
Mentari pagi pun telah terbit, namun dua sejoli yang sedang dilanda cinta masih terlelap dalam balutan selimut tebalnya.
Tak beda jauh dengan dua pengantin tadi, Marfel pun juga masih terlelap. Sementara Akbar, sudah membicarakan persoalan Marfel dengan budenya.
"Astagfirullahhallazim, daridulu Marfel selalu ngalah demi kebahagiaan adiknya." Jawab Ratih terkejut atas kabar itu.
"Ya bude, apa sebaiknya kita jauhkan mereka saja ?" Tanya Akbar.
"Ya, lebih cepat lebih baik. Bude enggak mau kedua putraku berantem." Ucap Ratih.
"Ya sudah, rencananya saya mau ke Surabaya bude, apa lebih baik abang saya ajak saja bude ?" Tanya Akbar.
"Jangan terlalu buru-buru Bar, Marfel nanti bisa curiga." Jawab Ratih.
"Iya juga ya." Jawab Akbar.
Saat mereka sedang mencari jalan keluar, di tempat berbeda kedua pengantin baru sudah terjaga. Karena mendengar kamar sebelah sedang di bersihkan.
"Pagi istriku." Salam Agung dengan tersenyum.
"Pagi." Jawab Mawar.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
"Aku masih ngantuk." Ucap Mawar.
"Tidurlah." Jawab Agung.
"Enggak mau, aku harus ikut bangun. Nemenin suamiku." Ucap Mawar lirih sambil mengelus lembut pipi suaminya.
Cup.
"Makasih istriku." Ucap Agung dengan mencium kening Mawar.
"Ya." Jawab Mawar lalu beranjak dari tempat tidur, namun ia urungkan karena ia tanpa penutup tubuh.
Sadar akan kelakuan istrinya, Agung lalu membopong Mawar ke kamar mandi. Dan mereka pun mandi bersama. Hanya mandi bersama lho ya.
Tak lama mereka pun sudah selesai mandi.
"Alhamdulillah seger juga." Jawab Mawar.
"Alhamdulillah." Jawab Agung juga.
Mereka pun kini keluar dari kamar hotel, untuk cari sarapan.
"Mau makan apa sayang ?" Tanya Agung.
"Aku pengen makan steak yang." Jawab Mawar.
"Kamu tadi panggil aku apa ?" Tanya Agung lirih.
"Sayang." Jawab Mawar dengan malu-malu.
Mendengar itu Agung langsung tersenyum dan berkata.
"Ya sudah yuk." Ajak Agung.
"Ya." Jawab Mawar.
Sampai di tempat yang mereka tuju, mereka langsung pesan.
"Pesan 2 steak ayam sama steak sapi dan minumnya teh hangat 1, dan es jeruk 1." Ucap Agung sambil menatap wajah Mawar tanpa berkedip.
"Baik, mohon ditunggu." Jawab waitres itu.
Sedangkan Mawar malah menatap waitres itu dengan tatapan curiga.
"Istriku jangan salah paham." Ucap Agung yang sudah tahu tatapan istrinya.
"Aku bukan salah paham, tapi aku enggak suka saja cara menatap dia ke kamu." Jawab Mawar yang sejak diketahui hamil banyak curiga dan salah paham.
"Iya sayang, tapi aku kan aku sudah jadi milikmu." Jawab Agung.
"Hmm, titipan." Jawab Mawar sambil beranjak dari bangku tempat ia duduk.
"Kemana ?" Tanya Agung.
"Ke kamar mandi." Jawab Mawar.
__ADS_1
Mendengar itu Agung lalu melepas genggaman tangan Mawar. Tak lama pesanan pun datang.
"Silahkan mas." Ucap waitres itu dengan tersenyum senang.
"Hmm." Jawab Agung lalu menatap ke arah lain.
"Cari siapa mas ?" Tanya waitres itu.
"Istriku." Jawab Agung tanpa menatap wajah lawan bicaranya.
"Oh." Jawab waitres itu lalu pergi.
Tak lama Mawar pun datang, melihat istrinya datang Agung nampak tersenyum lebar.
"Sudah ?" Tanya Agung.
"Sudah." Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Yuk makan." Ajak Agung.
"Ya." Jawab Mawar.
"Mau coba punyaku ?" Tanya Agung.
"Boleh." Jawab Mawar.
Agung lalu menyuapi Mawar dan bertanya.
"Enak ?" Tanya Agung.
"Enak tapi pedes." Jawab Mawar sambil mengambil minumnya.
"Oh maaf." Jawab Agung.
"Ya enggak apa-apa kok." Jawab Mawar.
Mereka pun kini fokus makan, hingga akhirnya mereka selesai.
"Jadi jalan-jalan enggak ?" Tanya Agung.
"Boleh." Jawab Mawar.
"Ok." Jawab Mawar.
Sampai di taman dekat hotel, Mawar pun duduk disana. Sementara Agung izin ke toilet dulu.
Tanpa Mawar tahu, Marfel memeluk tubuh Mawar.
"Izinkan aku memelukmu sebentar saja." Ucap Marfel.
"Spontan Mawar langsung menjauhi Marfel. Abang, jangan lakukan itu lagi. Ingat bang aku iparmu." Ucap Mawar seraya berjalan mundur.
"Maafin aku, tapi aku minta waktunya sebentar saja." Ucap Marfel lalu mendekati Mawar.
"Enggak bang, aku minta maaf aku enggak bisa." Jawab Mawar.
"Kenapa ?" Tanya Marfel.
"Karena aku sudah menikah dengan adikmu." Jawab Mawar.
"Aku tahu, tapi tolong beri aku izin untuk peluk kamu." Ucap Marfel dengan memohon.
"Maaf bang, aku enggak bisa." Jawab Mawar sambil menatap keseluruh tempat berharap Agung cepat datang.
Namun nyatanya Agung juga belum datang, Mawar tak henti-hentinya berdoa berharap ada famili yang lewat. Jika ditanya saat ini Mawar sangat takut jika nanti suaminya akan salah paham.
"Mawar." Panggil Marfel.
"Bang, carilah wanita selain aku." Ucap Mawar lirih.
"Enggak ada." Jawab Marfel lalu membawa paksa Mawar untuk ikut dengannya.
"Akhh, bang lepasin." Ucap Mawar dengan teriak.
"Enggak akan." Jawab Marfel.
Dan tak lama Agung pun datang, namun sayang tak ada istrinya. Dia lalu bertanya pada seseorang di sana.
"Permisi, apa anda lihat perempuan disini tadi ?" Tanya Agung lirih.
__ADS_1
"Oh ya, dia dibawa laki-laki." Jawab bapak itu.
"Kemana ?" Tanya Agung mulai cemas.
"Kesana." Jawab bapak itu.
"Makasih pak." Ucap Agung.
"Ya." Jawabnya.
Agung pun langsung menghubungi Mawar, namun tidak juga di angkat.
Akhirnya Agung memilih menghubungi Akbar.
("Bar, abangku ada di rumah tidak ?" Tanya Agung.)
("Enggak ada bang, katanya mau meeting." Jawab Akbar lewat sambungan telepon.)
("Ck, dia bawa istriku Bar." Jawab Agung.)
("Apa ?" Tanya Akbar terkejut.)
("Ya, tadi aku tanya bapak di dekat taman. Dia menunjukkan gambar abang." Jawab Agung penuh cemas.)
("Oke, kamu tenanglah biar aku yang urus." Ucap Akbar.)
Agung langsung mematikan sambungan telepon.
Sementara itu Mawar kini dibawa Marfel ke apartemennya.
"Bang, aku mohon lepasin aku." Ucap Mawar.
"Mawar." Bentak Marfel dengan keras.
Membuat Mawar langsung ketakutan.
"Maafin aku." Ucap Marfel lalu mengunci pintu kamarnya. Karena pintu apartemennya ada yang mengetuk.
Tok.....Tok....Tok...
"Siapa ?" Tanya Marfel.
"Aku." Jawab Akbar.
"Ngapain kamu kesini ?" Tanya Marfel seraya buka pintu.
"Bang, apa benar kamu bawa Mawar ?" Tanya Akbar langsung to the poin.
"Iya." Jawab Marfel.
"Balikin ke Agung bang, Agung mencarinya." Ucap Akbar.
"Sebentar saja." Jawab Marfel.
"Bang, perempuan tidak hanya dia bang sadarlah." Ucap Akbar.
"Aku tahu, tapi aku hanya merindukan dia. Izinkan aku memeluknya." Jawab Marfel dengan frustasi.
"Iya bang." Jawab Agung tiba-tiba dari arah belakang.
"Agung." Ucap mereka bersama.
"Aku izinkan, tapi setelah itu jangan pernah sentuh dia." Jawab Agung dengan mata sembab, dan kening yang banyak keringat.
"Maafin aku Gung, harusnya dari awal aku cerita ke kamu. Bahwa aku juga mencintainya." Ucap Marfel seraya menunduk.
"Aku tahu bang, tapi semua sudah terlambat. Mawar sudah jadi istriku dan juga adik iparmu. Dia sedang hamil bang." Jawab Agung lirih.
"Hmm, jangan sebut itu. Aku sakit mendengar kehamilannya." Jawab Marfel lalu membuka pintu kamarnya.
"Keluarlah." Pinta Marfel.
Namun tak ada jawaban.
"Mawar keluarlah, Agung sudah datang." Ucap Marfel lalu melihat ke arah kamarnya.
"Mawar." Teriak Marfel lalu masuk.
Agung dan Akbar langsung menyusul.
__ADS_1
"Astagfirullahhallazim, sayang." Ucap Agung lirih lalu membawa Mawar keluar untuk dibawa ke RS bersama Akbar.