
Aku terbangun dari tidurku saat adzan subuh berkumandang memanggil para muslimin dan muslimat untuk melaksanakan kewajibannya yaitu salat subuh.
Betapa kakinya aku karena aku berada di satu ranjang yang sama dengan Arga yang tidur di sampingku.
"Kenapa aku berada di sini? Apa mungkin Arga yang memindahkan ku untuk tidur bersamanya?" Batin ku.
"Ah sudah lah. Lebih baik saat ini aku membangunkan Arga untuk salat subuh" Tambah ku lagi.
"Ga, Arga bangun sudah waktu nya solat subuh" Ujar ku mencoba membangun kan Arga.
Arga menggosok-gosok mata nya yang masih terasa berat.
"Sudah adzan subuh ayo kita salat berjamaah" Ujar ku lagi. Tampa di minta kedua kali, Arga pun bangun dan pergi menuju kamar mandi untuk berwudhu begitu pun dengan ku.
Aku tersenyum memandang Arga yang sedang berwudhu di depan ku. Melihat perubahan nya saat ini membuat aku sangat bahagia. Perlahan namun pasti sekarang Arga sudah mulai salat kembali.
"Kenapa kamu tersenyum melihat ku seperti itu? Terpesona dengan ketampanan ku? Apa ketampanan ku berkali-kali lipat lantaran terkena air wudhu?" Ujar nya lagi saat ia sudah selesai berwudhu dan melewati ku.
Kembali aku menatap nya dengan tatapan kesal. Memang dia tampan ku akui itu. Tapi jangan juga terlalu kePDan seperti itu. Membuat aku jadi kesal kepada nya.
***
"Assalamualaikum warahmatullah" Mengucap dua salam saat rakaat terakhir telah kami laksanakan. Yah kami melakukan salat subuh berjamaah dengan Arga sebagai imam nya.
"Alhamdulillah ya Allah, tidak henti-henti nya aku mengucap kan syukur kepada Mu atas semua perubahan demi perubahan Arga kepada ku. Semoga saja Arga Istiqomah di jalanMu ya Allah dan semoga saja aku pun menjadi istri yang sholehah untuk Arga dan menjadi orang yang istiqomah dijalanMu ya Allah amin" Doa ku.
Aku mencium punggung tangan nya Arga setelah kami selesai salat bersama.
***
"Rea, ini ibu sudah buat kan sarapan untuk kalian" Ujar ibu ku menyajikan makanan yang ia buat tadi sebagai menu sarapan kami. Seperti biasa, nasi goreng lah menjadi andalan keluarga kami saat sarapan.
"Wah, kelihatan nya enak ni bu" Ujar ku.
"Arga mana? Masih tidur?" Tanya ibu ku lagi.
"Iya buk, dia masih tidur. Selesai salat subuh tadi ia langsung tidur lagi" Ujar ku.
"Ya sudah, ini sarapan nya. Ibu mau ke warung dulu ya untuk berbelanja menu makan siang nanti" Ujar ibu.
"Ibu sudah sarapan?"
"Udah tadi sama ayah"
"Ayah mana?"
"Ayah mu biasa jika pagi begini pergi ke kebun karet untuk melaet" Jelas ibu ku.
Melaet (bahasa di tempat ku Sungai pakning desa sejangat) atau sama dengan menoreh getah adalah menyadap getah yang ada di batang/pohon getah di kumpulkan dalam satu wadah setelah membeku atau menjadi karet akan di jual kepada para agen karet. Sama seperti film upin dan ipin dimana mereka berdua menolong opa nya untuk menoreh getah dan mengumpulkan getah itu.
Melaet adalah mata pencaharian ayah ku. Ini lah sumber penghasilan kedua orang tua ku untuk bertahan hidup. Dari hasil itu lah ayah dan ibu ku bisa membesarkan ku dan menyekolahkan ku hingga bangku kuliah sehingga aku pun bisa mendapat beasiswa kuliah saat itu karena otakku lumayan encer.
"Ya sudah, ibu ke warung dulu ya. Kamu bangunin Arga dan layani dia ya" Ujar ibu ku.
Aku mengangguk mengerti.
Aku membuka pintu kamar ku. Ku lihat Arga masih terlelap di kasur ku. Spontan momen indah tadi subuh pun kembali bermain di layar pikiran ku. Di mana kami salat berjamaah di mana Arga dan aku tidur di kasur yang sama untuk pertama kali nya. Sungguh hal itu membuat aku kembali bahagia.
Aku berjalan mendekati Arga bermaksud untuk membangun kan nya. Namun belum sempat aku membangun kan Arga, ponsel nya yang di atas nakas samping kasur ku pun berdering.
Arga terbangun dari tidur nya.
"Rea, kamu sudah bangun?" Tanya nya bangun dari tidur nya dan duduk di atas kasur ku.
"Itu, ponsel mu berdering" Ujar ku.
"Tolong kamu ambilkan untuk ku" Ujar nya lagi. Aku menggapai ponsel nya Arga yang ada di atas nakas itu. Ku lihat nama yang tertera di ponsel tersebut. Melihat nama yang tertera di ponsel nya Arga membuat hatiku terasa diiris-iris dan sangat pedih. Raut senyuman yang ku pancarkan tadi seketika berubah menjadi muram.
"Siapa?"
"Dari Sandra" Ujar ku memberikan ponsel nya Arga.
Arga mengambil ponsel nya dari tangan ku. Tapi dia tidak langsung mengangkat nya. Melain kan hanya membiarkan ponsel itu terus berdering hingga pada akhirnya ponsel itu berhenti.
"Tadi Ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kita kalau mau makan ayolah kita makan sama-sama" Ajak ku berusaha bersikap biasa saja agar Arga tidak tahu bahwa aku sedang cemburu.
Arga hanya mengangguk dan mengusap wajah nya yang baru bangun tidur itu dengan sebelah tangan nya
"Aku duluan kalau begitu" Aku pun pergi meninggalkan Arga sendirian dikamar ku. Baru saja aku bangkit dari duduk ku.
"Rea, mau kemana?" Tanya Arga membuat langkahku terhenti.
"Bukan nya kamu mau menelepon Sandra. Aku nggak mau mengganggu kalian jadi lebih baik aku keluar saja" Ujar ku.
"Sini dulu, duduk di samping ku. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu"
__ADS_1
"Mau bilang apa?"
"Terjadi sesuatu tadi malam?" Ujar Arga.
Spontan pikiran ku kembali teringat tentang bagaimana aku bisa pindah tidur satu kasur bersama Arga.
"Bagaimana bisa aku tidur di kasur mu tadi malam? Bukan kah tadi malam aku tidur nya di bawah?"
"Gak tahu, mungkin kamu mengigau atau bahkan kamu merasa sakit tidur di kasur tipis itu sehingga kamu pindah untuk tidur bersama ku. Yah bisa jadi kamu mencari kesempatan dalam kesempitan agar bisa tidur bersama dekan ku kan?" Goda Ivan.
"Aduh, kembali lagi deh nyeselin nya" Batin ku menatap Arga dengan kesal.
Arga tersenyum geli melihat aku menatap nya seperti itu. Entah lah lelaki itu paling suka membuat ku kesal.
"Rea" Panggil nya setelah lama kami terdiam.
"Iya"
"Bagaimana menurut mu? Aku mau mengenal mu lebih dekat" Ujar nya menatap serius kepada ku.
Aku tersenyum mendengar apa yang di katakan Arga.
"Kenal lebih dekat bagaimana? Bukan kah kita sudah dekat?" Ujar ku lagi.
"Maksud ku kenal yang lain. Kampung mu sangat istimewa, kamu mau pergi kemana pun, pasti akan ku temani kamu. Bilang saja mau kemana?" Ujar nya lagi.
"Sandra pasti tidak akan setuju" Ujar ku.
"Aku tanya kamu bukan Sandra" Ujar Arga.
Aku tampak berpikir. Entah lah sejujur nya aku merasa sangat senang Arga ingin mengenal ku lebih dekat lagi. Tapi di satu sisi aku merasa tidak enak hati kepada Sandra. Dimana aku pernah berjanji kepada nya bahwa antara aku dan Arga tidak akan ada hal yang spesial.
"Bagaimana Rea?" Tanya Arga lagi.
Belum sempat aku menjawab, ponsel nya Arga kembali berdering.
"Sebaik nya aku keluar dulu" Ujar ku pergi ke luar merasa tidak pantas jika aku berada di sana karena ini merupakan masalah pribadi nya Sandra dan Arga. Aku keluar dan menutup pintu kamar ku kembali.
"Hallo sayang, selamat pagi sayang" Ujar Sandra saat telfon nya di angkat oleh Arga.
"Pagi" Jawab Arga masih dengan nada datar nya.
"Sudah bangun tidur"
"Hmm baru saja bangun" Jawab nya dengan dingin.
"Sayang, kok ngomong nya gitu sih? Aku mimpi kamu tadi malam. Aku sampai gak bisa tidur karena memikirkan kamu. Aku sangat merindui mu sayang" Ujar Sandra dengan nada manja nya.
"Kamu gak rindu kah kepada ku?" Tanya Sandra lagi.
Arga tidak menjawab apa yang Sandra tanyakan kepada nya.
"Kapan kamu pulang? Bagaimana dengan urusan mu di sana?" Tanya Arga mengubah topik pembicaraan.
"Mungkin dua hari lagi sayang, ada pekerjaan tambahan di sini. Aduh sayang, jangan bahas itu dulu ya. Aku menghubungi kamu karena aku merindui kamu sayang aku sangat rindu sama kamu. Kamu sehat gak di sana?" Ujar Sandra masih dengan nada manja nya
Arga tersenyum mengejek.
"Jika kamu merindui aku kenapa kamu meninggalkan aku sendirian di sini?"
"Aku kerja sayang, buka pergi berjalan atau liburan bukan. Kamu sehat gak di sana. Pertanyaan ku tadi belum kamu jawab"
"Sebenar nya aku gak sabar mau pulang bertemu dengan mu"
"Pulang lah" Ujar Arga dengan nada datar nya.
"Dalam waktu dua hari lagi ya sayang aku pulang nya. Tunggu aku pulang ya" Ujar nya.
"Setiap hari aku menunggu mu pulang" Ujar Arga dengan dingin nya.
"Ya sudah, aku mau pergi lanjutkan pekerjaanku dulu ya. Nanti jika semuanya sudah selesai aku akan menghubungimu lagi" Ujar Sandra melirik jam di tangan nya.
"Ya sudah kamu hati-hati ya"
"Oke sayang, love you... Ingat jaga mata dan hati mu hanya untuk ku"
"Hmmm" Jawab Arga.
Saat ini hati Arga tengah di lema, satu sisi ia ingin mengenali ku lebih dekat dan kini mulai membuka hati nya untuk ku. Tapi di satu sisi ia masih mencintai Sandra di dalam hati nya.
Arga keluar dari kamar ku. Menuju dapur membuka tudung saji melihat menu yang di siap oleh ibu ku.
Arga melihat sekeliling mencari ku.
Terdengar suara ku ngobrol bersama ibu ku.
__ADS_1
Arga pergi ke sumber suara itu berasal. Di mana kami berada di halaman belakang rumah Di sana terdapat kebun ibu ku. Kebun kecil-kecilan saja. Di mana terdapat cabe rawit, ada dua atau tiga jenis sayuran di sana. Seperti kangkung, daun ubi, dan bayam.
Aku melihat ibu ku memanen sayuran yang mau di masak untuk siang ini.
"Eh nak Arga, sudah bangun?" Tanya ibu ku saat melihat Arga berdiri di depan pintu belakang.
"Iya buk" Jawab Arga.
"Ini kebun ibu?" Tanya nya lagi.
"Iya ini kebun ibu ku. Lumayan dapat berhemat sedikit dengan tidak membeli sayuran. Jadi ibu hanya beli lauk pauk di warung, sedangkan sayuran sudah ada tersedia di sini" Jelas ku.
Arga mengangguk mengerti.
"Lihat tanaman ibu, tumbuh subur bukan? Tangan ibu sama seperti tangan mama dan papa, subur jika menanam tanaman apa pun itu" Puji ku kepada kedua mertua ku dan ibu ku.
"Iya kamu benar, mama dan papa juga begitu. Lihat lah kebun bunga nya di belakang rumah, tumbuh subur dengan indah dan cantik" Balas Arga.
"Ya sudah Rea, pergi lah layani suami mu sarapan. Biar ibu yang panen ini semua" Titah ibu ku.
"Iya buk" Jawab ku.
"Ayo" Ujar ku kepada Arga.
***
"Ini teh hangat nya dan ini nasi goreng nya" Ujar ku memberikan sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat kepada suami ku itu.
Arga menghirup teh yang ku sajikan tadi.
"Jadi kita akan pulang besok?" Tanya ku.
"Iya jadi, gak enak juga meninggalkan pekerjaan lama-lama" Jawab Arga.
Aku mengangguk mengerti.
"Terima kasih ya Ga kamu sudah bersedia membawaku pulang ke kampung halamanku dan bertemu kedua orang tuaku" Ujar ku kepada Arga.
"Iya, sama-sama. Aku suka desa mu ini. Terasa nyaman, aman, dan damai. Jauh dari kebisingan kota membuat ku betah di sini. Dan rasanya aku pengen datang lagi ke sini suatu saat nanti" Ujar Arga.
Aku tersenyum senang mendengar perkataan Arga.
***
Riko dan Santi ikut pulang ke kampung halaman ku. Di mana rumah kedua orang tua Santi satu kampung dengan ku.
Sore itu aku dan Arga menikmati tiupan angin di tepi turap yang ada di desa ku. Tak jauh dari sana terdapat sebuah pelabuhan tempat penyebrangan kapal peri dari kota Sungai pakning ke kota Bengkalis dimana memakan waktu kurang lebih satu jam.
Tak lupa kami membeli dua gelas minuman dingin rasa coklat serta bakso bakar yang merupakan salah satu jajanan favorit ku. Yah sambil menikmati lalu lalang kapal. peri serta tiupan angin, sambil menikmati makanan dan minuman yang kami beli tadi.
Aku dan Arga ngobrol seadanya sambil sekali bercanda ria. Di sini tempat biasa nya aku dan Santi menghabiskan waktu sore kami ketika kami masih duduk di bangku SMA dulu.
Ternyata, Santi pun mengajak Riko datang ke turap itu untuk sekedar menikmati suasana angin sore di sina.
"Rea" Tegur Santi kepada ku.
"Eh Santi, kamu pulang juga?" Tanya ku.
"Iya, mumpung waktu cuti, jadi ya aku manfaatkan pulang kampung bersama Riko" Ujar nya lagi berlagak ramah.
Aku tersenyum melihat Santi merangkul tangan nya Riko.
"Kalian sudah berapa lama ada di kampung ini?" Tanya nya.
"Sudah dua hari, besok juga pulang. Ia kan sayang" Ujar Arga.
"Ha? Iya" Jawab ku kaget ketika Arga memanggil ku sayang.
"Ya sudah kami duluan ya, Sudah hampir senja juga. Ayo sayang" Ujar Arga memegang tangan ku.
Aku mengikuti langkah Arga yang menuntun ku menuju mobil nya.
"Itu cowok yang kemaren sewaktu kamu bertemu dengan nya di taman kan?" Tanya Arga kepada ku setelah kami masuk ke dalam mobil nya.
"Iya dia Riko. Tunangan nya Santi" Jawab ku.
"Dari cara nya menatap mu, aku bisa menilai bahwa dia suka pada mu"
Deg ...
Aku kaget mendengar pernyataan Arga yang memang benar ada nya.
"Gak mungkin lah, dia sudah bertunangan dengan santi. Gak mungkin dia suka sama orang lain. Terlebih sudah jadi istri orang pula" Ujar ku memberi alasan.
"Syukur alhamdulillah, Rea dan Arga kelihatan bahagia ya" Ujar Santi.
__ADS_1
"Itu Artinya tidak ada yang bisa merebut Riko dari tangan ku. Dengan begini, Riko pasti lebih bisa membuka hati nya untuk ku" Batin Santi.