
Hati Riko masih terasa perih dan sakit saat melihat aku dan Arga tampak bahagia saat kami tampa sengaja bertemu di kampung kala itu.
Meski di bibir berkata ingin membuka hati untuk Santi, namun ia tidak bisa membohongi perasaan nya di mana hati nya masih mengharapkan aku sebagai pendamping hidup nya.
Terlebih, ia teringat waktu Arga mencari ku. Ia merasa ada yang tidak beres saat ini kepada ku. Hingga hati nya merasa gelisah.
"Hallo" Ujar Riko mengangkat ponsel nya saat Santi menghubungi nya.
"Hallo sayang, sibuk?" Tanya Santi basa basi.
"Gak juga"
"Sedang ngapain sih?"
"Duduk santai saja di taman belakang rumah" Jawab Riko seadanya.
"Kamu sudah tiba di Jakarta?" Tanya Riko. Saat ini Santi pergi ke Jakarta untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus ia tangani bersama klien nya di sana.
"Sudah" Jawab Santi.
"Syukurlah"
Mendengar jawaban itu, Santi merasa heran. Entah mengapa ia merasa ada yang tidak beres dengan tunangan nya itu.
"Ko, kamu kenapa?"
"Aku kenapa bagaimana maksud kamu?"
"Seperti ada yang aneh dengan mu. Kamu lagi mikirin apa sih sayang?"
Riko terdiam mencoba berpikir untuk mencari alasan apa yang harus ia sampaikan kepada Riko. Tidak mungkin ia jujur bahwa hati nya gelisah karena memikirkan ku. Jelas-jelas Santi akan mengamuk dan marah besar kepada nya.
Meski pun ia tidak mencintai Santi, ia juga harus bisa menjaga perasaan Santi kepada nya. Di mana Santi adalah tunangan nya saat ini. Dan ibu nya Riko sangat mengharapkan bahwa Santi lah yang akan menjadi pendamping hidup nya.
"Aku, aku hanya merasa deg degan di dada mengingat hari pernikahan kita sudah semakin dekat" Jawab Riko berbohong.
Santi tersenyum senang mendengar alasan dari Riko itu.
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Ya karena aku takut nanti salah dalam mengucapkan Ijab kabul kita. Grogi ku kambuh saat di hadapan orang ramai. Makanya aku berlatih dan terus berlatih saat ini. Sekarang saja aku berlatih agar lancar nanti nya saat akad nikah" Riko berbohong.
Santi semakin tersenyum lebar mendengar hal itu.
"Berarti Riko memang sudah melupakan Rea. Dan dia telah menepati janji nya untuk membuka hati nya untuk ku" Batin nya.
"Hal itu terbukti ketika saat Riko terus berlatih untuk akad nikah nanti. Bukan kah ia antusias dengan pernikahan ini?" Batin nya lagi.
"Semangat ya sayang, aku dia kan semoga di acara pernikahan kita nanti lancar tidak ada hambatan apa pun" Doa Santi dengan hati yang berbunga-bunga.
"Ia, Terima kasih atas doa dan semangat nya ya"
Santi tersenyum senang mendengar ucapan Riko. Sedangkan Riko masih memancarkan ekspresi wajah datar nya.
"Riko, ada yang mau aku sampaikan kepada mu"
"Apa?"
"Tunangan mu bilang, bahwa dia sangat rindu kepada mu. Apa kamu rindu juga sama dia?" Ujar Santi penuh harapan.
Riko diam untuk beberapa saat. Ia tidak bisa membohongi hati nya. Ia sama sekali tidak rindu dengan tunangan nya itu main kan ia merindui wanita lain yang kini telah menjadi istri orang.
"Hello, Riko..." Panggil Santi saat tidak ada jawaban dari seberang.
"Eh iya" Riko sadar dari lamunan nya.
__ADS_1
"Kamu ngapain sih Ko?" Tanya Santi mulai kesal dengan sikap Riko yang tidak peka itu.
"Eh maaf, maaf tadi ada serangga yang menghalangi pandangan ku" Ujar Riko kembali berbohong.
"Tadi kamu ngomong apa?" Tanya nya lagi.
Santi menarik napas nya dalam-dalam lalu di hembuskan nya kuat-kuat. Ia merasa sedikit kecewa kepada Riko. Tapi ia harus mengabaikan rasa itu demi mendapatkan lelaki yang ia harapkan selama ini.
"Tunangan mu bilang, dia sangat rindu dengan mu. Apa kamu tidak merindui nya?" Ulang Santi mencoba berbicara dengan tenang.
"Oh, aku juga rindu dengan tunangan ku itu. Tolong kamu sampaikan salam rinduku untuk nya" Ujar Riko mencoba untuk menggombali Santi agar tidak curiga kepada nya.
Santi mengukir senyuman di bibir nya. Hati nya kini berbunga-bunga mendengar gombalan sang laki-laki. Ia merasa semakin yakin bahwa Riko memang sudah mencintai nya. Rasa kesal yang tadi muncul, kini hilang seketika mendengar ungkapan gombalan dari Riko.
"Iya nanti akan aku sampaikan. Ya sudah, aku mau beres-beres barang ku dulu ya. Aku baru saja tiba di hotel dan belum sempat membereskan barang-barang ku. Saat tiba aku langsung menghubungi mu agar kamu tidak khawatir dengan ku" Ujar Santi.
"Oh, ya sudah. Kamu hati-hati di sana ya" Ujar Riko.
"Iya, Love you tunangan ku dan calon suami ku" Ujar Santi penuh dengan rasa cinta.
Deg...
Riki terdiam, ia bingung harus mengatakan apa. Hati nya sangat berat mengatakan love you too. Tapi jika dia tidak melakukan hal itu, bisa-bisa Santi akan curiga kepada nya dan ibu nya pasti akan kecewa.
Riko menarik napasnya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.
"Love you too" Ujar nya dengan terpaksa. Riko menutup ponsel nya.
"Kamu kenapa?" Tegur Seseorang mengejutkan lamunan Riko.
"Eh, paman... " Ujar Riko melihat paman nya datang. Ia dia adalah abang dari ibu nya. Ia sering datang ke rumah Riko semenjak ayah nya Riko meninggalkan mereka. Dia lah yang selalu memberikan motivasi kepada Maya agar semangat menjalani hidup demi Riko.
"Akhir-akhir ini paman perhatikan kamu sering melamun. Ada apa sebenarnya?" Tanya nya lagi.
"Jika ada masalah, coba ceritakan kepada paman. Siapa tahu paman bisa bantu"
"Gak ada apa-apa paman, hanya saja hati ini sedikit ragu" Ujar Riko.
"Nah, itu namanya ada masalah. Jadi apa yang membuat kamu merasa ragu seperti ini?"
"Paman, aku rasa aku belum siap untuk menikah"
"Kenapa? Apa yang membuat kamu seperti ini?"
"Aku juga bingung paman, aku tidak paham dengan perasaan ku. Hati ini terasa terbagi"
"Masalah perasaan ini, bukan hanya kamu saja yang mengahadapi nya. Semua calon pengantin pasti akan merasakan hal yang sama" Ujar paman tadi.
"Tidak mudah menghadapi tanggung jawab sebagai seorang suami. Besar cobaan yang akan di hadapi saat kemudian hari. Tapi paman yakin kamu bisa mengahadapi nya. Niat kamu mau mendirikan mesjid yang memiliki pahala yang besar namun mempunyai cobaan dan rintangan yang berat. Kamu harus yakin kamu bisa menghadapi cobaan itu agar kamu bisa mendapatkan pahala dari sang pencipta. Begitu pun dengan pernikahan. Semakin dekat hari nya, semakin banyak cobaan yang menghadap. Ibarat kata, darah manis calon pengantin lah" Ujar paman Riko memberikan nasehat.
"Aku rasa, aku memang perlu waktu untuk semua ini paman" Ujar Riko dengan wajah lelah nya.
"Riko, kamu jangan terlalu terbawa perasaan mu itu. Pernikahan kamu hanya menghitung beberapa minggu saja lagi. Kamu harus istiqomah dengan pernikahan kamu ini"
"Bagaimana aku mau istiqomah paman, sedangkan keputusan yang aku buat ini membuat hati ini merasa ragu. Aku belum yakin dengan keputusan ini paman"
"Begini nak, cobaan di setiap orang itu tidak lah sama. Setiap orang mempunyai cobaan yang berbeda-beda. Seperti paman dulu saat akan menikah dengan bibi mu, paman di pecat dari pekerjaan paman. Kamu bayangkan bagaimana pusing nya kepala paman saat itu memikirkan masa depan paman dan bibi mu nanti. Mau paman kasih makan apa anak orang. Tapi, paman yakin kepada Allah tuhan yang maha adil. Dengan kesabaran, paman dan bibi bisa mengahadapi semua ini dan lihat lah hasil nya. Kita hidup dengan bahagia sekarang" Jelas paman Riko tadi. Memberi contoh diri nya agar ponakan nya itu bisa yakin dengan keputusan nya ini.
"Kamu jangan terlalu pikirkan semua ini nak. Kamu harus yakin pasti semua ini akan baik-baik saja. Pasti kamu bisa menghadapi ini semua ya" Ujar paman Riko menepuk pundak ponakan nya untuk memberi semangat.
Riko tampak memikirkan apa yang di katakan paman nya itu.
***
Ketika masa luang ku, aku sekalu menghabiskan waktu untuk berjalan di pasir. Yah di bengkalis terdapat sebuah lapangan pasir. Terkadang aku sering duduk melamun di pinggir tumpukan batu yang ada di sana. Di mana tumpukan batu itu di buat sebagai pembatas antara lapangan pasir dan air laut agar pasir-pasir yang terdapat di sana tidak terbawa oleh ombak laut.
__ADS_1
Yah aku bekerja di sebuah cafe yang berada di sana. sudah ku katakan dari awal. Sehingga aku bisa menghabiskan waktu untuk melamun di sana saat masa luang ku ada. Entah lah melamun dengan memandang laut membuat hati ini terasa tenang. Sedikit banyak nya bisa menghilangkan kesuntukan di hati ku.
"Lagi memikirkan apa sih?" Tanya seseorang mengagetkan ku.
"Eh pak"
"Panggil Bayu saja"
"Eh ya pak, eh Bayu maksud nya" Ujar ku masih canggung.
"Boleh aku duduk di sini?" Ujar nya basa basi.
"Oh boleh, alangkah bagus nya jika ada teman ngobrol. Setidaknya pikirkan ku sedikit lebih tenang" Ujar ku bersikap ramah.
"Ternyata pilihan tempat mu untuk melamun enak juga ya" Ujar Bayu.
"Aku setuju, di sini memang tempat yang enak untuk merenungi nasib" Ujar ku sedikit tersenyum.
"Sebenar nya apa yang kamu pikirkan? Seperti nya masalah yang kamu hadapi sangat berat" Tanya Bayu setelah beberapa lama kami terdiam.
"Ha? Gak ada masalah kok" Bohong ku.
"Apa wajah ku ini terlihat sedang ada masalah?" Aku balik bertanya.
Bayu tersenyum mendengar pertanyaan ku.
"Setiap orang di dunia ini pasti ada masalah"
Aku tersenyum kecut dengan ucapan dari bos ku itu. Sejujurnya aku merasa tidak nyaman saat ia bertanya tentang ku. Bagi ku, ini adalah masalah ku dan juga suami ku. Masalah keluarga ku. Aku tidak mau ada orang lain ikut campur dalam hal ini. Bukan nya sok atau apa lah itu. Tidak pantas saja untuk ku menceritakan masalah dan aib keluarga ku kepada orang yang baru ku kenal. Sedangkan kepada ibu dan ayah ku saja aku tidak menceritakan hal itu. Apa lagi dengan orang lain.
Aku hanya ingin menjaga marwah ku sebagai seorang istri nya Arga. Aku takut jika aku terlalu dekat dan menceritakan masalah ku kepada orang, apa lagi laki-laki. Lambat laun akan membuat hati ini berubah. Dan rasa nyaman nanti nya mulai muncul di mana ketika rasa itu muncul akan mengakibatkan terjadinya perselingkuhan.
Banyak kejadian seperti itu. Masalah keluarga di ceritakan dengan orang lain sehingga rasa nyaman itu muncul dan pada akhirnya penghianatan terjadi di dalam rumah tangga mereka. Dan aku tidak mau hal itu terjadi. Selagi Arga masih berstatus sebagai suami ku dan aku adalah istri nya, aku akan berusaha menjaga marwah ku sebagai seorang istri untuk suami ku.
Aku tidak mau menghianati suami ku meski aku di gantung seperti ini. Bagaimana pun aku masih mencintai dan menyayangi suami ku itu.
"Maaf, bisa gak kita bicarakan masalah lain saja" Ujar ku merasa tidak nyaman.
"Bagaimana kita bicarakan tentang masalah ku saja" Ujar Bayu.
"Masalah apa ya?" Tanya ku.
"Beberapa hari ini aku mencoba untuk mencari mu. Namun karena ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ku tinggalkan jadi nya aku belum sempat ketemu dengan mu"
"Mencari ku? Kenapa ya?" Tanya ku lagi sedikit heran.
"Masalah pasha, sudah beberapa hari ini dia marah kepada ku lantaran aku menganggu kalian meeting kemaren. Dan kata nya aku telah membuat mu kembali sedih" Jelas nya lagi.
Aku tersenyum geli mendengar ocehan anak itu kepada papa nya.
"Dia lah racun, dia lah penawar, dia lah segala-galanya untuk ku" Tambah nya lagi.
"Mama pasha?" Tanya ku. Bayu menatap ku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.
"Maaf sebelum nya. Aku tidak bermaksud lancang. Hanya saja setiap kali aku bertanya tentang mama nya dia tidak menjawab" Ujar ku merasa tidak enak hati.
Bayu hanya diam tidak menjawab pertanyaan ku. Aku semakin merasa tidak enak hati dengan sikap nya itu. Yah aku takut bos ku itu tersinggung dengan pertanyaan ku. Mungkin dia tidak mau menceritakan tentang keluarganya sama seperti ku.
"Maaf jika pertanyaan ku tadi membuat mu tersinggung" Ujar ku lagi.
Bayu menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.
"Istri ku sudah dua tahun meninggal dunia. Dia meninggal karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, pasha menjadi murung, pendiam, tidak banyak berbicara. Hanya saja setelah bertemu dengan mu, dia kembali ceria. Dia menjadi pasha yang dulu yang sangat aku rindukan" Bayu menceritakan pengalaman pahit nya ketika kehilangan istri tercinta nya.
"Aku turut berduka atas hal itu. Dan aku minta maaf jika pertanyaan ku tadi membuat mu kembali merasa sedih. Aku mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi" Ujar ku. Yah aku memang telah kehilangan orang yang aku sayangi. Di mana saat ini aku kehilangan suami ku. Hanya saja beda nya dia masih hidup. Meski begitu aku tidak tahu keadaannya sekarang bagaimana.
__ADS_1
Apa kah sehat atau tidak? Apa kah ia bahagia bersama Sandra atau tidak. Yang jelas aku telah kehilangan suami ku. Orang yang aku cintai. Lelaki pertama yang menyentuh ku itu.