
Aku sangat gelisah mengingat peristiwa tempo hari saat Arga mengajakku kembali bersamanya. Di satu sisi aku sangat merindukan suamiku itu dan tentu saja aku ingin kembali kepadanya. Tapi di sisi lain aku tidak mau peristiwa menyakitkan itu terulang lagi kepada diriku. Ini membuat aku merasa frustasi. Aku tidak bisa memejamkan mataku untuk terlelap sedikitpun.
Aku bangkit dari tidur ku. Mengambil kartu nikah yang sempat terjatuh tempo hari yang di temukan oleh bos ku dan mengembalikan nya kepada ku.
Aku menatap kartu yang penuh sejarah dalam hidup ku itu. Hati ini sangat sakit menahan rindu yang sangat berat kepada suami ku itu. Tapi apa lah daya ini harus ku lakukan untuk masa depan ku juga. Jika benar Arga memang mencintai ku, jelas dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat ku kembali.
"Apa yang harus aku lakukan ya Allah. Hati ini benar-benar di lema. Aku mencintai suami ku, tapi aku takut nanti tersakiti kembali. Aku tidak mau kembali terluka" Ucap ku lirih dengan menitikkan air mata.
Rasa kasihan, rindu, dendam kini bersatu di dalam hati ku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku bingung, sangat-sangat bingung.
***
Santi datang kembali ke rumah Riko saat malam hari telah tiba. Dirinya masih belum terima dengan apa yang di lakukan Riko padanya tadi siang.
Santi pergi menemui Riko yang masih duduk melamun di halaman belakang rumah nya.
"Ko" Tegur nya dengan nada yang kurang bersahabat.
"Santi" Jawab Riko melihat siapa yang datang.
"Aku mau tanya sama kamu? Sebenarnya apa salahku kepadamu sehingga kamu membuat aku seperti ini?" Tanya Santi dengan nada sedikit marah.
"Kamu gak salah apa-apa sama aku San" Riko membalas dengan nada yang lembut.
"Terus, kenapa kamu masih menatap foto Rea seperti itu. Kamu memang belum bisa melupakan Rea kan?"
"Aku minta maaf kepada mu San. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu sakit hati seperti ini"
"Terus,. kenapa kamu lakukan ini kepada ku? Jika kamu belum bisa melupakan Rea dan belum bisa menerima aku sepenuhnya di dalam hidup kamu, lebih baik kita akhiri saja pertunangan ini dan kita batalkan saja acara pernikahan kita yang tinggal beberapa minggu lagi" Santi sangat kecewa kepada Riko saat ini.
"Ayo sekarang kita temui ibu mu. Kita katakan bahwa kita putuskan saja pertunangan kita ini dan acara pernikahan kita dibatalkan" Tambah nya lagi. Beberapa air bening kini meleleh di pipinya.
Santi menangis karena rasa kecewa di hati nya kepada Riko. Saat ini.
"Jangan Santi, aku mohon. Aku minta maaf kepada mu. Aku tidak mau membuat ibu ku kecewa San"
"Terus, Sampai kapan? Sampai kapan kamu harus berpura-pura seakan-akan kamu itu mencintai aku dan bisa menerima aku sepenuhnya di dalam hidup kamu kepada ibumu? Kamu seperti ini sudah mempermainkan perasaanku. Tidak hanya kamu yang terluka Riko, aku juga. Aku di sini dipermainkan oleh kamu dengan kamu berpura-pura mencintai aku sepenuhnya seperti ini"
"Santi aku minta maaf, benar-benar minta maaf. Aku mengaku salah kepada mu. Tapi bukan berarti aku tidak sayang sama kamu" Ujar. Riko mencoba untuk memujuk Santi.
"Bohong, kamu tidak pernah sayang sama aku dan kamu juga tidak pernah sayang sama ikatan kita ini kan" Tebak Santi.
"Jika kamu benar sayang sama aku seperti apa yang barusan kamu ucapkan itu, kamu pasti tidak akan melakukan hal ini kepadaku Riko. Jadi aku rasa alangkah baiknya kita putuskan saja pertunangan kita ini dan pernikahan kita, kita batalkan saja" Ujar Santi lagi.
"Tidak, aku tidak mau San. Aku tidak mau membuat ibu ku kecewa"
"Tapi kamu sudah membuat ku kecewa Ko"
Riko menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat. Ia benar-benar bingung dengan desakan dari Santi seperti itu. Ia tidak mau membuat ibu nya kecewa. Tapi dia juga tidak bisa terus-terusan berpura-pura mencintai Santi di depan ibu nya. Benar kata Santi, tidak hanya dia yang terluka, tapi Santi juga.
"Santi, bisa gak kita jangan membahas hal ini dulu. Saat ini aku benar-benar membutuhkan waktu" Pinta Riko.
"Berapa lama lagi waktu yang kamu butuhkan Riko? Setahun, dua tahun? Berapa lama lagi kamu menyakiti diri mu dan diri ku seperti ini?" Ujar Santi dengan tersenyum mengejek.
Riko hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaan dari Santi. Diri nya pun tidak tahu jawaban dari pertanyaan Santi barusan.
"Jangan bahas hal ini dulu San" Ujar nya lagi.
"Terus kapan harus kita bahas hal ini? Kamu tahu kan beberapa minggu lagi kita akan menikah?"
"Iya aku tahu, hanya saja aku tidak mau membahas hal ini sekarang"
__ADS_1
"Jadi kapan? Apa saat kita sudah menikah nanti? Ko, justru saat itu adalah saat yang sudah terlambat. Alangkah baik nya kita bahas ini sekarang karena kita belum menikah dan dapat mencegah hal yang menyakitkan terjadi. Aku tidak mau menikah dengan orang yang hanya berpura-pura mencintai ku" Ucap Santi lagi.
"Santi, aku mohon sama kamu. Tolong dengan sangat jangan membahas hal ini sekarang! Aku butuh waktu. Aku benar-benar butuh waktu. Saat ini kepalaku terasa pusing memikirkan semua ini seakan-akan kepala ini ingin pecah. Jadi aku mohon sama kamu beri aku waktu" Pinta Riko lagi pergi meninggalkan Santi yang masih berdiri di halaman belakang rumah nya.
"Tega kamu Ko, tega kamu melakukan hal ini sama aku. Dan ketika masalah kita belum selesai, kamu pergi meninggalkan aku seperti ini" Ucap Santi merasa kecewa. Beberapa air bening kini kembali mengalir di pipinya.
***
Pagi telah tiba, kebetulan hari ini adalah hari minggu. Arga memutuskan untuk kembali ke kota Terubuk tempat ku berada.
Pelayan wanita yang sempat bertengkar dengan nya tempo hari pun menelan ludah saat melihat Arga datang menghampiri nya.
Ia bermaksud ingin melarikan diri agar tidak terjadi masalah lagi dengan nya seperti tempo hari.
Baru saja gadis itu berbalik Arga pun menegur nya.
"Eh, kamu" Ujar Arga.
Gadis tadi pun berbalik dan berusaha tersenyum kepada Arga meski senyuman itu tampak dipaksakan.
"Aku mau ketemu dengan Rea manager mu" Ujar nya.
"Emang nya ada perlu apa ya pak?" Tanya gadis itu.
"Eh, aku tidak ada urusan nya dengan mu. Aku hanya mau ketemu dengan Rea karena ada urusan dengan nya bukan kamu" Ujar Arga merasa kesal karena pelayan itu tidak langsung menuruti perintah nya.
"Mohon maaf pak, saat ini ibu Rea sendang keluar. Hari ini adalah hari minggu jadi buk Rea tidak masuk pak" Jelas Pelayan tadi dengan lembut.
"Jadi jika ada apa-apa bisa bapak kasih tau saya nanti akan saya sampai kan kepada buk Rea" Ucap nya lagi.
"Eh, saat ini aku ada urusan nya dengan Rea bukan dengan kamu" Ujar Arga kesal.
"Maaf pak, apa bapak tidak mengerti ya prosedur kerja? Kami sebagai pekerja tidak boleh mengganggu atasan kami jika tidak ada hal yang penting pak. Jadi jika ada komplain maka bapak bisa sampaikan kepada saya, nanti saya akan menyampaikannya kepada buk Rea dan saat ini buk Rea sedang tidak masuk pak. Jadi harus bagaimana? Tidak mungkin kan saya memberitahu kepada buk Rea bahwa ada orang yang ingin bertemu dengannya dan tidak tahu jelas apa tujuannya? Bisa-bisa nanti buk Rea marah kepada saya" Ujar pelayan tadi berusaha menahan emosi nya.
"Amboi, amboi cantik sekali bahasa kamu ya. Kamu tahu kan jika saya di sini sebagai pelanggan di sini. Dan seharus nya saya mendapatkan pelayanan yang lebih baik bukan seperti ini" Ujar Arga ikut emosi.
Pelayan tadi tersenyum yang tampak di paksakan.
"Mohon maaf ya pak. Mohon maaf sangat-sangat" Ucap pelayan tadi menyatukan kedua tangan nya seperti orang sungkemen saja.
"Tadi kan saya sudah bicara sama bapak baik-baik. Tapi bapaknya tidak mau mendengarkan apa perkataan saya. Jika pelanggan semuanya seperti bapak sudah lama saya berhenti kerja di sini" Ucap pelayan tadi seperti kepada dirinya sendiri.
"Apa kamu bilang? Eh, asal kamu tahu ya. Kamu ini sudah menunjukkan bahwa kamu ini bukanlah pekerjaan yang bagus. Jika kamu memang pekerjaan yang bagus, kamu akan menerima dengan sabar semua cobaan dan komplain dari pelanggan mu. Bukan seperti ini" Ucap Arga.
"Terserah bapak saja ya pak. Ada yang perlu saya bantu lagi?" Tanya pelayan tadi menyatukan gigi nya merasa geram dengan Arga.
"Aku hanya butuh bantuan untuk bertemu dengan Rea" Ucap nya lagi.
"Gak bisa pak, minta maaf sangat-sangat. Gak boleh ya pak"
Arga tampak emosi dengan pelayan tadi. Ia pun tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Gadis pelayan tadi pun pergi meninggalkan Arga.
Arga pun tampak kesal dan pergi dari tempat itu.
***
Tidak menyerah, malam hari nya Arga kembali ke cafe itu lagi. Ia pun bertemu dengan pelayan laki-laki yang kebetulan shif kerja nya malam. Itu..
"Untung tidak bertemu dengan pelayan tadi siang yang bawel itu" Ucap nya melihat tidak ada pelayan yang bertengkar dengan nya tadi siang.
"Maaf mas" Ucap Arga.
__ADS_1
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu"
"Saya mau bertemu dengan Rea. Apa dia ada?"
"Ibu Rea nya gak masuk hari ini pak. Karena hari ini adalah hari minggu jadi dia tidak masuk pak"
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Gak, saya hanya mau bertemu dengan Rea"
"Jika begitu, besok saja bapak kembali ke sini" Saran pelayan laki-laki tadi.
"Hmm... Saya perlu nya sekarang. Apa mas bisa meminta nya untuk datang ke sini?"
"Aduh pak, saya minta maaf. Saat ini saya sedang bekerja. Masih banyak pekerjaan saya pak. Nanti bos saya bisa marah sama saya pak. Maaf pak saya tidak bisa bantu" Ujar pelayan tadi lagi.
"Apa kamu tahu di mana dia sekarang?"
"Saya gak tahu pak, mungkin di kos nya atau keluar menikmati waktu libur nya"
"Tahu di mana kos nya?"
"Gak tahu saya pak"
"Tak mungkin kamu gak tahu kos nya" Ujar Arga masih bersih keras.
"Maaf pak, saya beneran gak tahu pak"
"Kamu tahu gak saya ini siapa nya Rea?" Ucap Arga. Ia merasa bahwa pelayan tadi berbohong kepadanya mengenai tidak tahu di mana kosnya aku sekarang. Jika dia mengatakan bahwa dia adalah suami ku, kemungkinan pelayan tadi akan jujur dan mau memberi tahu di mana kos ku itu.
"Tidak tahu pak" Jawab pelayan tadi apa adanya.
"Saya ini Sua.... " Ujar Arga tidak melanjutkan perkataan nya. ia pun berubah pikiran untuk mengatakan bahwa ia adalah suami ku. Entah lah, entah apa yang membuat nya tidak jadi mengatakan bahwa dia itu suami nya kepada pelayan tadi.
"Sudah lah lupa kan saja. Terima kasih dan selamat malam" Ucap Arga berlalu dari hadapan pelayan tadi.
"Iya sama-sama. Sua, sua apa? Sua sui kemuning?" Ucap pelayan tadi merasa heran dengan tingkah Arga. Sua sui kemuning itu adalah lagu yang di nyanyikan oleh P.ramle bersama rekan nya di film nasib do re mi. Dimana waktu itu P.ramle dan rekan-rekan nya menjual obat palsu.
Arga kembali ke hotel yang di tempati nya. Hotel itu memang tidak jauh dari tempat ku bekerja. Dia sengaja menginap di hotel itu agar bisa terus-terusan bertemu dengan ku.
Ia pun duduk di lobi hotel yang menghadap ke laut. Menikmati angin malam yang dingin menusuk ke sanu bari.
"Aduh Rea, sungguh sulit sekali bertemu dengan mu" Ucap nya lirih.
"Entah bagaimana aku harus mengatakan bahwa aku benar-benar tidak bisa hidup tampa kamu. Tolong katakan kepada ku. Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya kepada ku? Apa perlu aku terjun ke laut ini agar kamu yakin bahwa cinta ku tulus dan suci?" Ucap nya lagi sendiri.
"Mas, kenapa?" Tanya seorang tamu yang lewat merasa heran dengan sikap Arga yang sedang ngomong sendiri.
Arga jadi salah tingkah karena ketahuan sendang ngomong sendiri.
"Aduh, pakai ada yang lihat pulak lagi. Harus memberi asalan apa aku? Bisa-bisa nanti aku di bilang gila lagi sama ini orang" Batin nya.
"Mas, sedang latihan drama ya?" Tebak orang tadi lagi.
"Oh, iya mas, saya sedang latihan drama"
"Wah mas nya dari daerah mana?" Tanya orang tadi.
"Kalau saya sih dari Bukit batu" Tambah nya lagi.
"Saya sih dari Bengkalis" Arga berbohong. Orang tadi adalah utusan dari daerah bukit batu untuk pertandingan drama di sana. Yah, kota Bengkalis memang terkenal dengan budaya yang selalu di junjung tinggi. Di mana setiap tahun nya pasti saja ada acara pertandingan drama antara daerah, sekolah dan sanggar bertema kan kerajaan. Dan untung nya beberapa hari kedepan acara pertandingan drama itu ajan di laksanakan di sana.
__ADS_1
Kebetulan juga hotel yang menjadi tempat inap Arga itu adalah tempat para peserta drama pun ada di sana.