
Aku duduk diam di depan pintu rumah kos ku. Sudah seminggu aku tidak masuk kerja. Rasa malu akan kejadian itu masih menyelimuti hati ini. Meski tiada yang tahu akan kejadian yang memalukan itu. Namun rasa hancur di hati bersamaan dengan hancur nya kehormatan yang ku jaga selama ini membuat diri ku putus asa.
Terkadang, aku berpikir untuk bunuh diri saja. Tidak ada guna nya rasa nya hidup dengan menanggung malu yang sangat menyisakan diri.
Aku menatap kosong kedepan. Terdiam dengan mulut terkunci, pikiran melayang mengingat kejadian yang sangat menyakitkan hati. Tanpa di sadari dalam diam beberapa butir air bening kini membasahi pipi. Aku menangis, ya menangis dalam diam mengenang nasib yang kini menimpa diri.
Ibu datang menghampiri ku. Yah ibu tahu semua kejadian itu. Santi langsung menghubungi kedua orang tua ku dan memberi tahu segalanya.
"Rea" Aku tidak menoleh sama sekali. Tatapan ku masih kosong ke depan. Ibu duduk di sampingku.
__ADS_1
"Sayang" Ibu membelai kepala ku dengan penuh kasih sayang.
"Maaf kan aku buk. Aku telah membuat kalian malu" Akhirnya aku mengatakan sesuatu.
"Sayang, semua terjadi bukan kemauan kita nak. Semua nya sudah takdir hidup kita nak. Kamu jangan menyalahkan diri mu nak" Ibu ikut menitik kan air mata.
"Aku malu buk. Rasa nya aku ingin mati saja buk" Jawab ku menutup kedua wajah ku dengan telapak tangan dan menangis sejadi-jadinya.
"Apa guna nya aku hidup buk. Aku telah hancur. Masa depan ku buk hancur semua"
__ADS_1
"Sayang, hadapi semua dengan ikhlas nak. Jangan sesali apa yang telah terjadi. Kamu harus kuat sayang.....ada ibu ada ayah yang selalu bersama kamu nak. Pasti semua indah pada waktu nya nak. Allah merencanakan hal yang lebih indah ketika kamu bisa menghadapi ini dengan ikhlas" Nasehat ibu ku membuat aku merasa sedikit tenang. Ibu semakin erat memeluk ku. Menguatkan diri untuk menghadapi segala sesuatu di dunia ini. Meski memang dunia ini kejam.
"Sabar lah sayang"
"Buk, Apa benar Arga akan bertanggung jawab? Apa aku siap untuk menikah dengan nya. Aku tidak pernah mencintai nya buk. Aku juga tidak akan mungkin menikah dengan lelaki lain. Aku sudah kotor buk, aku malu buk. Apa aku bahagia dengan Arga buk?" Kata ku menatap dalam kedua mata ibu ku untuk mendengar kan jawaban yang membuat hati ini kuat.
"Sayang, sekarang kamu dan dia memang tidak saling mencintai. Tapi lambat laun kamu pasti akan mencintainya dan dia juga begitu. Kamu harus ikhlas menjalani mahligai rumah tangga mu kelak nak. Dan masalah kebahagiaan, Insha allah kamu akan bahagian nak jika menghadapi nya dengan ikhlas. Jika kalian saling mendengar, saling menguatkan, saling berpegangan semua akan baik-baik saja"
"Aku tidak yakin buk. Dia tidak mengenaliku, aku juga begitu"
__ADS_1
"Semua butuh waktu nak. Hanya waktu yang bisa menjawab segalanya. Pernikahan itu hal yang sangat sakral. Biarlah terjadi sekali dalam seumur hidup kita nak" Nasehat Ibu.
"Doa kan aku buk, semoga aku bisa mengahadapi semua ini" Kata ku kembali membenamkan kepada ku di dada ibu ku.