Cinta Bersalut Noda

Cinta Bersalut Noda
Nasehat Rudi


__ADS_3

Aku, pasha dan bos ku ngobrol ringan di tepi laut itu. Menikmati suasana pantai dan tiupan angin sepoi-sepoi di sore hari itu.


Jika ada yang tidak tahu status ku dan melihat kami seperti itu, pasti mereka akan berpikir bahwa kami adalah satu keluarga.


***


"Jadi kamu beneran mau pergi?" Tanya Evi. Yah karena Evi adalah sekretarisnya Sandra dan ini adalah kerjasama yang besar maka tanda memutuskan untuk mengajak Evi bersamanya agar Di sana ia tidak kerepotan dengan pekerjaan-pekerjaannya sendiri.


"Aku memang harus pergi Vi"


"Harus nya kamu itu selesaikan dulu masalah mu di sini. Setelah itu baru kamu pergi seperti ini"


"Aku gak bisa Vi. Semakin lama aku berada di sini, itu akan membuat ku semakin gila"


"Terus, jika masalahmu di sini belum selesai, apa kamu bisa fokus dengan pekerjaanmu di sana? Aku nggak yakin kamu bisa fokus seperti biasanya. Pasti pikiran kamu juga akan terbagi" Ujar Evi.


"Nanti jika kamu tidak fokus dengan pekerjaanmu di sana bisa-bisa reputasi kamu yang seharusnya nanti akan baik jadi buruk" Tambah nya lagi


"Aku harus pergi juga Vi. Karena aku pikir jika aku pergi ke sana, aku bisa melupakan semua masalahku di sini. Du mana di sana aku akan sibuk dengan pekerjaanku sehingga aku tidak terlalu memikirkan masalah-masalahku ini. Dan di sana juga aku akan mendapat suasana baru jadi ya sedikit banyaknya aku bisa melupakan semua masalahku nantinya" Jelas Sandra.


"Terserah keputusanmu yang penting aku ingin telah kamu pergi ke sana dan pulang dari sana kamu akan menjadi Sandra yang baru"


"Tolong kamu doain aku ya semoga aku bisa menjadi Sandra yang baru, dengan suasana yang baru, dan aku mengucapkan terima kasih kepada kamu karena kamu adalah sahabat setiaku di mana kamu selalu mendengarkan segala keluh kesahku"


"Ya sudah, itu seperti nya pesawat kita sudah mau take off. Ayo kita berangkat" Ajak Sandra saat pesawat nya sebenar lagi mau take off.


Kedua sahabat itu pun pergi masuk ke pesawat yang akan membawa mereka ke Jakarta.


***


"Permisi.... " Teriak seseorang dari pintu rumah nya Rina sambil memencet bel di rumah megah itu.


"Bi Ina, tolong bukakan pintu" Pinta Rina kepada pembantu nya.


"Baik buk" Jawab bik Ina langsung membuka pintu rumah megah itu.


"Buk, ada mama nya non Sandra buk di luar" Ujar bik Ina memberi tahu majikan nya yang sedang duduk bersantai di taman belakang rumah nya.


"Mama Sandra, ngapain dia ke sini?" Batin wanita paruh baya itu.


"Di mana dia sekarang bik?"


"Di ruang tamu buk"


"Ya sudah terima kasih ya bik" Ujar wanita paruh baya itu lagi dan langsung menemui besan nya.


***


"Eh, jeng ada apa ya? Tumben mampir ke sini" Ujar Rina.


"Sebenarnya aku juga malas mau mampir ke rumah ini. Namun karena ada hal yang mau aku bicarakan kepada kamu, jadi mau tak mau ya aku harus mampir ke rumah ini" Ujar mama Sandra dengan sikap angkuh nya.

__ADS_1


"Oh, ada yang mau kamu bicarakan? Apa?"


"Langsung saja ya. karena aku nggak suka basa-basi. Jadi aku mau to the point aja. Aku mau tanya sama kamu, kenapa kalian tega membuat Sandra anak saya satu-satunya menikah bersama putra kalian yang telah menghianati nya itu? Dan anak saya itu sudah rela lo berkorban. Dimana dia berpindah keyakinan demi menikah dengan anak kalian. Tapi apa nyatanya? Ternyata anak kalian itu sudah mempunyai istri dan kalian sanggup untuk menyembunyikan rahasia besar ini kepada kami" Ujar mama Sandra marah.


"Maaf ya jeng sebelum nya. Dalam hal ini kamu tidak harus menyalakan kepada kami sepenuhnya. Kamu juga harus menyalakan anak kamu dong. Di mana dia sudah tahu semua ini. Tapi kenapa dia masih mau menikah bersama Arga dan mau hidup dimadu?"


"Masalah sekarang ini adalah terletak kepada kalian. Kenapa dulu kalian tidak memberi tahu kami bahwa anak kalian sudah menikah. Jika kami sudah tahu dari awal, kami tidak akan membiarkan putri kami satu-satunya itu menikah bersama anak kalian"


Rina menarik nafasnya dalam-dalam lalu dihembuskannya kuat-kuat untuk menahan rasa emosi terhadap besannya ini.


"Maaf ya jeng. Sebenar nya saya juga tidak pernah setuju dengan hubungan mereka. Tapi karena mereka berdua saling mencintai dan juga karena Sandra sudah berkorban untuk berpindah keyakinan demi menikah dengan Arga, mau tak mau suka tidak suka saya dan suami saya harus terima semua ini. Dan juga saya mohon kepada kamu Jeng sebelum kamu menyalakan kami sebagai keluarganya Arga, coba kamu tanya terlebih dahulu kepada putri kamu yang kamu sayangi itu. kenapa dia mau menikah dengan Arga dan menyetujui hidup di madu? Padahal dari awal dia sudah tahu bahwa Arga sudah menikah dan waktu pernikahan itu dia juga turut serta hadir menyaksikan persandingan antara Arga dan Rea. Dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri tapi kenapa dia mau menikah dengan Arga? Coba kamu tanya kepada putrimu itu" Ujar Rina tidak mau di salahkan sepenuh nya seperti itu.


"Anak kamu sudi di duakan dan mengejar-ngejar anak ku" Tambah Rina lagi.


"Eh, siapa yang mengejar ya? Maaf ya tolong kamu koreksi kata-kata kamu itu. Anak saya masih laku. Selama ini banyak orang yang mau meminang nya. Tapi kami tolak semua nya karena Sandra belum mau menikah waktu itu. Jika di ikut kemauan saya. Bukan pilihan saya lelaki seperti Arga menjadi menantu saya" Ujar mama Sandra angkuh.


"Jika Arga yang mengejar Sandra, kenapa Sandra mau menikah dengan Arga? Padahal dia sudah tahu status Arga seperti apa. Di situ kita sudah bisa menilai memang Sandra tidak laku" Ujar Rina tidak terima anak nya di kata-katain seperti itu.


Mama Sandra semakin emosi. Wajah nya semakin memerah. Mata nya menatap Rina dengan tajam.


"Eh, Jeng. Jika sudah bersalah itu. Mengaju saja tidak perlu kamu membela diri seperti ini. Dalam masalah ini keluarga kalian lah yang bersalah. Tidak perlu kamu berusaha menegakkan benang yang sudah basah. Semua ini bermula dari kebohongan yang telah keluarga kalian rencanakan" Ujar mama Sandra dengan penuh emosi.


Rina masih melayani besan nya itu dengan sikap tenang.


"Pantas saja Sandra itu keras kelapa dan tidak mau mendengarkan nasehat dari orang tua. Ternyata mewarisi tingkah mama nya" Rina terdengar mengejek.


"Eh Jeng, jika ngomong itu jangan sembarangan ya. Keturunan saya tidak pernah mempunyai perangai pembohong seperti keluarga kalian tahu gak?" Ujar mama Sandra.


"Eh Jeng, saya kasih tahu ya kelakuan sebenar nya putri kesayangan kamu itu. Sandra ini jenis menantu yang tidak mau mendengar nasehat orang tua, yang tidak mau menghormati saya sebagai mama mertuanya, yang selalu keras kepala dan hanya mau menang sendiri. Semua keinginannya harus terpenuhi tidak peduli dengan perasaan orang lain" Ujar Rina masih berusaha menahan emosi nya. Ia berusaha berbicara dengan tenang agar wibawanya tetap terjaga.


Mama Sandra tersenyum mengejek.


"Orang seperti kalian memang pantas diperlakukan seperti itu. Bagaimana Sandra mau menghormati kamu sebagai mama mertuanya? Sedangkan kamu saja tidak bisa menghormati orang lain. Capek ngomong sama orang seperti kamu ini. Membuat darah tinggi saya semakin naik saja" Ujar mama Sandra mengambil tas nya dan keluar dari rumah itu.


"Kamu datang ke sini pun tidak saya undang dan tidak saya minta ya" Terik Rina melihat kepergian besan nya itu.


***


"Saya pun sudah mencoba untuk mendamaikan hubungan Arga dan Sandra. Saya pun tidak setuju jika Arga dan Sandra berpisah" Ujar Rudi saat ia berkunjung ke rumah papa dan mama Sandra.


"Saya juga bingung harus bagaimana lagi menasehati mereka" Tambah nya lagi.


"Saya rasa, tidak perlu lah lagi kita pusing memikirkan masalah mereka berdua. Sandra juga sudah berangkat ke Jakarta dan Arga pun sudah menceraikan Sandra" Ujar papa Sandra.


Rudi menarik napas nya dalam-dalam dah di hembuskan nya kuat-kuat.


"Ini lah anak-anak zaman sekarang. Mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Mereka tidak tahu bahwa pernikahan dan perceraian itu hanya sekedar main-main apa?"


"Saya pun bingung melihat perangai mereka. Kemaren Sandra marah saat saya menasehati nya. Katanya jangan ikut campur atas masalah keluarga ku. Tapi apa mereka tidak berpikir bahwa masalah mereka juga sudah termasuk masalah kita juga sebagai orang tua mereka"


"Sudah puas saya membujuk Arga itu. Dari awal semenjak dia membuat keputusan mau menikah dengan Sandra. Dia tetap bersih keras mau menikah dengan Sandra. Dia bilang dia tahu apa yang harus ia lakukan. Dan dia bisa mengatasi masalah keluarga nya" Ujar Rudi.

__ADS_1


"Tapi baru sekarang dia sadar bahwa semua rencana nya itu tak menjadi" Tambah Rudi lagi.


"Sewaktu mengetahui bahwa Arga sudah mempunyai istri sebelum Sandra saya pun merasa kecewa dan juga marah. Tapi, setelah saya pikir-pikir kembali ini semua bukan sepenuhnya salah Arga. Sandra lah yang telah merahasiakannya kepada kami. Lagi pun Arga itu kan laki-laki, dia boleh menikah sampai empat. Setelah Sandra pun, masih ada dua lagi tempat yang kosong untuk Arga" Ujar papa Sandra sedikit bercanda.


"Jadi dokter pun tidak masalah jika Arga beristri dua?" Tanya Rudi. Kepada papa nya Sandra yang memang berpropesi sebagai dokter itu.


Papa Sandra tertawa mendengar pertanyaan dari Rudi.


"Jangan kan Arga, saya pun mau jika memang ada jodoh nya" Ujar lelaki paruh baya itu lagi.


Mereka pun sama-sama tertawa.


"Arti nya dokter ini ada niat juga mau menambah istri" Ujar Rudi setengah tertawa.


"Siapa yang mau sama saya. Saya sudah tua seperti ini" Balas papa Sandra dengan setengah tertawa juga.


"Eits, jangan salah. Selagi kita belum mempunyai cucu, arti nya kita belum tua" Tambah Rudi lagi.


***


"Pa, mama merasa kesal sama mama nya Sadra pa. Pantesan aja Sandra keras kepala. Ternyata mama nya juga begitu" Ujar Rina yang sedang duduk di meja hiasnya untuk membersihkan wajah nya sebelum tidur.


Rudi menghentikan kegiatan nya membaca koran di atas kasur nya.


"Dia kan mama nya Sandra, jelas dong dia mau memenangkan anak nya dan tidak mau anak nya di salah kan" Ujar Rudi.


"Iya, pa mama paham. Tapi masalah nya pa, dia menyalahkan keluarga kita yang telah menyembunyikan masalah pernikahan Arga dan Rea. Padahal Sandra sudah tahu bahwa Arga memang sudah menikah dengan Rea. Dan dia turut serta hadir di acara pernikahan itu. Artinya anak nya juga bersalah dalam hal ini kan pa? Kenapa hanya kita pa di salahkan" Jelas Rina dengan emosi.


"Sebenar nya dalam hal ini kita juga tidak boleh menyalahkan keluarga besan kita saja. Kita pun bersalah karena telah mengikuti keinginan Arga dari awal-awal dulu"


Rina pergi menuju kasur untuk beristirahat saat diri nya telah selesai membersihkan wajah nya. Wanita paruh baya itu duduk di samping suami nya itu.


"Pa, masalah nya semua ini telah terjadi. Apa salah nya dia menerima semua ini"


"Itu menurut mama. Belum tentu sama dengan keluarga di seberang sana"


"Jika kita bisa terima semua ini pa, kenapa mereka tidak bisa? Jika anak dan mama sama-sama keras kepala ini lah jadi nya. Mama sangat kesal sama mereka" Ujar Rina lagi dengan wajah yang sangat kesal.


"Mama, tidak baik ngomong seperti itu. Tadi papa juga sudah ngomong sama papa nya Sandra. Dan papa lihat, dia mengerti, dia biasa paham dengan semua ini. Dia menerima semua keadaan ini. Dia tidak marah. Lama-kelamaan, mama Sandra itu akan berubah. Tidak ada gunanya kita saling menyalahkan seperti ini. Coba mama pikirkan itu" Nasehat Rudi.


"Coba mama pikir, jika hal ini terjadi kepada keluarga kita. Nasib baik anak kita itu laki-laki dan bukan wanita. Jika wanita dan dia hidup di madu tampa sepengetahuan kita. Apa mama bisa menerima nya?" Tambah lelaki paruh baya itu lagi.


"Sebab itu pa mama bilang kita tidak salah besan papa tuh yang gak mau ngerti" Ujar Rina merasa kesal karena suami nya tidak mau membelanya dan masih membela besan mereka.


Rina menarik selimut nya membelakangi suami nya yang masih duduk di atas kasur itu.


***


Hari pernikahan Riko dan Santi hanya menghitung minggu lagi. Riko duduk melamun di taman yang ada di belakang rumah nya. Entah lah, kegelisahan di hati nya semakin menjadi-jadi saat hari pernikahan itu semakin dekat.


Bukan nya menyambut dengan antusias hari bersejarah itu, namun ia merasa sangat gelisah. Ia masih merasa belum yakin mau menikah dengan Santi. Karena rasa cinta dan sayang di hati nya untuk ku masih tersisa di sana.

__ADS_1


Kenangan saat aku dan Arga bertemu dengan nya bersama Santi saat kami tidak sengaja bertemu di turap yang berada di kampung ku masih terbayang jelas di ingatan nya.


Hati nya terasa sakit dan perih melihat aku dan Arga tampak bahagia kala itu.


__ADS_2