
Kami hanya mengobrol sewajarnya saja di ruang makan megah itu. Sesekali aku terkekeh kecil mendengar kelakar pak Rudi. Sesekali aku pun menggeleng kepala melihat ke harmonisan kedua insan berlainan jenis kelamin itu.
Yah meski di bilang mereka tidak lagi muda, tapi rasa cinta dan sayang kedua nya tidak lah pudar selayak nya masih pengantin baru. Tampak sesekali pak Rudi memuji istri nya yang di sambut kembali dengan buk Rina kembali memuji sosok suami nya
Sungguh suasana yang sangat hangat di situ. Aku merasa sedikit nyaman dan cepat bergaul dengan dua calon mertua ku karena mereka begitu terbuka kepadaku. Yah tampa memandang status ku yang orang kalangan bawah ini.
"Ya sudah ma, papa mau ke kamar dulu ya mau bersih-bersih" Kata pak Rudi berlalu meninggalkan kami tak lupa mengecup lembut puncak kepala istri nya.
"Harmonis nya...." Batin ku berkata seraya tersenyum melihat hal itu.
"Apa Arga akan bersikap hangat kepada ku seperti papa dan mamanya?" Pikir ku tertuju kepada calon suami ku yang sampai saat ini tak kunjung kelihatan batang hidung nya. Entah masih mandi atau dia enggan turun berbaur bersama kami di bawah sini.
__ADS_1
"Assalamualaikum, aku pulang" Aku menyambut hangat kepulangan suami ku dari kantor.
"Wa'alaikumsalam, Capek sayang? Mau aku pijitin?" Jawab ku hangat menyambut kepulangan suami ku di depan pintu masuk rumah yang megah itu. Arga langsung memberikan ku ciuman hangat di puncak kepala ku.
"Arggg" Seketika aku menggeleng kan kepala menghilangkan khayalan yang tidak mungkin terjadi kepada mu dan Arga. Yah mana mungkin terjadi. Toh Arga bersikap dingin kepada ku. Bahkan dia mengatakan jika dia sudah mempunyai kekasih dan aku tidak boleh menginginkan lebih. Karena pernikahan kami hanya lah keterpaksaan. Yah bisa di katakan pernikahan hanya di atas kertas.
"Kamu kenapa Rea? Ada masalah apa sampai kamu menggelengkan kepala begitu?" Tanya buk Rina membuat ku salah tingkah.
"Ma, sebentar lagi waktu magrib. Tempat solat nya di mana ya?" Tanya sedikit ragu. Yah ragu takut di katakan aku sok alim dan sok taat agama. Emang aku bukan manusia yang sangat soleh. Tapi aku tidak pernah lupa dan lalai mengerjakan kewajiban ku lima waktu dalam sehari.
Buk Rina nampak tertegun dengan ku. Bisa ku lihat raut wajah dan mata yang berkaca-kaca di mata yang sedikit terlihat garis keriput nya.
__ADS_1
"Ma, kenapa?" Tanya ku heran.
"Gak, mama terharu"
Tidak langsung merespon aku hanya mengernyitkan alis ku heran atas ucapan barusan.
"Ayo nak kita pergi ke mushollah" Lanjut bu Rina menuntun ku ke tempat yang di maksud. Yah di rumah megah nan mewah itu terdapat sebuah mushollah untuk melaksanakan kewajiban kami sebagai seorang muslim.
Musholla mendominasi dengan warna putih itu sungguh sangat nyaman di lihat. Di sudut bagian depan, terdapat rak-rak yang berisi kitab suci al-quran dan beberapa perlengkapan lain nya seperti mukena, sajadah, dan tasbih di sana.
__ADS_1
...hanya visual...