Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 43


__ADS_3

"Namanya siapa ?" Tanya Reza, sedangkan Agung langsung membawa Mawar keluar.


"Cici Panda eh koko Panda." Jawab bencong itu lagi.


"Panda atau Anto ?" Tanya Agung tiba-tiba.


"Oh My wow, Oh my good Panda cin." Jawab bencong itu lagi.


"Disuruh apa kamu ?" Tanya Agung dengan ketus dan netranya melotot ke arah bencong itu.


"Disuruh bawa Mawar cin, buat ege rias dan nikah dengan Panda." Jawab bencong itu lagi.


"Astagfirullahhallazim." Ucap Agung sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Reza pun langsung mengikat tangan dan kaki bencong itu dengan tali.


"Akhh, help mi, lontong eh lontong tolong. Badan ege sakit caem. Ye sudah siksa ege, ege laporin ye ke pihak berwajib nyahok ye." Ucap Bencong itu dengan percaya diri.


Tanpa bencong itu, Reza adalah seorang polisi yang memang enggak pernah memakai seragam dinasnya. Itulah kenapa, dia paling peka terhadap kedatangan musuh.


"Bang sabar ya." Ucap Reza.


"Aku takut mimpiku akan jadi kenyataan Za. Kalau istriku terus-menerus dapat teror." Jawab Agung sambil menangis.


"Ingat bang, jodoh, rezeki dan Maut kita sudah diatur ALLAH. Jangan percaya dengan mimpi. Kadang mimpi hanya sebatas bunga tidur, namun juga terkadang memberi petunjuk." Ucap Reza bijak.


"Iya." Jawab Agung.


"Kakak ipar dimana kak ?" Tanya Reza.


"Ada di kamar mandi." Jawab Agung.


"Sudah lama ?" Tanya Reza.


"Baru saja." Jawab Agung.


Selesai berkata demikian, terdengar suara knop pintu dibuka.


Ceklek.


"Sudah sayang ?" Tanya Agung lirih.


"Sudah. Kamu kok nangis mas." Jawab Mawar.


"Enggak kak, tadi abang abis aku gelitikin karena jahilin aku terus." Jawab Reza spontan.


"Oh." Ucap Mawar seraya mengelus lembut pipi suaminya dengan lembut.


"Jangan tinggalin aku ya ay." Ucap Agung.


"Insyaa ALLAH mas." Jawab Mawar.


"Etdah, hargailah aku yang jomblo ini." Ucap Reza.


Mereka pun langsung melerai pelukannya dan tertawa.


"Makanya nikahlah." Jawab Agung lalu tertawa.


Alhamdulillah TUHAN, kini aku percaya akan hadirnya orang baik setelah ibuku tiada. Ucap Mawar lirih.


"Ck, enggak asik kalian. Mending aku tidur dulu." Jawab Reza berjalan berlalu.


Sepeninggal Reza, Mawar pun mendekati Agung dan tersenyum.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


Tanpa menjawab Mawar pun langsung mengecup kembali bibir suaminya itu.


"Aku rindu." Jawab Mawar setelah selesai kis seraya menunjuk bibir suaminya.


"Kecanduan ya ?" Tanya Agung.


"Iya." Jawab Mawar sambil tersenyum penuh malu.


"Lakukan lagi !" Titah Agung.


"Nanti saja." Jawab Mawar lirih.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Ada Reza di balik dinding dekat kaca." Jawab Mawar sambil berbisik.


"Za, jangan suka ngintip nanti mata kamu sakit." Ucap Agung.


"Yah ketahuan." Jawab Reza.


Reza pun langsung naik ke lantai atas untuk tidur, sedangkan Agung dan Mawar pindah ke taman belakang.


"Ay, ngapain ?" Tanya Agung.


"Lihat ikan sama bunga bermekaran mas." Jawab Mawar.

__ADS_1


Hening.


Hanya terdengar suara gemericik air.


"Sayangku, kamu lagi apa di dalam sana ?" Tanya Agung memecah keheningan.


"Lagi bobok ayah." Jawab Mawar dengan menirukan suara anak kecil.


"Ayah enggak sabar menunggu kamu segera launching." Ucap Agung sambil tersenyum.


"Sabar yah." Jawab Mawar lagi.


"Iya." Ucap Agung bahagia.


Diapun merangkul tubuh istrinya dan berdoa dalam hati. Ya ALLAH aku tidak minta banyak, aku hanya ingin hidup sesurga dengannya. Dan lancarkan proses persalinannya. Aamiin.


Cup.


Kecupan Mawar membuat Agung langsung menatap Mawar.


"Makasih." Ucap Agung.


"Sama-sama." Jawab Mawar.


"Ay, kamu mau enggak sehidup sesurga dengan aku ?" Tanya Agung.


"Mau mas." Jawab Mawar tulus.


"Alhamdulillah." Jawab Agung senang.


"Wasyukurillah." Imbuh Mawar.


"Kamu bahagia enggak, hidup dengan aku ?" Tanya Agung.


"Insyaa ALLAH bahagia, karena kita dipertemukan lagi rupanya untuk bersatu." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Aamiin ya ALLAH." Jawab Agung.


"Kamu sendiri ?" Tanya Mawar balik.


"Bahagia sayang." Jawab Agung.


"Aamiin ya ALLAH." Ucap Mawar.


"Ya." Jawab Agung.


"Mas, aku lapar." Ucap Mawar.


"Makan apa ?" Tanya Agung.


"Bercanda ya." Ucap Agung sambil tersenyum.


"Haha, enggak aku serius. Aku mau kamu." Ucap Mawar dengan langsung membuka jaketnya dan menutup kepala mereka.


"Mau ngapain ?" Tanya Agung.


"Mau kamu." Jawab Mawar lalu mencium bibir Agung dengan pelan.


"Kita pindah ke kamar ya." Ucap Agung.


"Ya." Jawab Mawar.


Di kantor Marfel kini kedatangan tamu yang tak lain adalah Mika, mantan kekasihnya dulu waktu di bangku SMP.


"Kamu kenal Mawar Seroja enggak El ?" Tanya Mika yang terbiasa memanggil Marfel dengan sebutan El.


"Ada urusan apa kamu sama dia ?" Tanya Marfel datar.


"Dia, adalah teman chating aku 2 tahun yang lalu. Aku coba inbox akunnya udah enggak aktif." Jawab Mika jujur.


"Emangnya dia baik ?" Tanya Marfel.


"Baik." Jawab Mika.


"Alhamdulillah. Dia iparku." Jawab Marfel.


Spontan Mika langsung terlonjak dan dengan netra berbinar.


"Cius ?" Tanya Mika.


"Ya." Jawab Marfel.


"Alhamdulillah." Jawab Mika.


"Punya nomor hpnya enggak ?" Tanya Mika lagi.


"Enggak punya." Jawab Marfel jujur.


"Ck, kirain." Ucap Mika lesu.


"Memangnya mau ngapain ?" Tanya Marfel.

__ADS_1


"Silaturahmi." Jawab Mika.


Marfel lalu menghubungi nomer hpnya Agung.


("Halo Gung, Mawar ada enggak ?" Tanya Marfel.)


("Ada bang, ada apa ya ?" Tanya Agung lirih.)


("Ini Mika mau ketemu istrimu." Jawab Marfel.)


("Mika siapa ?" Tanya Agung.)


("Ck, mantanku dulu." Jawab Marfel.)


("Lah emang kenal ?" Tanya Agung.)


("Katanya kenal lewat aplikasi berwarna biru. Dia juga bilang dah 2 tahun kenalan." Jawab Marfel.)


("Oh, tapi maaf istriku sedang tidur. Nanti hubungi aku lagi." Ucap Agung.)


("Oh ya sudah." Jawab Marfel.)


Lalu mematikan sambungan telfonnya.


"Dia tidur." Ucap Marfel.


"Tumben, biasanya enggak." Jawab Mika.


"Maklum baru hamil." Ucap Marfel.


"What serius, berapa bulan El ?" Tanya Mika.


"Eh busyet, volume suaranya dikecilin napa cempreng amat kaya kaleng rombeng. Ya seriuslah, udah masuk bulan 5." Ucap dan jawab Marfel.


"Wah 4 bulan lagi lahiran dong." Jawab Mika lalu pamit pulang.


Dasar Mika, tapi dia tetap sama yang dulu, baik. Ucap Marfel lirih.


Dan di sini, di tempat Akbar sedang mengadakan eksekusi.


"Sok jagoan, kena pukul sekali langsung keok." Ucap Akbar.


"Lepasin tanganku." Ucap Anto.


"Enggak akan." Jawab Akbar.


"Tolong aku punya anak yang mesti aku hidupi." Ucap Anto memohon.


"Harusnya sebelum bertindak, kamu fikir dulu dampaknya." Ucap Linda tiba-tiba.


"Ya aku minta maaf, aku enggak akan minta lagi uang kepada mantanku." Jawab Anto.


"Kau fikir aku bakal percaya ?" Tanya Linda.


"Akibat perbuatan kamu, iparku syok dan bisa berakibat fatal pada janinnya." Jawab Linda lagi.


"Tapi kakak ipar enggak apa-apakan ?" Tanya Akbar.


"Alhamdulillah sudah enggak apa-apa." Jawab Linda.


"Alhamdulillah." Ucap Akbar lega.


"Ya." Jawab Linda.


Di rumah Linda kini nampak mereka berdua sudah bersih dan wangi.


"Wangi banget sih istriku." Ucap Agung lirih sambil tersenyum.


"Kamu juga mas suamiku." Jawab Mawar dengan tersenyum juga.


"Alhamdulillah." Jawab Agung.


"Hmm, Pangku." Ucap Mawar.


"Utu-utu manjanya ya sini." Jawab Agung.


"Aku berat ya mas ?" Tanya Mawar.


"Enggak." Jawab Agung.


"Enggak salah ?" Tanya Mawar.


"Serius sayang." Jawab Agung jujur.


"Enggak sedang bohongkan ?" Tanya Mawar.


"Enggak sayang." Jawab Agung.


"Tapi tubuhku kan dah berisi, enggak krempeng lagi." Ucap Mawar.


"Kalau untuk saat ini enggak sayang." Jawab Agung lirih.

__ADS_1


"Aku enggak mau gendut." Ucap Mawar.


"Iya sayangku." Jawab Agung.


__ADS_2