Cinta Bersalut Noda

Cinta Bersalut Noda
Lima puluh juta


__ADS_3

Aku tersenyum memandang bingkisan yang di berikan oleh Arga kepada ku. Aku membuka isi bingkisan itu.


"Baju?" Ujar ku dengan rasa bahagia di hati. Di mana baju gamis panjang yang di hiasi dengan burkat bewarna kuning merupakan hadiah pertama dari Arga.


Aku berdiri di depan kaca, menempelkan baju itu di badan ku untuk mencoba nya.


"Cantik banget... Makasih ya Arga" Ujar ku tersenyum riang.


***


"Tok, tok, tok" Terdengar suara pintu kamar ku di ketuk.


"Sebentar" Ujar ku merapikan hijab yang ku kenakan di depan kaca.


"Aku masuk ya" Arga sedikit berteriak.


"Iya, masuk aja" Ujar ku. Karena saat itu aku sudah memakai hijab ku hanya tinggal mengenakan bros hias di bahu sebagai aksesoris.


Arga membuka pintu kamar ku.


"Sudah?" Tanya nya.


"Sebentar" Ujar ku.


"Oke sudah" Tambah ku lagi ketika bros itu berhasil tertancap sempurna.


Arga tersenyum melihat penampilanku malam ini. Ia memperhatikanku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Membuat aku salah tingkah karena diperhatikan seperti itu.


"Kamu ngapain liatin aku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Tanya ku dengan salah tingkah.


"Gak, kamu cantik kok malam ini" Jawab nya.


Deg....


Jantung ini berdegup cepat karena di puji oleh Arga untuk pertama kali nya. Hati ini terasa riang dengan di tumbuhi bunga-bunga yang bermekaran melambangkan suasana hatiku yang begitu bahagia karena baru kali ini aku dipuji oleh Arga.


Terukir senyuman di bibir ini.


"Malah senyam senyum seperti itu" Ujar Arga membuyarkan lamunan ku.


"Jika sudah siap, ayo kita turun ke bawah. Orang-orang udah pada nungguin kamu di bawah" Ujar Arga.


"Eh, iya" Jawab ku.


Arga mengulurkan tangan nya untukku menyambut uluran tangannya seperti di cerita dongeng-dongeng saat pangeran ingin menyambut permaisurinya dengan mengulurkan tangan.


Aku melihat tangannya Arga dan juga wajahnya Arga secara bergantian. Bal itu ku lakukan beberapa kali untuk memastikan apakah benar dia ingin aku menyambut uluran tangannya.


"Kenapa bengong? Ayo" Ujar nya lagi mengangkat kedua alis nya sebagai tanda bahwa ia ingin aku menyambut uluran tangan nya.


Aku tersenyum mendapatkan kepastian bahwa uluran tangan itu benar untukku menyambutnya dan dengan senang hati aku menyambut uluran tangan itu.


"Ayo kita turun" Kata nya lagi.


Aku tersenyum sambil mengangguk. Mata kami saling menatap pancaran bola mata cinta pun mulai ku rasakan di matanya Arga. Namun, aku tidak mau berharap terlalu dalam. Karena aku tahu nantinya aku akan terjatuh ke bumi dan rasanya pasti akan sangat menyakitkan.


Arga menggenggam erat tanganku seperti mengatakan dia tidak ingin melepaskan ku dan ingin terus bersamaku. Itu lah yang bisa kurasakan saat ini ketika Arga bersikap manis kepadaku seperti ini.


Lelaki yang sudah menjadi suamiku itu terus menggenggam tanganku hingga kami sampai ke meja makan di mana para penghuni rumah sudah menunggu kedatangan kami dari tadi.


Terlihat di sana ada mama, papa, bik Ina, serta pak Udin supir nya papa yang menunggu kedatangan kami. Mereka tampak tersenyum senang melihat aku dan Arga berpegangan tangan selayaknya kami ini pasangan yang saling mencintai.


Memang aku sangat mencintai suamiku itu. Namun aku tidak tahu apakah suamiku itu juga mencintaiku atau tidak karena yang ku tahu dia itu seperti bunglon. Dimana selalu saja berubah perasaannya sebentar-sebentar menyenangkan, sebentar ngeselin, sebentar marah-marah, pokoknya seperti bunglon berubah-rubah di setiap kondisi tergantung suasana hatinya.


"Rea, selamat ulang tahun ya sayang. Kamu terlihat cantik malam inj" Ujar mama mertua ku memeluk ku dengan hangat dan tak lupa kecupan hangat ia berikan kepada ku.


"Terima kasih ma" Jawab ku.


"Selamat ulang tahun ya Rea" Ujar papa mertua ku memeluk ku.


"Semoga saja di hari ulang tahu mu ini kamu mendapatkan cinta nya Arga" Bisik Rudi di telinga ku.


"Aamiin,,,,Terima kasih ya pa" Jawab ku.


Memang itu lah yang ku harapkan. Semoga saja Allah mengabulkan doa papa mertua ku itu.


"Non, Selamat ulang tahun ya" Bik Ina memeluk ku.


"Selamat ulang tahun ya non" Ujar pak Udin pulak.

__ADS_1


"Terima kasih ya semua atas ucapan dan doa nya. Semoga doa-doa kita di kabulkan oleh Allah" Ujar ku.


"Aamiin" Ujar semua nya.


"Sekarang kamu tiup lilin nya ya" Ujar Arga menyalakan lilin yang ada di atas kue ulang tahun ku itu.


"Berdoa dulu sebelum tiup lilin nya" Ujar nya lagi.


Aku pun memejamkan mata ku sambil berdoa semoga harapan ku selama ini akan tercapai.


Ku tiup lilin yang menyala di atas kue ulang tahu ku itu.


Sekarang giliran ku memotong kue ulang tahun ku. Dan tentu saja potongan pertama ku berikan kepada suami ku dan kami saling suap-suapan.


Tepuk tangan bergemuruh pun menghiasi susana bahagia di hidup ku itu.


Sungguh malam itu adalah malam yang paling membahagiakan di dalam hidupku mendapat kejutan pertama dan seumur hidup seperti ini oleh keluarga baruku.


***


"Hallo sayang, aku mau bilang sama kamu bahwa malam ini aku tidur ke rumah papa ya. Karena ada pertemuan mendadak dengan beberapa desainer di Jakarta. Jadi aku harus nginap di sana karena besok pagi-pagi aku harus ke bandara" Ujar Sandra saat diri nya menghubungi Arga dimana mereka


"Berangkat lagi kamu?"


"Iya sayang, aku harus bertemu dengan beberapa desainer untuk membahas kerjasama kami. Aku senang banget karena aku sudah mulai di kenal sama desainer-desainer terkenal di negara ini. Semoga saja aku bisa di kenal dengan desainer luar negeri ya sayang" Ujar Sandra dengan tersenyum senang.


"Iya, kamu senang dan bahagia jika dikenal oleh desainer desainer terkenal. Tapi kamu tidak memikirkan apakah aku senang dan bahagia ketika aku terus-terusan ditinggal oleh kamu seperti ini?"


"Sayang, Kok ngomongnya gitu sih aku juga mikirin kamu loh di sini meskipun aku berada jauh dari kamu tapi hati aku akan selalu bersama kamu kok selalu mikirin kamu di sana" Ujar Sandra membela diri.


"Bener kamu mikirin aku? Untuk apa hanya di pikirkan saja jika tidak bisa hadir menemani ku"


"Sayang, jangan ngomong seperti itu dong. Aku kan sudah menitik karirku sayang jadi kamu harus ngerti dong posisi aku seperti apa"


"Lagi-lagi itu alasan kamu sudah menitik karir harus ngerti posisi kamu dan bla bla bla bla bla sejujurnya aku sudah hafal dengan alasan-alasan kamu itu" Sindir Arga.


"Sayang, jangan dong seperti ini ngomong nya. Tolong ya untuk kali ini aja. Aku janji deh, Aku janji aku bakal pulang secepatnya dan aku akan menghabiskan waktuku sepenuhnya bersama kamu di rumah nanti setelah aku pulang dari pertemuan ini ya" Sandra memujuk.


Sindiran senyuman terukir di bibirnya Arga.


"Janji lagi? Kamu terus-terusan berjanji namun tidak ada satu pun yang kamu tepati" Ujar Arga.


"Kemaren Kamu berjanji akan meluangkan banyak waktu untukku ketika kita sudah pindah rumah, terus kamu juga berjanji Jika kamu sudah selesai bekerja kamu akan menemaniku tidur namanya tanya aku tidur sendiri karena pekerjaan kamu membuat kamu begadang sampai subuh. Dan masih banyak lagi janji-janji kamu yang hanya tinggal janji namun tidak bisa ditepati. Dan Sekarang kamu mau berjanji kamu akan pulang cepat ketika semua urusanmu di sana telah selesai. Namun apakah kamu bisa menjamin kalau itu hanya memakan waktu sejam atau dua jam karena aku membutuhkan kamu secepatnya bukan berhari-hari. Dan juga kamu akan berjanji akan meluangkan banyak waktu bersamaku ketika kamu sudah pulang nanti dari sana. Apa kamu bisa menjamin kamu akan bisa melakukan hal itu"


"Kamu gak bisa menjawab dan juga kamu tidak bisa menjamin dengan janji kamu kan"


"Gak, sayang kali ini aku beneran kan menepati janjiku bersama kamu. Jadi aku mohon sama kamu tolong ijinin aku ya dan jangan kamu berpikir macam-macam tentang aku. Aku saat ini hanya membutuhkan kamu"


"Terserah lah, lakukan apa yang membuat mu bahagia" Ujar Arga.


"Sayang kok ngomong nya begitu sih? Seperti orang tidak ikhlas saja mengizinkanku pergi"


"Ikhlas atau tidaknya aku itu tidak penting buat kamu. Jika aku tidak mengizinkan kamu pergi, apa kamu mau mendengarkan perkataanku. Tentu saja kamu akan memberikan beribu-ribu alasan agar kamu akan tetap bisa pergi ke sana. Dan yah aku mendukung kamu terserah kamu mau melakukan apa yang membuat kamu bahagia dan bisa mengejar impian kamu yang kamu impikan selama ini" Ujar Arga mematikan ponsel nya.


"Hallo, hallo sayang" Ujar Sandra terdengar nada terputus di ponsel nya.


Sandra memijit kepalanya yang terasa pusing karena sifat Arga yang baru ini.


Begitu pun dengan Arga yang tampak emosi karena istri kedua nya tidak mau memberikan perhatian kepada diri nya yang saat ini sangat ia butuh kan.


***


Arga mengotak-atik ponselnya tanpa sengaja ia melihat fotoku bersama dirinya yang saat itu kami sedang liburan bersama di Paris.


Senyuman terukir di bibirnya Arga melihat foto-fotoku yang menurutnya lucu itu.


Reflek mamanya saat kami berada di Paris terbayang kembali di ingatannya Arga di mana ia mengatakan bahwa ponselku jelek sehingga tidak menghasilkan gambar yang bagus tidak seperti ponselnya.


Tawa, canda kami berdua tertawa bersama menikmati keindahan menara Eiffel itu kembali membuat Arga tersenyum.


"Woi..." Putra datang mengagetkan lamunan Arga.


"Senyam senyum sendiri lagi lihat apaan sih?" Ujar Putra merampas secara paksa ponsel yang ada di tangan sahabat nya itu.


"Oh Rea" Ujar nya setelah mengetahui apa penyebab yang membuat Arga tersenyum bahagia itu.


"Sepertinya ada yang jatuh cinta ni" Sindir Putra.


"Apaan sih kamu Put" Ujar Arga merampas kembali ponselnya dari tangan Putra.

__ADS_1


"Aku sedang membicarakan tentang kamu saat ini kamu sedang jatuh cinta kepada istri pertama-mu"


"Jatuh cinta gimana maksud kamu? Biasa saja perasaan" Arga tidak mau mengaku.


"Masih nggak mau mengakui bahwa kamu itu mulai mencintai istrimu itu. Apa kamu tidak sadar kamu sedang tersenyum memandang foto sang istri pertamamu? Apa kamu tidak sadar hal itu?" Tanya Putra lagi.


"Aku tersenyum melihat fotonya bukan berarti aku mencintainya juga kali. Aku hanya membayangkan momen lucu di foto ini saat kami liburan di Paris kemarin"


"Oh begitu" Putra mengangguk-ngangguk. Sejujurnya ia masih tidak percaya bahwa Arga mengatakan hal yang jujur. Dia yakin bahwa sahabat sekaligus sepupunya itu mulai mempunyai hati untukku. Hanya saja Arga masih gengsi dan tidak mau mengakui akan perasaannya kepadaku.


"Kenapa seperti itu ekspresi mu? Kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan?"


"Percaya-percaya. Yang mempunyai perasaan itu kan kamu sendiri sedangkan aku tidak merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi aku yakin bahwa apa yang kamu rasakan itu tidak sesuai dengan apa yang kamu katakan saat ini"


"Apaan sih jangan ngomong yang bukan-bukan deh seperti itu"


"Ya sudah aku mau pergi dulu ya" Tambah nya lagi.


"Mau kemana kamu?"


"Mau ngajak Rea berbelanja. Selama ini aku belum pernah mengajak nya jalan-jalan dan berbelanja di mall"


"Nah itu, itu merupakan satu bukti nyata bawa rasa itu mulai timbul di hati" Ujar Putra sambil mengayunkan jari telunjuk ke arah Arga bawa apa yang ia katakan itu benar.


"Kemaren dia ulang tahun jadi aku mau Ya sekedar mengajaknya jalan-jalan untuk membuatnya senang. Karena selama ini dia terus-terusan berada di rumah sesekali bolehlah bawa dia jalan-jalan ke mall dan berbelanja di sana" Ujar Arga.


Putra hanya tersenyum mengejek karena Arga masih tidak mau mengakui perasaannya kepadaku.


***


Aku dan Arga berkeliling di mall untuk melihat beberapa barang di sana.


"Ayo ikut aku" Ajak Arga menarik tangan ku.


"Kemana?" Tanya ku mengikuti langkah Arga karena dia telah menarik ku. Jadi mau tak mau aku membututinya.


Sampai lah kami di salah satu toko perhiasan di mall itu.


"Ngapain kita di sini?" Tanya ku heran.


"Ini toko perhiasan. Silahkan kamu pilih perhiasan yang kamu suka. Aku akan membelinya untuk mu" Ujar Arga.


"Tapi ini kelihatan nya toko perhiasan malah Ga" Ujar ku berbisik di telinga nya Arga.


"Ya gak apa-apa. Sesekali aku membelikan mu perhiasan malah apa salah nya. Apa kamu pikir aku tidak mampu membeli nya?"


"Eh, bukan begitu" Aku jadi salah tingkah. Takut jika Arga tersinggung dengan perkataanku barusan.


"Aku minta maaf, bukan maksud ku seperti itu. Hanya saja aku merasa tidak pantas untuk memakai perhiasan mahal seperti ini"


"Pantas kok, kamu kan istri seorang CEO perusahaan terkenal di kota ini. Jadi ya pantas-pantas saja kamu memakai perhiasan mahal" Jelas Arga.


Deg....


Lagi-lagi Arga berkata seperti itu. Seolah malah dia memang telah mengakui aku secara terang-terangan sebagai istrinya dan tidak mau menyembunyikanku seperti yang ia janjikan bersama Sandra sebelum mereka menikah bahwa hanya Sandra satu-satunya istri yang ia akan kenalkan ke seluruh dunia.


"Kamu aja yang pilihkan untuk ku ya" Bisik ku lagi.


"Ya sudah jika begitu" Ujar Arga.


"Mbak tolong tunjukkan kepadaku perhiasan yang paling mahal dan hanya satu-satunya di toko ini. Karena aku tidak mau istriku ini nanti mempunyai perhiasan yang sama dengan orang-orang"


Deg....


Kembali perasaan berdebar di hati muncul kembali aku menatap harga dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Mengapa dia bisa berkata seperti itu kepada penjaga toko? Apakah dia benar-benar sudah bisa menerima aku sebagai istrinya dan tidak malu memperkenalkan aku kepada orang-orang?


"Ini pak kalung yang paling mahal dan satu-satu nya di toko ini" Ujar pelayan toko memperlihat kan sebuah kalung beremas putih dengan perhiasan berlian di tengah nya.


"Oke, ini saja" Ujar Arga memberikan kartu kredit nya kepada pelayan toko untuk membayar.


"Sini aku langsung pasang kan di leher mu" Ujar nya memasangkan kalung itu di leher ku.


Senyuman kebahagian kembali terukir di bibir ku. Aku bahagia sangat sangat bahagia.


"Ini pak kartu bapak, dan ini surat nya pak" Pelayan toki tadi memberikan sebuah kartu dan surat kalung yang kami beli tadi.


Ku lihat kalung yang diberi oleh Arga kepadaku itu. Aku membuka lebar mulutku dan membulatkan mataku melihat harga yang begitu fantastis bagiku.


"Lima puluh juta" Ujar ku.

__ADS_1


"Aduh, harga ini merupakan harga di mana aku bisa merenovasi rumahku yang sudah peyot di kampung" Batin ku.


"Sudah ayo kita berbelanja lagi" Ajak Arga menggenggam tangan ku. Aku mengikuti langkah Arga kemanapun ia membawaku.


__ADS_2