
Aku berjalan lesu keluar dari mesjid. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tua ku saat mengetahui aku telah berhenti bekerja. Bahkan aku di pecat secara tidak hormat.
Pasti ibu dan ayah akan merasa kecewa kepada ku. Dan mereka pasti akan sedih. Pikir ku.
"Ya Allah, kuatkan lah hati kedua orang tua ku kelak ketika aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada ku" Doa ku lagi. Aku langsung melangkah menuju parkir dimana motor ku berdiri tegak di sana menunggu kedatangan ku.
Beberapa kali aku menarik napas berat ku untuk menyiapkan diri mengatakan apa yang terjadi pada ku saat ini kepada kedua orang tua ku yang telah menunggu kepulangan ku sedari tadi.
Aku menyalakan motor ku dan langsung ku tancap gas untuk segera pulang.
***
"Assalamualaikum" Ucap ku memberi salam masuk ke dalam rumah kontrak ku yang kecil.
"Waalaikumsalam nak, sudah pulang?" Tanya ibu menyambut ku pulang.
"Iya buk" Jawab ku singkat menghempaskan diri di atas kursi yang berada di ruang tamu.
"Kelihatan lesu sekali kamu nak. Ada apa? Ada masalah lagi?" Tanya ibu kepada ku. Memang ya seorang ibu pasti mengerti apa yang di rasakan oleh anak nya.
"Iya buk. Ada masalah di kantor"
"Kenapa nak, coba cerita sama ibu" Ujar ibu ku.
"Buk, maaf kan aku ya buk. Aku telah membuat kita berada di dalam masalah. Dengan keadaan ku sekarang, secara tidak langsung, aku telah memberikan ibu dan ayah dosa" Ujar ku menangis sejadi-jadinnya.
"Sayang, sudah jangan di pikirkan lagi ya tentang masalah itu. Ibu kan sudah bilang, ini semua bukan keinginan mu. Semua nya sudah takdir yang di tentukan oleh tuhan kita nak. Kamu jangan menyalahkan diri mu seperti ini" Ujar ibu ku.
"Buk, ada lagi yang mau aku sampai kan buk. Aku....aku telah di pecat dari pekerjaan ku sekarang buk"
"Kenapa nak? Kenapa kamu bisa di pecat?"
"Aku juga tidak tahu buk salah ku apa. Tapi yang jelas aku di tuduh telah membuat laporan salah untuk klien ku. Harga yang ada di dokumen itu jauh dari harga yang di sepakati oleh kami buk. Hingga membuat perusahaan rugi buk" Ujar ku kembali menangis di pelukan ibu ku.
"Astagirullahalhazim nak....siapa sih yang tega melakukan itu kepada kamu nak?"
"Aku juga tidak tahu buk. Aku tidak mengerti salah aku apa kepada mereka sampai-sampai tega melakukan hal ini kepada ku"
"Yang sabar ya sayang. Jangan patah semangat ya nak. Yakin lah nikmat Allah akan lebih indah nanti nya jika kamu sabar menghadapi semua cobaan ini" Nasehat ibu ku mengusap lembut kepala ku.
"Allah tidak tidur nak, biarkan Allah yang membalas semua perbuatan mereka yang tega kepada mu nak. Kamu harus bersabar ya sayang. Yakin lah bahwa kamu mampu melalui ini. Karena Allah tidak mungkin memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba nya" Tambah ibu ku lagi.
"Iya buk, aku mohon doa nya dari ibu, semoga aku bisa menghadapi ini semua dengan sabar" Jawab ku.
"Ya sudah, sekarang kamu bersih-bersih ya nak. Istirahat kan diri mu. Sebentar lagi juga magrib. Nanti kita solat berjamaah sama-sama ya nak" Ucap ibu.
Aku mengangguk dan langsung beranjak ke kamar untuk mengambil handuk.
"Ya Allah nak, begitu berat cobaan yang menimpa mu nak. Ibu sangat tidak tega melihat kamu berubah menjadi murung dan pendiam seperti ini. Kamu seperti orang yang kehilangan arah. Ibu sedih nak melihat putri satu-satu nya ibu terpuruk seperti ini" Batin ibu ku.
"Ya Allah, bantu anak ku melalui semua cobaan ini dengan sabar dan ikhlas. Bimbing lah dia ya Allah, peluk lh dia karena hati nya saat ini sangat lah rapuh" Doa ibu ku.
***
"Maafkan aku ya yah, aku telah membuat ayah kecewa dengan semua masalah yang terjadi kepada ku. Aku tidak bisa membanggakan ayah dan ibu lagi" Ucap ku sambil mencium punggung tangan ayah ku saat kami telah usai melakukan solat magrib secara berjamaah.
"Nak, jangan menyalahkan diri seperti ini. Kamu tidak salah nak. Semua yang telah terjadi adalah takdir dan telah di garis kan oleh tuhan untuk hidup kita. Kamu harus bisa menerima nya dengan ikhlas" Nasehat ayah ku mengusap lembut kepala ku dengan kasih sayang.
"Iya nak. Apa yang di katakan ayah mu benar"
Memang ibu dan ayah selalu memberikan nasehat dan semangat hidup untuk ku agar aku tidak menyalahkan diri ku seperti ini. Namum tetap saja aku tidak bisa menerima semua yang terjadi kepada ku saat ini. Yah, secara paksa harta yang berharga telah di renggut begitu saja.
__ADS_1
Siapa pun yang mengalami hal seperti aku, pasti akan bersikap seperti ini. Melamun, termenung yah seperti orang kehilangan arah. Diri ini merasa kotor dan hina karena tidak bisa menjaga kesucian itu.
Sebab itu lah aku selalu berulang kali meminta maaf kepada orang tua ku terutama Allah sang pencipta langit dan bumi serta seluruh isi nya. Diri ku begitu takut, atas perbuatan ku ini membuat kedua orang tua ku merasakan panas nya api neraka.
Aku hanya lah manusia lemah tak berdaya. Aku tahu aku telah berdosa. Apa pun alasan nya aku merasa diri ku telah berdosa. Diri ku telah hina. Tapi aku sangat takut dan tidak mampu menerima hukuman dari sang pencipta kelak di hari perhitungan nanti.
"Ya sudah, sudahi kesedihan ini ya nak. Allah maha tahu, Allah pasti bisa menilai kamu tidak salah nak" Ucap ayah ku.
"Sudah, sudah....Lebih baik kita makan malam bersama ya" Ajak ibu mengubah topik pembahasan agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.
***
"Apa aku salah ya melakukan hal seperti ini kepada Rea? Aku telah membuat Rea di pecat dari pekerjaan nya. Dan aku juga lah yang telah menjebak Rea bersama Arga" Santi tampak gelisah. Dirinya dari tadi mondar mandir di depan kasur kamar nya.
"Ah sudah lah, biarin saja. Lagian jika masalah pekerjaan Rea akan menikah dengan Arga. Seorang pengusaha terkenal di kota ini. Jelas saja masa depan nya akan terjamin. Jadi untuk apa aku pikirin lagi masalah perekonomian nya. Pasti Arga akan memenuhi semua kebutuhan Rea dan keluarga nya nanti" Ujar Santi lagi.
Ting....
Notifikasi ponsel nya Santi berbunyi.
Santi membesarkan bola matanya seakan-akan tidak percaya siapa yang memberinya pesan malam ini.
"Riko" Ujar nya kaget.
[San, kamu di mana?]
[Aku di rumah kontrakan ku. Kenapa?]
[Bisa kamu datang ke sini. Temani aku di sini. Aku share lokasinya]
Ting.....
Lokasi tempat keberadaan Riko telah di terima oleh Santi.
"Jangan-jangan Riko melakukan hal yang aneh-aneh lagi. Ini tidak bisa di biarin. Aku harus ada di samping Riko saat ini. Aku tidak mau nantinya Riko akan di goda oleh yah bisa di bilang para kupu-kupu malam di sana. Secara itu diskotik jelas saja banyak penghibur nya. Aku hanya ingin aku yang menemani nya. Apa lagi di saat dia terpuruk saat ini. Pasti dia membutuhkan aku" Ujar Santi langsung bergegas siap-siap untuk pergi menuju tempat Riko.
***
"Ya ampun Riko, kamu kenapa seperti ini sih ko" Ucap Santi melihat Riko duduk lemas di salah satu meja tamu. Bisa di lihat bahwa Riko mabuk berat malam itu.
"Eh Santi, kamu sudah datang"
"Kenapa sih ko kamu melakukan hal ini. Kamu seorang doktor lo. Masa kamu merusak tubuh mu sendiri seperti ini" Ujar Santi.
"Santi, kamu bilangin sama sahabat kamu itu. Aku sangat mencintai dia. Aku bisa menerima dia apa pun keadaan nya. Tapi kenapa? Kenapa dia tidak bisa melihat ketulusan cinta ku? Kenapa dia malah menerima pertunangan dari laki-laki yang baru di kenal nya" Sungguh pertunangan ku dan Arga membuat Riko kehilangan kendali.
"Ya ampun Riko, segitu terpuruk nya diri mu mengetahui Rea telah bertunangan sehingga kamu merusak tubuh mu sendiri seperti ini" Batin Santi.
"Justru aku yang balik bertanya kepada kamu ko. Kenapa kamu tidak bisa melihat ketulusan cinta ku. Kenapa kamu tidak bisa menerima aku sebagai wanita mu. Kenapa harus Rea" Batin nya lagi.
"Rea....Rea....Apa lagi yang harus aku lakukan agar aku bisa memenangkan hati mu? Aku sudah melakukan dan berkorban segalanya untuk mu. Tapi kenapa cinta ku tidak bisa kamu anggap. Kamu hanya memandang ku dengan sebelah mata" Raungan Riko sangat menyayat hati. Hati nya benar-benar hancur saat ini.
"San, aku tidak bisa tidur karena memikirkan sahabat mu itu. Aku benar-benar patah hati di buat oleh nya"
Kembali Riko menuang kan sebotol minuman yang memabukkan ke dalam gelas nya.
"Riko, Riko, udah dong ko, jangan kamu minum lagi. Nanti kamu bisa mabuk berat. Udah dong ko" Cegah Santi berusaha merebut botol yang ada di tangan Riko.
"Lepaskan Santi, biarkan aku seperti ini. Aku hanya ingin melupakan sebentar masalah ku yang telah mematahkan hati ku" Riko memegang botol itu dengan kuat agar Santi tidak bisa merampas botol yang berisi air penenang bagi nya saat itu dari tangan nya.
Kembali Riko menuangkan minuman itu ke gelas nya. Santi tampak heran dengan perubahan sifat Riko yang jauh dari pada biasanya saat ini.
__ADS_1
"Ya ampun Riko, kenapa jadi begini sih kamu nya" Batin Santi sambil mengamati tingkah laku Riko di depan nya.
Lama mereka berada di diskotik itu hingga waktu menunjukan pukul 24.00 wib.
"Riko, hari sudah larut malam. Ayo kita pulang" Ajak Santi.
"Sebentar lagi San, aku masih mau ada di sini"
"Sudah malam Riko. Sebaiknya kamu istirahat di rumah" Ajak Santi berusaha menuntun Riko untuk berdiri.
Dengan tubuh yang tidak stabil, Riko berusaha untuk berdiri. Walaupun pertahanan nya goyah. Maklum namanya juga mabuk.
Santi menuntun Riko hingga sampai di jalan.
Tampak sebuah taksi berhenti di depan mereka. Taksi yang telah di pesan oleh Santi sewaktu mereka masih berada di dalam diskotik itu.
Yah meski pun Riko membawa mobil nya sendiri, namun tidak mungkin bukan Riko menyetir dalam keadaan mabuk seperti ini. Bisa-bisa membahayakan diri mereka lagi. Lagian Santi pun tidak bisa menyetir. Maklum mak orang desa, belum ada mobil pulak jadi mana bisa menyetir. Mungkin setelah memiliki mob baru lah bisa menyetir sendiri mungkin ya mak.
Tak lupa Santi meminta sekuriti yang berjaga di tempat itu untuk menitipkan mobil Riko. Dan besok pagi ketika Riko sudah pulih seperti biasanya baru lah Riko kembali untuk menjemput kembali mobil nya.
"Ayo ko,.masuk" Ucap Santi menuntut Riko untuk masuk ke mobil taksi.
Riko masuk ke dalam taksi tersebut.
"Aduh, bagaimana ini? Aku tidak mungkin mengantarkan Riko pulang dalam keadaan nya seperti ini. Bisa-bisa orang tua nya berpikir aku yang telah membuat Riko seperti ini. Gak, gak, aku gak mau itu terjadi" Batin Santi.
"Tapi aku harus membawa nya kemana? Tidak mungkin aku membawa nya ke kontrakan ku. Bisa-bisa aku yang di grebek oleh warga lagi" Tambahnya lagi.
"Apa aku bawa Riko.ke hotel aja ya. Biarkan dia beristirahat di sana. Yah, lebih baik aku bawa Riko ke hotel saja karena di sana lebih aman" Ucap Santi.
Riko tampak kelelahan hingga dirinya terlelap tanpa di sadari kepala Riko menyender ke bahu nya Santi.
Santi kaget, ia menatap wajah ganteng berkacamata itu dengan penuh cinta.
"Saat tertidur seperti ini pun kamu tetap ganteng ko. Andai saja kamu mencintai ku selayaknya kamu mencintai Rea, pasti semua ini tidak akan terjadi kepada kita semua" Batin Santi.
Santi memberanikan diri mencium hangat puncak kepala Riko yang berada di bahu nya.
***
"Sudah sampai buk" Ujar supir taksi itu.
"Oh sudah sampai ya, pak tolong bantu teman saya ya untuk masuk ke kamarnya" Ujar Santi meminta supit taksi itu membantu nya untuk menuntun Riko berdiri.
"Baik buk" Ujar supir itu langsung membantu Santi.
"Mbak, saya mau pesan kamar satu ya untuk teman ku ini" Ucap Santi kepada salah satu karyawan hotel.yang bertugas sebagai penerima tamu di sana.
"Baik buk sebentar"
"Ini buk kunci nya. Nomor kamar nya 102 ya buk yang berada di lantai dua" Ujar karyawan itu lagi.
"Baik terima kasih ya mbak"
"Ayo pak bantu saya antar dia ke kamar" Ucap Santi kepada supir itu lagi.
Mereka pun membawa Riko ke kamar hotel yang telah di pesan oleh Santi.
"Baringkan saja dia di kasur pak" Ucap Santi.
"Terima kasih ya pak. Ini tips buat bapak" Ucap nya lagi sambil menyerahkan selembar uang biru kepada supir itu tadi.
__ADS_1
"Terima kasih buk, kalau begitu, saya permisi dulu" Ucap supir itu berlalu dari Santi dan Riko yang tidak sadarkan diri karena terlalu banyak meminum minuman yang memabukkan tadi.