
"Selamat sore pak, buk" Ujar Maya masuk ke rumah Santi yang berada di kampung.
"Waalaikumsalam" Jawab tuan rumah.
Kedatangan Maya dan rombongan untuk meminang Santi sebagai menantu nya. Dan kedatangan rombongan Maya tentu di sambut dengan baik oleh keluarga Santi.
"Ya ampun, aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan mendapat kan Riko secepat ini. Tidak sia-sia apa yang aku lakukan" Batin Santi dengan senyuman terus terukir di bibir nya.
Mereka pun membahas tentang acara pertunangan Riko dan Santi. Dimana acara itu akan dilaksanakan di kediaman Santi dua minggu lagi.
"Baik lah, karena semua sudah setuju, jadi kami akan datang kembali dua minggu lagi" Ujar Maya.
***
"Arga, mana Sandra? Masih belum pulang juga dia?" Tanya Rina melihat putra semata wayang nya makan sendirian tanpa di temani oleh istri-istri nya.
"Dia belum pulang ma, katanya masih ada pekerjaan yang harus ia selesai kan. Ada beberapa tambahan desain baju dan acara fashion show nya di undur karena ada kendala beberapa hal" Jelas Arga terus menyodorkan sesuap demi sesuap nasi ke dalam mulut nya.
"Kemaren katanya dua hari, sekarang sudah masuk empat hari belum juga pulang-pulang. Karir, karir saja yang di pikirkan tidak mau memikirkan suami nya" Protes Rina.
"Terus Rea mana? Kenapa istri kamu yang satu itu tidak ikut makan malam bersama kita?" Tanya Rudi.
"Iya, dimana menantu mama? Kamu tidak mengajak nya untuk makan bersama kita?" Tambah Rina.
"Mungkin di kamar. Jam-jam segini dia belum lapar. Dia sudah lapar nanti setelah orang-orang pada pulas tidur nya. Dia turun ke bawah untuk mencari makanan. Tidak salah jika dia di juluki musang" Ujar Arga sedikit mengukir senyuman di bibir nya bila membayang kan diri ku.
Rudi dan Rina saling pandang. Bingung dengan sikap anak menantu nya.
"Bagaimana sih rumah tangga kamu ini Ga, yang satu istri mu sibuk kerja tidak memikirkan keadaan suami nya. Yang satu selalu berdiam diri di kamar" Ujar Rudi.
"Aduh pa, ini masalah rumah tangga ku. Dan mereka adalah istri-istri ku. Papa dan mama tolong jangan ikut campur" Ujar Arga.
"Papa hanya memberi nasehat kepada mu nak. Kamu harus bersikap adil sama kedua istri mu. Si Sandra kamu biarkan dia hidup bebas seperti layak nya dia masih gadis. Sedang kan Rea, kamu melarang nya untuk kemana-mana"
"Aduh pa, aku hanya melarang nya keluar rumah. Bukan keluar dari kamar nya pa" Bela Arga.
"Sama saja kamu tidak berlaku adil kepada kedua istri kamu. Jika bersama Sandra kamu selalu menuruti kemauan nya. Tapi Rea selalu kamu abaikan dan tidak memperlakukan dia selayak nya seorang istri mu" Jelas Rudi.
"Nak, papa hanya menasehati kamu karena kami sebagai orang tua mu. Alangkah baik nya kamu bersikap adil dan memperlakukan Rea sebagaimana kamu memperlakukan Sandra agar rumah tangga mu bisa berkah" Nasehat Rudi.
"Sudah ma, pa, aku sudah kenyang" Ujar Arga pergi meninggalkan kedua orang tua nya yang masih menikmati makan malam nya.
"Tu lihat anak kamu. Di nasehatin bukan nya mau dengar, malah meninggalkan kita begitu saja" Ujar Rudi.
"Anak kamu juga pa. Jika hanya mama, tidak akan jadi itu Arga" Balas Rina tidak mau kalah.
***
"Kenapa wajah mu cemberut gitu?" Tanya Putra saat dirinya dan Arga janjian bertemu di cafe.
Arga menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.
"Wah, galau berat nih kelihatan nya" Goda Putra lagi.
"Sulit untuk ke jelaskan" Ujar Arga.
"Memang sulit berbagi jika mempunyai istri dua. Sulit untuk berbagi waktu" Ujar Putra lagi.
Lagi-lagi Arga menarik menghembus napas berat nya.
"Aku gak tahu Put. Aku hanya ingin menenangkan diri dan menghindar dari ocehan demi ocehan dari papa dan mama"
"Papa dan mama mu? Kenapa?"
"Papa dan mama selalu ikut campur dengan rumah tangga ku. Mereka selalu mengatakan bahwa Sandra itu terlalu sibuk bekerja sehingga melupakan kewajibannya sebagai seorang istri" Jelas Arga.
"Aku setuju dengan pendapat papa dan mama mu. Benar ada nya Sandra itu terlalu sibuk meniti karir nya sehingga mengabaikan kamu. Dan lihat lah kamu sekarang, harus nya menikmati masa-masa berdua. Malah kesepian seperti ini" Ujar Putra membenarkan apa yang di katakan kedua orang tua Arga.
"Mereka juga meminta ku untuk bersikap baik kepada Rea dan memperlakukan dia selayak nya seorang istri" Tambah Arga lagi.
"Benar aku setuju dengan pendapat mereka" Ujar Putra.
"Kamu kenapa sih, dari tadi setuju terus dengan pendapat mereka" Arga merasa kesal.
"Memang pendapat kedua orang tua mu itu benar Arga. Coba lah kamu membuka pintu hati mu sedikit untuk Rea. Aku rasa Rea gadis yang baik. Dia selalu menuruti apa yang kamu perintahkan. Tidak keluar rumah, tidak boleh bekerja dia selalu menuruti apa yang kamu mau dan tidak membantah" Jelas Arga.
"Kamu memang seperti pilih kasih terhadap Sandra dan Rea. Sandra kamu biarkan dia bebas sedangkan Rea, kamu kekang dia seperti itu. Coba lah bersikap adil" Nasehat Putra
"Lagi pun, apa kamu tidak bisa lebih tegas kepada Sandra agar lebih memikirkan kamu, tidak seperti ini"
"Aku juga tidak tahu, dan aku juga tidak paham dengan perasaanku saat ini. Aku tidak bisa bersikap keras kepada Sandra karena aku sangat mencintainya. Aku tidak mau membuat dia sedih apalagi terluka" Jelas Arga.
"Pusing aku melihat kamu seperti ini Ga. Kamu tidak mau membuat Sandra sedih apa lagi terluka. Terus bagaimana dengan Rea? Apa kamu tidak memikirkan kebahagiaan nya? Apa kamu tidak memikirkan perasaan nya? Kamu harus nya memikirkan keadaan nya juga. Bagaimana pun dia itu istri mu" Ujar Putra.
"Ga, jika kamu seperti ini, lebih baik kamu lepas kan saja Rea. Kasihan anak orang kamu terus-terusan membuat dia sedih seperti ini terus" Tambah nya lagi.
Arga menarik napas dalam-dalam dan di hembus nya kuat-kuat.
"Aku tidak bisa melepaskan nya. Aku pikir masa nya belum tiba untuk melepaskan nya"
__ADS_1
"Ego, sungguh sungguh ego. Itu lah kamu Ga. Kamu tidak mau melepaskan nya. Tapi kamu terus saja membuat nya menderita seperti ini" Ujar Putra merasa sedikit kesal dengan apa yang di katakan Arga.
"Ga, aku kasih tahu ya sama kamu. Lebih baik kamu berubah memperlakukan Rea dengan selayak nya. Jika nanti dia sudah lelah untuk bertahan, terus dia pergi meninggalkan kamu. Kamu sendiri yang menyesal"
"Gak mungkin Rea akan pergi meninggalkan ku. Dia pasti selalu bersama ku"
"Aduh Ga, Sebenarnya apa sih mau kamu? Aku kehabisan kata-kata dengan sikap kamu seperti ini. Kamu tidak mau melepaskan Rea, tapi kamu membuatnya menderita. Dan sekarang dengan PD nya kamu bilang dia tidak mungkin meninggalkan kamu?"
"Apa jangan-jangan kamu mulai mencintai nya?" Tebak Putra.
"Apaan sih, gak mungkin aku menyukai nya. Aku hanya mencintai Sandra. Hanya Sandra satu-satu nya wanita yang aku cintai. Tidak ada wanita lain selain dia" Tegas Arga.
"Sulit untuk ku katakan. Tapi aku yakin kamu mulai mencintai Rea. Jika tidak, mungkin kamu sudah melepaskan nya. Kamu hanya belum sadar saja bahwa kamu mencintai nya" Ucap Putra sedikit tertawa mengejek.
Arga tampak berpikir atas apa yang di katakan oleh Putra.
Sejujurnya diri nya pun bingung sendiri dengan perasaan nya saat ini.
***
"Hallo sayang" Ucap Sandra saat diri nya menghubungi Arga.
"Iya"
"Cuek banget sih jawab nya" Ujar Sandra sedikit manja.
"Kamu kapan pulang?" Tanya Arga.
"Lusa sayang.. Lusa aku pasti pulang. Kamu kangen gak sama aku?" Tanya Sandra.
"Kangen, karena aku kangen kamu aku mau kamu pulang" Ucap Arga dengan nada memalas.
"Iya aku lusa sudah pulang kok sayang. Kamu sabar ya. Tunggu aku pulang"
"Setiap hari aku sudah menunggu mu pulang"
"Hmm.... So sweet banget sih. Aku juga sangat merindui kamu sayang"
"Cepat lah pulang jika kamu merindukan ku"
"Iya, iya aku pasti pulang"
Arga menutup ponsel nya.
***
"Ya ampun non Rea" Teriak bik Ina.
Bisa Arga lihat aku duduk tersungkur di lantai.
"Non, non gak apa-apa?" Tanya bik Ina yang memang dari tadi berada di samping ku.
"Iya bik, aku gak apa-apa" Jawab ku.
"Rea, kenapa? Apa yang terjadi?" Ujar Arga mendekati ku.
Aku memegang kaki ku yang terasa sakit.
"Lantai nya licin. Ada air yang tumpah dan aku tidak menyadarinya hingga aku terpeleset" Jawab ku.
"Terus kaki mu tidak apa-apa?" Tanya Arga terlihat khawatir kepada ku.
"Gak, aku gak apa-apa" Jawab ku.
"Coba berdiri"
Aku mencoba untuk berdiri. Namun jatuh lagi karena pergelangan kaki ku terasa sakit. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa seperti ini. Padahal hanya terpeleset. Tapi pergelangan kaki ku jadi seperti ini.
"Sini biar aku bantu kamu berdiri"
"Gak perlu.. Aku bisa sendiri" Ujar ku merasa keberatan.
"Sudah, jangan jual malah seperti itu. Sini aku bantu dari pada nanti tambah parah sakit kaki mu itu" Ujar Arga.
"Gak apa-apa beneran"
"Sudah, diam saja" Ujar Arga langsung menggendong ku menuju kamar ku.
"Ya ampun Arga. Aku bisa berjalan sendiri. Tidak usah berlebihan seperti ini. Lagi pun aku malu di lihat sama bik Ina"
"Malu kenapa kamu istri ku. Apa pun yang aku lakukan kepada mu itu semua halal" Ujar nya.
Kembali aku menatap kesal kepada nya.. Lagi-lagi dia mengatakan sebagai istri nya.. Tapi nyatanya dia tetap bersikap dingin dengan ku.
Arga menggendong ku menuju kamar ku.
Aku menatap wajah nya. Di mana saat itu ketika dia menaiki tangga untuk menuju kamar ku. Aku merasa seperti berada di dalam film Chennai Express yang pemeran utaman nya adalah Shahrukh Khan dan Deepika padukone. Di mana saat itu mereka pergi ke sebuah desa untuk melarikan diri. Dan mengaku bahwa mereka sebagai suami istri. Pada suatu hari mereka mengadakan ritual di desa itu. Di mana para suami harus menggendong istri nya menaiki tangga yang tinggi hingga mencapai kuil tempat meminta keberkatan untuk pernikahan setiap pasangan suami istri. Dan di situ Shahrukh Khan berhasil membawa Deepika padukone sampai ke kuil itu. Sehingga mereka pun di beri doa-doa keberkatan oleh pendeta yang ada di sana.
Nah seperti itu lah rasa nya ketika aku di gendong oleh Arga hingga sampai ke kamar ku. Aku sangat tersentuh dia bersikap manis kepada ku saat itu.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" Tanya Arga kepada ku saat ia telah berhasil membawa ku ke atas kasur ku.
Aku menggeleng kepala ku pelan.
"Tadi aku mau mengambil makanan di dapur, eh malah terpeleset" Ujar ku dengan nada yang sedih.
"Pukul sepuluh malam. Ini memang waktu nya musang keluar mencari makan. Gak salah sih jika kamu baru keluar jam segini" Ujar nya lagi.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini, biar aku ambilkan makanan untuk mu" Ujar Arga keluar dari kamar ku.
"Terima kasih" Ucap ku pelan seakan kepada diri ku sendiri.
Aku tersenyum senang melihat Arga bersikap manis seperti ini kepadaku.
"Bunglon" Ujar ku lagi.
"Barusan dia bersikap manis kepadaku dengan membawa ku ke kamar seperti ini. Terus bersikap nyeselin dengan mengatakan ku musang, dan sekarang dia berbaik hati mau mengambilkan aku makanan. Entahlah aku juga bingung menilai dia ini seperti apa sebenarnya" Batin ku tersenyum sendiri.
"Ini makanan mu" Ujar Arga memberikan ku sepiring makanan yang ia bawa dari dapur.
"Terima kasih" Ujar ku menyambut nya dengan senang hati.
"Sini biar ku suapin saja. Kamu sedang sakit lebih baik makan nya aku suapin aja" Ujar Arga mengambil kembali piring yang berisi makanan yang baru saja ia berikan kepada ku.
"Gak perlu" Ujar ku mengambil kembali piring yang ada di tangan Arga.
"Tangan ku tidak sakit. Yang sakit hanya kaki ku. Aku bisa makan sendiri" Ujar ku lagi.
"Gak apa-apa biar aku suapin aja"
"Gak perlu. Aku bisa makan sendiri. Aku bukan anak kecil yang mau di suapin" Ujar ku lagi.
"Lebih baik kamu ke kamar mu saja. Istirahat sudah larut malam. Besok kamu bisa kesiangan ke kantor nya" Ujar ku lagi.
"Nanti saja. Aku mau melihat mu makan dulu. Dan memastikan kamu menghabiskan makanan mu" Ujar nya lagi.
"Aduh Arga, apa-apaan sih kamu. Tolong Jangan bersikap manis seperti ini kepadaku nanti aku semakin baper sama kamu" Ujar ku dalam hati
"Bisa-bisa aku semakin sulit untuk terlepas dari kamu karena rasa ini semakin kuat" Ujar ku lagi.
"Hello, ngapain kamu bengong? Ayo makan?" Ujar Arga menyadarkan ku.
Aku sadar kemudian aku menyodorkan sesuap demi sesuap makanan yang Arga bawa tadi kedalam mulut ku.
"Sudah selesai" Ujar ku memperlihatkan piring yang kosong karena telah habis ku makan makanan nya.
"Bagus" Ujar Arga mengambil piring itu dan menaruh nya di atas nakas.
"Kamu ada minyak angin?" Ujar nya.
"Minyak angin?" Ulang ku lagi.
"Iya minyak angin atau minyak urut juga boleh" Ujar nya.
"Untuk apa?"
"Itu untuk pijitin kaki kamu biar gak bengkak nanti nya"
"Gak perlu deh Ga. Aku bisa pijitin kaki ku sendiri" Ujar ku merasa tidak enak.
"Udah jangan sungkan, aku sedang berbaik hati mau pijitin kamu kalah jual mahal" Ujar nya.
"Tapi aku merasa gak enak jika kamu memijit ku"
"Gak enak kenapa? Apa takut kamu akan jatuh cinta kepada wajah tampan ini" Ujar nya mengangkat sebelah alis nya untuk menggoda ku.
"Duh mulai deh kambuh nyeselin nya" Ujar ku.
"Apa?"
"Gak, gak ada apa-apa"
"Mana minyak yang ku minta" Ujar nya.
"Aku gak ada minyak yang kamu minta. Sudah Ga, pergi lah kamu istirahat di kamar mu. Hari sudah larut. Aku pun mau istirahat.
"Gak bisa gitu kaki mu harus di pijitin dulu biar gak bengkak. Sebentar ya" Ujar Arga berlari keluar dari kamar ku.
"Ini dia" Ujar nya membawa sebotol minyak urut.
"Untung bik Ina ada minya urut" Ujar nya.
"Sini kaki mu"
"Gak perlu Ga"
"Sini". Ujarnya menarik kaki ku yang sakit.
"Aduh sakit" Aku meringis kesakitan.
__ADS_1
"Maka nya jika di tawarin tu jangan jual malah" Ujar nya memijit kaki ku yang sakit.