
Hari pernikahan Arga dan Sandra telah tiba. Aku melihat Arga dan Sandra bersanding dengan tatapan sedih.
Tak bisa lebih lama menyaksikan pemandangan yang menyakitkan itu, aku lebih memilih untuk keluar dari ruangan hotel yang di pakai untuk resepsi pernikahan mereka.
Melihat itu, Rina mengikuti ku.
Aku menangis. Hati ini sudah terluka. Dan kini Arga menyiram nya dengan air garam.
Semakin perih, semakin sakit hati ini.
"Ya Allah, apakah keputusan ku salah? Apa aku sanggup untuk mengahadapi mereka berdua yang selalu romantis di hadapan ku? Saat bersanding seperti ini sudah membuat hati ini terluka. Apa lagi, apa lagi?" Ucap ku tak sanggup melanjutkan perkataan ku. Aku menutupi wajah ku yang basah dengan air mata.
"Rea, ngapain di sini" Ujar Rina.
"Ma" Aku memeluk Rina mama mertua ku.
"Apa kamu sedih melihat Arga dan Sandra? Jika ini membuat mu sakit, kenapa kamu membiarkan ini semua berlaku?"
"Ma, aku bisa apa? Aku tidak mungkin menghalangi kebahagiaan Arga bersama Sandra. Aku sebagai orang ketiga yang telah memisahkan mereka. Apalagi sekarang Sandra sudah memutuskan dan dia sudah berkorban untuk memeluk keyakinan bersama kita. Jadi tidak mungkin aku tidak merestui hubungan mereka berdua jika ini akan membuat Arga bahagia, Insya Allah aku akan ikhlas" Ujar ku meski dengan hati yang berat..
Tidak akan ada wanita di dunia ini rela untuk dimadu. Meskipun wanita itu tidak mencintai suaminya, tetap saja ia tidak akan mau dimadu. Berbagi kasih berbagi suami bersama wanita lain.
"Ya sudah Rea, Jika kamu tidak bisa menyaksikan Arga dan Sandra bersanding seperti ini, lebih baik kamu pulang aja. Dari pada hati kamu semakin sakit mending kamu di rumah istirahat. Selama ini juga sudah bekerja keras untuk mempersiapkan pernikahan Sandra dan Arga" Saran Rina.
"Iya ma, aku pulang saja. Tolong sampaikan sama papa aku pulang ke rumah duluan" Ujar ku.
***
"Rea" Tegur Arga masuk ke kamar ku. Yah, malam ini adalah malam pertamanya bersama Sandra. Jadi aku memutuskan untuk pindah kamar. Kamar yang berhadapan dengan kamar nya Arga di lantai atas.
"Hmm" Jawab ku membelakangi Arga. Yah aku tidak mau Arga melihat ku di landa kesedihan seperti ini. Aku tidak mau Arga tahu bahwa aku mempunyai rasa sayang dan cinta kepadanya.
Arga duduk di sampingku untuk melihat wajah ku.
Namun, aku mengubah posisi ku agar tetap membelakangi Arga.
"Kenapa?" Tanya ku.
"Terima kasih" Ucap nya.
"Untuk apa?"
"Karena kamu telah mengizinkan aku untuk menikah dengan Sandra"
Aku mengangguk.
"Sewaktu kamu minta izin keluar untuk bertemu dengan Sandra, apa yang kalian bicarakan? Dan bagaimana kamu bisa meyakinkan Sandra agar dia semakin yakin untuk menikah denganku. Padahal selama ini dia selalu tetap pendiriannya kepada keyakinannya dan juga dia terlalu sibuk untuk bekerja sehingga tidak memikirkan untuk menikah. Tapi kamu telah membuatnya berubah pikiran. Sekali lagi terima kasih kamu telah menyatukan aku bersama Sandra. Dan kamu juga sudah membuat papa dan mama yakin untuk menyetujui hubungan kami" Ujar Arga.
Aku tersenyum hambar mendengar ucapan Arga barusan.
"Sama-sama" Ucap ku.
"Emang, kamu mengatakan apa kepada Sandra?"
"Hanya ngobrol biasa saja. Sudah jangan di bahas lagi. Lebih baik, kamu kembali ke kamar mu. Kasihan Sandra menunggu mu. Lagi pun hari sudah malam aku pun mau tidur" Ujar ku.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu. Selamat istirahat" Ucap nya lembut kepada ku.
Kembali senyuman hambar yang terukir di bibir ku.
Tak terasa beberapa air bening mengalir di pipiku. Kata-kata Arga barusan kembali menyakiti ku. Mungkin kalian berpikir aku adalah orang yang munafik di dunia.
Yah aku akui itu memang aku munafik. Di hadapan Arga, aku merelakan Arga bersama Sandra..Tapi sejujurnya hati ini tidak bisa menerima semua nya.
Tapi aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin memaksa Arga untuk mencintaiku sedangkan ku tahu hati dan perasaannya hanya milik Sandra.
***
"Ya Allah, jika Arga memang di takdir kan berjodoh dengan ku, dan jika jodoh ku bersama Arga masih panjang, maka sabarkan lah diri ini, kuatkan hati ini. Tapi jikalau tidak, aku mohon, ikhlas kan hati ini untuk melupakan nya. Lumpuhkanlah hati ini yang mempunyai perasaan cinta dan sayang kepadanya. Aamin" Doa ku di sepertiga malam.
***
"Arga, di mana Rea, kenapa dia tidak ikut makan bersama kita?" Tanya Rudi saat mereka sedang makan malam bersama.
"Gak tahu dikamar mungkin" Ucap nya.
"Kenapa tidak mengajak nya makan bersama?" Tanya Rina.
Arga mengangkat kedua bahu nya.
"Sandra, masih belum pulang?" Tanya Rudi lagi.
Arga menggeleng kepala nya.
"Ada pekerjaan yang harus di selesaikan malam ini" Ucap Arga.
Rudi menghembus napas berat nya.
"Jika Sandra tidak bisa menemani kamu makan, minta lah Rea yang menemani mu" Saran Rudi.
"Jika Rea memang tahu kewajiban nya sebagai istri, pasti di turun dan menemani ku makan. Bukan malah berdiam diri di kamar" Ujar Arga tampak kesal karena papa nya selalu membahas tentang ku.
"Aku sudah kenyang ma, pa, aku masuk ke kamar dulu ya" Ujar nya lagi.
***
Pandangan kami bertemu, ketika aku mau keluar dari kamar dan Arga masuk ke kamar nya. Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan ku ke arah lain agar Arga tidak bisa membaca isi hati ku yang sedang bergemuruh saat bertatapan dengan nya.
Aku pun langsung berlalu di hadapan nya dan menuruni tangga tampa berkata sepatah kata pun pada nya.
"Non Rea" Tanya bik Ina.
"Eh, bik"
"Ngapain non?" Tanya bik Ina.
"Mau buat teh hanget aja bik" Ucap ku.
__ADS_1
"Non sudah makan?"
Aku menggeleng.
"Non mau makan? Saya panasi makan tadi ya"
"Oh, gak usah bik Makasih aku gak lapar. Nanti jika aku lapar, biar aku saja yang memanasi makanan nya" Jawab ku.
"Bik"
"Iya Non"
"Sandra sudah pulang?"
"Belum non, tadi tuan Arga makan malam nya hanya bersama ibu dan bapak" Jawab bik Ina.
Aku mengangguk mengerti.
***
"Ngapain duduk di luar? Mau kesambet?" Tegur Arga saat aku duduk di kursi yang ada di balkon lantai dua.
"Ga, ngapain?" Aku malah balik bertanya.
"Malah balik tanya" Ujar nya.
Aku tersenyum kecut.
"Ngapain malam-malam duduk di sini?"
"Hanya mencari angin segar saja" Ucap ku.
"Mencari angin nanti malam. kesambet" Ujar nya.
Aku menatap kesal ke arah Arga.
"Malam-malam begini malah ngomong yang gak-gak" Batin ku merasa merinding.
"Kenapa menatap ku seperti itu? Pasti kamu takut kan?"
Aku berdecak.
"Sudah lah jangan ngomong yang bukan-bukan" Ucap ku.
"Tadi ngapain gak ikut makan bersama?" Tanya Arga.
"Aku gak lapar" Jawab ku.
"Gak lapar, atau takut merasa sakit hati saat aku bersama Sandra?" Ucapnya yang memang benar ada nya.
"Gak lah, hanya belum lapar saja" Bohong ku.
"Semenjak aku menikah dengan Sandra, kamu jarang terlihat di rumah ini. Apa kamu tidak bosan di kamar?" Tanya Arga.
Aku menggeleng kepala ku.
"Kamu ini seperti musang ya" Ujar nya.
"Musang?" Tanya ku.
"Iya musang. Tuh lihat. Ketika sudah malam seperti ini, orang-orang sudah pada tidur semua, kamu baru keluar dari kamar mencari makanan. Seperti nya aku harus memanggil mu musang deh" Ujar Arga lagi.
"Iya, kamu bunglon" Ujar ku tak mau kalah.
"Apa? Kamu panggil aku apa?"
"Bunglon" Ujar ku.
"Apaan sih bunglon"
"Ya emang kamu bunglon. Sebentar baik, sebentar nyeselin. Berubah-ubah" Ucap ku.
Kini giliran Arga berdecak.
"Kamu ngapain ke sini? Tidur sana. Kasihan istri mu menunggu mu di kamar" Ujar ku.
Arga menghembus napas berat nya.
"Sandra belum pulang. Masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan malam ini" Jawab Arga tampak kecewa.
Aku mengangguk mengerti.
***
"Pa, ma, besok aku dan Sandra akan pergi bulan madu ke bali" Ujar Arga saat mereka sarapan pagi.
"Lama pergi nya?" Tanya Rina.
"Sekitar seminggu" Jawab Arga.
"Oh, ya sudah silahkan" Jawab Rudi.
***
"Arga, boleh aku mengatakan sesuatu?" Tanya ku saat Arga duduk di belakang halaman rumah.
"Apa?"
"Aku mau minta izin untuk bekerja" Jawab ku.
"Bekerja?"
"Iya, aku mau mencari pekerjaan kembali. Aku mau mencari kesibukan ku sendiri. Aku juga mempunyai kebutuhanku sendiri. Jadi aku membutuhkan pekerjaan untuk menghasilkan uang" Ujar ku.
"Nggak perlu lah kamu bekerja. Kamu di rumah aja! Lagi pun aku masih bisa kok membiayai kebutuhan kamu. Setiap bulannya aku akan memberikan cek agar kamu bisa membeli kebutuhan kamu" Ujar Arga masih sibuk dengan ponsel nya.
"Tapi aku mau menghasilkan uangku sendiri. Aku nggak mau terus-terusan bergantung sama kamu dan keluarga kamu. Jadi izin aku ya untuk bekerja" Ujar ku lagi.
__ADS_1
"Gak perlu lah, kamu di rumah saja. Aku tidak mengizinkan kamu bekerja" Ujar Arga berlalu dari hadapan ku.
"Dasar bunglon. Bertindak semaunya. Ngapain sih mengurungku terus-terusan" Ujar ku.
"Apa?" Tanya Arga mendengar apa yang baru ku katakan.
Aku hanya diam menunduk tidak bisa menjawab dengan wajah yang masih di tekuk.
"Eh, aku tidak mengurung kamu ya. Kamu masih bisa berkeliaran sebebasnya di rumah ini" Ujar nya membela diri.
"Tapi tetap saja.... "
"Sudah" Potong nya.
"Sekali aku bilang tidak boleh tetap tidak boleh. Titik gak pakai koma" Ujar nya lagi meninggalkan ku dalam kekesalan.
Kembali aku berdecak kesal.
"Nyebelin banget sih tu Arga. Paling suka bertingkah semau nya" Batin ku.
***
"Bik" Ujar ku.
"Iya non"
"Arga sama Sandra sudah berangkat kerja?" Tanya ku.
"Lo non, gak tahu ya, tadi pagi non Sandra sama tuan Arga pergi ke Bali untuk bulan madu" Jawab bik Ina.
"Ke Bali?"
"Iya non. Non gak tahu ya? Tuan Arga tidak memberi tahu kepada non Rea?" Tanya bik Ina.
Aku menggeleng kepala ku.
"Begitu tak berarti kah aku di hidup mu Ga? Hingga pergi pun kamu tidak mau memberi tahu ku" Batin ku.
"Non, kenapa melamun?"
"Gak, kok bik. Mama sama papa kemana?"
"Mama ada pergi arisan sama teman-teman nya. Kalau bapak pergi olahraga kata nya" Ujar bik Ina.
Lagi lagi aku hanya mengangguk kepala.
***
"Assalamualaikum buk" Ujar ku saat menghubungi ibu ku yang berada di kampung..
"Waalaikumsalam nak" Jawab Ibu ku.
"Lagi ngapain buk?"
"Baru selesai masak nak"
"Kamu apa kabar?" Tanya ibu ku.
"Alhamdulillah sehat buk. Ibu dan ayah apa kabar?" Aku balik tanya.
"Alhamdulillah baik juga nak"
"Ayah mana buk?"
"Ada di kebun samping rumah nya. Mau ngobrol sama ayah?"
"Eh, gak usah buk. Ayah lagi sibuk juga. Aku gak mau menganggu nya. Titip salam aja sama ayah ya buk. Bilang aku rindu kalian berdua" Ujar ku dengan air mata mengalir di pipi. Yah aku memang sangat merindu kan kedua orang tua ku di kampung.
Ingin rasanya saat ini aku pulang menemui mereka. Menceritakan semua yang terjadi dalam hidupku bersama mereka.
Namun aku membatalkan Niatku karena aku tidak mau kedua orang tuaku khawatir dengan keadaanku di sini.
"Nak, Bagaimana Arga memperlakukan kamu apa sekarang dia sudah mulai membuka hati dan bisa menerima kamu?" Tanya Ibu ku dengan hati-hati.
Aku tersentak mendengar ucapan ibu ku. Aku bingung harus menjawab apa.. Apakah aku harus menceritakan bahwa saat ini aku sedang dimadu. Atau aku hanya bisa memendam semua perasaan dan kesedihanku ini sendiri.
"Rea, kenapa diam?" Apa kamu tidak bahagia? Apa Arga masih belum bisa menerima kamu?" Kembali Ibu bertanya dengan hati-hati kepadaku.
"Nggak kok Bu, Alhamdulillah saat ini Arga sudah mulai terbuka kepadaku perlahan-lahan dia sudah bisa menerima aku" Jawab ku berbohong.
"Benar itu nak? Alhamdulillah ibu senang mendengarnya" Ujar ibuku.
"Setiap selesai salat ibu selalu berdoa agar kamu di sana selalu dilindungi oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan Arga juga bisa melembutkan hatinya untuk menerima kamu sebagai istrinya" Tambah nya lagi.
"Aamiin. Makasih ya buk. Doa ibu sangat aku butuh kan di sini. jangan berhenti doain aku ya Bu karena doa ibu itu akan cepat diijabah sama Allah" Ujar ku lagi.
"Iya nak, ibu akan selalu mendoakan mu. Apapun yang terbaik untukmu dan ayahmu juga pasti akan mendoakan yang terbaik untuk kamu dan Arga"
Aku tersenyum senang mendengar ucapan dari ibuku yang selalu bisa membuat hatiku merasa tenang.
"Bu, aku kangen banget sama ibu dan ayah aku pengen banget pulang ke kampung. Aku rindu masakan Ibu, aku rindu pelukan Ibu, aku rindu ngobrol sama Ibu" Ujar ku.
"Jika begitu kamu pulang aja ke sini kita ngumpul bareng-bareng lagi ya untuk beberapa hari" Pinta ibuku.
"Sejujurnya Ibu juga kangen sama kamu. Dan ibu juga yakin ayah kamu juga pasti kangen banget sama kamu"
"Nggak bisa bu, aku nggak bisa pulang sendirian ke sana tanpa seizin Arga. Lagi pun saat ini Arga sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor bu. Dan nggak mungkin juga kan aku pulang sendirian. Dia pasti tidak akan mengizinkan aku pulang sendirian ke kampung" Jelas ku berbohong.
"Maafkan aku ya bu, aku telah berbohong sama Ibu. Tidak mungkin aku menceritakan bahwa Arga sedang bulan madu bersama istri keduanya. Aku yakin Ibu dan Ayah pasti akan khawatir dengan keadaanku di sini. Alngkah Lebih baik aku sembunyikan semua ini agar ibu dan ayah tidak kepikiran keadaanku di sini. Dan aku juga tidak akan mungkin pulang ke sana sendirian tanpa Arga. Karena aku yakin pasti ibu dan ayah akan berpikir aku dan Arga masih seperti dulu" Batin ku merasa bersalah karena bohong kepada orang yang telah mengandung dan membesarkan ku selama ini.
"Nanti jika Arga ada waktu, aku dan dia pasti akan pulang ke kampung. Aku pasti akan membawa Arga ke kampung kita agar dia tahu kampung kita begitu indah" Ujar ku memberi alasan yang aku pikir bisa membuat ibu ku merasa tenang.
"Iya nak, ibu doa kan semoga pekerjaan Arga akan selesai dengan baik ya nak. Dan semoga kalian bahagia selama nya. Aamiin" Doa ibu ku.
"Aamiin" Jawab ku meneteskan air mata ku.
"Ya sudah buk, aku tutup dulu ya teleponnya. Aku mau ke dapur mau bantu-bantu untuk masak" Ujar ku memberi alasan.
__ADS_1
"Ya nak. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Aku menutup telfon ku dan menangis dalam diam ku. Aku tidak mau ibu mengetahui bahwa aku sedang menangis. Aku tidak bisa menahan air mata di pipiku. Jadi aku memutuskan untuk menutup telepon dari ibu.