
"Sudah bosen hidup ya Mik ?" Tanya Arsyil.
"Lepas." Ucap Mika sambil teriak.
"Oh tidak semudah itu." Jawab Arsyil lalu memberi hadiah tamparan keras untuk Mika.
"Akhhhh." Teriak Mika.
"Hei kalian, mau tampar dia enggak ?" Tanya Arsyil pada ajudannya.
"Boleh bos, saya sudah gatal tak lama menampar dia." Jawab Sony.
"Silahkan." Ucap Arsyil.
"Dengan senang hati bos." Jawab Sony.
Plak...Plak..
"Akhhh, sudah cukup sakit." Jawab Mikha.
Meninggalkan Mikha, kini Mawar tengah di obati.
"Gimana dok ?" Tanya Agung.
"Alhamdulillah tidak apa-apa, tolong jaga ya pak jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi." Jawab Widi.
"Insyaa ALLAH dok." Jawab Agung lalu masuk ke dalam.
Sedangkan Sari dan Sri sudah pulang, bersama Dion dan Hari. Didi masih di RS, karena masih syok akan yang dia lihat. Beruntung Linda dan teman-teman Linda langsung sigap membantu.
Sementara di ruangan Mawar, Agung berada di sisinya.
"Ay, maafin aku." Ucap Agung.
Tepat dini hari, Mawar terjaga karena rasa haus yang melanda dan suara tangisan bayi yang terdengar di telinganya.
Saat membuka netranya, yang pertama ia lihat adalah suaminya yang menangis.
"Mas." Panggil Mawar dengan suara lirih.
"Sayang, kamu sudah bangun ?" Tanya Agung lalu menekan tombol merah.
Tak lama dokter Widi datang.
"Alhamdulillah, istri anda dan calon buah hati anda baik-baik saja pak, namun tetap harus di rawat dulu ya pak. Karena luka di pipinya harus ditangani secepatnya." Ucap Widi.
"Baik dok." Jawab Agung.
Sepeninggal dokter itu, Mawar hendak ingin ambil minumnya.
"Biar aku ambilkan ay." Ucap Agung.
"Makasih." Jawab Mawar.
"Sama-sama ay." Ucap Agung sambil tersenyum.
"Mas, lapar." Ucap Mawar lirih.
"Mau pesan apa ?" Tanya Agung lembut.
"Pesan sushi aja mas." Jawab Mawar.
"Baiklah." Jawab Agung dengan tersenyum.
Tak berapa lama pesanan yang di tunggu pun datang, Mawar nampak bahagia dan berdoa lalu memakannya.
Namun baru sesuap sushi masuk dalam mulutnya, air matanya mengalir karena rasa perih di pipinya.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
"Enggak apa-apa mas." Jawab Mawar dusta.
"Jangan bohong sayang." Ucap Agung.
"Pipiku perih mas." Jawab Mawar sambil menangis, namun tetap dipaksakan untuk makan. Mengingat ada buah hati di dalam rahimnya yang butuh asupan makanan.
"Sabar Ay dan pelan-pelan ya." Ucap Agung.
"Ya mas." Jawab Mawar.
Tanpa mereka tahu, Akbar dan Arsyil, Marfel dan juga Hengki mendengar itu semua.
"Ini semua salah papi, coba saat itu papi tidak ajak Didi ke taman. Pasti ini semua tidak akan terjadi." Ucap Hengki penuh sesal.
__ADS_1
"Qodarullah pi." Jawab Marfel.
"Qodarullah pakdhe, semua itu sudah atas kehendak-Nya." Jawab mereka.
"Ya." Jawab Hengki lalu menemui menantunya.
"Eh, menantu papi sudah bangun. Gimana girls, sudah baikan ?" Ucap dan tanyanya.
"Alhamdulillah pi." Jawab Mawar.
"Syukurlah." Ucap Hengki.
"Malam kakak ipar." Sapa mereka.
"Malam juga Akbar dan Arsyil." Jawab Mawar sambil tersenyum tipis.
Dan menggenggam tangan Agung, Agung yang sedari tadi menatap wajah Mawar tanpa berkedip langsung menatap kedua keponakannya dan papinya.
"Kak, Arsyil ingin tanya boleh enggak ?" Tanya Arsyil.
"Boleh." Jawab Mawar.
"Tapi janji ya, kakak enggak boleh nangis." Ucap Arsyil.
"Insyaa ALLAH." Jawab Mawar.
"Maaf ya kak, pipi kakak ditampar Mikha menggunakan apa ?" Tanya Arsyil.
Membuat Agung langsung marah.
"Arsyil kamu-." Ucap Agung terhenti, karena lengan tangannya di pegang oleh Mawar.
"Pakai tangan Syil, tapi seluruh jari Mikha, Mikha pasangin dengan cincin akik. Beruntung saat itu Suster dan Bibik langsung mendorong tubuh Mikha." Jawab Mawar jujur.
Mendengar hal itu Arsyil langsung pamit dan menemui kedua karyawan Agung.
"Makasih kak, kalau gitu aku pamit dulu." Jawab Arsyil.
"Sama-sama Ril, tunggu Ril." Jawab Mawar.
"Ada apa kak ?" Tanya Arsyil.
"Jangan sakiti Mikha ya, aku sudah memaafkan dia. Jangan kotori tanganmu untuk membalasnya." Ucap Mawar bijak.
"Iya kak, tenang saja." Jawab Arsyil seraya tersenyum.
Sepeninggal Arsyil, Akbar dan Hengki juga ikut pamit. Mereka pun langsung mengiyakan.
Kini mereka hanya berdua.
"Masih lapar ?" Tanya Agung lirih.
"Enggak mas." Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu, tidurlah." Ucap Agung.
"Ya, kamu juga tidur mas." Jawab Mawar.
"Ya sayang." Jawab Agung.
Tak lama Mawar sudah terlelap, Agung pun merasa lega. Dia lalu uploud status dengan foto bersama istrinya. Mohon doanya ya gaes, istriku sedang dapat musibah. Tulis Agung.
Tak lama, komentar pun langsung muncul. Namun Agung langsung mematikan gawainya, karena esok ia harus kerja kembali.
Sementara Nadin yang tak sengaja membuka status Agung langsung menangis. Melihat pipi Mawar yang memerah.
"Sayang, kenapa ?" Tanya Marfel.
"Adek mas." Jawab Nadin dengan terisak.
"Shht, jangan sedih kasihan Michel." Ucap Marfel.
"Ya bang." Jawab Nadin.
Sedangkan Arsyil saat ini sudah ada di rumah Agung. Beruntung Sari masih terjaga.
"Belum tidur ?" Tanya Arsyil.
"Belum tuan." Jawab Sari.
"Sri kemana ?" Tanya Arsyil.
"Baru saja tidur tuan." Jawab Sari.
__ADS_1
"Sari tunggu." Ucap Arsyil.
"Ada apa tuan ?" Tanya Sari.
"Tangan kamu kenapa ?" Tanya Arsyil.
"Oh ini, pas tadi nyelamatin nona tuan." Jawab Sari.
"Memangnya kakak ipar kenapa ?" Tanya Arsyil.
"Nyelamatin putranya dari penjahat, namun sayang nona berhasil masuk perangkap mereka. Dan dibawa ke mobil, kami mengikuti dari belakang tuan dan mencoba nyelamatin nona." Jawab Sari.
"Berhasil ?" Tanya Arsyil.
"Hampir berhasil." Jawab Sari.
"Tapi lukamu sudah diobatikan ?" Tanya Arsyil.
"Sudah tuan." Jawab Sari.
"Syukurlah." Ucap Arsyil.
"Tuan tunggu, aku mohon beri hukuman mereka yang setimpal tuan. Karena mereka hampir merusak kehormatan nona." Ucap Sari.
Mendengar itu Arsyil menganggukkan kepala.
"Kamu tenang saja." Jawab Arsyil yang ingin berlalu, namun di tahan oleh Sari.
"Ini bukti nona mau dilecehkan mereka tuan." Ucap Sari lalu menyerahkan gawainya.
"Makasih, sekarang tidurlah." Ucap Arsyil.
"Ya." Jawab Sari.
Arsyil langsung ke RS lagi, dia menemui Akbar, Agung dan Marfel.
"Kalian harus lihat bukti ini dulu." Ucap Arsyil.
Mereka bertiga pun menurut, dan tak lama netra Agung melebar serta mengucap kata-kata kasar.
"Sabar." Jawab mereka.
"Apa kamu yakin, mau melepaskan dia ?" Tanya Marfel.
"Enggak." Jawab Agung lalu kembali ke ruangan istrinya.
Sepeninggal Agung, mereka bertiga lalu menyusun rencana. Dimulai dengan perusahaan Mika, yang akan gulung tikar. Dan itu diambil oleh Akbar, sedangkan Arsyil eksekusi Mikha, Dan Marfel mengumpulkan bukti kejahatan Mikha.
Ini bukan karena dendam semata ya bestie, tapi ini tentang keselamatan keluarga. Jika hanya satu yang tersakiti, mungkin cukup dieksekusi. Tapi ini sudah ada 5 orang. Dan Marfel paling sakit hati jika papi tercinta disakiti. Itulah mengapa mereka paling disegani di kalangan bisnisnya.
Dan disini Agung nampak tersenyum lebar menatap wajah Mawar yang sudah tidak agak memerah.
"Mas." Panggil Mawar lirih.
"Hmm." Jawab Agung.
"Kok belum tidur ?" Tanya Mawar.
"Tadi sudah sayang, cuma kebangun karena di panggil abang. Kamu kenapa juga sudah bangun ?" Tanya Agung.
"Kamu tatap terus." Jawab Mawar lirih.
"Emangnya kenapa kalau ku tatap terus ?" Tanya Agung.
"Malu ah mas, ditambah Pipiku yang memerah seperti buah tomat." Jawab Mawar.
"Tapi imut lho." Ucap Agung sambil tersenyum.
"Sakit." Jawab Mawar.
"Utu-utu, sini ku kecup biar sembuh." Ucap Agung.
"Enggak mau, udah ada kumisnya." Jawab Mawar.
"Tapi aku rindu ay." Ucap Agung.
Cup.
Kecupan itu dari Mawar, membuat Agung langsung tersenyum.
"Makasih cinta." Jawab Agung.
"Sama-sama mas." Ucap Mawar.
__ADS_1