
"Hallo sayang" Ujar Sandra saat panggilan nya di jawab oleh Arga.
"Ya, hallo" Ujar Arga dengan nada yang datar.
"Lo, kok gitu sih suara nya? Kenapa sayang?" Tanya Sandra merasa ada yang aneh saat Arga terdengar tidak seperti biasa nya.
"Kamu dari mana saja? Sudah malam seperti ini baru menghubungi ku" Ujar Arga masih dengan intonasi datar nya.
"Maaf sayang, tadi setelah tiba di Bandung, aku langsung bertemu dengan beberapa klien ku. Terus di lanjutkan dengan membahas beberapa desain pakaian terbaru untuk fashion show yang akan kami gelar nantinya. Maaf ya sayang aku kan di sini kerja bukan jalan-jalan. Harusnya kamu ngerti dong dengan kondisi aku saat ini" Ujar Sandra meminta pengertian.
"Ini kan langkah awalku untuk memulai karir di bidang fashion aku nggak mungkin sia-siain kesempatan ini. Dan kamu sebagai suamiku harusnya mendukung pekerjaan aku in.i Ini kan cita-cita aku sedari dulu. Kamu kan tahu itu" Ujar Sandra dengan suara manja nya.
Arga menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat.
"Iya aku ngerti kok dan aku akan selalu mendukung kamu. Kamu jaga diri di sana dan jaga kesehatan nya" Ujar Arga masih dengan suara datar nya.
"Terima kasih ya sayang kamu sudah ngerti posisi aku sekarang. Aku memang beruntung mempunyai suami pengertian seperti kamu" Ujar Sandra memuji.
Arga menutup ponsel nya.
"Sandra apa kah tidak bisa kamu mengambil cuti beberapa hari untuk kita? Padahal kita baru saja menikah harus nya kita nikmati masa-masa bersama kita berdua. Ini kamu malah pergi tinggalin aku seperti ini. Liburan bulan madu yang seharus nya seminggu, malah menjadi tiga hari lantaran kesibukan kamu" Ucap Arga kepada diri nya.
Arga kembali menghebus napas berat nya.
***
"Hei Put" Ujar Arga saat bertemu dengan Putra yang kebetulan berkunjung ke kantor nya.
"Apa kabar?" Ujar Putra.
"Kenapa wajah mu seperti itu? Muram seperti kuburan" Ujar Putra sekaligus bercanda.
"Apaan sih put" Ujar Arga tampak tidak ingin bercanda.
"Coba kamu cerita, ada apa sebenar nya"
"Entah lah Put, aku juga bingung dengan perasaan ku sekarang. Aku tidak tahu harus bagaimana saat ini" Ujar Arga.
"Lah, kenapa? Pusing membagi waktu untuk kedua istri mu?"
"Bukan, Bukan itu"
"Terus apa?"
"Sandra, harus nya kami menikmati masa-masa bulan madu kami seminggu. Ini malah tiga hari karena ia terlalu sibuk bekerja. Dan sekarang, dia malah pergi ke Bandung untuk menggelar fashion show di sana" Jelas Arga.
"Emang ini adalah kesempatan nya untuk debut di bidang fashion. Tapi harus mengorbankan bulan madu kami?" Protes Arga.
Putra tampak berpikir.
"Aku juga gak tahu ya harus ngomong apa sama kamu. Yang jelas saat ini aku masih bingung dengan Sandra. Dulu kamu mengajak nya untuk menikah dan dia terus saja menolak nya dan malah meninggalkan kamu ke Paris untuk melanjutkan pendidikan nya. Dan setelah kamu sudah menikah dengan Rea, dia malah setuju untuk menikah dengan mu" Ujar Putra merasa ada yang aneh.
"Lagian aku juga belum paham kenapa kamu bisa menikah dengan Rea. Kamu di jodohkan?" Tanya Putra penasaran.
Yah tentu saja dia penasaran. Saat kejadian itu sepupu Arga itu sedang berada di Bandung untuk mengerjakan beberapa proyek dari papa nya. Dan ia hanya mendapat kabar angin bahwa Arga telah menikah.
"Aku cukup kaget kamu telah menikah dengan Rea. Aku pikir kamu menikah dengan nya hanya sebagai pelarian atau di jodohkan" Ujar nya lagi.
Arga menghembus napas berat nya.
"Aku menikah dengan nya karena terpaksa" Arga memulai ceritanya.
"Karena di jodohkan?" Tebak Putra.
Arga menggeleng.
"Bukan, karena aku telah menodainya" Ujar Arga.
"Apa? Kamu menodainya? Kamu memperkosa nya? Kenapa? Bagaimana bisa?" Ujar Putra kaget setengah mati tidak percaya sepupunya telah melakukan hal sehina itu.
"Wow, wow pertanyaan mu satu-satu bro"
"Oke, coba kamu cerita bagaimana bisa terjadi seperti itu. Aku sama sekali tidak habis pikir kamu bisa melakukan itu kepada nya" Ujar Putra lagi.
"Waktu itu aku sangat frustasi di tinggal pergi oleh Sandra. Terlebih sudah beberapa hari Sandra tidak bisa di hubungin. Aku jadi galau tingkat dewa karena itu" Cerita Arga.
"Jadi, pikiran ku kelut. Buntu tidak bisa berpikir apa-apa. Aku hanya ingn mencari hiburan dengan memesan yah wanita penghibur. Maksud ku hanya ingin menemani ku tidak untuk melayaniku" Jelas Arga mengingat kembali kejadian waktu itu.
"Sayang nya aku salah masuk kamar. Dan yah aku ketemu dengan Rea waktu itu. Dia kelihatan seperti mabuk. Aku pikir dia lah gadis yang ku pesan. Melihat dia mabuk dan menggeliat seperti itu, entah mengapa sahwat ku naik dan yah aku menodai nya" Ujar Arga.
"Setelah selesai baru ku tahu dia masih perawan dan aku telah merusak marwah nya. Dia pingsan setelah kejadian itu. Teman nya Santi nama nya datang dan melihat keadaan Rea seperti itu. Jadi dia yang meminta pertanggung jawaban atas apa yang terjadi kepada Rea. Dengan mengancam akan melaporkan ku ke polisi jika tidak bertanggung jawab. Dengan terpaksa aku menikah dengan Rea" Cerita Arga panjang lebar.
Putra membulatkan mata nya dengan mulut nya terbuka lebar. Sungguh dia tidak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Arga. Ia sangat mengenal Arga. Tapi kenapa hanya karena kecewa kepada Sandra membuat nya melakukan hal seperti itu.
"Kenapa ekspresi mu seperti itu?" Tanya Arga.
"Gak, aku hanya tidak habis pikir kamu bisa melakukan hal seperti itu karena kecewa sama Sandra?" Ujar Putra.
"Dan sekarang, setelah menikah dengan Sandra kenapa masih galau seperti ini?" Tanya Putra.
"Aku juga bingung dengan diri ku sendiri" Ujar Arga memikirkan diri nya.
"Tapi untung nya semua rasa sepi ku hilang karena Rea. Rea selalu menemani ku di rumah" Ujar Arga tersenyum.
"Seperti nya kamu sudah mulai jatuh cinta sama Rea"
__ADS_1
"Gak, gak mungkin. Aku menikah dengan nya karena terpaksa. Dan bila tiba masanya, aku pasti akan melepaskan dia" Ujar Arga mengelak.
"Tapi nyata nya kamu sendiri yang bilang tadi bahwa Rea bisa mengusir kesepian mu karena di tinggal tugas oleh Sandra" Ujar Putra.
"Aku juga bingung sama Rea, semua perintah ku dia selalu turuti. Aku melarang nya keluar, dia tidak keluar, aku melarang bekerja dia tidak bekerja. Dia selalu menurut sama perintah ku"
"Lah, bagus dong Arga. Itu tanda nya dia istri soleha. Jadi kamu harus pertahan kan dia. Jika nanti kamu kehilangan nya, kamu pasti menyesal" Ujar Putra mendukung hubungan ku dan Arga.
Arga hanya diam memikirkan apa yang di katakan Putra
***
"Bik Ina, tolong bilang sama Rea, aku kau mengajak nya keluar sekarang. Suruh dia untuk bersiap-siap. Aku tunggu di sini" Perintah Arga kepada bik Ina saat dirinya telah tiba di rumah.
"Baik tuan" Bik Ina pun melaksanakan perintah dari tuan muda nya.
***
"Non Rea" Ujar bik Ina mengetuk pintu kamar ku.
"Iya bik, masuk saja" Ujar ku terus menyisir rambut ku karena aku baru selesai mandi sore.
Bik Ina membuka pintu kamar ku.
"Ada apa. bik?" Tanya ku.
"Ini non, tuan Arga menunggu non di bawah. Katanya dia mau mengajak non keluar. Dia meminta bibi sampaikan untuk non segera bersiap-siap" Jelas bik Ina.
"Keluar? Kemana bik?" Tanya ku.
"Saya juga kurang tahu non.. Yang jelas tuan sudah menunggu non di bawah"
"Baik bik, saya akan turun sebentar lagi" Ujar ku.
"Baik non. Saya permisi dulu" Bik Ina menutup pintu kamar ku kembali.
"Tumben dia mau mengajak ku keluar. Emang mau kemana sih? Mau menemani nya berbelanja lagi? Atau apa sih?" Pikir ku.
"Ah sudah lah lebih baik aku cepat-cepat bersiap dari pada dia marah nanti nya" Ujar ku bergegas berganti pakaian.
***
"Ini dia, lama sekali sih" Ujar Arga setelah melihat ku turun. Ia pun menarik tangan ku dengan paksa.
"Aduh, sakit. Pelan-pelan Arga" Ujar ku.
Bik Ina yang melihat kami seperti itu merasa khawatir akan hal buruk yang di lakukan Arga kepada ku.
"Masuk" Ujar nya dengan nada seperti marah.
"Masuk" Ulang nya lagi dengan nada kini di naikan.
Aku kaget mendengar bentak nya. Dan langsung masuk ke dalam mobil nya Arga.
Arga menyalakan mesin mobil nya. Melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya.
"Kita mau kemana?" Tanya ku dengan hati-hati.
"Diam dan ikuti saja kemana aku membawa mu" Ujar nya.
"Aduh, mau kemana si bunglon membawa ku?" Batin ku mulai bertanya-tanya.
***
"Kenapa kita ke sini?" Ujar ku saat Arga memberhentikan mobilnya di sebuah pantai yang berada di kota itu.
Arga keluar dari mobil nya dan aku pun mengikuti nya.
Ia berjalan selangkah dua langkah ke depan. Sedangkan aku hanya berdiam diri di samping mobil nya.
"Rea aku minta maaf" Ujar nya kepada ku.
Aku tidak merespon aku hanya terdiam mendengar Arga meminta maaf kepada ku.
"Rea" Ujar nya sedikit berteriak karena aku tidak merespon nya.
"Iya, gak apa-apa. Aku sudah terbiasa" Ujar ku.
"Kamu ini memang suka membuat ku emosi ya" Ujar nya.
Aku berjalan mendekati Arga.
"Kenapa kamu membawa ku ke sini?" Tanya ku.
"Aku hanya ingin menikmati Sunset bersamamu. Sebentar lagi Sunset itu akan terjadi tunggu saja"
"Benarkah? Baiknya kamu kepadaku. Terima kasih" Ujar ku.
"Ada hal apa kamu membawaku ke sini? Tidak biasanya kamu seperti ini" Tambah ku lagi.
"Aku mau ngomong sama kamu" Ujar nya.
"Mau ngomong apa? Kenapa tidak di rumah saja.. Bukan kah di rumah kita juga bisa ngomong?" Ujar ku.
"Aku tidak mau ada seorang pun yang tahu tentang apa yang akan kita bicarakan. Karena ini adalah masalah kita berdua" Ujar nya lagi.
__ADS_1
Deg...
Hati ku mulai gelisah saat Arga berkata seperti itu.
"Apa Arga akan membahas tentang perceraian?" Batin ku.
"Apa kah sudah sampai masa nya?"
"Masa apa?"
"Waktu itu kamu bilang tunggu sampai masa nya. Dan sekarang apa masa nya telah tiba?" Ujar ku.
"Ngomong apa kamu?" Tanya Arga dengan intonasi yang lembut.
"Untuk lepas kan aku. Apa sekarang sudah masa nya?" Ulang ku lagi.
"Emang ada aku mengatakan itu?"
"Terus apa?"
"Aku mau bertanya sama kamu. Tapi kamu harus jawab dengan jujur"
"Owh, tanya lah. Mau tanya apa?" Ujar ku.
Arga menghembus napas berat nya. Lama aku menunggu namun belum keluar sepatah katapun dari mulut Arga.
"Mau tanya apa? Aku sudah menunggu ini" Ujar ku.
Lagi-lagi Arga menghembus napas berat nya.
"Selama aku menjadi suami mu, apa kamu marah kepada ku?" Arga mulai bertanya.
"Marah? Marah kenapa?" Tanya ku.
"Selama kita menikah, aku tidak memperlakukan kamu layak nya seorang istri. Seharus nya kamu mendapatkan hak mu sebagai istri ku. Tapi aku tidak melakukan itu kepada mu" Ujar Arga.
"Aku benar-benar ingin tahu apa kah kamu marah karena aku tidak menjalankan tanggung jawab aku kepada mu" Tambah nya lagi.
"Kenapa kamu tiba-tiba berbicara seperti ini. Kenapa?" Ujar ku bingung dengan pertanyaan Arga.
"Sebab, aku sadar aku telah berdoa mengabaikan kamu seperti ini"
"Jadi kamu bertanya seperti ini karena kamu takut dosa?" Ujar ku berjalan membelakangi Arga.
"Aku hanya ingin tahu kamu marah apa tidak kepada ku. Aku hanya ingin kamu menjawab pertanyaa ku"
Aku menghentikan langkah ku lalu menoleh ke arah Arga.
"Ga, apa yang terjadi semua ini bukan salah kamu. Semua nya sudah takdir yang di tentukan oleh sang cipta" Ujar ku.
"Memang benar kamu adalah suami ku. Tapi kenapa kamu menjadi suami ku. Atas dasar apa kamu bisa menjadi suami ku. Semua itu harus bisa di pertimbangkan. Saya paham penyesalan kamu. Dan aku tidak langsung menyalahkan kamu juga" Tambah ku lagi.
"Aku tidak mempermasalah kan semua itu. Kamu jangan khawatir ya" Ujar ku lagi.
"Kamu jangan terlalu memikirkan masalah ini. Nanti bisa membuat kamu menjadi stress dan akan mengganggu pekerjaan kamu" Ujar ku lagi.
"Aku pikir masalah besar tadi. Ga, boleh saya tambah berbicara sedikit?"
"Apa?" Ujar Arga.
"Alangkah baiknya kita selesaikan saja hubungan kita ini. Jika kita terus-terusan seperti ini, itu akan membuat kamu semakin terbebani, semakin merasa bersalah. Kita selesaikan saja di mana itu untuk kebaikan kamu dan aku juga. Dan aku yakin setelah itu kamu pasti tidak akan merasa bersalah lagi seperti sekarang" Saran ku.
"Rea" Ujar Arga.
"Aku ngerti mungkin kamu masih marah kepada ku. Karena kehadiran ku membuat kamu dan Sandra seperti ini. Jika kamu masih membutuhkan waktu untuk menghukum ku, tidak masalah untuk ku. Aku akan bersedia menunggu hingga masa nya tiba nanti. Dan aku akan pergi" Ujar ku.
Arga datang mendekati ku. Ia memegang kedua bahu ku. Ia menatap ku dengan tatapan yang sendu membuat hati ini merasa sejuk.
"Siapa sebenarnya kamu?" Ujar nya kepadaku.
"Aku? Rea nuraini" Ujar ku.
"Kenapa kita bisa menikah? Kenapa kamu yang menjadi istri ku?"
Aku tersenyum hambar mendengar pertanyaan dari Arga.
"Aki juga tidak tahu jawaban nya. Mungkin ini lah yang di namakan takdir" Ujar ku.
***
"Santi, ibu dan Riko sudah sepakat akan pergi ke kampung halaman mu lusa untuk bertemu dengan kedua orang tua mu untuk membahas masalah pertunangan kalian" Ujar Maya saat Santi berkunjung kerumah nya.
"Ha? Bener tante?" Ulang Santi seakan tidak percaya.
"Iya, benar. Tanya saja sama Riko"
"Benar Riko? Kamu sudah bisa menerima ku?" Tanya Santi.
Dengan berat hati Riko mengangguk. Sejujur nya ia belum bisa melupakan ku. Namun apa lah daya Maya terus-terusan memaksa nya untuk cepat bertunangan dengan Santi.
"Ya ampun, aku sungguh tidak menyangka. Akhirnya Riko akan membuat suatu ikatan kepada ku. Dan tidak lama lagi aku akan menikah bersama nya. Ya ampun aku benar-benar bahagia" Batin Santi kegirangan.
"Bagaimana Santi. Kamu harus mengabari keluarga mu agar mereka tidak kaget saat kami tiba nanti nya" Ujar Maya lagi.
"Ya tante, saya akan mengabari mereka nanti nya" Ujar Santi tersenyum senang.
__ADS_1
"Tante lagi, panggil saja ibu. Sebentar lagi juga kalian akan menikah. Jadi ibu nya Riko, ibu nya kamu juga" Ujar Maya.