
Arga menatapku dengan tatapan yang sulit untuk ku artikan saat itu.
"Karena aku ingin memiliki mu. Aku tidak mau kehilangan mu. Aku terus-terusan bolak balik berada di rumah ini karena aku selau merindukan mu" Ujar Arga.
Deg....
Tentu saja hati ini merasa berdebar tak karuan atas ungkapan Arga barusan kepada ku. Mata ku membulat, mulut ku terbuka lebar seakan-akan tidak percaya dengan apa yang di katakan Arga barusan kepada ku.
"Apakah ini adalah ungkapan cinta nya kepada ku?" Batin ku bertanya-tanya.
"Aku juga tidak tahu sejak kapan perasaan ini. Tapi yang pasti semakin hari semakin aku merindui mu. Saat ini aku telah jatuh cinta kepada mu" Tambah nya lagi.
"Ya Allah, mimpi apa aku semalam? Tiba-tiba saja Arga mengungkap kan perasaan nya kepada ku" Batin ku lagi.
"Rea" Tegur nya menyadarkan ku.
"Ha" Jawab ku.
"Apa kamu mempunyai perasaan yang sama dengan ku?" Tanya Arga meminta kepastian kepada ku.
"Apa semua yang kamu ucapkan itu benar dan nyata?" Tanya ku. Yah tentu saja aku takut di prank oleh Arga.
"Iya benar. Aku berani bersumpah Rea. Perasaan di hati ini nyata ada nya" Ujar nya mantap.
"Bagaimana? Apa kamu mempunyai perasaan yang sama?" Tanya nya lagi.
"Sebenarnya.... Sebenarnya.... " Ujarku terbata-bata.
"Sebenarnya apa?" Tanya Arga tidak sabaran.
"Sebenarnya aku juga mencintai mu. Rasa ini sudah ada dari awal pernikahan kita" Ujar ku dengan jujur.
Arga tampak tersenyum senang karena perasaan cinta nya telah terbalas oleh ku.
"Tapi apa rasa ini salah?" Tanya ku lagi.
"Salah kenapa?" Tanya Arga heran.
"Salah karena aku mencintai mu" Ujat ku.
"Tidak ada yang salah dengan perasaan mu Rea, dari mana hukum yang mengatakan salah jika seorang istri mencintai suami nya. Yang salah itu jika mencintai suami orang lain" Jelas Arga lagi.
Aku maju beberapa langkah membelakangi Arga yang masih duduk di kasur ku.
"Salah Arga, bagaimana dengan Sandra?" Tanya ku.
"Sandra? Sudah lah Rea, jangan kamu memikirkan Sandra. Saat ini pikirkan lah hubungan kita. Hanya antara kamu dan aku" Ujar Arga.
Aku berbalik menatap. Arga yang dalam posisi duduk nya.
"Aku hanya merasa.... "
"Sudah lah Rea" Potong Arga.
"Jangan kamu pikirkan masalah aku dan Sandra, nanti urusan kami, biar aku yang urusin masalah kami. Sekarang ini pikirkan masalah kamu dan aku saja" Ujar nya lagi.
Arga memegang kedua bahu ku. Ia menatap ku dengan tatapan yang serius.
"Aku memang mencintai kamu Ya. Aku selalu memikirkan kamu. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menjadi seperti ini. Mungkin karena kamu selalu ada untuk ku, selalu menemaniku, dan selalu bersabar dengan sikap ku yang aku pun tahu terkadang itu menyakiti mu. Itu lah yang membuat hati ku luluh dengan mu. Apa yang ada pada diri mu, tidak ku dapatkan dari Sandra" Ujar Arga mantap.
__ADS_1
Kembali kata-katanya itu menyentuh hati ku. Aku terkesan, aku terpesona dengan rangkaian kata indah nya saat ini.
"Rea, boleh kah aku menyentuh mu?" Tanya nya lagi.
Aku kaget, yah benar kaget dengan apa yang dia minta dari ku.
Apa kisah itu akan terulang lagi? Jujur saja hati ini masih merasa trauma dengan apa yang terjadi waktu itu Secara aku di paksa bukan dengan suka rela.
Kata para ahli yang berpengalaman melakukan itu harus dengan penglumasan yang maksimal, minimal hingga basah saat itu. Nah, bagaimana bisa aku basah, sedangkan aku tidak terlalu menikmati rangkaian demi rangkaian permainan Arga saat itu karena aku setengah sadar dan tiba-tiba saja telah terjadi bola tembus ke gawang nya.
Aku hanya diam, momen itu kembali terbayang di dalam ingatan ku. Aku memang mencintai suami ku, tapi rasa trauma ini membuat aku takut untuk melakukan nya lagi.
"Rea, apa yang kamu pikirkan? Apa kah kamu tidak sudi aku menyentuh mu?" Tanya Arga kepada ku.
"Bukan, bukan begitu" Ujar ku mencoba mencari alasan yang tepat untuk mengungkap kan alasan ku sebenarnya tampa membuat Arga tersinggung.
Meski takut menghantui perasaan ku, tapi aku sadar jika ini adalah tugas ku sebagai istri. Arga mempunyai hak atas ku. Aku tidak boleh menolak nya. Jika pun ingin menolak nya, harus dengan alasan yang sesuai begitu lah yang di katakan oleh penghulu saat kami melakukan penataran pernikahan dulu.
"Aduh, bagaimana ya cara mengatakan nya?" Ujar ku gelisah.
Arga terus melihat ku gelisah seperti itu. Aku mondar mandir di hadapan Arga untuk beberapa saat. Mencoba untuk menenangkan hati namun tidak juga berhasil.
"Rea, Rea" Ujar Arga memegang kedua bahu ku agar aku berhenti mondar mandir di hadapan nya.
"Hei, kamu kenapa? Apa kamu tidak sudi untuk ku sentuh?" Ujar Arga dengan lembut.
"Bukan, bukan begitu. Hanya saja, hanya saja"
"Hanya saja apa?"
"Aku takut gak. Trauma rasanya" Ujar ku jujur.
Deg....
"Maaf kan aku Rea, Saat itu aku melakukan nya tidak dengan sepenuh hati. Aku melakukan itu hanya untuk melempiaskan amarah dan kekecewaan ku waktu itu. Tapi aku janji sama kamu. Kali ini aku akan melakukan nya dengan sepenuh hati. Agar kamu bisa menikmati nya" Ujar nya meyakinkan ku.
Aku terdiam memikirkan semua perkataan nya. Sejujurnya hati masih meras trauma, tapi kewajiban ku harus ku penuhi. Terlebih sekarang Arga sudah menerima ku. Dan telah mengakui ku. Jadi tidak ada alasan bagi ku menolak ajakan nya itu. Mungkin aku harus mencoba nya sekali lagi untuk menghilangkan rasa trauma di hati ku. Siapa tahu jika aku melakukan nya dengan rela tidak seperti kemaren, dan Arga nya pun melakukan nya dengan sepenuh hati, mungkin rasanya akan berbeda. Pikir ku.
Yah, jika kalian berpikir aku adalah wanita yang munafik, yah memang aku munafik. Di hati masih merasakan trauma, namun di pikiran ku ingin merasakan hal itu yang katanya surga dunia. Terlebih lagi aku melakukan nya bersama suami yang ku cintai. Bukan kah akan menjadi pahala nanti nya. Begitulah yang ku pikirkan saat itu.
"Rea, apa kah kamu bersedia? Aku hanya ingin melakukan nya jika kamu bersedia dan ikhlas untuk ku sentuh" Ujar nya lagi.
Aku menarik napas ku dalam-dalam lalu di hembus nya kuat-kuat mencoba membuang rasa gundah di hati ku.
Aku menatap dengan mantap ke arah mata nya Arga. Memandang bola mata yang hitam pekat itu untuk memastikan bahwa dia meminta hal itu karena memang benar mencintai ku. Bukan karena nafsu atau pun pelempiasan karena selalu di tinggal pergi oleh Sandra.
Namun, saat itu aku bisa melihat tatapan mata nya memang tulus dengan cinta terhadap ku. Yah, aku bisa melihat bahwa Arga memang telah membuka hati nya untuk ku.
"Arga, sudah tugas ku sebagai seorang istri melayani mu. Baik itu di dapur, di sumur, dan di kasur. Jadi tidak ada alasan bagi ku untuk menolak mu" Ujar ku mulai memberanikan diri untuk menghilangkan rasa trauma di hati ini.
"Benar kamu mau?" Tanya nya lagi meminta kepastian.
Aku menggangguk.
Arga tersenyum mulai mendekati ku.
Deg ...
Jantung ini berderak begitu cepat. Ada aliran listrik yang mulai menjalar dari ujung kaki ku hingga ke ujung kepala ku. Terlebih Arga mulai membuka hijab ku. Untuk pertama kali nya Arga melihat mahkota ku yaitu rambut ku yang panjang nya sepinggang. Yah ini kah pertama kalinya aku memperlihatkan rambut ku bahkan nanti semua yang ada pada diri ku kepada Arga selain pada kejadian malam itu. Karena kejadian di malam itu hanya lah sebuah kecelakaan dan tidak ada unsur suka sama suka dan rela sama rela.
__ADS_1
Napas ku mulai tak teratur. Sulit untuk ku katakan apa yang aku rasakan saat ini. Perasaan aneh yang menghantui diri. Di satu sisi trauma dan di sisi lain penasaran.
Arga semakin mendekat wajah nya kepada wajah ku. Semakin dekat, semakin dekat. Ia mulai membelai rambutku yang tergurai panjang. Terasa kembali kepala ku di sentrum oleh aliran listrik yang keluar dari tangan nya Arga yang membelai rambut ini.
Wajah Arga semakin mendekat, mendekat, dan mendekat. Aku menantikan apa yang akan terjadi pada ku nanti nya. Sejujurnya aku tidak mempunyai pengalaman dalam hal ini.
Jadi aku lebih memilih diam dan memilih untuk pasrah atas apa yang akan di lakukan oleh Arga. Karena pasti nya Arga telah berpengalaman dalam hal ini. Bukan kah dia pernah melakukan nya bersama Sandra. Jelas saja pernah bukan? Secara mereka sudah menikah dan saling mencintai. Tentu saja malam pertama untuk kedua nya sukses terlaksanakan bukan?
Arga menancapkan satu ciuman hangat di kening ku. Yah kata orang jika ada mencium kita di bagian kening, Artinya orang itu beneran sayang sama kita dengan tulus. Dan aku masih percaya akan hal itu hingga saat ini.
Jantung ku semakin bergemuruh dengan cepat. Rasa nya jantung ini memompa terlalu cepat hingga ingin rasanya meledak saat itu juga.
Entah mengapa aku kembali merasa kesentrum saat bibir Arga menempel di kening ku. Baru di kening saja rasa nya aku ingin pingsan apa lagi di tempat-tempat lain. Batin ku. Ini lah kali pertama nya aku di sentuh dan merasakan kecupan hangat dari seorang laki-laki. Terlepas dari peristiwa malam itu ya mak.
Kecupan hangat itu perlahan turun melalui hidung ku hingga berakhir ke bibir ku. B*bir Arga yang hangat dan tebal menempel di b*bir ku yang tipis dan lembap.
Awal nya hanya menempel begitu saja hingga seperkian detik lama nya. Hingga tempelan itu berubah menjadi sebuah kecupan hangat yang baru kali ini ku rasakan. Di mana Arga meng*sap b*bir bagian bawah ku dengan penuh perasaan.
Awal nya aku merasa kaget karena Arga mengh*sap b*bir ku seperti itu. Maklum lah mak, orang belum ada pengalaman. Jadi perlu proses untuk belajar.
Namun, seperkian detik kemudian aku dengan spontan membuka b*bir ku. Memberi ruangan untuk Arga agar mudah bermain di sana. Tak mau kalah, aku pun mencoba mengikuti gaya Arga memberikan kecupan itu kepada ku. Kini aku pun mengh*sap b*bir bagian atas nya Arga. Lama kami saling beradu c*uman seperti itu. Saling mengulum, saling *******. Hingga pada akhirnya l*dah Arga mulai menerobos masuk ke dalam rongga mulut ku.
Kembali aku merasa kaget.
"Santai Rea, ini lah masa-masa penglumasan mu. Agar nanti nya mudah aku menerobos masuk. Nikmati saja, kelak kamu akan terbuai dan terbiasa" Ujar nya lagi dengan penuh kelembutan.
Arga kembali menarik tengkuk ku, melakukan adegan yang serupa seperti tadi.
Kini aku mendengar ucapan dari suami ku itu. Harus pasrah dan menikmati setiap rangkain permainan nya.
Seperkian menit aku mulai memahami cara permainan itu. Aku ikuti permainan itu dengan bergelut lidah bersama Arga.
Hati Arga mulai tersenyum senang karena aku sudah mulai bisa menguasai permainan nya.
Aku pun tidak tahu entah dari kapan tangan ku merangkul leher Arga. Memejamkan mata dan menikmati permainan itu.
Lama kami berada di posisi itu, hingga pada akhirnya tangan nakal. Arga mulai merayap memegang gunung kembar ku. Aku kaget karena Arga memegang itu. Tapi sensasi yang Arga berikan membuat aku kembali terbuai dan pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Ia mulai meramas dengan lembut, Dan kini ciuman itu beralih turun menyelusuri setiap jengkal leher jenjang ku. Menjilat, mengecup, bahkan ada tanda kepemilikan ia ukir di sana.
Aku semakin terbuai dan semakin terlena dengan sentuhan demi sentuhan itu.
"Ah... " Satu ******* berhasil lolos dari mulut ku. Aku sama sekali tidak sadar bahwa aku berdesah seperti itu. Mungkin karena terbuai nya membuat ku tidak sadar bisa mengeluarkan ******* itu.
Untuk sesaat Arga menghentikan permainan nya. Ia menatap mata ku dengan penuh perasaan.
"Aku mencintai mu Rea" Ujar nya lagi.
Aku tersenyum melihat nya memancarkan aura cinta dari mata nya kepada ku.
"Aku juga mencintai mu Arga" Ujar ku.
Arga menggendong ku seperti layak nya gendongan pada pengantin beru umum nya. Membawa ku dan membaringkan ku di atas kasur ku.
Lama kami saling menatap. Aku hanya diam tidak bergerak ketika Arga sudah membaringkan ku.
Kembali Arga membelai rambut ku dengan lembut.
Kini, ia pun kembali beraksi dengan menjelajahi setiap jengkal demi jengkal leher ku. Aku mendongak ke atas memberikan ruangan untuk Arga agar ia bisa leluasa bergerak di sana.
__ADS_1
Malam ini, akan menjadi malam istimewa bagi ku dan Arga. Untuk pertama kali nya kami akan bercumbu dengan mesra selayak nya sepasang suami istri pada umum nya. Kali ini, aku pun ingin menghilangkan rasa trauma dan ketakutan di hati ku. Agar aku bisa nanti nya menikmati permainan dan sentuhan dari suami ku yang memang wajib ku penuhi.