
"Piala." Jawab Agung sambil tersenyum.
"Aamiin." Jawab Mawar.
"Jangan tersenyum terus, nanti aku bisa rindu. Dan aku enggak itu terjadi karena kata Dilan, rindu itu berat kamu enggak akan sanggup menahannya. Biar aku saja." Ucap Agung sambil memeluk Mawar.
"Hem, mulai deh ngegombal." Jawab Mawar lalu mengelus lembut tangan Agung.
"Enggak apa-apa, sama istri sendiri." Ucap Agung sambil menatap wajah Mawar tanpa berkedip.
Kembali ke pengantin baru, yang kini tengah berdiri. Berganti busana lagi.
"Busyet, udah mau ganti baju lagi." Ucap Reza.
"Ya, kan ini sudah lewat jam 12 siang." Jawab Linda.
"Lama sekali ya, aku ngantuk banget." Ucap Reza.
"Ya elah gentong, baru juga sejam makan sudah ngantuk bae. Olahraga sono." Jawab Arsyil.
"Panas peng." Jawab Reza.
"Etdah, cowok kok takut panas." Ucap Linda.
"Emangnya dia cowok Lin ?" Tanya Arsyil dengan senyum mengejek.
"Menurut loh ?" Tanya Linda balik
"Kurang yakin aku kalau dia cowok, soalnya tadi gemulai banget." Jawab Arsyil lalu tertawa.
"Becanda kamu garing mase." Ucap Reza.
Sementara Linda langsung pergi menemui kakak iparnya.
"Etdah, enggak kak Nadin enggak kak Mawar mesra bae sama pasangan. Hargai dong aku yang masih jomblo gini." Ucap Linda.
"Maaf Lin." Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Ck, lebaran sudah lewat kak, jangan maaf terus." Jawab Linda.
"Hmm, lewat mana Lin ?" Tanya Agung lirih dan mengecup bibir Mawar.
__ADS_1
Spontan Mawar menepuk lengan suaminya pelan. Karena terkejut oleh aksinya.
"Mas." Panggil Mawar.
"Busyet, kalian mengotori mata suciku." Ucap Linda yang kini sudah berlalu.
"Nakal kamu, di depan Linda kamu begitu." Ucap Mawar.
"Aku lagi pengen sama kamu." Jawab Agung jujur.
"Oh." Ucap Mawar.
Tak lama anaknya menghampiri mereka.
"Bibu, ayah." Panggil Didi.
"Ya sayang." Jawab mereka berdua
"Haus." Ucap Didi.
"Minum apa ?" Tanya Agung.
"Sini." Ucap Mawar meminta anaknya mendekat.
Didi lalu mendekati ibunya, dan minum asi. Sedangkan Agung nampak menatap Marfel yang tengah memangku istrinya. Fikiran Agung mulai mengingat masalalu bersama Mawar dulu. Tepat saat hamil Didi.
"Kenapa ?" Tanya Mawar yang sedari tadi menatap wajah Agung.
"Teringat zaman kita dulu." Jawab Agung sambil tersenyum.
Mendengar itu Mawar langsung tersenyum dan berkata.
"Tapi sayang, kita harus terpisah sejenak." Ucap Mawar lirih.
"Qodarullah, walau perih tapi itu yang terindah untuk kita sayang." Jawab Agung bijak.
Sri yang sedari menatap mereka hanya tersenyum kecut. Tanpa Sri tahu, Agung, Marfel dan Reza melihat gelagat Sri mencurigakan. Namun mereka masih diam dan pura-pura tidak tahu.
"Sri, kamu tunggu di sana saja. Didi tidur kok." Ucap Agung yang nampak risih diperhatikan oleh Sri.
"Ya tuan." Jawab Sri.
__ADS_1
Sepeninggal Sri, Mawar menggenggam tangan Agung dengan erat.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
"Aku kurang begitu suka dengan mbak Sri." Jawab Mawar lirih.
"Kok bisa begitu, kan dia sudah 6 bulan dengan kita sayang." Ucap Agung.
"Mas, kemarin Didi bilang ke aku. Susternya itu menendang Sari saat Sari sedang menyapu." Jawab Mawar lirih.
"Mungkin Sri enggak sengaja." Ucap Agung yang pura-pura tidak tahu. Padahal dia sudah tahu semuanya. Bahkan urusan makanan Sari pun juga dia tahu. Tapi dia masih diam, karena dia ingin tahu apa yang ingin Sri lakukan.
"Awalnya aku juga sependapat denganmu, tapi setelah aku tanya sama bibik aku jadi kurang nyaman. Aku takut Didi bersifat begitu mas." Ucap Mawar penuh khawatir.
"Ya sudah besok kita bicarakan ini di rumah. Enggak baik sayang bahas ini disini, kasihan Sri aibnya terbuka karena kita." Jawab Agung.
"Astagfirullahhallazim, ya mas maaf." Ucap Mawar lirih.
Tak lama penggantinya pun datang lagi, dengan pakaian adat jawa.
"Widih cantik dan tampan." Ucap mereka semua.
"Masyaallah pasangan serasi." Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Aamiin." Jawab Agung lalu menarik dagu Mawar dan mencium bibirnya.
"Mas, mulai deh." Ucap Mawar.
"Gemes aku sama kamu." Jawab Agung.
Sri yang melihat itu langsung berdecak kesal.
Ck, lebay. Ucapnya lirih.
"Siapa yang lebay ?" Tanya Arsyil.
"Enggak ada tuan." Jawab Sri gelagapan.
"Ingat kamu itu tugasnya merawat Didi, bukan menilai orang tuanya." Nasehat Arsyil untuk Sri.
"Enggak jelas banget sih anda tuan." Jawab Sri seraya pergi.
__ADS_1