Cinta Bersalut Noda

Cinta Bersalut Noda
Waktu liburan


__ADS_3

Arga memberikan ku sebuah kartu kredit nya agar aku bisa berbelanja untuk keperluan ku saat berliburan di Paris.


Namun, aku meminta agar Arga memberikan ku uang cash saja karena sejujurnya aku tidak mengerti menggunakan kartu itu.


Arga menepuk jidad nya.


"Ya ampun gadis kampung ini, dia benar-benar kampungan" Ujar nya dalam hati.


"Ya sudah kalau kamu mau uang chas, besok saja ya Uang ku di ATM ku semua" Ujar nya lagi


Aku mengangguk mengerti.


Aku kembali ke sofa ku untuk beristirahat disana sambil membayangkan ketika aku liburan ke Paris kelak.


***


"Rea" Panggil Arga saat aku sibuk membereskan kamar kami.


"Iya" Jawab ku.


"Ini uang chas yang kamu minta. Ini ada 10 juta habis kan ya untuk kamu belanja" Ujar Arga.


Aku membuka mulut ku lebar-lebar dan membulatkan mata ku melihat segepok uang yang di berikan Arga kepada ku.


"Kenapa ekspresi mu seperti itu?" Ujar Arga.


"Sepuluh juta? dan kamu suruh aku menghabiskan semuanya dalam waktu 1 hari?" Tanya ku kaget.


"Sayang dong nggak boleh nggak aku simpan aja sebagian uangnya ini kalau di kampungku bisa untuk keperluan rumah selama setahun ini" Ujar ku dengan polos nya.


Arga menepuk jidad nya lagi.


"Ya ampun ini anak. Bawel juga ternyata ya" Batin nya.


"Terserah kamu, yang jelas guna kan itu untuk membeli pakaian mu yang baru agar nanti kamu tidak malu-malauin" Ujar nya lagi kemudian berlalu dari hadapan ku.


"Ma ... Kasih" Ujar ku tersendat karena orang nya keburu pergi sebelum mendengarkan ucapan terima kasih dari ku.


"Dasar bunglon sebentar baik, sebentar nyeselin. Belum juga sempat ucapin makasih udah pergi aja" Kata ku pelan kepada diri sendiri.


"Baru kali ini aku memegang uang sebanyak ini lebih baik aku menggunakannya seperlunya saja deh sisanya aku akan mengirimnya sama ibu di kampung. Untuk keperluan ibu nanti nya" Ujar ku lagi.


***


"Hallo Arga" Kata ku setelah mendengar suara Arga dari seberang sana.


"Apa lagi? Masih kurang uang nya?" Jawab nya dengan ketus.


"Eh, bukan-bukan, bukan itu kok. Aku cuma mau minta izin sama kamu untuk keluar berbelanja seperti apa yang kamu perintahkan tadi" Kata ku dengan hati-hati.


"Kalau mau keluar, ya keluar saja. Ngapain juga meminta izin kepada ku?"


"Ya karena kamu suami ku. Maka nya aku minta izin. Jika aku keluar tanpa atas izin suami berdoa aku nya" Kata ku lagi.


"Iya iya aku izin kan sudah pergi sana. Jangan mengganggu ku lagi. Aku sedang sibuk di kantor" Ujar nya langsung mematikan ponsel nya.


"Tu kan bunglon. Tadi baik, sekarang nyeselin. Sewaktu hamil mama nya ngidam apa ya?" Batin ku.


"Oke mari kita shopping" Ujar ku bersorak senang.


***


"Rea, Apa ini?" Tanya Arga melihat sebuah kasur lantai yang ku beli saat aku berbelanja tadi yang tergeletak di sudut ruangan kamar nya.


"Kasur lantai" Jawab ku singkat.


"Iya aku tahu tapi untuk apa"


"Ya untuk aku lah, jujur ya Ga badan ku sakit-sakit semua tidur di sofa itu" Ujar ku nyengir.


"Jadi aku beli deh kasur ini untuk ku tidur" Tambah ku lagi.


Arga memijit kepala nya melihat peringai ku seperti itu. Tampak nya ia kehabisan kata-kata untuk ku.


"Terserah kamu saja" Ucap nya menuju kamar mandi untuk bersih-bersih karena Arga baru pulang dari kantor nya.


Aku mengangkat bahu ku melihat sikap Arga.


Dengan setengah telanjang Arga keluar dari kamar mandi nya dalam keadaan rambut yang masih basah. Ia mengosok-gosok rambut nya dengan menggunakan handuk nya.


Ketika sedang beres-beres tempat tidur ku, karena hari sudah malam dan aku mau tidur, tak sengaja aku melihat badan kekar berkotak enam di depan ku.


Mata ku membulat, beberapa kali aku menelan saliva ku menyaksikan pemandangan itu. Aku juga wanita yang normal dan tentu saja aku tertegun dengan body yang berkotak-kotak itu.


"Astagfirullah" Ucap ku sadar, ku tundukan pandangan ku.


"Kenapa?" Tanya Arga heran melihat ku menundukkan pandangan ku seperti itu. Padahal aku tidak berdosa juga melihat nya dengan setengah telanjang begitu. Toh dia juga sudah sah menjadi suami ku.


"Itu kamu, lebih baik memakai baju mu seperti malam-malam biasanya" Ujar ku terbata-bata.


"Iya, aku memang mau mengambil baju ku. Tadi buru-buru ke kamar mandi, jadi lupa"


Aku langsung berbaring menutupi tubuh ku dengan selimut.


Arga memasang baju nya untuk menutupi tubuh kekar nya itu. Ia tersenyum melihat tingkah laku ku yang bagi nya polos seperti itu.


"Astaga, kenapa aku jadi senyum-senyum begini? Perasaan apa ini?" Batin nya.


"Ah sudah lah lebih baik aku tidur saja" Batin nya lagi.


***


"Rea, kemana sih? Lama sekali dandan nya?" Ujar Arga menunggu ku di lantai bawah.


"Arga, kalian udah mau berangkat?" Tanya Rina melihat Arga sudah bersiap seperti itu.

__ADS_1


Hari ini Arga tampak sangat tampan dengan menggunakan baju kaos berwarna merah dan memakai jeket bewarna biru terang yang di padu padan kan dengan jelana jeans berwarna biru navi serta sepatu sport bewarna hitam yang melapisi kaki nya.


"Iya ma" Jawab Arga singkat.


"Rea mana?"


"Tahu tu ma, lama banget dandan nya" Jawab nya kesal.


"Padahal pesawat nya akan take off satu setengah jam lagi" Ujar nya lagi.


"Nama nya juga wanita nak. Pasti lama dandan nya" Bela Rina.


"Nah itu dia sudah siap" Ujar Rina melihat mu yang turun dari tangga.


Rina tersenyum melibat ku.


Hari ini aku memakai sweater biru dan celana kain berwarna hitam dan hijab nya pun berwarna senada dengan celana ku. Aku memilih untuk memakai pansus, karena aku tidak suka memakai heels. Dan baru kali ini aku memberanikan diri untuk . memakai make up. Itu pun hanya ala kadarnya saja. Seperti Eyeliner, maskara dan lipstik.


Aku tidak terlalu pandai memakai make up. Hanya itu lah alat make up andalan ku yang bisa ku gunakan.


"Wah, cantik nya menantu mama" Ujar Rina melihat ku.


"Gitu dong sayang dandan seperti ini, kan cantik" Tambah nya lagi.


Aku tersenyum malu mendengar pujian dari mama mertua ku. Pandangan ku beralih ke Arga yang hanya diam di samping mama. Senyuman ku semakin lebar sebagai meminta komentar dari Arga tentang penampilan ku hari ini.


"Ga, cantik kan menantu mama" Tanya Rina.


"Gak, ma biasa aja. Gadis kampung tetap lah gadis kampung" Ucap nya.


Ukiran senyuman yang tadi nya melebar di bibir ku, kini hilang seketika mendengar ucapan Arga barusan.


"Dasar bunglon" Batin ku.


"Ma, kami berangkat dulu ya. Oh ya papa mana?" Tanya Arga.


"Papa tadi katanya mau keluar"


"Oh ya sudah kalau gitu kami pamit dulu ya ma. Salam sama papa" Ujar Arga mencium punggung tangan mama nya.


"Ma, kami berangkat dulu ya. Doain kami pergi dan pulang nya dengan selamat" Ujar ku.


"Iya sayang pasti mama doain kok" Jawab Rina memeluk ku.


"Jangan lupa pulang-pulang nanti, mama mendengar kabar baik dari kalian. Ada benih yang tumbuh di perut mu" Bisik Rina di telinga ku.


Deg...


Aku tersenyum kecut mendengar permintaan mama mertua ku. Bagaimana mungkin bisa ada benih di rahim ku sedangkan aku masih mendapatkan tamu bulanan. Pikir ku.


***


"Wah ternyata ini ya negara Paris" Batin ku mendongak melihat bentuk airport internasional di negara itu.


"Gak nyangka aku sampai juga di sini" Batin ku lagi tersenyum senang.


Aku sadar, kini aku bersikap biasa saja saat melalui setiap ruangan megah di sana.


"Sayang" Teriak Sandra.


Aku melihat dari mana suara itu berasal.


Deg....


Hati yang tadi nya bahagia bersemi bagaikan bungan yang mekar, kini telah kembali sirna. Layu di hantam badai. Begitu lah hati ku saat ini ketika melihat Sandra menyapa kami. Bukan, bukan kami tepat nya Arga


"Hallo sayang" Jawab Arga memeluk dengan hangat wanita itu.


"Hai Ya" Sapa nya kepada ku.


"Hai" Balas ku dengan senyuman yang sedikit di paksakan.


Baru ku ingat, Sandra memang berada di negara Paris untuk melanjutkan karir nya sebagai seorang desainer.


"Ya Allah, kenapa aku bisa lupa jika Sandra ada di negara ini juga. Harusnya aku menolak ajakan Arga untuk ke sini" Batin ku.


"Yah pasti aku di jadikan sebagai alat untuk di jadikan alasan nya untuk berlibur di sini. Padahal maksud nya ke sini hanya untuk bertemu dengan kekasih hati nya" Batin ku lagi.


"Ayo, aku anterin kalian ke hotel kalian ya" Ujar nya.


"Ayo" Jawab Arga.


Aku hanya mematung melihat kedua insan yang berlainan jenis kelamin itu bergandengan tangan meninggalkan aku sendirian di sini.


Sungguh kembali aku menjadi obat nyamuk untuk mereka.


"Kamu ngapain masih di sana? Mau ikut gak?" Ujar Arga kepada ku.


Aku bergegas mengejar mereka.


"Yah, mau bagaimana lagi aku. Toh aku juga sudah sampai di negara ini. Mau pulang pun gak bisa" Batin ku dengan ekspresi wajah malas ku.


***


"Ini kamar kamu, dan kamar ku ada di sebelah kamar kamu ya. Jika ada apa-apa kamu bisa panggil aku di sebelah" Ujar Arga memberikan sebuah kartu sebagai akses membuka pintu kamar hotel.


Aku mengangguk.


Bayangan ku untuk pergi ke Menara Eiffel dan Montmartre pun sirna. Tidak mungkin Arga menghabiskan waktu bersama ku jika Sandra bersama nya.


Aku menghempaskan tubuh ku yang terasa lelah karena menempuh perjalanan kurang lebih lima belas sampai enam belas jam lama nya.


Aku terlelap di atas kasur empuk di kamar hotel berbintang lima di negara itu.


***

__ADS_1


Arga masuk ke dalam kamar ku. Karena dari tadi ia mengetuk pintu sama sekali tidak ada sahutan dari dalam kamar ku. Sehingga ia memutuskan untuk masuk ke dalam memastikan aku baik-baik saja.


"Rea" Ucap Arga membangunkan aku.


Bukan nya aku terbangun, malah semakin molor tidur ku.


"Rea" Ucap nya lagi.


Melihat tidak ada respon dari ku ia pun memutuskan untuk mengoyang-goyangkan lengan ku dengan lembut.


"Rea, ayo bangun. Ayo ke bawah untuk makan siang" Ucap nya lagi.


"Lagian kamu ngapain gak kunci pintu kamar nya. Nanti kalau ada orang jahat dan berbuat hal yang aneh pada mu bagaimana?" Tambah nya lagi.


"Hmm" Hanya itu yang keluar dari mulut ku.


"Hmm? Hanya itu" Batin Arga.


"Boleh aku meminta hak ku kepada mu?" Ucap Arga.


"Hmm" Lagi-lagi itu yang keluar dari mulut ku.


"Bener ya, aku lakuin ya sama kamu" Ucap nya lagi.


"Hmm" Jawab ku.


"Wah nggak bener nih ini tidur mati namanya. Mungkin dia kecapean karena perjalanannya begitu lama. Aku juga merasa capek karena perjalanan ini. Lebih baik aku meluruskan pinggang ku yang pegal di sini" Ujar Arga berbaring di sampingku.


Wajah kami saling berhadapan. Lelaki yang mempunyai badan kekar itu menatapku sangat lekat. Dia tersenyum sendiri melihat aku tidur pulas seperti itu.


"Jika di perhatikan, kamu manis juga ya" Batin nya. Tampa terasa tangan nya membelai pipi ku dengan lembut. Hingga dia terlelap bersama ku.


***


Aku membuka mata ku.


Mengeliat meregangkan otot-otot ku.


Betapa kaget nya aku melihat Arga tidur di samping ku.


"Ah.... " Teriak ku.


Arga kaget langsung terbangun dari tidur nya.


"Ada apa-ada apa?" Ucap nya dengan mata yang masih setengah terbuka.


"Kamu yang ada apa? Ngapain kamu tidur di kamar ku? Di samping ku pulak" Ucap ku.


"Habisnya dari tadi aku panggilin kamu dari luar tapi tidak ada sahutan dari dalam jadi aku masuk eh ternyata kamu nya malah molor di sini" Ucap Arga.


"Lagian kamu juga sih. Ngapain juga kamu tidak kunci pintu kalau kamu maunya tidur seperti itu? Tidurnya mati lagi kalau ada orang jahat yang masuk ke kamar kamu terus dia ngapa-ngapain kamu gimana? Kamu itu tanggung jawabnya aku nanti malah aku yang disalahin sama mama dan papa apalagi kedua orang tua kamu pasti aku yang disalahkan" Ucap nya tanpa jeda.


"Iya, iya aku minta maaf. Tadi maksud ku hanya berbaring sebentar gak tahu nya malah ketiduran" Ucap ku.


"Ya sudah, besok-besok jangan di ulangi lagi. Ini sudah pukul dua siang. Ayo ke bawah kita cari makanan" Ucap nya.


"Makan?"


"Iya makan, kenapa gak mau?"


"Mau sih, aku juga lapar" Jawab ku nyengir.


"Ya sudah ayo" Ucap nya.


"Bunglon, bunglon" Ucap ku pelan.


"Apa?"


"Gak, bukan apa-apa" Jawab ku salah tingkah.


***


"Kamu mau makan apa?" Tanya Arga kepada ku saat kami telah sampai di restoran hotel yang berada di lantai bawah.


"Hmm... Arga, aku gak ngerti makanan-makanan nya" Bisik ku kepada Arga yang duduk di depan ku.


"Aduh, aku memang bodoh telah bertanya kepada gadis kampung ini. Mana dia ngerti dengan makan-makanan ini" Batin nya.


"Terserah kamu deh mau pesan makanan apa. Yang penting halal ya" Bisik ku lagi.


"Eh tunggu sebentar" Ujar ku masih sibuk membolak balik buku menu yang di berikan pelayan pada ku dan Arga.


"Ini seperti nya burger deh. Aku pesan ini aja ya. Sepertinya lebih aman makan makanan yang ini deh. Tapi jangan pakai daging ya, bilang aja burger telor" Ujar ku lagi.


"Telor?"


"Iya, kalau pakai daging takut nya entah daging apa gitu"


"Ya ampun" Ucap Arga memijit kepala nya yang terasa pusing dengan sikap ku yang kebanyakan memilih.


"Minum nya apa?"


"Jus jeruk saja" Ucap ku.


Arga pun memesan makanan kami dengan menggunakan bahasa Inggris dan langsung di tulis oleh pelayan yang menunggu pesanan dari kami tadi.


"Sayang" Tegur seseorang.


Lagi-lagi hati ku terasa perih mendengar suara itu. Dan kembali tentu nya aku akan menjadi obat nyamuk untuk mereka berdua.


"Hay sayang" Jawab Arga mencium pipi gadis yang ia cintai itu.


Aku berpura-pura tidak melihat adegan yang menyakitkan itu.


"Udah lama?" Tanya Sandra.

__ADS_1


"Belum kok. Kamu mau pesan makanan apa?"


"Gak usah deh sayang, aku sudah makan tadi. Kebetulan aku ada pertemuan dengan beberapa klien di sini. Maka nya aku ke sini. Dan ternyata kalian juga di sini" Ucap nya lagi.


__ADS_2