Cinta Bersalut Noda

Cinta Bersalut Noda
Getaran halus kembali terasa


__ADS_3

"Syukur lah Arga dan Rea terlihat bahagia" Ujar Santi kepada Riko. Sedangkan Riko hanya diam dengan seribu bahasa nya. Ia tidak bisa berkomentar apa pun lantaran hati nya sedang sakit saat ini melihat aku dan Arga seperti itu.


"Riko, Ko" Panggil santi lagi. Riko sadar dari lamunan nya.


"Ha, Apa?" Tanya Riko kaget.


"Kamu kenapa? Gak suka melihat Rea dan Arga bahagia seperti itu?" Tanya Santi sedikit kesal.


"Ha?" Ujar Riko lagi.


"Kamu kenapa sih Ko? Dari tadi ha ho ha ho" Santi semakin kesal.


"Kamu masih cinta sama Rea? Gak rela dia bahagia bersama suami nya?" Ujar Santi dengan nada yang sedikit meninggi.


"Bukan, bukan seperti itu. Aku bahagia melihat nya bahagia juga. Hanya saja.... " Ujar Riko tidak meneruskan kata-kata nya.


"Hanya saja apa? Hanya saja hati mu masih belum bisa melupakan dia? Masih ada nama nya di hati kamu begitu?" Ujar Santi lagi semakin kesal.


"Ko, kamu sudah janji sama aku ya, kamu akan membuka hati mu untuk ku. Kamu akan belajar mencintai ku dan melupakan Rea. Lakuin dong apa yang kamu ucapkan dan janji kan itu. Bukan hanya omdo (omongan doang)" Santi semakin marah dan kecewa kepada Riko.


"Iya San, aku minta maaf ya. Aku saat ini aku sedang belajar untuk mencinta kamu. Kamu jangan terus-terusan mengeluh seperti ini dong San. Saat ini aku sedang berjuang. Coba lah untuk mengerti dan paham dengan kondisi ku Semua ini butuh waktu" Jelas Riko dengan nada yang lembut.


Santi hanya diam tidak menjawab sepatah kata pun dari Riko. Seperti nya ia sedang kesal kepada Riko.


"Aku mohon, bersabar lah untuk membuat ku belajar dengan mencintai mu" Ujar lelaki berkacamata itu lagi.


Santi menarik napas nya dalam-dalam dan di hembus kan nya kuat-kuat.


"Benar apa kata Riko. Semua ini butuh waktu untuk nya. Aku harus bersabar dengan semua ini. Yang terpenting sekarang, Riko sudah menjadi milik ku. Aku gak boleh egois dan memaksa nya seperti ini. Bisa-bisa Riko akan kabur dari ku dan aku akan kehilangan nya untuk selama nya" Batin Santi.


"Ya sudah Ko, aku minta maaf ya dengan sikap ku barusan. Aku hanya tidak mau kamu masih terjebak dengan masa lalu mu. Di mana Rea saat ini sudah bahagia bersama keluarga kecil nya, sedang kan kamu sekarang masih terus-terusan meratapi dirinya yang belum tentu memikirkan kamu" Ujar Santi mulai menghasut.


"Benar juga apa yang di katakan Santi. Rea bahagia bersama suami nya. Sedangkan aku, aku hanya terpuruk di dalam kesedihan ku" Batin Riko.


***


"Bu, yah aku dan Arga pamit dulu ya. Kalian baik-baik ya di sini" Ujar ku sedih meninggalkan kedua orang tua ku. Yah, hati ini tentu saja sedih saat meninggalkan kedua orang tua ku di kampung. Terlebih lagi mereka tidak lah terlalu muda. Namun, apa lah daya ku. Sebagai seorang istri tentu nya aku harus mengikuti suami ku kemana pun ia membawa ku pergi.


"Iya nak, hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kabari kami jika sudah tiba di rumah" Ujar Ayah ku.


"Iya yah" Jawab ku mencium punggung tangan ibu dan ayah ku


Arga pun mengikuti apa yang aku lakukan.


"Nak Arga, titip Rea ya. Jagain dia" Pinta ayah ku lagi.


"Iya yah, pasti aku akan menjaga anak ayah dengan sepenuh hati ku" Ujar nya mantap.


Deg....


Hati ini kembali berbunga mendengar Arga berkata seperti itu kepada ayah dan ibu ku. Yah, itu membuat ku semakin yakin bahwa Arga mempunyai hati untuk ku. Bisa ku rasa kan rasa ia untuk ku kini sudah mulai terasa.


"Terima kasih ya nak" Jawab ibu ku.


"Iya buk, ibu dan aya tenang saja. Aku pasti selalu menjaga anak ibu yang kini telah menjadi istri ku" Ujar Arga lagi.


Raut wajah kebahagiaan terpampang nyata di wajah kedua orang tua ku. Bagaimana tidak, lelaki yang dulu nya sangat membenci ku, perlahan mulai membuka hati nya untuk mencintai ku.

__ADS_1


Ini lah mungkin rasa nya menikah karena taaruf di mana kami baru mengenal satu sama lain ketika sudah menikah. Meski pun pernikahan kami itu terjadi karena sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja. Namun tetap saja. Ini adalah sebuah takdir dari yang maha pencipta untuk hidup ku dan Arga.


Seperti waktu resepsi pernikahan ku dulu. Aku selalu berdoa ke pada Allah di setiap sepertiga malam ku. Dimana ketika Arga memang jodoh ku, sabar kan lah aku dan ikhlas kan lah diri ini apa pun yang Arga lakukan kepada ku. Jika tidak, rela kan lah hati ini untuk melepaskan nya. Begitu lah doa ku waktu itu.


Dan hingga sekarang, lebih dari tiga bulan pernikahan ku dan Arga, pernikahan ku masih bertahan. Berarti Allah masih memperpanjang jodoh ku bersama Arga.


Aku dan Arga masuk ke dalam mobil nya Arga. Aku melambai tangan ku sebagai ucapan selamat tinggal kepada kedua orang tua ku saat itu.


Di dalam perjalanan tak terasa beberapa air bening meleleh di pipi ku. Yah, aku menangis. Sedih meninggalkan kedua orang tua ku di kampung. Setelah bertemu tak ingin rasanya untuk berpisah. Ingin rasa nya aku membawa kedua orang tua ku tinggal bersama ku di kota Pekanbaru agar aku bisa menjaga mereka yang renta itu.


Namun, aku pun sadar bahwa aku hanya tinggal di rumah nya mertua ku. Tidak mungkin aku membawa kedua orang tua ku di sana. Sungkan rasa nya memboyong keluarga ku untuk tinggal di rumah megah dan mewah itu. Apa kata kedua mertua ku nanti. Meski mereka baik dengan ku, tidak seharus nya juga aku bertindak seenak nya seperti itu.


Bisa-bisa mereka berpikir bahwa aku memanfaatkan kebaikan mereka nanti nya. Jadi, alangkah baik nya mereka tinggal di kampung saja. Mungkin jika takdir mengatakan bahwa Arga mengajak ku pindah ke rumah kami sendiri, kemungkinan aku bisa membawa kedua orang tua ku untuk tinggal bersama ku. Secara kami tinggal di rumah sendiri. Itu pun jika Arga mengizinkan.


Arga melihat ku sedih, Ia menyapu air mata ku yang membasahi pipi dengan sebelah tangan nya. Sedang kan tangan nya satu lagi di gunakan untuk menyetir.


"Jangan sedih Rea, nanti jika ada waktu luang, kita pasti akan pulang ke sini lagi. Atau bisa jadi sesekali kedua orang tua mu kita undang ke rumah" Ujar Arga berusaha menghibur ku.


Aku mengangguk dan berusaha tersenyum memandang Arga. Arga menggenggam jari jemari ku untuk menguatkan hati ku yang sedang sedih.


***


"Assalamuamaikum" Ujar ku ketika sudah tiba di rumah kedua mertua ku.


"Waalaikumsalam" Rina menyambut kepulangan kami dengan raut wajah bahagia.


"Kalian sudah tiba? Baru beberapa hari kalian pergi pulang kampung mama sudah rindu banget sama kalian. Rumah ini terasa sepi jika tidak ada kalian" Ujar Rina.


"Gak ada Rea kali ma, aku memang sudah tidak tinggal di rumah ini lagi. Tapi, malam ini boleh ya aku nginap di sini" Ujar Arga kembali meminta izin kepada mama nya.


"Kamu ini" Rina mencubit gemes pipi anak semata wayang nya.


Aku hanya tersipu malu saat mertua ku menggoda ku seperti itu.


***


"Ma, Arga tidur di sini? Tadi papa lihat ada mobil nya di luar" Tanya Rudi kepada istri nya saat diri nya baru pulang dari luar. Ia langsung menemui istri nya yang sedang sibuk dengan ponsel nya di dalam kamar.


"Iya pa, dia meminta izin tidur di sini. Lagian bagus sih dia tidur di sini. Karena di sini juga ada hak dan kewajiban nya" Ujar Rina.


"Lagian ya pa mama heran sama Arga. Coba dari dulu dia dengar apa kata mama gak perlu pindah rumah. Pasti dia gak repot-repot seperti ini sebentar ke sana, sebentar ke sini" Jelas Rina lagi.


"Arga sih lebih dengar omongan nya Sandra, dan lihat hasil nya sekarang dia malah sering di tinggal sendirian di rumah. Ujung-ujung nya ke sini juga kan? Untung aja ada Rea yang selalu berada di rumah ini dua puluh empat jam. Ketika Arga pulang ke rumah, ada yang menyambutnya pulang dengan senyuman" Tambah nya lagi.


"Sudah lah mah, jangan mama singung-singgungkan Arga dan Sandra seperti itu. Nanti ketika Arga mendengar nya dia jadi tersinggung, bisa-bisa dia merajuk dan tidak mau pulang ke rumah kita lagi. Pasti kamu juga kan ma yang sedih" Ujar Rudi.


"Habis nya mama kesal sama Arga yang gak mau mendengar nasehat dari kita pa. Punya dua istri tapi seperti punya satu istri saja. Jika begitu, lebih baik punya satu istri saja kan pa."


"Sudah lah ma, ini semua adalah pilihan nya Arga. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak kita agar dia bahagia. Jangan terlalu ikut campur ma. Arga sudah dewasa dia pasti bisa menyelesaikan masalah di keluarga kecil nya. Nanti dia marah sama kita lantaran terlalu ikut campur dengan keluarga nya. Dia sendiri yang melarang kita untuk tidak ikut campurkan. Jadi jangan kita ikut campur ya ma" Jelas Rudi lagi.


***


"Rea" Tegur Arga mengetuk pintu kamar ku.


Aku bergegas mencari hijab sarung ku.


"Iya masuk" Ujar ku selesai memakai hijab sarung ku.

__ADS_1


"Arga, ada apa?" Tanya ku setelah Arga masuk ke dalam. Kamar ku.


"Aku hanya ingin ngobrol bersama mu" Ujar Arga duduk di samping ku.


"Ngobrol? Mau ngobrol apa?" Tanya ku menatap serius.


Lama Arga diam tidak bersuara. Mungkin ia memikirkan apa yang mau ia bicarakan kepada ku. Dan mungkin saat itu dia bingung harus berawal dari mana ngobrol dengan ku.


Aku sabar menanti apa yang Arga mau bicarakan kepada ku.


"Arga, kamu mau ngomong apa? Aku sedang menunggu kamu ini" Ujar ku.


"Eh iya" Ujar Arga sadar.


"Hmm...." Lagi-lagi Arga berpikir mau ngomong apa pada ku.


"Ga, jadi gak mau ngomong nya?" Tanya ku dengan hati-hati.


"Kamu gak pernah ya melepas cincin di jari mu?" Tanya Arga kepada ku mencoba mencari topik pembicaraan nya. Kebetulan saat itu ia melihat jariku yang masih tersemat cincin pernikahan kami.


Aku menatap cincin yang ada di jari ku.


"Cincin ini, kamu yang memasangnya di jari manisku jadi kamu juga lah yang berhak untuk melepaskannya dari jari manisku" Ujar ku kepada Arga.


"Selagi kamu belum melepaskannya dari jariku maka cincin ini akan selalu tersemat di jari ini" Tambah ku lagi dengan memperlihat jari ku.


Arga tersenyum senang melihat tingkah ku. Entah lah melihat ia tersenyum seperti itu, membuat jantung ini berdetak tidak karuan. Yah getaran-getaran halus kini kembali muncul di hati ku.


Ibarat dalam film drama korea ada bunga-bunga bermekaran yang terbang di sekitar wajah Arga atau bahkan bintang-bintang yang berkilauan yang mengelilingi wajah Arga membuat hati ini semakin jatuh cinta.


"Rea" Panggil nya dengan lembut.


"Iya, ada apa?" Tanya ku lagi.


"Bagaimana perasaan mu sekarang?" Tanya Arga memulai maksud dan tujuan nya.


"Perasaan ku bagaimana?" Tanya ku tidak mengerti.


"Apa sebelum kamu menikah dengan ku kamu mempunyai pasangan hidup? Maksud ku pacar gitu?" Tanya Arga kepada ku.


"Tidak, aku tidak ada pacar sebelum aku menikah dengan mu"


"Apa kamu pernah menyukai seorang laki-laki?"


"Iya aku pernah menyukai laki-laki dulu nya. Tapi itu dulu sekarang sudah tidak lagi" Cerita ku, aku memang menyukai Riko yang selalu ada untuk ku. Namun, perasaan itu aku coba untuk buang jauh-jauh karena ku tahu Santi juga menyukai Riko hingga sekarang. Meski pun Riko selalu mengungkapkan perasaan nya kepada ku, aku tidak pernah menerima nya karena aku tidak mau persahabatan ku dan Santi berantakan hanya karena lelaki. Jadi aku lebih merelakan Riko untuk bersama Santi. Bayang kan saja lima tahun kamu berteman di mana Riko selalu ada di saat aku senang dan susah. Dalam situasi apa pun dia selalu siaga membantu ku. Bagaimana bisa aku tidak tertarik kepada lelaki seperti itu.


"Kenapa?" Tanya Arga.


"Karena aku sudah memiliki kamu" Jawab ku spontan.


"Maksud nya?" Ujar tampak kaget mendengar jawaban dari ku.


"Eh, sudah lah lupa kan saja. Aku ngantuk dan mau tidur sudah malam juga kan" Ujar ku mencoba untuk mengelak dari pertanyaan demi pertanyaan yang nanti nya akan di tanya kan oleh Arga kepada ku.


"Jawab Rea apa maksud dari jawaban mu barusan?" Tanya nya lagi.


"Tunggu, maksud dari kamu bertanya seperti ini kepada ku kenapa?" Aku balik bertanya.

__ADS_1


Arga menatapku dengan tatapan yang sulit untuk ku artikan saat itu.


"Karena aku ingin memiliki mu. Aku tidak mau kehilangan mu. Aku terus-terusan bolak balik berada di rumah ini karena aku selau merindukan mu" Jawab Arga.


__ADS_2