Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 41


__ADS_3

"Kalian ini ngomongin apa sih ?" Tanya Reva adik Akbar.


"Ih bocil, kepo ya ?" Tanya Marfel.


"Iya." Jawab Reva yang kini berusia 19 tahun.


"Anak di bawah umur dilarang tahu." Jawab Ratih gemas lalu tertawa.


"Ck, bude sama kakak sama bae. Sama-sama pelit informasi." Ucap Reva kesel.


"Hahaha." Tawa Ratih dan Marfel.


"Marah ni ye." Goda Marfel.


"Mami, Daddy kak Marfel jahil ni." Ucap Reva mengadu.


Tapi meski udah berusia 19 tahun, Reva gadis paling manja dan mudah mengadu. Apalagi kalau pertanyaannya enggak di jawab. Tapi biar begitu, dia anak yang supel dan mudah bergaul dan juga paling disegani banyak orang.


"Idih ngadu." Ucap Ratih.


"Ya ampun anak dady kenapa sih ?" Tanya Andi ayah Akbar dan Reva.


Reva pun langsung menceritakan semuanya kepada Andi.


"Mi, bakal perang dunia ni mi." Ucap Marfel.


"Enggak bakalan, om kamu itu takut sama mami." Jawab Ratih.


Mendengar hal itu semua orang disana tertawa. ya begitulah kalau keluarga besar Agung bersama. Tak lama Agung dan Mawar pun datang. Mereka dikabari oleh Akbar.


"Assalamualaikum." Salam Agung dan Mawar.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka bersama.


Agung pun lalu ikut duduk bersebelahan di dekat keluarga besarnya yang pria, dan Mawar juga bersebelahan dengan mertua dan keluarga besar suaminya.


"Ehem, dia adikku dan iparku." Jawab Marfel dengan berbisik.


"Cantik ya. Pantes untuk adikmu." Ucap Nadin.


"Ya." Jawab Marfel.


Mereka pun langsung bersalaman.


"Kemana saja kok baru datang ?" Tanya Akbar.


"Biasa cocok tanam dulu." Jawab Agung lalu tertawa.


"Pantes." Ucap Akbar dengan netranya menatap leher Agung yang merah.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Ada bekas cip***kan." Jawab Akbar.


"Aduh masa ?" Tanya Agung lirih.


"Ni." Jawab Akbar seraya memberi kaca kecil.


"Astagfirullahhallazim, enggak apa-apalah kan sudah halal." Jawab Agung lalu tertawa.


"Ck, sial kapan aku lekas nikah." Keluh Akbar.


"Tahun depan." Jawab Agung.


"Aamiin." Ucap Akbar.


"Istrimu cantik juga." Ucap Andi tiba-tiba setengah berbisik.


"Aamiin om." Jawab Agung seraya tersenyum.


"Sudah berapa bulan ?" Tanya Andi lagi.


"5 bulan om." Jawab Agung.


"Oh." Jawabnya.


Sementara Mawar nampak tersenyum saat duduk bersebelahan dengan mertuanya.


"4 bulan bakal nimang cucu ya jeng." Ucap tante Nadin.


"Oh iya jeng, insyaa ALLAH mohon doanya." Jawab Ratih sambil tersenyum dan memeluk Mawar.


Karena sudah tidak ada yang di tunggu, acara pun kembali di mulai. Dan kini pemasangan cincin di jari manis mereka.


"Cie akhirnya laku." Goda Taufan adik dari papinya Marfel.


"Alhamdulillah om." Jawab Marfel.


Acara pun kini ganti berfoto bersama, dari yang tua terlebih dahulu baru yang muda.


"Mawar ayo sama mami." Ajak Ratih.


"Ya." Jawab Mawar.


Agung lalu mengekori Mawar dari belakang. Hingga sanak famili riuh menggoda Agung.


"Ehem, ngekor bae cuma ditinggal foto saja." Ucap Reva, Reza, Akbar, Ester, Arsyil dan Asyifa.

__ADS_1


"Iri bilang bos." Jawab Agung sambil tersenyum.


Mawar pun hanya ikut tersenyum akan ulah mereka.


Selesai berfoto, Mawar kembali duduk lagi sambil sandaran di dinding.


"Kamu kok tiba-tiba datang sayang, bukannya mami dah bilang enggak perlu datang. Takutnya kamu kecapean ?" Tanya Ratih.


"Iya mi, tadinya enggak mau datang. Tapi Akbar kangen mas Agung." Jawab Mawar jujur.


"Astaga ya juga sih, dulu mereka mainnya selalu bersama. Jadi wajar kalau enggak ada salah satu berasa kurang." Jawab Ratih.


"Ya mi." Jawab Mawar.


"Liatin terus, sampai enggak berkedip." Ucap Akbar.


"Haha, sewot amat sih kamu." Jawab Agung dengan tertawa.


"Bukan sewot, tapi aneh aja. Lagian sudah menikah, cuma enggak berdekatan saja dilihatin terus." Jawab Akbar.


"Cembeyong ye ?" Tanya Agung.


"Aduh, aku cowok normal kali Bang." Jawab Akbar.


"Alhamdulillah." Jawab Agung.


"Bang ternyata benar ya kata Ali bin Abu thalib. Kalau cinta biarkan dia pergi, kalau dia kembali dia adalah milikmu." Ucap Akbar.


"Aamiin." Jawab Agung.


Acara pun kini diakhiri dengan rasa syukur. Karena sudah berjalan lancar. Mereka pun langsung pamit pulang.


Sementara Marfel langsung ke kantor, sedangkan yang lain sibuk dengan urusan masing-masing.


Berbeda dengan Agung, dia masih libur kerja.


"Mau kemana lagi kita ?" Tanya Agung.


"Pulang mas." Jawab Mawar.


"Ya sudah ayo." Ajak Agung yang saat ini menggunakan motornya.


"Ya mas." Jawab Mawar.


Sementara yang lain menunggu Agung pulang terlebih dulu. Mengingat Mawar kondisinya sangat lemah. Takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Ay, maafin aku ya, belum bisa belikan kamu mobil." Ucap Agung lirih.


"Ya mas, enggak apa-apa." Jawab Mawar sambil tersenyum dan memeluk pinggang suaminya.


"Sama-sama." Ucap Mawar.


"Cie-cie, mereka berdua bagaikan romeo and juliet." Ucap Andi.


"Iya, selalu mesra." Jawab Rani mami Akbar dan Reva.


"Enggak nyangka yang dulu enggak disuka, sekarang malah jadi keluarga." Ucap Andi.


"Dad, aku hari ini mau karate." Ucap Reva tiba-tiba.


"Ya." Jawab Andi.


"Katanya libur sayang ?" Tanya Rani.


"Batal mi." Jawab Reva.


"Kenapa ?" Tanya Rani.


"Biasa mi, kaptennya kena flu." Jawab Reva.


"Oh." Jawab mereka.


Sementara Akbar tidak satu mobil dengan anggota keluarganya, karena dia harus kerja kembali.


Tak terasa Agung dan Mawar sudah sampai rumah, mereka yang mengiringi pun langsung bunyikan klakson mobilnya dan berkata.


"Kami pulang dulu ya." Jawab mereka bersama.


"Iya." Jawab Agung dan Mawar sambil tersenyum.


"Assalamualaikum." Salam mereka semua.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka berdua.


Setelah itu barulah Agung dan Mawar masuk ke dalam rumah.


"Sayang." Panggil Agung.


"Ya mas." Jawab Mawar lalu melepas hijabnya.


"Aku besok sudah masuk kerja lagi, kamu jaga diri di rumah ya." Ucap Agung.


"Insyaa ALLAH mas." Jawab Mawar sedikit khawatir.


"Kenapa ?" Tanya Agung lirih seraya menarik tangan Mawar agar mendekati dirinya.


"Aku takut mereka datang." Ucap Mawar lirih.

__ADS_1


"Mereka sudah di kasih pelajaran sama bang Marfel, Reza, Akbar dan Linda." Ucap Agung jujur.


"Sekolah kali, pelajaran." Jawab Mawar.


"Ck, istriku tersayang, maksud aku mereka sudah di basmi oleh saudara kita." Jawab Agung.


"Nyamuk dong." Ucap Mawar.


"Ya lebih dari nyamuk." Jawab Agung.


"Hmm." Jawabnya.


"Sudah ya, enggak perlu khawatir nanti selama aku tinggal mami dan papi pasti kesini." Ucap Agung.


"Mulai deh merepotkan orang tua." Ucap Mawar.


"Ya sudah, kalau enggak mau kamu besok ikut aku kerja saja." Jawab Agung.


"Enggak mau." Jawab Mawar.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Bisa-bisa suamiku enggak kerja karena aku tungguin." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Terus gimana ?" Tanya Agung lagi.


"Aku dirumah saja mas. Kan ada ALLAH dan Sari." Jawab Mawar.


"Alhamdulillah." Jawab Agung.


"Wasyukurillah." Imbuh Mawar.


Mereka pun kini saling pandang tanpa berkedip. Hingga akhirnya terjeda, karena pintu rumah di ketuk Sari.


Tok...Tok...Tok...


"Ya." Jawab Mawar.


"Nona ada seseorang yang ingin bertemu Nona." Ucap Sari.


"Siapa ?" Tanya Mawar.


"Katanya sih Panda dan Anto." Jawab Sari.


"Suruh nunggu bentar Sar." Jawab Agung tiba-tiba.


"Ya tuan." Jawab Sari.


"Mau apalagi mereka ?" Tanya Agung.


"Enggak tahu mas." Jawab Mawar lirih.


"Ayo." Ajak Agung.


"Enggak, aku masih trauma ketemu Anto." Ucap Mawar lirih.


Cup.


"Ya sudah aku temui mereka dulu ya." Jawab Agung sambil mencium bibir Mawar.


"Hati-hati mas." Ucap Mawar.


"Iya sayang." Jawab Agung.


Tak lama Agung keluar dari kamar dan menemui mereka.


"Ehem, ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Agung bersikap ramah, sambil memegang gawainya.


"Mawar nya ada ?" Tanya mereka bersama.


"Ada, tapi maaf dia sudah menikah. Kalau ada sesuatu, langsung bilang saja kepadaku." Jawab Agung.


"Oh laku juga dia." Ucap Anto meremehkan.


"Ck, terlambat lagi." Keluh Panda langsung pergi.


Agung pun hanya menggelengkan kepala, atas tingkah mereka berdua sambil istighfar dan doa.


"Di kasih apa anda, sampai-sampai mau menerima dia ?" Tanya Anto.


"Enggak dikasih apa-apa." Jawab Agung jujur.


"Asal kamu tahu, dia itu perempuan-". Ucapnya terhenti karena Akbar langsung datang menemuinya.


"Tanpa kamu buka pun, kami sudah tahu. Dan mau apa kamu kesini, mau minta uang Mawar atau menyalahkan dia lagi atas kematian Kinar ?" Tanya Akbar to the poin.


"Aku kesini karena ada urusan dengan dia, bukan dengan kalian." Ucap Anto nyolot.


"Urusan dia, urusanku juga karena aku suaminya. Jadi ada urusan apa kamu dengan istriku ?" Tanya Agung tegas.


"Aku mau dia kembalikan hartaku." Ucap Anto tanpa malu-malu.


"Harta apa ?" Tanya Akbar.


"Awas Bar, dia bawa sajam. Dulu leher Mawar juga kena sajamnya yang ia simpan di tangan kirinya." Ucap Agung.


"Tenang bang, aku udah tahu." Jawab Akbar.

__ADS_1


__ADS_2