Cinta Bersalut Noda

Cinta Bersalut Noda
Saling bertatap


__ADS_3

Arga semakin erat memeluk ku.


"Arga, lepaskan aku" Ucap ku berontak untuk di lepaskan.


"Hmm" Jawab Arga semakin mempererat pelukan nya.


"Arga lepaskan" Ulang ku lagi.


Namun, Arga tetap saja memeluk ku. Hingga ku putuskan untuk mencubit pinggang Arga agar dia sadar atas apa yang ia lakukan kepadaku.


"Aduh" Arga meringis kesakitan.


Arga terbangun dari tidur nya. Lelaki bertubuh kekar itu menggosok-gosok pinggang nya yang baru saja ku cubit tadi.


"Kamu ini apa-apaan sih. Orang sedang enakan tidur masak di cubit begitu" Protes Arga.


"Kamu itu yang apa-apaan memeluk ku seenak nya. Dengan erat pulak sampai aku tidak bisa bernapas" Ujar ku.


"Jadi yang aku peluk itu kamu? Bukan bantal guling?" Ujar Arga.


"Bantal guling dengan orang beda jauh rasanya. Gak bisa apa bedain" Protes ku kesal.


"Emang apa beda nya?"


"Tu coba kamu peluk bantal guling mu. Pasti empuk, kalau memeluk orang pasti akan terasa keras" Ulang ku.


"Keras? Keras seperti batu?"


Aku berdecak kesal melihat sikap Arga yang bawel.


"Cobain aja" Ucap ku merasa lelah bertengkar


"Sini aku cobain, sini kamu aku ulangin" Ujar nya.


"Enak aja, mencari kesempatan dalam kesempitan" Ucap ku berlalu meninggalkan Arga.


"Itu teh mu, di minum selagi masih bangat" Ujar ku lagi kemudian ku tutup pintu kamarnya Arga.


Arga tersenyum melihat peringai ku.


"Ya ampun, kenapa aku malah rindu bertengkar dengan nya?" Batin Arga.


Kring....


Ponsel Arga berdering.


"Hallo" Ujar Arga.


"Sayang, sedang ngapain? Sudah makan?" Tanya Sandra.


"Sudah.. Kamu sendiri bagaimana"


"Sudah juga sayang"


"Aku kangen banget lo sama kamu baru juga tadi siang kita berpisah aku sudah terlalu kangen banget sama kamu" Ujar Sandra.


"Jika kamu kangen sama aku, kenapa kamu nggak pulang ke sini bersamaku. Bukankah alasanmu hanya mengambil dokumen-dokumen di rumah papa setelah itu kamu pulang. Tapi kenapa kamu malah menginap di sana?"


"Ya gimana dong sayang, rumah papa dan bandara itu berdekatan aku besok pagi-pagi sekali harus sudah berada di bandara untuk berangkat ke Bandung. Dan aku nggak mau terlambat nantinya. Jika aku tidur di rumah kamu aku takutnya akan terjadi macet dan aku akan terlambat ketinggalan pesawat. Jadi ya aku putuskan aja untuk tidur di rumah Papa nggak apa-apa kan?" Tanya Sandra.


Arga menghembus napas berat nya. Ia mengusap-ngusap wajah nya tidak tahu harus berkata apa lagi kepada istri kedua nya.


"Sayang, kenapa diam? Kamu marah? Bukan nya kamu sendiri yang setuju dan berjanji akan mengizinkan aku untuk mengejar karir ku" Ujar Sandra.


Lagi-lagi Arga menghembus napas berat nya.


"Iya aku nggak marah kok sama kamu. Ya sudah kamu besok hati-hati perginya dan jangan lupa kabarin aku jika sudah tiba di sana"


"Iya sayang pasti kok aku akan kabarin kamu. Kamu tenang aja ya"


"Pokok nya ketika pekerjaan ku sudah kelar semua nya, aku akan pulang dan menemui kamu. Aku akan usaha kan untuk menyelesaikan pekerjaan ku secepatnya" Tambah nya lagi.


"Oke, aku akan menunggu mu" Ujar Arga terdengar seperti kecewa dengan keputusan Sandra.


"Oke, selamat malam sayang" Ujar Sandra dengan lembut.


"Iya selamat malam" Jawab Arga dan menutup ponsel nya.


***


"Musang" Tegur Arga membuat aku tersedak kaget.


"Uhuk.... Uhuk... " Aku tersedak.


"Eh, maaf, maaf" Ujar nya bergegas memberikan ku air untuk ku minum.


"Arga, kamu ngapain ke sini. Ngagetin aja" Ujar ku protes.


"Lah, ini rumah ku terserah aku mau ngapain" Ujar nya berlagak.


Aku berdecak kesal dengan sikap Arga.


"Dasar musang, malam-malam begini baru keluar mencari makan" Ujar nya lagi.


Aku hanya diam. malas meladeni ocehan Arga. Aku terus melanjutkan makan malam ku.


Arga duduk di samping ku.


"Seperti nya enak" Ujar nya.


Aku menatap nya dengan kesal.


"Ini orang sehari saja tidak membuat ku kesal gak bisa ya" Batin ku.


"Melihat mu makan selahap ini jadi lapar aku nya" Ujar Arga.


Aku hanya diam tidak merespon apa yang dia katakan. Aku masih sibuk dengan makan malam ku.


"Eh, kamu dengar gak apa yang aku katakan?" Tanya Arga.


Aku menatap. Arga dengan kesal.


"Apa?" Ucap ku.


"Aku lapar tolong buatin aku nasi goreng seperti kemaren ya" Ujar nya memperlihatkan senyuman nya yang khas membuat hati ku berdebar cepat.


"Iya, tapi nanti setelah aku selesai makan" Ujar ku dengan ketus.


"Oke deh, aku tungguin kamu selesai makan" Ujar nya memanggul sebelah tangannya di pipi.


Arga menatap Setiap gerak-gerik ku hingga aku menjadi risih dan salah tingkah saat ia terus-terusan menatapku seperti itu.


"Tidak bisakah kamu berhenti menatapku seperti itu?" Tanya ku.

__ADS_1


"Kenapa grogi ya ditatap sama laki-laki tampan seperti aku?Harusnya kamu itu merasa bangga dan beruntung mempunyai suami yang tampan seperti aku" Ucapnya dengan PD.


Aku memutarkan mata ku.


"Iya kamu emang tampan, mapan. Tapi untuk apa jika kamu tidak bisa menganggap aku sebagai istrimu. Jadi bagaimana bisa aku bangga mempunyai kamu sebagai suamiku" Batin ku.


"Malah bengong" Ujar nya.


"Ya sebentar aku harus makan dengan teratur. Agar semua makanan yang masuk di tubuh ku bisa menjadi energi" Ujar ku.


"Oke, oke tapi cepat ya.. Aku lapar ini. Aku rindu dengan nasi goreng mu. Oh ya jangan lupa di bumbui dengan cinta ya" Ujar Arga lagi.


***


"Wah, memang masakan kamu enak sekali. Aku tidak menyangka gadis musang seperti kamu pinter masak nya" Ujar nya lagi.


"Sudah di masakin, masih juga memanggilku dengan kata musang" Batin ku. Aku bangkit dari tempat duduk ku.


"Eits, mau kemana?" Tanya Arga.


"Ke kamar mau tidur" Ujar ku.


"Dengan aku di tinggal sendirian seperti ini?" Tanya nya.


"Terus?


"Temenin aku hingga ku selesai makan" Perintah nya.


Aku menarik napas berat ku dan kembali duduk di bangku ku.


"Nah, gitu dong. Kamu itu harus senantiasa menemani aku makan. Emang kamu gak kasihan apa melihat ku makan sendirian" Ujar nya.


"Hmm" Jawab ku.


***


"Rea" Panggil Arga saat aku mau masuk ke kamar ku. Dan dia pun mau masuk ke kamar nya.


Aku menatap Arga menantikan apa yang mau ia katakan kepadaku.


"Terima kasih ya untuk malam ini" Ujar nya.


Aku tersenyum dan mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar ku.


***


"Rea" Panggil Rina saat pagi itu aku lewat di meja makan hendak pergi ke dapur.


"Iya ma" Jawab ku.


"Arga belum bangun?" Tanya Rina.


"Ha? Belum mungkin" Jawab ku seadanya.


"Ini sudah jam berapa, lebih baik kamu bangunin Arga. Nanti terlambat ke kantor nya" Ujar Rina.


"Bangunin Arga? Saya?" Ujar ku keberatan.


"Iya kamu, emang nya siapa lagi? Gak mungkin mama atau papa kan? Kamu kan istri nya" Ujar Rina.


"Tapi gak apa-apa aku bangunin dia?"


Rina dan Rudi tersenyum mendengar aku bertanya seperti itu.


"Sudah pergi sana bangunin Arga" Ujar nya lagi.


Dengan berat hati aku pun pergi untuk membangunkan Arga.


***


Dapat kulihat Arga tidur dengan sangat lelap di kasurnya.


Sebenar nya aku tidak mau membangunkan Arga takut kejadian kemaren terulang lagi. Yah momen langka itu memang sangat mendebar kan. Dan aku tidak mau hal itu terulang lagi. Jika terulang lagi, bisa-bisa aku pingsan karena berada di pelukan Arga.


"Bagaimana caranya aku membangunkan Arga?" Batin ku berpikir untuk membangunkan Arga.


Mau tak mau karena tidak ada jalan lain, aku terpaksa membangunkan Arga seperti kemaren malam.


"Arga, Ga, bangun" Ujar ku. Namun Arga tidak juga merespon.


"Arga bangun, sudah jam berapa ini. Kamu bisa telat ke kantor nya" Ujar ku sedikit berteriak.


"Arga... Bangun" Ujar ku lagi.


"Ha? Apa sih berisik banget" Ujar nya menggosok-gosok mata nya yang masih terasa berat.


"Habis ngapain semalaman? Tidur nya pulas banget" Ujar ku.


"Mau tahu aja" Jawab nya.


"Udah, pergi mandi sana sudah jam berapa ini kamu bisa telat nanti" Ujar ku lagi.


"Ha? Jam berapa sekarang?"


"Setengah delapan"


"Apa, aku sudah terlambat" Ujar nya bergegas bangkit dari tidur nya.


"Rea, tolong tolong aku baju ku belum di setrika. Tolong kamu setrika kan ya" Perintah nya.


Tanpa di suruh dua kali aku pun menyambar baju yang ada di lemari nya Arga dan membawanya ke ruang setrika. Untuk menyetrika baju nya Arga.


"Bik, bik Ina" Ujar ku sedikit berteriak.


"Iya non" Jawab bik Ina keluar dari arah dapur.


"Bik aku mau pinjam setrikaan bik. Mana dia?" Tanya ku.


"Oh itu non di meja" Ujar bik Ina menunjuk meja yang terdapat setrika yang ku cari di atas nya yang ada di dalam ruangan tempat setrika baju.


"Mau ngapain non?" Tanya nya lagi.


"Ini mau menyetrika baju nya Arga" Ujar jawab ku.


"Mau saya bantu non"


"Gak bik. Terima kasih ya. Biar saya saja yang mengerjakan ini" Ujar ku.


"Kalau seperti itu bik Ina ke dapur dulu ya"


"Iya bik" Ujar ku terus menyetrika baju nya Arga.


***

__ADS_1


"Arga ini baju nya" Ujar ku memberikan baju kemeja berwarna biru kepada nya.


"Tolong, Tolong bantu aku memakai nya" Pinta nya lagi.


Aku pun membantu Arga untuk memakai baju kemeja nya itu. Kemudian aku memasang kancing baju nya.


Tanpa sengaja mata kami kembali beradu. Lama kami saling pandang. Tak terasa getaran-getaran halus mulai muncul di hati kami. Ada perasaan aneh yang sulit untuk di artikan. Arga pun tidak mengerti dengan perasaan nya saat ini.


"Astagfirullah" Ucap ku sadar melanjutkan pekerjaan ku memasang kancing nya Arga.


"Sudah selesai" Ujar ku langsung beranjak keluar dari kamar nya Arga


Sungguh hati ini tidak bisa di ajak kompromi.


"Bisa mati aku jika terus-terusan bersama Arga seperti ini" Batin ku berjalan setengah berlari menuju kamar ku.


"Apa Arga mengetahui perasaan ku ya? Apa dia bisa membaca isi hati ku dari tatapan mata ku" Batin ku.


Aku duduk di kasur ku.


"Aduh Rea, jangan kebawa perasaan seperti ini dong. Ingat Arga hanya mencintai Sandra. Siapa lah aku yang tiba-tiba datang di dalam hidup mereka" Batin ku lagi.


"Musang" Tegur Arga yang tiba-tiba berdiri di pintu kamar ku. Aku pun tidak tahu entah berapa lama ia berdiri di pintu kamar ku.


Aku menoleh.


"Biasakan untuk mengetuk pintu jika masuk. ke kamar orang" Protes ku.


"Lah, ngapain juga kau harus mengetuk pintu. Kamu kan istri ku. Jadi aku mempunyai hak atas kamu" Ujar Arga.


Aku mengerut kening ku.


"Ini orang ngapain juga berbicara seperti itu. Apa dia lupa bahwa aku hanya istri di atas kertas nya. Dan tidak lama lagi juga dia pasti akan meninggalkan aku" Batin ku.


"Apa sekarang Arga sudah mulai bisa menerima ku" Batin ku.


"Ya ampun Rea, stop berharap hang bukan-bukan" Aku menggeleng-gelengkan kepala ku. Agar sadar bahwa jangan terlalu berharap kepada Arga yang nanti nya akan membuat ku sakit sendiri.


"Ngapain menggeleng-geleng seperti itu?" Tanya nya.


"Gak" Jawab ku singkat.


Arga menghembus napas berat nya.


"Ayo turun ke bawah kita sarapan" Ajak nya.


"Nanti saja. Aku belum lapar" Ujar ku mencoba menghindar dari Arga.


"Terus kapan lapar nya? Tunggu malam hari? Jadi musang mencari makanan?" Tanya nya.


Kembali ku tunjukan tatapan kesal kepada Arga.


"Mata mu itu ku colok baru tahu" Ujar nya.


"Ayo turun, kita sarapan sama-sama" Ujar nya lagi.


"Kamu duluan aja nanti aku akan menyusul" Ujar ku lagi.


"Eh kamu tahu kan kalau aku ini adalah suami kamu. Jadi apapun perintahku kamu harus menurutinya. Mau kamu jadi istri durhaka?" Ujar Arga terdengar mengancam.


"Tapi aku belum lapar, nanti aja jika sudah lapar aku pasti akan turun ke bawah" Ujar ku lagi berusaha menolak.


"Kamu ini di bilangin malah ngeyel ya. Eh, sekarang ini papa sama mama pasti sudah selesai sarapan nya. Jadi aku pasti nanti nya sarapan sendirian" Ujar Arga.


"Mau ikut turun, atau aku akan meminta bik Ina untuk tidak menyisakan sarapan untuk mu" Ancam nya lagi.


"Ayo ikut sarapan bersama" Ucap nya lagi.


Aku masih duduk di tempat tidur ku tanpa bergerak sedikit pun. Sejujurnya untuk saat ini aku mau menghindar dari Arga agar aku tidak terlalu berharap lebih kepadanya.


"Malah bengong, kamu ini tuli apa budek sih?" Ujar Arga yang mulai kesal karena aku tidak menanggapi perintah nya.


Dengan hati yang kesal karena aku tidak mengikuti kemauan nya, ia pun menarik ku agar ikut bersama ku turun ke bawa untuk menemani nya sarapan.


***


"Duduk" Perintah nya setelah sampai di meja makan.


Aku masih berdiri mematung.


"Malah bengong, Ayo duduk" Arga memaksa ku untuk duduk.


Aku pun duduk di kursi yang terdapat di samping Arga.


"Ini kamu mau pakai selai apa rotinya cokelat, srikaya, atau strawberry" Ujar nya mengambil sepotong roti yang tersedia di atas meja.


"Cokelat" Ujar ku singkat.


"Oke" Arga mengoleskan Selai cokelat di atas roti yang ada di tangan nya.


"Ini" Ujar nya setelah selesai mengoleskan roti itu dan memberikan nya pada ku.


Aku mengambil roti yang di berikan oleh Arga.


"Aku belum lapar. Nanti aku bisa makan sendiri jika sudah lapar. Aku duduk di sini saja teman kan kamu sarapan" Ujar ku lagi.


"Makan" Perintah Arga dengan mata yang melotot.


"Kenapa sih memaksa sekali?" Protes ku.


"Sebab aku tidak mau kamu mati kelaparan. Nanti apa kata kedua orang tua mu jika kamu di sini kelaparan? Pasti kami sekeluarga yang akan di salah kan" Ujar nya.


"Sudah, ayo makan" Ujar nya lagi.


"Mau aku suapin?" Tambah nya lagi melihat aku tidak juga memakan roti yang ia berikan tadi.


"Gak perlu aku bisa makan sendiri" Ujar ku segera menyodorkan sepotong roti ke dalam mulut ku.


"Gitu dong, makan saja susah" Ujar nya lagi


***


.


Aku tersenyum sendiri mengingat peristiwa tadi pagi bersama Arga.


Hati ini terasa berbunga-bunga ketika mengingat semua momen itu.


Roti yang Arga berikan tadi ada sebagian memang sengaja tidak ku makan.


Yah aku ingin menyimpan nya ke dalam plastik transparan dan ku simpan dengan rapi di meja ku sebagai kenang-kenangan.


Jarang-jarang aku mendapatkan Arga melayani ku seperti tadi. Oleh karena itu aku menyimpan sebagian roti itu.

__ADS_1


__ADS_2