Setelah mobil masuk, Sari langsung mengunci pintu gerbang dan kembali kerja lagi. Sedangkan Agung langsung membopong Mawar.


"Bismillahirrohmannirohim. Ucap Agung.


Sampai di kamar, Agung lalu menidurkan Mawar dengan perlahan hingga mendapat tempat yang nyaman. Barulah Agung ikut tidur di sampingnya.


Aku tahu banyak hal yang kamu lewati dengan hujatan mereka, namun rasa cintaku padamu insyaa ALLAH tak pernah padam. Karena mereka hanya tahu, keburukan kamu saja. Bukan seperti aku yang tahu kebaikan kamu. Ucap Agung lirih.


Baru mau terjaga anaknya sudah datang, dengan mengetuk pintu kamar.


"Ikum ayah." Salam dan panggil Agung kecil.


"Waalaikumsalam." Jawab Agung lirih.


Agung kecil lalu masuk ke dalam, dan ikut tidur di samping ibunya. Tak lupa juga dia minum asi menggunakan dotnya. Selesai minum, dia lalu tertidur.


Sedangkan Agung kini nampak di luar menemui kedua orang tuanya.


"Mi, pi." Panggil Agung.


"Ya, Mawar mana ?" Jawab dan tanya mereka bersama.


"Tidur." Jawab Agung lirih.


"Oh, ya sudah kalau gitu mami dan papi ngomong ke kamu saja." Ucap mereka.


"Ngomong apa ?" Tanya Agung dengan sopan.

__ADS_1


"Tapi kamu jangan cemburu dulu." Ucap Ratih.


"Apaan sih mi, biasanya juga langsung kasih tahu." Jawab Agung.


"Sudah mi, biar papi saja yang jelasin." Jawab Hengki.


"Ya pi." Ucap Ratih.


"Gini lho Gung, abangmu itu istrinya baru positif hamil. Dia ingin banget ketemu Mawar." Jawab Hengki.


"Astagfirullahhallazim." Ucap Agung seraya pamit.


"Nah kan cemburu dia pi." Ucap Ratih.


"Sabar mi, ya sudah yuk pulang dulu. Nanti kita bicarakan lagi." Ucap Hengki.


"Ya." Jawab Ratih.


"Sari, kami pulang dulu." Ucap mereka.


"Ya tuan, nyonya." Jawab Sari.


Sepeninggal mereka, Sari lalu masuk ke dalam. Tanpa Sari tahu Agung ada di depan pintu.


"Astagfirullahhallazim tuan, ngagetin saja." Ucap Sari.


"Maaf, nanti kalau istriku cariin aku. Tolong bilang saja, aku ada di kantornya Akbar." Ucap Agung.


Agung lalu tancap gas dan meninggalkan rumah. Sampai di kantor Akbar, Agung lalu masuk ke ruangannya.


"Assalamualaikum." Salam Agung.


"Waalaikumsalam." Jawab Akbar.


"Lagi sibuk ?" Tanya Agung.


"Enggak bang, alhamdulillah sudah selesai. Ada apa ni, tumben kesini biasanya lengket sama kakak ipar." Jawab Akbar.


"Ck, tadinya sih gitu, cuma aku karena permintaan mami aku terpaksa ninggalin istriku di rumah." Ucap Agung.


"Memangnya bude minta apa ?" Tanya Akbar penuh kepo.


"Abang Marfel lagi ngidam, pengen ketemu Mawar." Jawab Agung.


"Oh." Jawab Akbar.


"Oh saja ?" Tanya Agung.


"Terus gimana bang, kan cuma pengen ketemu. Ya temuin aja lah bang, lagipula bang Marfel juga sudah punya kak Nadin." Jawab Akbar.


"Enggak, aku takut kejadian lalu terulang lagi." Ucap Agung.

__ADS_1


"Bang, biar bagaimanapun yang lalu biarlah berlalu. Sekarang dia juga sudah punya istri, positif saja bang." Ucap Akbar.


"Ck, bukan dapat solusi malah dapat jalan buntu." Jawab Agung kesal.


"Astagfirullahhallazim, kan hanya pengen ketemu bang. Lagipula juga abang bisa awasi mereka. Dan kak Nadin juga ada." Ucap Akbar.


"Hmm, tapi tetap saja sakit Bar." Jawab Agung jujur.


"Ya bang, aku pun juga begitu. Tapi tetap saja kita ini sesama saudara saling bantu. Kalau abang salah, ya aku akan kasih tahu abang, begitu juga sebaliknya. Dan jangan lupa, abang bisa dengan kakak ipar selain campur tangan ALLAH. Ada bang Marfel yang secara tidak langsung mendekatkan kalian." Jawab Akbar panjang lebar.


"Iya juga sih. Makasih ya, kalau gitu aku pulang dulu." Jawab Agung seraya pamit.


"Ya." Jawab Akbar.


Sepeninggal Agung, Akbar tersenyum lebar dan bergumam dalam hati. Aku juga akan melakukan hal yang sama, jika titipan aku di suruh nemuin orang dekat. Walaupun itu hanya saudara.


Dan di sini, Agung nampak di pandang seorang perempuan.


"Eh itu bukannya, abang keponakan si bos ya ?" Tanya perempuan itu.


"Iya, gila tampan banget ya dia." Ucap orang itu.


"Iya, tapi sayang sudah punya istri lagi." Jawab perempuan tadi.


"Tak apalah, kucing kalau dapat ikan pasti akan di makan." Ucap perempuan itu penuh percaya diri.


Lalu berlari mengejar Agung.


"Pak tunggu pak." Ucap perempuan itu.


"Ada apa ?" Tanya Agung yang menahan risih karena perempuan ini, memperlihatkan buah dadanya.


"Pak, boleh minta waktunya sedikit saja." Ucap perempuan itu.


"Enggak." Jawab Agung lalu berlalu.


"Ck, sial dia galak juga ya." Ucapnya.


"Haha, kasian ditolak." Jawab mereka semua dengan tertawa.


Sementara Agung nampak kesal dengan perempuan tadi. Hingga tak terasa sudah sampai di rumah.


Tet...Tet...


"Ya." Jawab Sari lalu membuka gerbang.


"Nona sudah bangun bik ?" Tanya Agung.


"Belum tuan." Jawab Sari.


Agung langsung masuk ke dalam kamar dan melepas jaketnya. Lalu mendekati Mawar.

__ADS_1


Kamu tahu sayang, aku tadi di godain perempuan. Tapi enggak aku respon. Ucap Agung lirih sambil menatap rambut Mawar yang kini sudah nampak putih sebagian.


__ADS_2