Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 45


__ADS_3

"Bang bakso 2, 1 pedes yang satu enggak." Ucap Agung sambil menggenggam tangan Mawar.


"Asiap pak." Jawab Bokir tukang bakso.


Tak lama pesanan mereka semua jadi.


"Ini yang pedes dan ini yang sedang." Ucap Bokir.


"Ok makasih mang." Jawab Mawar.


"Sama-sama neng gelis." Ucap Bokir.


Mawar pun langsung makan dengan duduk di sebelah Agung dan Arsyil sementara Linda berada di samping Arsyil.


"Mang tambah satu lagi ya." Ucap Mawar.


"Siap neng." Jawab Bokir.


Mereka bertiga saling menatap.


"Bang, anakmu minta nambah." Ucap Linda lirih


"Hmm." Jawab Agung.


"Ini neng." Ucap Bokir.


"Makasih mang." Jawab Mawar.


"Oke." Ucap Bokir.


Setelah semuanya selesai, Mawar pun minta lagi.


"Sayang nanti lagi dong, sakit nanti perutmu." Ucap Agung menasehati.


"Di bungkus bi, buat makan nanti." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Ya sudah." Ucap Agung mengalah.


"Makasih." Jawab Mawar lalu beranjak pergi.


"Ya." Jawabnya.


"Busyet bang, tumben kakak ipar makan banyak ?" Tanya Arsyil dan Linda.


"Alhamdulillah, sudah lima hari makannya hanya dikit." Jawab Agung.


"Oh pantes." Ucap mereka bersama.


Selesai membayar baksonya, Mawar kembali lagi. Namun tangan kirinya di tarik seseorang. Beruntung dia tak jatuh.


"Astagfirullahhallazim, apa-apaan kamu ini ?" Tanya Mawar terkejut.


Plak..


"Kembalikan suamiku." Ucap Yanti istri Anto.


Mendengar hal itu mereka bertiga langsung berlari mendekati Mawar.


"Suami siapa ?" Tanya Mawar.


"Suamiku." Jawab Yanti.


Plak...Plak..


"Aku enggak tahu suami kamu, kamu main tampar." Jawab Mawar sambil membalas menampar dengan menggunakan sepatu Mawar.


"Akhh." Teriak Yanti.


"Sayang." Panggil Agung lalu memeluk Mawar.


"Ada apa ini ?" Tanya mereka bertiga.


"Dia ini udah merebut lakiku. Lakiku sudah seminggu tak pulang ke rumah. Pasti karena pelakor ini." Jawab Yanti dengan mengangkat telunjuknya ke arah Mawar.


Bugh.


Tendangan keras kaki Mawar tepat mengenai paha Yanti.


"Akhh." Teriak Yanti menahan sakit.

__ADS_1


"Hati-hati kalau berkata, dan jangan pernah menuduh orang tanpa bukti yang jelas. Jangan ganggu singa yang sedang tidur, kalau tidak mau di terkam." Jawab Mawar.


Mereka bertiga pun tak menyangka Mawar yang terlihat kalem bisa berubah menjadi sadis.


"Lalu kalau bukan kamu, kenapa kamu bisa hamil ?" Tanya Yanti.


"Karena aku menikahi dia." Jawab Agung keras.


Yanti langsung mendelik,dan berkata.


"Enggak mungkin." Ucap Yanti.


"Apapun bisa terjadi bila ALLAH sudah berkehendak." Jawab Agung.


"Paling nanti setelah anaknya lahir langsung cerai. Sudah Yan, kamu tenang saja." Ucap Wati yang tiba-tiba datang.


"Iya mbak." Jawab Yani.


"Astagfirullahhallazim, nauzubillahminzalik." Jawab Mawar sambil mengelus dadanya.


Plak.


Tamparan Linda tepat mengenai di pipi Wati.


"Akhh." Teriak Wati karena pipinya ditampar oleh Linda.


Sedangkan Mawar, kini dibawa masuk oleh suaminya.


"Ay." Panggil Agung lirih.


"Hmm." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Kamu bilang, kamu enggak bisa berkelahi, tapi kok tadi kamu kuat banget nendang orang itu ?" Tanya Agung.


"Aku memang enggak bisa mas, tapi aku selalu minta pertolongan ALLAH. Agar aku bisa lawan orang yang berniat jahat kepadaku. Alhamdulillah ALLAH mengabulkan." Jawab Mawar.


"Masyaallah tabarakhaulah." Ucap Agung sambil tersenyum dan memeluk Mawar.


"Mas, aku lapar lagi." Ucap Mawar.


Spontan Agung langsung melerai pelukannya dan menggelengkan kepala.


"Lapar lagi ?" Tanya Agung lirih.


"Mau ngapain ?" Tanya Agung.


"Mau kamu." Jawab Mawar lalu tersenyum.


"Masyaallah ya ALLAH." Ucap Agung lalu menggendong Mawar dan membawanya ke kamar.


Dan di tempat Akbar, kini Akbar sedang menandatangani kontrak kerja dengan rekan bisnis lamanya.


"Semoga tetap terjalin terus ya Koko." Ucap sekretaris rekannya itu.


"Insyaa ALLAH Ci." Jawab Akbar.


Mereka pun langsung pamit dan meninggalkan kantor Akbar.


"Abang, aku datang." Ucap Reva.


"Yah si manja. Ada apa ?" Ucap dan tanyanya.


"Hehe biasa bang, dady minta abang ke tempatnya Asyifa." Jawab Reva.


"Ada apa ?" Tanya Akbar.


"Meneketehek." Jawab Reva.


"Dasar adik lucnut, ditanya serius malah ngebanyol bae." Ucap Akbar.


"Reva enggak tahu abangku sayang berkumis hitam." Jawab Reva.


"Dasar vanci." Ucap Akbar.


"Panci kali bang." Jawab Reva sambil menengadahkan tangan minta uang.


"Kenapa ?" Tanya Akbar.


"Minta uang." Jawab Reva.

__ADS_1


"Ck, kebiasaan deh. Memangnya disini bank apa ?" Ucap dan tanya Akbar kesal.


"Daddy, abang pelit." Ucap Reva sambil pura-pura menelpon.


"Astagfirullahhallazim, mulai deh ngadu." Ucap Akbar.


"Biarin." Jawab Reva.


"Hmm dasar Vanci." Ucap Akbar lalu memberikan uang untuk adiknya.


"Barbara." Jawab Reva seraya berlari.


Astagfirullahhallazim punya adik satu saja bikin pusing, tapi juga bisa bikin obat stres juga sih. Ucapnya dalam hati.


Sepeninggal Reva, Akbar lalu bersiap-siap ke rumah Asyifa. Sesampai di sana, nampak Asyifa sedang di luar sambil duduk di taman.


"Assalamualaikum." Salam Akbar.


"Waalaikumsalam." Jawab Syifa.


"Sepi banget pada kemana ?" Tanya Akbar.


"Biasa Bang, lagi keluar semua." Jawab Syifa.


"Kalau pada keluar, kenapa aku disuruh untuk kemari ?" Tanya Akbar.


"Mungkin karena ini." Jawab Syifa lalu memberikan sebuah surat ke Akbar.


"Ini apa ?" Tanya Akbar.


"Enggak tahu, tadi abi nitip itu ke aku." Jawab Syifa jujur.


"Kamu enggak kerja ?" Tanya Akbar mengalihkan pembicaraan.


"Kerjaku di pending bang, abi sama umi kurang setuju aku kerja di sana." Jawabnya.


"Sebabnya kenapa ?" Tanya Akbar.


"Jauh dari rumah." Jawab Syifa.


"Hmm, sabar saja. Nanti pasti dapat kok." Ucap Akbar.


"Aamiin ya ALLAH." Jawab Syifa.


"Arsyil kemana ?" Tanya Akbar.


"Gue disini bang." Jawab Arsyil tiba-tiba.


"Darimana kamu ?" Tanya Akbar.


Arsyil langsung menceritakan semuanya kepada Akbar. Mendengar itu Akbar tersenyum miris.


"Masyaallah banget ya cinta mereka berdua diuji bertubi-tubi, namun makin lengket dan saling melengkapi." Jawab Akbar.


"Iya salut banget, pengen deh punya pasangan kaya gitu." Jawab Arsyil.


"Libatin ALLAH terus bang, pasti nanti diberi jalannya." Ucap Syifa.


"Tentu." Jawab mereka bersama.


Di lain tempat, Reza nampak menyerahkan bencong itu ke kepolisian.


"Ih, kok jadi gini sih ?" Tanya Bencong itu.


Namun Reza langsung berlalu dan bekerja kembali.


Tak jauh beda dengan Reza, Marfel pun juga bekerja. Hingga tak terasa waktu pun sudah larut malam.


"Alhamdulillah selesai sudah." Ucap Marfel.


"Ya pak, besok pagi kita sudah di tunggu rekan kerja bapak." Ucap Dewi.


"Ya." Jawab Marfel lalu beranjak pergi.


Dan disini dua sejoli sedang terlelap karena kelelahan olahraga, namun tak berapa lama Mawar pun terbangun.


Lapar lagi ya sayang, ya sudah yuk makan. Ucap Mawar.


Dia menatap wajah Agung dan tersenyum. Lalu meninggalkan Agung sendiri.

__ADS_1


Mawar pun langsung menuju ke dapur, mencari-cari makanan.


Alhamdulillah bakso tadi sore masih ada. Ucapnya lirih seraya memanaskan baksonya.


__ADS_2