
Siang itu Arga datang ke kantor nya Putra. Ia ingin menceritakan bahwa diri nya kini sedang merindukan ku. Ia bingung harus mencari ku ke mana lagi. Dia tidak tahu sekarang aku berada di mana.
"Ga, aku bukan nya bermaksud untuk mengejek mu atau pun untuk menertawakan mu. Aku ngomong hal ini agar kamu tahu bahwa nasehat ku untuk mu tempo hari itu benar ada nya. Sekarang kamu menyesal kan?" Tanya Putra.
"Memang pantas kamu seperti ini. Dulu saat Rea ada bersama mu, kamu melayani nya seperti itu. Kamu buat dia seolah-oleh dia tidak wujud. Tapi sekarang, setelah dia pergi, baru kamu sadar bahwa kehadiran nya sangat berarti bukan" Tambah Arga lagi.
Arga kaget mendengar Putra bicara seperti itu. Ia pun tampak memikirkan bahwa apa yang di katakan Putra kemaren benar ada nya. Arga hanya diam merenungi nasib nya.
"Aduh Ga, melihat wajah mu seperti ini. Terkadang aku jadi kasihan dengan mu. Terus, bagaimana dengan Sandra?" Tanya Putra lagi.
Arga hanya menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Jadi, dia tidak baik-baik juga dengan mu?" Ulang Putra lagi.
"Aku kecewa dengan nya" Ujar Arga dengan sedih.
"Ga, kamu adalah laki-laki. Kamu jangan seperti ini dong. Kamu cinta mati dengan Sandra hingga kamu mau menikah dengan nya dan sanggup untuk menikah dua kali. Gak mungkin kamu hanya mengalah seperti ini saja" Ujar Putra memberi semangat.
"Kamu harus kuat Ga, pikiran mu harus rasional. Jadi kan ini satu pelajaran. Pernikahan mu dan Sandra itu jadikan lah contoh yang terbaik dengan apa yang terjadi sekarang ini" Tambah nya lagi.
"Terus apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa kamu masih seperti ini dengan Sandra atau mencari Rea?" Tanya Putra.
Arga menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.
"Aku sekarang sudah bisa berpikir. Bahwa sebenarnya itu kaum wanita lebih kuat dan lebih tegar daripada kita kaum laki-laki. Aku tidak habis pikir bagaimana Rea bisa melewati semua ini? Dia seperti ini karena ku. Ternodai karena ulah ku, masa depan nya hancur. Dan setelah menikah dengan nya. Aku malah melayani nya dengan dingin, cuek, acuh tak acuh. Begitu juga dengan Sandra juga seperti itu melayani nya" Jelas Arga.
"Kamu bisa lihat wajah nya. Tenang, damai. Adai saja aku bisa setenang dia" Ujar Arga tersenyum mengejek kepada dirinya sendiri. Di mana laki-laki itu tidak bisa menahan kegelisahan di hati nya karena kehilangan ku.
"Aku rasa kamu benar, yang wanita itu memang lebih tabah dari kita. Tapi pertanyaan ku sekarang adalah apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Putra lagi.
Arga hanya bisa menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.
"Ini saja yang bisa kamu lakukan? Kalau seperti ini, semua orang juga bisa"
Arga merogoh saku celananya untuk mencari ponselnya yang berdering karena pesan dari Sandra masuk Arga membaca isi pesan yang ditulis oleh Sandra.
"Coba kamu baca ini" Ujar Arga memberi ponsel nya kepada Putra ada Putra bisa membaca isi pesan yang ditulis oleh Sandra.
Di pesan itu tertulis bahwa Sandra ingin bercerai dari Arga
"Ya ampun Ga, ternyata masalahmu seribet ini ya"
"Iya, sudah ku bilang masalahku memang rumit" Ujar Arga dengan wajah lelah nya.
"Begini saja, Aku akan mencoba untuk berbicara kepada Sandra agar dia bisa berpikir lagi dengan keputusannya ini mungkin dong kalian bisa sampai bercerai seperti ini" Ujar Putra merasa simpati kepada sahabat nya itu.
kembali Arga menarik nafasnya dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat. Ia memijit kening nya yang terasa pusing dengan masalah yang menimpa keluarganya saat ini.
"Sandra akan pergi ke Jakarta untuk bekerja sama dengan beberapa desainer terkenal di sana kemudian jika kerjasamanya berhasil ia akan pergi ke Paris dan kembali menjalin hubungan kerjasama dengan beberapa desainer terkenal di negara itu. Aku sudah melarangnya untuk pergi namun jika itu memang keputusannya aku bisa apa" Jelas Arga.
Putra memperlihatkan wajah bingung nya dengan sikap Arga barusan.
"Jadi kamu setuju dengan perceraian ini? Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang?" Tanya Putra lagi.
__ADS_1
Arga hanya diam tidak bisa memberikan jawaban nya.
"Oke, apa kamu setuju menceraikan Sandra karena kamu sudah mulai jatuh cinta dengan Rea. Karena itu kamu bersikap tenang ketika Sandra mengatakan hal ini kepadamu"
"Jujur aku bingung. Sebenar nya aku tidak ingin berpisah dengan Sandra. Aku sangat sayang sama Sandra dan aku berpikir Rea tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini" Ujar Arga.
"Hanya saja masalah ini sudah ku pendam lama. Semakin aku pendam semakin aku sakit hati. Ini semua membuat ku sadar diri"
"Alasan kamu aja" Ujar Putra mencoba menggoda.
"Terserah apa yang mau kamu pikirkan terhadapku. Hanya saja saat ini aku tidak mau berdiam diri. Semua keputusan dia yang memutuskan nya sendiri. Dari masalah yang kecil hingga masalah yang terbesar seperti ini pun dia hanya memutuskannya sendiri tanpa berbicara terlebih dahulu dan meminta pendapatku. Dia selalu membelakangi ku" Jelas Arga dengan rasa kecewa di hatinya.
"Hingga terkadang aku bingung dengan apa yang sebenarnya aku mau dari istri ku itu"
"Itu karena selalu ada untuk mu. Dia yang patuh dengan mu"
Arga terlihat sedikit kesal dengan ocehannya Putra kepadanya.
"Kenapa kamu bisa menila iku seperti itu?"
"Ga, aku bukan nya bermaksud untuk menghakimi mu dengan semua masalah-masalahmu itu. Hanya saja aku ingin mencari kepastian atas keputusan yang kamu buat saat ini dan aku hanya ingin mencari alasan yang bisa untuk ku terima dengan akal sehatku." Ujar Putra.
"Bukan nya kamu sudah mendengarkan alasan ku bukan?"
"Iya, aku sudah dengar, dan aku merasa Sandra tidak bersalah dalam hal ini" Ujar Putra.
"Yang salah itu adalah kamu. Sebab dari dulu kamu selalu memanjakan dia dan menuruti semua kemauan nya. Hingga kamu sendiri pun tidak bisa mengontrolnya" Ujar Putra.
Arga tampak berpikir dengan apa yang baru saja Putra katakan. Lelaki yang memiliki dua istri itu menarik nafasnya dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat.
"Egois" Ujar Putra.
"Aku bukan egois. Kamu bayangkan saja. Aku ada di sini sedangkan istriku berada jauh di sana. ... " Arga tidak melanjutkan perkataan nya. Ia mencoba menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskannya kuat-kuat untuk menahan rasa emosi yang telah menyelimuti hatinya.
"Begini, Jika aku masih mengalah juga, aku rasa sampai kapanpun dia tidak akan pernah menghargai ku sebagai suaminya. Jika banar dia ingin mengejar cita-citanya itu biarkan saja dia mencapainya" Arga tampak pasrah.
"Ga, aku kasih tahu ya antara merajuk atau keras kepala itu semua adalah satu perasaan Ga dan perasaan itu bisa berubah. Hanya saja kamu jangan menggunakan perasaan itu untuk membuat keputusan sebesar ini" Putra kembali menasehati sahabat nya itu.
"Iya satu perasaan. Tapi perasaan itu lah yang membuat ku sadar. Sadar dimana aku tidak penting dalam kehidupan nya. Biarkan saja dia mengejar hal yang penting untuk hidup nya itu. Aku tidak mau memaksa nya. Nanti dia akan berpikir aku ini hanya menghalangi nya. Dan aku tidak mau dia sampai berpikir seperti itu" Tampak nya Arga memang sudah sangat kecewa kepada Sandra. Ia pasrah jika harus berpisah dengan wanita yang ia cintai itu.
"Dan yang kamu barusan katakan itu pun perasaan. Hanya saja kita bisa pertimbangkan. Dan setiap orang mempunyai pendirian nya sendiri. Dan kita pun harus hormat akan hal itu. Hanya saja aku menyayangkan kamu akan berpisah seperti ini. Gak mungkin semudah itu Ga" Ujar Putra.
"Apa kamu mempunyai jalan keluarnya atas masalah ini?" Tanya Arga meminta masukan dari Putra.
"Aku juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Aku cukup kecewa kepada Sandra dia rela meninggalkanku hanya ingin mengejar cita-citanya itu. Sudah cukup selama ini aku mengalah kepadanya" Ujar Arga tersenyum yang tampak di paksakan.
Putra menarik nafasnya dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat.
"Entah lah Ga. Aku juga tidak tahu harus berkata seperti apa lagi kepada kamu. Entah lah Ga. Aku juga tidak bisa menemukan jalan keluar untuk masalah mu saat ini. Hanya saja kamu harus memikirkan masalah ini dengan matang" Nasehat Putra.
***
Arga dan Putra keluar dari sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor nya Putra. Mereka memutuskan untuk makan siang bersama setelah berbicara panjang lebar mereka tadi.
__ADS_1
"Santi" Ujar Arga melihat Santi lewat di depan restoran itu.
"Santi" Teriak nya mengejar gadis itu.
"Arga, ada apa?" Tanya Santi menghentikan langkah nya. Gadis itu baru saja pulang berbelanja bersama Riko. Mereka berdua akan pergi makan siang bersama setelah berbelanja.
"Santi, aku mau tanya sama kamu. Apa kamu tahu Rea di mana?" Tanya nya lagi.
"Rea?" ulang Santi.
"Iya Rea, apa kamu tahu dia di mana?"
"Rea, apa yang terjadi kepada Rea?" Tanya Riko tampak panik. Yah di hati laki-laki berkacamata itu masih tersisa sedikit perasaan untuk ku.
"Arga, bukan kah Rea itu istri mu. Dan kami sama sekali tidak tahu Rea ada di mana" Ujar Santi lagi.
"Apa Rea kabur dari rumah? Kenapa dia bisa kabur? Apa yang kamu lakukan kepada nya hingga dia kabur seperti itu" Tanya Riko sedikit emosi.
"Kenapa kamu emosi seperti itu?" Tanya Arga.
"Pasti Rea tidak bahagia bersama kamu sehingga dia memutuskan untuk pergi dari rumah kamu kan? Apa yang kamu lakukan kepadanya?" Tambah Riko menyelidiki.
"Kenapa kamu yang emosi. Rea itu istri ku dan masalah aku dan dia tidak ada urusan nya dengan mu. Jadi kamu tidak perlu bertingkah seperti ini" Ujar Arga ikut emosi.
"Eh, aku tidak mau ya terjadi sesuatu kepada Rea. Jika terjadi sesuatu yang buruk kepada nya, awas aja kamu" Anca. Riko.
"Eh, aku adalah suami nya Rea. Dan aku akan menjaga nya semampu ku. Kamu tidak perlu repot-repot mengancam ku seperti itu. Karena kamu tidak mempunyai hak apapun atas Rea" Ujar Arga menunjuk tajam ke wajah nya Riko.
"Jangan menunjuk-nunjuk ke wajah ku seperti itu" Ujar Riko.
Mereka pun ingin berkelahi di sana karena telah terbawa oleh emosi nya masing-masing. Untung saja ada Putra dan Santi yang melerai mereka. Santi membawa Riko pergi jauh dari Arga agar baku hantam itu tidak terjadi.
***
"Sandra, apa kamu tidak bisa mengundur waktu kepergian mu ke Jakarta" Tanya papa Sandra saat mereka sedang berada di ruang tamu di rumah nya.
"Pa, aku gak bisa menunda nya lagi. Aku sudah memesan tiket. Dan ini adalah kesempatan ku. Jika aku menunda nya, biasa-bisa para desainer di sana akan membatalkan kerja sama nya kepada ku" Jelas Sandra.
"Sandra, papa tidak ingin kamu pergi ke sana jika masalah kamu dan Arga masih belum selesai. Cobalah untuk selesaikan masalah nya dulu. Baru kamu bisa pergi dengan tenang. Papa tidak mau saat kamu di sana kamu akan kepikiran dan jadi tidak fokus nanti nya" Ujar papa Sandra.
"Sudah lah pa, biarkan saja Sandra pergi. Dia ke sana untuk mengejar impian nya selama ini" Bela mama nya.
"Ma, papa hanya ingin masalah Arga dan Sandra selesai. Setelah itu terserah Sandra mau pergi atau tidak nya"
"Terus papa pikir jika Sandra menunda keberangkatan nya akan membuat masalah mereka selesai begitu? Mama tetap tidak mau anak mama satu satu nya hidup di madu" Ujar mama nya Sandra.
"Karena itu lah ma, papa mau bicarakan hal ini dengan keluarga nya Arga. Dan kamu Sandra harus dengar apa kata papa"
"Papa, aku bukan anak kecil lagi pa. Aku sudah dewasa pa.. Aku bisa membuat keputusan ku sendiri aku mempunyai hak atas itu" Ujar Sandra keras kepala nya kini kambuh kembali.
"Ha, Itu kamu tahu jika kamu bukan anak kecil lagi. Kamu pikir menikah terus bercerai ini main-main? Papa tidak bisa melihat jika kamu itu serius. Pokok nya kamu harus dengar apa kata papa" Ujar papa Sandra lagi.
Sandra menarik nafasnya dalam-dalam lalu dihembuskannya kuat-kuat.
__ADS_1
"Papa, Arga sudah setuju untuk menceraikan ku" Ujar Sandra langsung meninggalkan kedua orang tua nya yang masih ada di ruang tamu nya itu.
"Ma, kamu lihat kelakuan anakmu ini. Keras kepala, tidak mau mendengarkan nasehat orang tua. Apa dia tidak tahu bahwa apa yang papa lakukan ini adalah untuk masa depannya? Karena papa tidak mau dia menyesal nantinya. Tapi lihat apa yang dia lakukan dia malah pergi dan tidak mau mendengarkan apa yang papa katakan. Dia selalu suka membuat keputusannya sendiri" Ujar papa Sandra merasa emosi melihat anak nya yang egois itu..