Cinta Bersalut Noda

Cinta Bersalut Noda
Pulang dari rumah sakit


__ADS_3

"Sudah siap Ya" Sontak membuat aku dan ibu ku kaget terlihat sosok lelaki yang bisa di bilang memiliki tubuh ideal selayak nya lelaki itu masuk ke dalam kamar tempat ayah ku berada



"Aku antar kamu pulang ya Ya" Kata Riko menawarkan jasa.


"Terima kasih, tapi kami bisa pulang sendiri" Jawab ku sungkan.


"Gak apa-apa, aku tidak merasa direpotkan" Jawab nya lagi sedikit memaksa.


"Tapi......" Kata ku menggantung berpikir mencari alasan menolak dengan halus agar Riko tidak tersinggung.


"Tidak baik menolak niat baik orang Ya" Santi menempeli. Tentu saja dia senang ketika mendengar Riko ingin mengantar kami pulang kembali tempat yang selalu menantikan kepulangan kami yaitu kos kami. Dimana dengan begitu dia bisa begitu mudah dan leluasa mendekati dan mencari perhatian sang pujaan hati nya.


Aku melotot mata ku ke arah santi sambil mengigit bibir bawah ku mengartikan bahwa aku tidak setuju akan keputusan nya itu. Namun, Santi memberi respon bibirnya komat- kamit seperti dukun yang membaca mantra agar aku setuju menuruti keinginan nya. Jelas saja itu membuatku sedikit jengkel. Ada perasaan tidak enak hati yang ku rasakan saat ini.

__ADS_1


Bagaimana tidak, baru beberapa hari kenal dengan doktor yang bernama Riko itu sudah berani-berani nya meminta dia untuk mengantar pulang. Meski dia yang menawarkan jasa, tapi bagi ku tetap saja tidak seharunya begitu.


Lagi-lagi aku melotot kan mata ku menggeleng pelang kepala ku. Namun Santi menyatukan kedua telapak tangan nya memohon untuk aku menuruti keinginan nya.


Aku memutar kedua bola mata ku sambil menghela nafas malas sambil tersenyum memaksa dan mengangkat kedua bahu ku mengartikan "Terserah".


Santi tersenyum senang melihat reaksi ku begitu. Dia memajukan kedua bibir nya seolah-olah mencium ku dari jauh tanda terima kasih atas persetujuan ku itu.


Ibuku sempat bengong melihat peringai ku dan Santi. Mungkin dalam hati nya bertanya-tanya kenapa aku dan Santi seperti itu. Melihat itu, aku tersenyum kepada ibu ku di ikuti Santi. Sedangkan Riko sibuk kembali denyut nadi ayahku.


"Mari pak, buk, ayah antar pulang" Katanya lagi.


"Tidak, waktu kerja ku sudah habis. Sekarang waktunya aku pulang.. Biar kalian sekalian aku antar pulang." Katanya lagi menenteng tas tempat baju-baju ayah ku lalu berlalu memegang lengan ayah ku untuk berjalan.


Santi bertepuk tangan pelan sambil tersenyum senang melihat hal itu. Aku menjeling mata ku kepadanya

__ADS_1


"Seperti anak kecil saja" Bisik ku jutek melangkah mengikuti ketiga orang yang telah duluan melangkah keluar.


"Biarin" Santi menjawab dan menjulurkan lidah nya.


***


"Ya, kemaren kamu bilang Riko ada memberikan mu kartu nama nya. Boleh aku minta?" Santi datang dari arah dapur membawakan ku secangkir teh.


"Ada"


"Mana?"


"Cari saja di dalam tas kerja ku" Jawab ku.


"Oke, terima kasih ya. Itu teh hangat untuk mu"

__ADS_1


Dari situ lah awal kedekatan aku dan Riko. Dan usaha Santi untuk mendekati Riko.


Santi selalu perhatian kepada pemuda itu Terkadang saat makan siang, dia selalu mengantarkan makanan untuk Riko. Namun entah mengapa Riko bersikap acuh tak acuh kepadanya. Dia melayani nya selayaknya seorang teman dan lebih memperhatikan ku dengan istimewa membuat Santi cemburu. Sudah lima tahun Santi menunggu perasaannya terbalas. Di sini lah cerita aku bertemu dengan nya berasal. Orang yang akan menjadi imam dalam hidup ku. Menjalani mahligai pernikahan atas dasar keterpaksaan.


__ADS_2