
Santi menatap tubuh tergeletak tak berdaya di hadapan nya. Gadis itu menanggalkan sepatu dan kaos kaki yang di kenakan Riko agar ia merasa nyaman saat terlelap.
"Riko, kenapa kamu bisa kehilangan kendali seperti ini? Aku tidak membayangkan hal ini terjadi kepada kamu" Ujar Santi merasa bersalah
Santi duduk di samping tubuh tak berdaya itu. Gadis itu membelai lembut rambut sang pria.
Tak terasa beberapa air bening mengalir di pipinya. Yah Santi menangis. Melihat semua kekacauan yang terjadi karena ulah nya yang telah kehilangan kendali.
Rasa iri nya kepada ku membuatnya lupa bahwa kami telah bersahabat sejak lama. Dengan sekejap mata gadis itu memutuskan persahabatan nya begitu saja tanpa memberikan penjelasan yang jelas kepada ku.
Bagaimana pun Santi, dia tetap lah manusia biasa dan pasti ia merasa bersalah dan menyesali perbuatan nya.
"Hmm....hmm..." Riko mengerang.
"Riko, kamu sudah bangun?" Ujar Santi.
"Rea, Rea" Riko mengigau.
Santi menjauhkan dirinya kepada Riko. Yah gadis itu tadi sempat berjarak beberapa senti saja di hadapan Riko. Namun ketika Santi mendengar bahwa Riko mengigau dan menyebut nama ku. Ia kembali menjauhkan diri dari hadapan lelaki di depan nya yang tengah terbaring lelah itu.
__ADS_1
"Bahkan saat seperti ini pun kamu masih bisa menyebut nama nya. Sebegitu cinta nya kah kamu kepada Rea, sebegitu besarnya kah rasa itu sehingga membuat mu seperti ini? Lalu bagaimana dengan ku? Kenapa kamu tidak bisa menerima cinta ku?" Batin Santi. Lagi-lagi gadis itu menangis terharu.
Santi memutuskan untuk pergi meninggalkan Riko yang terlelap di kamar hotel itu.
Gadis itu berlari keluar hotel dengan hati yang perih.
Santi menangis dengan histeris nya ketika ia sudah sampai di taman yang tak jauh dari hotel tersebut.
"Riko, kamu tega, kamu tega memperlakukan aku seperti ini. Aku mencintai mu. Tapi kenapa kamu tidak bisa melihat ketulusan ku?" Ucap Santi histeris.
Beberapa orang yang ada di sana pun sempat melihat tingkah laku Santi yang aneh. Bagaimana tidak, malam-malam begini teriak-teriak di taman. Apa bukan seperti orang gila jadi nya?
"Rea, ibu mau ke pasar dulu membeli beberapa keperluan untuk acara pernikahan mu yang akan di adakan beberapa hari lagi. Kamu gak apa-apa kan tinggal sendirian di rumah?"
"Iya buk aku gak apa-apa kok" Jawab ku.
"Ayah kemana buk?"
"Ayah mu lagi ke rumah pak Udin"
__ADS_1
"Ya sudah, ibu pergi dulu ya, kamu baik-baik di rumah"
"Iya buk"
"Oh ya, sayang coba deh kamu lihat pada cermin diri mu itu. Keadaan mu sangat kusut nak" Ujar ibu melihat ku sangat kusut. Seperti orang depresi saja. Yah aku menang sedang depresi dengan masalah-masalah ku yang datang silih berganti.
Hal itu membuatku tidak bisa berpikir dengan jernih. Bahkan berpikir untuk berdandan saja seperti sebelum-sebelum nya pun aku tak bisa.
Aku hanya sibuk memikirkan masalahku. Kelak apakah aku bahagia menjalani rumah tangga bersama Arga atau tidak, Masalah pekerjaan ku, masalah kehormatan keluarga ku yang telah tercoreng karena ku. Belum lagi dosa ku yang telah berbuat hal yang sangat buruk itu.
Entah lah itu yang membuat aku sangat depresi. Jika aku tidak memikirkan ibu dan ayah, mungkin aku sudah mengakhiri hidup ku yang suram ini.
Tok....tok....tok....
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Aku yang sedari tadi melamun duduk di kursi ruang tamu kaget mendengan suara ketukan pintu itu.
"Siapa ya bertamu sepagi ini? Apa ibu gak jadi kepasar? Tapi kan gak perlu juga mengetuk pintu. Toh pintu nya tidak di kunci" Ujar ku sambil berdiri ingin membuka pintu.
__ADS_1
Aku membukakan mata ku, begitu kagetnya aku saat mengetahui siapa yang berada di balik pintu rumah kontrakan ku itu.