
"Bagaimana aku bisa percaya jika kamu akan bertanggung jawab. Aku jelas tidak mengenali siapa kamu sebenarnya" Santi kembali meminta kepastian.
Arga berdiri dan mengambil jas yang di pakainya tadi dan memberikan sebuah kartu nama bertulisan alamat perusahaan nya agar Santi dengan mudah bisa menemuinya meminta pertanggung jawaban.
"Ini alamat kantor ku" Kata Arga.
"Sini ponsel mu" Santi mengeluarkan ponsel nya dan memberikan nya kepada Arga. Dengan cepat Arga memencet tombol nomor ponsel nya agar Santi bisa menyimpan nya untuk meminta pertanggung jawaban.
"Itu nomor ponsel ku. Aku akan membawa keluarga ku menemui keluarga nya nanti. Kirim alamat nya ke nomor itu" Kata Arga dengan suara datar.
"Rea bangun" Kembali Santi membangunkan ku. Di lihat ada air yang di bawa nya tadi dan di percikan ke arah ku.
Aku kaget, dan langsung membuka kan mata. Ku lihat sekeliling ada Santi dan dua orang lelaki yang tidak ku kenal.
__ADS_1
"Dimana aku?" Kata ku memegang kepala yang masih terasa pusing. Ada rasa perih dan ngilu di bagian bawah perut ku.
"Ssss.....aduh...." Aku meringis kesakitan. Dan ku lihat di bagian tubuh ku yang terselimuti. Betapa kaget nya aku mengetahui tidak ada sehelai benang pun menutupi tubuh polos ini.
"Kemana pakaian ku?" Aku mencari di seluruh arah dalam ruangan itu. Terlihat pakaian ku tergeletak di lantai.
"Keluar kalian" Kata ku malu kepada kedua lelaki asing itu. Sungguh malu rasanya bila polos seperti ini. Jangan kan polos di lihat oleh lelaki yang bukan mahram ku tidak menggunakan hijab aku malu. Karena rambut mahkota indah ini merupakan aurat yang harus di tutupi.
Kembali aku memegangi kepalaku berusaha mengingat apa yang terjadi. Aku menatap malas kearah santi dan langsung memeluk nya. Kembali pecah tangisan ku saat mengingat kembali apa yang terjadi pada aku yang kotor ini.
Santi tidak menjawab Dia hanya menunjuk kearah Arga. Kembali tangisan itu pecah. Melihat itu Dimas langsung keluar. Tidak ada gunanya lagi dia menyaksikan drama ini. Pikir nya.
"Kenapa?" Kata ku lirih dengan tatapan lesu kearah lelaki itu.
__ADS_1
Arga datang mendekati ku. Hati nya seketika iba melihat ku dalam kondisi keputusasaan.
"Maaf kan aku" Dengan tatapan yang iba.
"Aku sudah salah orang. Meski begitu, aku akan bertanggung jawab. Akan aku temui keluarga mu" Jawab lelaki itu mantap.
Aku hanya menunduk pilu mengenang peristiwa yang menyakitkan itu. Tidak merespon sedikit pun kata lelaki asing itu.
"Aku sudah memberikan alamat dan nomor ku kepada teman mu. Aku akan datang bersama keluarga ku untuk meminang mu" Kata lelaki itu lagi. Sungguh Lelaki yang bertanggung jawab. Meski tidak mencintai ku, namun ia ingin bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan kepada ku. Itulah yang di ajarkan oleh kedua orang tua nya.
"Sebagai lelaki, kamu harus bertanggung jawab besar atau kecilnya masalah mu harus kamu hadapi. Jangan lari dari kenyataan." Kata nasehat itu lah yang selalu papa nya berikan.
Dan kini, ia harus bertanggung jawab atas apa yang barusan terjadi.
__ADS_1
Aku berusaha bangkit dan memungut pakaian ku. Dengan masih diselimuti, Aku berusaha berjalan tertatih menuju kamar mandi.