Cinta Bersalut Noda

Cinta Bersalut Noda
Merasa bersalah


__ADS_3

"Santi" Teriak Dimas saat bertemu dengan Santi di sebuah cafe.


"Dimas? Ada apa?" Tanya Santi.


"Aku mau ngomong sama kamu. Tapi gak di sini. Kita. Ngomongnya di tempat lain" Ujar Dimas.


Santi dan Dimas pergi ke sebuah taman kota yang tidak jauh dari cafe itu.


"Ada? Apa yang mau kamu bicarakan sama aku?" Ujar Santi saat mereka sudah sampai di taman kota.


"Wow, santai dong San"


"Aku gak ada waktu banyak untuk ngobrol sama kamu. Masih banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan" Ujar Santi lagi.


"Wah sombong amat kamu San. Kemaren saja pas mau minta bantuan sama aku, kamu bersikap manis. Nah sekarang, malah belagu seperti ini" Ucap Dimas dengan senyuman sinis nya.


"Oke, to the point saja. Mau ngomong apa?" Ucap Santi lagi.


"Aku hanya yah,. kamu tahu sendiri kan perjanjian kita kemaren seperti apa. Dan waktu itu kamu belum sempat untuk memberikan aku plus nya. Jadi yah aku mau meminta nya sekarang" Ujar Dimas.


"Plus? Uang maksud mu?"


"Iya dong sayang. Apa lagi?"


"Eh, Dimas, bagaimana aku mau memberikan kamu plus jika kamu saja belum mengerjakan apa yang aku perintahkan. Aku meminta mu datang dengan cepat ke kamar itu. Kamu malah keluyuran entah kemana. Dan hasilnya malah Arga yang masuk ke kamar itu" Jelas Santi.


"Iya,. Aku tahu, tapi kan kamu berhasil membuat Rea menderita seperti apa yang kamu harapkan. Dan aku perhatikan kamu sekarang sudah mendapatkan apa yang kamu ingin kan. Yaitu Riko" Ujar Dimas setengah berbisik.


"Aku perhatian semakin hari, kalian semakin dekat bukan" Tambah nya lagi.


"Tapi kedekatan kami buka berkat kerja mu itu"


"Memang, tapi setidak nya sedikit banyak nya ada campur tangan ku"


"Campur tangan dari mana? Gak, aku gak mau bayar kamu" Ujar Santi.


"Oke tidak masalah jika kamu tidak mau membayar ku. Kamu akan tahu sendiri akibat nya. Tidak hanya Rea dan Riko, bahkan satu dunia tahu siapa penyebab dari kejadian yang menimpa Rea kemaren" Ancam Dimas.


"Kamu mengancam ku?"


"Tidak mengancam hanya mengingatkan saja. Tapi jika kamu merasa terancam, maka lakukan apa yang ku mau" Ujar Dimas


"Kurang ajar kamu Dim, berani-berani nya kamu mengancam ku seperti ini. Tapi aku bisa apa, jika aku tidak menuruti kemauan nya, aku bisa habis nanti nya" Batin Santi.


"Kok diam? Bagaimana? Apa kamu mau memenuhi keinginan ku atau mau aku bocorkan semua ini?" Ujar laki-laki yang bertubuh kurus itu lagi.


"Oke, oke aku akan turuti kemauan kamu. Aku akan memberikan mu uang. Aku akan transfer ke rekening kamu. Kamu kirim nomor rekening mu ke aku" Ujar Santi mengalah.


"Aku mau nya uang chas"


"Saat ini aku tidak memegang uang chas. Nanti akan ku transfer"


"Oke, kalau begitu, aku percaya sama kamu. Aku akan kirim nomor rekening ku ke kamu nanti. Tapi ingat jika kamu mencoba untuk berbohong kepadaku kamu akan tahu akibatnya nanti" Ancam Dimas menunjuk ke wajah Santi.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan mungkin membohongi mu. Karena kamu memegang kunci kejahatan ku" Ujar Santi meyakini.


"Bagus jika kamu tahu. Oke San, aku mau pergi dulu. Ingat janji mu. Akan ku tunggu sampai sore. Jika tidak ada masuk juga sepersen uang dari kamu, siap-siap saja kamu" Ujar Dimas meninggalkan Santi di taman itu.


"Ish... nyebelin banget sih kamu Dim" Ujar Santi kesal dengan sikap Dimas yang terus-terusan mengancam nya.


"Ya sudah deh, aku relain aja uang ku ludes. Asalkan Riko tidak membenci ku. Dan aku masih tetap dekat dengan Riko seperti ini" Ujar Santi meninggalkan taman itu.


***


Di negara Paris...


"Rea, kamu tetap di sini ya. Jangan lupa kunci kamar mu. Jangan keluar kecuali bersama ku. Kamu tidak tahu negara ini. Apa lagi kamu tidak bisa berbahasa inggris. Bisa-bisa kamu akan di jual nanti nya" Ujar Arga kepada ku saat ia telah mengantarkan ku ke kamar nya.


"Tapi kan Ga, aku pengen lo Jalan-jalan di negara ini masa kamu hanya menyuruhku untuk berdiam diri di kamar saja sih" Protes ku.


"Iya, nanti kita akan jalan-jalan menikmati pemandangan kota ini ya. Tapi untuk saat ini, kamu tetap lah di kamar sampai aku kembali. Ingat kunci pintu nya" Jelas Arga lagi.


Aku mengangguk mengerti.


***


"Sayang, kamu ngapain ke sini?" Ujar Sandra melihat Arga datang ke restoran dimana ia bertemu dengan beberapa klien nya di sana.


"Ya untuk menemani kamu kerja dong sayang" Jawab Arga.


"Beneran? Tapi kamu nanti akan bosan" Ujar Sandra.


"Gak kok, aku gak akan bosan bila bertemu dengan mu"


"Bisa aja gombal nya. Ya sudah, aku kerja dulu setelah itu kita akan jalan-jalan" Ujar Sandra


"Oke aku duduk di sini menunggu kamu ya" Jawab Arga duduk di salah satu meja yang tidak jauh dari tempat duduk nya Sandra dan para klien nya.


***


"Terima kasih ya sayang kamu sudah menemani aku kerja tadi" Ucap Sandra.


"Iya sama-sama. Apa sih yang gak untuk kekasih hati ku" Ujar Arga mencolek dagu wanitanya.

__ADS_1


Sandra tersenyum senang mendengar nya.


Kring....


Ponsel Arga berdering. Aku mencoba untuk menghubungi nya karena sudah pukul sembilan malam dia belum kembali juga. Sejujurnya perut ku sudah sangat kelaparan karena menunggu nya.


Arga melihat dari siapa yang menghubungi nya.


Namun, bukan nya di angkat malah di tolak telfon dari ku.


"Ya ampun Arga kamu kemana sih? Aku kelaparan" Ujar ku.


Yah begini lah nasib ku di negara orang. Tidak tahu berbahasa inggris, tidak mempunyai uang pegangan bermata uang franc. Meski pun aku mempunyai pegangan uang nya, aku tidak tahu harus kemana untuk mencari makan. Lagi pun aku tidak paham mereka ngomong apa nanti nya. Yang aku paham hanya yes or no saja.


Tak mudah berputus asa. Aku kembali menghubungi Arga. Namum masih juga di tolak nya.


"Aduh, jika begini aku akan mati kelaparan" Batin ku memegang perut yang sedang keroncongan. Aku berbaring di atas kasur ku. Hingga akhirnya aku terlelap dalam kelaparan.


"Siapa sih Ga, dari tadi nelfon terus? Istri mu?" Tebak Sandra yang terdengar seperti orang sedang cemburu.


"Iya" Jawab Arga singkat.


"Kamu juga sih, ngapain juga kamu datang ke sini bawain dia. Tinggalin aja dia di rumah bisa kan?"


"Harus bagaimana lagi, jika aku pergi sendiri tanpa membawa nya pasti orang tua ku gak akan mengizinkan ku"


"Karena orang tua, atau karena mula suka sama dia?"


"Kamu ngomong apaan sih, aku gak pernah suka sama dia. Jangan berbicara yang aneh-aneh begitu dong" Bela Arga.


"Siapa tahu kan hati seseorang? Iya sekarang karena kasiha dan terpaksa. Tapi lama-lama pasti timbul rasa cinta" Sindir Sandra lagi.


"Gak mungkin lah San aku bisa cinta sama dia. Cinta ku hanya untuk diri mu saja" Ucap Arga.


"Tapi bukti nya kamu tidak bisa melepaskan dia kan?"


"Aku akan melepaskan dia jika sudah masa nya tiba"


"Aku gak percaya sama kamu" Sandra semakin cemburu.


"Oke, jika begitu kita menikah bulan depan. Kamu pulang kan bulan depan ke indonesia, jadi kita akan menikah ketika kamu sudah pulang nanti"


Sandra terdiam mendengar Arga secara mendadak mengajak nya menikah.


"Jangan bercanda deh Ga" Ucap Sandra tidak percaya.


"Aku gak bercanda aku mau kita menikah. Aku sangat mencintai kamu dan tidak mau kehilangan kamu" Ucap Arga menggenggam erat kedua tangan kekasih hati nya.


"Tapi bagaimana dengan istri mu? Aku gak mau di madu dan aku tahu pasti Rea juga tidak mau seperti itu" Ucap Sandra.


"Orang tua mu bagaimana? Dan bagaimana juga dengan orang tua ku, mereka pasti tidak setuju aku menikah dengan mu karena kamu suami orang" Ujar Sandra merasa keberatan.


"San, tidak banyak yang tahu tentang pernikahan aku dan Rea. Yang tahu hanya keluarga terdekat saja. Jadi kamu jangan mencemaskan itu, kita sembunyikan tentang Rea di hadapan semua orang" Jelas Arga.


"Orang tua mu bagaimana? Mereka pasti akan menentang nya bukan"


"Aku akan mencoba untuk memujuk mereka. Dan aku juga mau Rea membantu ku untuk mengatakan semua rencana kita kepada mereka" Jelas Arga lagi.


"Jadi bagaimana? Apa kamu mau menikah dengan ku?" Tanya Arga.


Sandra tampak berpikir.


"Aku gak tahu harus memberi jawaban apa. Yang jelas beri aku sedikit waktu untuk berpikir" Ujar Sandra merasa keberatan.


***


"Rea, Rea" Teriak Arga mengetuk kamar ku.


Tidak ada sahutan atau pun jawaban dari dalam.


Arga mencoba menghubungi ku. Namun, ponsel ku sama sekali tidak aktif.


Arga meras cemas. Lalu, ia pergi menemui resepsionis yang ada di lantai bawah untuk meminta bantuan membuka kamarku yang terkunci.


"Thank you for your help" Ujar Arga kepada pelayan hotel yang telah membantu nya membuka kan pintu kamar ku.


"You're welcome" Jawab pelayan itu.


Arga masuk ke dalam kamar ku.


"Dasar kebo. Malah enakan tidur tanpa merasa bersalah sama sekali karena telah membuat ku cemas seperti ini" Ucap Arga kepada dirinya sendiri.


"Eh Rea, Rea" Ujar nya sedikit berteriak.


Aku terbangun dari tidur ku.


"Arga, Arga. Untung kamu datang. Aku lapar banget dari tadi aku menghubungi mu tapi kamu terus saja menolak panggilan ku" Ujar ku.


Arga melirik arloji nya.


"Ya ampun sudah jam sepuluh malam. Pantesan saja dia kelaparan" Batin Arga merasa bersalah.


"Kenapa kamu tidak mencari makanan sendiri saja? Lagian kamu juga bisa kok memesan makanan di hotel ini tinggal telfon saja"

__ADS_1


"Arga, aku gak bisa berbahasa inggris. Aku juga tidak memegang uang sepersen pun bagaimana bisa aku beli makan di luar. Dan jika kamu meminta ku memesan makanan melalui telfon, aku gak tau mau telfon ke mana. Aku di sini hanya kenal kamu dan hanya tahu nomor mu" Ujar ku dengan wajah yang sedih.


Arga semakin merasa bersalah atas perbuatan nya kepada ku. Seketika hati nya tersentuh dengan ucapan ku barusan.


"Maaf kan aku Rea, jika saja aku tidak mengabaikan mu, pasti kamu tidak tersiksa seperti ini" Batin nya menatap ku dengan iba.


"Ga, ayo kita makan. Aku sudah kelaparan ini" Ujar ku lagi merengek.


"Ya sudah, ayo kita keluar sekarang" Ucap nya.


***


"Kamu gak makan Ga?" Tanya ku melahap makanan yang ku pesan tadi ketika sudah sampai di sebuah restoran tak jauh dari hotel kami.


"Gak, tadi aku sudah makan kok" Ucap nya. Saat aku melahap makanan ku seperti orang rakus nya.


"Pelan-pelan makan nya" Ucap nya dengan lembut.


"Aku lapar banget Ga, gak bisa aku pelan-pelan makan nya. Selera makan ku lagi naik-naik nya" Ucap ku dengan mulut di penuhi makanan.


"Ga, nanti setelah selesai dari sini, kita berbelanja yuk beli makanan ringan. Entah itu roti, mie instan, atau apa kok gitu" Ucap ku.


"Kenapa?"


"Nanti jika aku di tinggal lagi sama kamu, terus kamu juga susah di hubungin, jadi aku gak kelaparan kayak gini" Ujar ku dengan mata yang berkedip-kedip merayu.


Arga tersenyum melihat peringai polos ku seperti anak kecil itu.


"Malah senyum seperti itu. Bukan nya kasih kepastian malah senyum-senyum begitu" Ujar ku cemberut memanjang kan mulut ku.


"Iya, nanti kita belanja ya. Terserah kamu mau belanja apa saja di sini" Ujar nya bertutur kata lembut.


***


"Hmm... Aku mau beli apa ya?" Ujar ku berpikir saat kami sampai di salah satu minimarket.


"Tadi katanya mau beli mie instan, roti, buah-buahan terserah kamu" Ujar Arga.


"Oh iya, tapi lupa aku lantaran banyak makanan di sini" Ujar ku sambil tersenyum lebar.


"Arga, dimana tempat buah-buahan nya? Ayo kita cari buah-buahan dulu" Ucap ku berlagak sok tahu tempat buah-buahan itu berada.


"Ushh.... Disana tempat nya" Ujar Arga menunjuk ke arah sebalik nya.


Aku nyengir seperti kuda nil mengetahui aku salah jalan. Rasa nya malu juga berlagak sok tahu begitu.


"Ini, wah ada biskuit cokelat. Hmm, seperti nya aku perlukan ini deh untuk ngemil di malam hari sambil nonton film. Lagian aku mau merasakan juga gimana rasa nya biskuit negara ini" Ujar ku lagi mengambil beberapa bungkus biskuit di sana.


"Arga, kita masih lama di sini?"


"Kenapa?"


"Jika masih lama, tidak masalah kan jika aku mengambil stok persediaan nya banyak?"


"Sekitar dua atau tiga hari lagi kita di sini" Jawab Arga.


"Oke, jika begitu, aku akan mengambil persediaan makanan seperlunya saja"


"Seperti semut saja sih pakai acara persediaan makan segala"


"Lo, harus itu. Dari pada nanti aku kelaparan di negara orang gimana? Kamu susah banget sih di hubungin" Protes ku.


"Iya, iya aku minta maaf ya" Arga mengalah.


"Oh ya Ga, kapan kita pergi jalan-jalan ke Menara Eiffel? Masa sudah sampai di sini kita gak pergi ke sana sih"


"Iya, nanti jika ada waktu nya pasti kita ke sana" Jawab Arga.


"Bener ya Ga?"


Arga mengangguk.


***


Ku lirik arloji di tangan ku.


"Ya ampun sudah jam dua subuh? Perasaan baru jam delapan malam. Baru juga keluar" Ucap ku ketika kami baru masuk lobi hotel.


"Ya iya lah, kamu saja bangun nya jam sepuluh malam" Ujar Arga.


"Oh iya" Ujar ku menggaruk-garuk kepala ku yang tidak gatal.


"Ya sudah masuk ke kamar dan istirahat. Jangan lupa kunci pintu kamar nya" Ujar Arga saat kami sudah sampai di depan kamar kami masing-masing.


"Oke" Ucap ku masuk ke kamar ku.


***


"Rea" Ucap Arga tersenyum mengingat tingkah laku ku yamg polos dan seperti anak kecil tadi ketika sedang merengek.


"Astaga" Ucap Arga sadar atas lamunan nya. Ia memegang jantung nya yang mulai berdegup cepat.


"Kenapa jantung ku ini? Perasaan seperti apa ini? Kenapa aku bisa membayangkan nya seperti ini? Ada apa dengan hati ini?" Batin Arga mulai merasa gelisah.

__ADS_1


"Tidak mungkin aku telah jatuh cinta kepadanya? Aku hanya mencintai Sandra. Tidak ada wanita lain yang bisa membuat ku terpikat kecuali Sandra" Ujar Arga meyakinkan dirinya.


__ADS_2