Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 83


__ADS_3

"Yakin ?" Tanya Agung.


"Insyaa ALLAH haqul yakin." Jawab Mawar.


"Kenapa bisa gitu ?" Tanya Agung.


"Karena aku percaya tidak ada cinta yang sempurna di dunia ini." Jawab Mawar.


"Hmm." Jawab Agung.


Mereka lalu kembali ke gedung. Sedangkan di gedung kini nampak artis papan atas menyanyi. Saat hendak masuk, tangan Agung ditarik penyanyi itu.


"Maaf, saya sudah punya istri." Ucap Agung menolak dengan halus. Lalu menarik pinggang Mawar.


"Masyaallah, stop dulu mas musiknya. Seumur hidup baru kali ini saya ketemu lelaki, menolak saya ajak nyanyi. Karena menjaga perasaan istrinya, terima kasih masnya. Semoga langgeng." Ucap dan doa Happy Asmara.


Membuat mereka semua langsung mengaamiinkan doa Happy. Nenek pun ikut tersenyum mendengar cucunya mampu menjaga perasaan pasangan.


Sampai di kursi yang kosong, Mawar pun mencari putranya.


"Cari siapa ?" Tanya Agung.


"Cari Didi." Jawab Mawar.


"Tu sama mami dan papi." Ucap Agung.


"Alhamdulillah, aku kesana ya mas. Enggak enak ngerepotin mami terus." Ucap Mawar meminta izin.


"Nanti saja, lagipula Didi terlihat anteng." Jawab Agung.


"Ya tapi-." Ucap Mawar terhenti karena di tatap Agung.


"Ya sudah." Jawab Mawar sambil menunduk.


Melihat itu Agung lalu memeluk tubuh Mawar dan berbisik.


"Jangan menunduk, enggak ada uang yang jatuh." Ucap Agung.


"Hmm." Jawab Mawar sambil tersenyum dan menatap wajah Agung dengan tatapan teduh.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Enggak nyangka saja, impian kita sama." Jawab Mawar penuh malu-malu.


"Aamiin ay." Ucap Agung seraya mengecup kening Mawar.


Tanpa mereka tahu, Akbar menyaksikan itu.


"Mia, tengok tu abang sama kakak ipar." Ucap Akbar sambil menunjuk.


"Apa mas ?" Tanya Mida lalu menatap yang Akbar tunjuk.


"Hemm, pengantin lama berasa pengantin baru. Ihir seger liatnya." Jawab Mida lagi.


Mendengar itu Akbar lalu memeluk pinggang Mida dan bertanya.


"Kamu enggak kepingin ?" Tanya Akbar.


"Uhuk-uhuk, aduh Barbara kira-kira dong kalau meluk." Jawab Mida mengalihkan pembicaraan.


"Ck, supermi." Ucap Akbar ketus.


Membuat Mida mulai takut, biar Mida terlahir dari keluarga broken home. Ibunya tetap mengajarkan hormat menghormati kepada orang yang lebih tua. Terutama pendamping hidupnya.


"Maaf mas." Ucap Mida.


"Ya hanny." Jawab Akbar.


Arsyil dan Reza tak sengaja melihat pun langsung berkata.


"Terlihat indah di pandang, namun sangat susah dijalankan. Karena menikah itu, menyatukan dua hati. Omesong, tapi aku pengen nikah." Ucap mereka bersama.


Membuat yang ada di sebelah mereka bergidik ngeri campur tertawa.

__ADS_1


"Mas, kalian gay ya ?" Tanya tamu undangan.


"ALLAH Akbar, amit-amit jabang bayi kami pria tulen kali." Jawab mereka bersama lalu pergi.


"Tuh kan, ege bilang juga apa. Kita jangan campur, nanti kita dikira lesbi. Jauh-jauh dari ege, ege masih pria tulen cin." Ucap Reza.


"Ege juga cin, ampun deh. Tampan gini dituding gay, Yuk cin kita capai tu the cus cari yayang." Jawab Arsyil.


Membuat mereka yang melihat tertawa bersama. Kecuali kedua orang tua mereka yang hanya menggelengkan kepala menahan malu.


"Ya ALLAH mi, kamu salah apa sih. Anak kita jadi bencong ?" Tanya Ridho


"Astagfirullahhallazim, abi hati-hati kalau bicara bi." Jawab umi Arsyil.


"Astagfirullahhallazim maaf mi." Ucap Ridho.


"Hmm." Jawabnya.


Sedangkan Taufan dan istrinya hanya menundukkan wajahnya. Berbeda dengan Linda yang langsung simpan momen itu dalam gawainya.


Haha, bisa buat mainan Reza ni. Ucap Linda lirih.


Sedangkan Didi nampak tidak ada expresi.


"Kamu kenapa sayang ?" Tanya Ratih.


"Enggak apa-apa nek, aku malu punya dua om. Tapi malah jadi bencong." Jawab Didi.


"Sayang itu hanya buat hiburan saja." Jawab Ratih lalu menjelaskan kepada Didi tepatnya pas Arsyil dan Reza masih kecil.


Mendengar cerita neneknya Didi ketawa terpingkal-pingkal. Mawar yang tak sengaja mendengar tawa putranya ikut tersenyum. Persis ayahmu kamu nak. Ucap Mawar dalam hati.


Sedangkan Agung, nampak tertidur di bahu Mawar. Tak jauh beda dengan Marfel dan Nadin. Kini Marfel menemani istrinya makan sambil memangku Nadin.


"Bang suapin." Ucap Nadin.


"Ya." Jawab Marfel penuh sabar.


Dan di kursi pengantin, Akbar nampak tersenyum melihat pemandangan keluarga besarnya berkumpul.


"Kenapa hanny ?" Tanya Akbar.


"Kebelet." Jawab Mida.


Gegas Akbar membopong Mida dan membawa Mida ke toilet.


Mereka yang melihat pun nampak panik, mereka berfikir terjadi sesuatu. Namun setelah Rani menjelaskan, mereka nampak lega. Sementara Agung yang masih terlelap, jadi terbangun karena banyak keluarga yang mendekati Akbar.


"Hmm, kirain ada apa." Ucap Agung bergumam kesal.


"Sabar." Jawab Mawar sambil mengelus lembut lengan tangan suaminya.


"Iya cintaku." Ucap Agung.


Dan kini Akbar sudah sampai di kursi pengantin bersama dengan Mida.


"Sudah enggak sabar kayaknya mas dan mbak pengantin mau malam pertama." Ucap Mc, membuat mereka semua tertawa.


Tak terkecuali Mawar, Melihat tawa istrinya Agung langsung menatap Mawar dengan tersenyum. Masyaallah bidadari surgaku. Ucapnya lirih lalu mengecup tangan Mawar.


"Mas." Panggil Mawar karena terkejut akan tindakan Agung.


"Ya sayang." Jawab Agung seraya tersenyum.


"Malu dilihat orang." Jawab Mawar lirih.


"Enggak ada sayang." Jawab Agung lalu mencium pipi Mawar sangat lama.


Membuat Mawar nampak geli dan langsung tertawa.


"Geli mas." Ucap Mawar.


"Geli kenapa ?" Tanya Agung.

__ADS_1


"Kumismu belum kamu cukur." Jawab Mawar.


"Sengaja, biar kamu tertawa." Jawab Agung seraya tersenyum.


"Malu ah, dilihat Didi mas." Ucap Mawar.


"Biarin, kamu itu istriku." Jawab Agung.


"Ya." Jawab Mawar.


"Haha, Bibu dicium ayah nek." Ucap Didi sambil tertawa.


Ratih pun langsung menatap anak dan menantunya itu. Masyaallah benar-benar pasangan romantis. Ucap Ratih lirih.


Acara pun kini di mulai lagi, dengan berfoto bersama dan memberi ucapan selamat. Untuk teman atau kolega atau kliennya Akbar dan Mida.


Sedangkan keluarga besar Akbar, nampak menatap mereka dengan bahagia.


"Tamunya banyak juga ya mas." Ucap Mawar.


"Ini sih belum semua ay." Jawab Agung.


"Serius ?" Tanya Mawar.


"Ya." Jawab Agung.


"Ya ALLAH ya Qarim." Jawab Mawar.


"Masih mending ini, dulu kita kaya apa coba." Ucap Agung mengingat masa menikah dengan Mawar.


"Iya juga ya mas, sampai-sampai aku capek. Namun juga bahagia, bisa bersanding dengan kamu." Jawab Mawar.


"Aamiin sayang, aku juga bahagia denganmu.


Dan disini, Linda, Arsyil dan Reza berkumpul.


"Sayang banget ya kak Reva sama Kak Sifa enggak ada." Ucap Reza.


"Emangnya kenapa ?" Tanya mereka.


"Ya kalau ada mereka kan tambah seru." Jawab Reza seraya memantau keamanan.


"Ck, aku heran sama kak Reva, kuliah saja minta di Mesir." Ucap Linda.


"Ya mungkin ingin meraih sukses di sana." Jawab Arsyil.


"Tapi kan jauh dengan keluarga ?" Tanya Reza.


"Ya mungkin ingin mandiri, dan ingin seperti abangnya yang bisnisnya sukses dimana-mana." Ucap Arsyil.


"Bisa jadi, tapi dengar-dengar lelaki yang sempat dia tolak, juga sekolah di sana." Ucap Reza.


"Serius kamu ?" Tanya mereka bersama.


"Duo rius." Jawab Reza.


"Alhamdulillah dong, mungkin aja bisa jadi jodoh. Kaya bang Agung sama kak Mawar." Ucap mereka berdua.


"Aamiin." Jawab Reza.


Selesai foto dan salaman, pengantin pun duduk kembali.


Mawar yang melihat itu langsung terkenang masa menikah dengan Agung. Dan itu kali pertama, dia menyalami hingga 350 ribu tamu. Membuat dia harus lepas sepatu.


"Jangan melamun ay, nanti kalau kesurupan aku cium kamu." Ucap Agung membuyarkan lamunannya.


"Enggak mas." Jawab Mawar.


"Melamunin apa ?" Tanya Agung.


"Saat kita nikah dulu, jujur baru denganmulah aku menyalami tamu sebanyak itu." Ucap Mawar lirih.


"Dapat rekor muri dong." Jawab Agung lalu tersenyum.

__ADS_1


"Rekor muri apaan." Ucap Mawar.


__ADS_2