
"Rea, masak apa nak?" Ujar Rina melihat ku sibuk di dapur.
"Oh, ini ma buatin bubur untuk Arga" Jawab ku terus mengaduk bubur yang ku masak tadi.
"Bubur?" Ulang Rina merasa heran.
"Iya ma, tadi malam Arga demam" Jawab ku.
"Demam? Sekarang apa dia sudah sembuh?" Tanya Rina tampak cemas.
"Sudah kok ma, alhamdulillah dia sudah membaik pagi ini" Jawab ku sambil tersenyum.
"Syukurlah, alhamdulillah ada kamu ya Rea. Jika enggak, mama gak tahu deh gimana jadi nya Arga tadi malam"
"Ya ma" Jawab ku, sejujurnya hati ini merasa sedih karena aku berharap Arga memikirkan apa yang mama mertua kan pikirkan. Pasti aku akan merasa bahagia jika Arga mengatakan hal yang sama kepada ku.
"Ya ampun. Apa-apaan sih aku ini. Sadar Rea, jangan terlalu berharap. Tidak mungkin kamu bisa memeluk gunung sedangkan tangan mu tak sampai" Batin ku.
***
"Ini bubur nya, silahkan dimakan" Ujar ku tanpa harus menatap mata tajam nya Arga.
Arga duduk di tempat tidur nya. Dia mengambil bubur tersebut dan memakan nya.
"Enak" Ujar nya.
Aku melukiskan sedikit senyuman di bibirku mendengar komentar dari Arga tentang bubur yang ku buat.
"Ternyata kamu pinter masak juga ya" Tambah nya lagi.
"Terima kasih atas pujian nya" Ucap ku datar.
Ketika aku ingin baperan dan bersikap seperti biasa saja dengan Arga, seperti beberapa hari yang lalu. Ucapan Arga yang mengatakan aku adalah wanita yang mempunyai maksud tertentu untuk menikah dengan nya kembali terngiang di telinga ku.
Hati ini kembali perih. Seketika perdebatan antara Arga dan papa nya kembali bermain di depan mataku seperti ada layar lebar yang memutarkan adegan demi adegan itu.
Kembali aku mengurung niat untuk bersikap terbuka untuk Arga. Ku tunduk kan wajah ku kembali kepadanya.
"Rea, kamu kenapa sih masih memakai jilbab saat di rumah? Tidur juga masih memakai jilbab. Apa gak gerah atau risih gitu? Lagian, kamu jan sudah menjadi istri ku. Santai aja membuka jilbab mu kepada ku" Ujar nya lagi.
"Maaf, aku bukan nya aku sok alim atau bagaimana. Kamu belum bisa menerima ku untuk menjadi istri mu. Kamu hanya menganggap pernikahan ini hanya untuk menutupi status ku saja. Jadi aku gak bisa membuka jilbab ku di depan mu. Meski kita menikah sah secara agama dan hukum, tetap saja kamu hanya menganggap pernikahan ini sebuah keterpaksaan. Jika nanti kamu sudah bisa menerima ku seutuh nya, mungkin aku baru bisa membuka jilbab ku untuk mu" Ujar ku.
Arga hanya mengangguk mengerti. Ia hanya mengangkat bahu nya sebagai respon. Seperti nya dia tidak peduli dengan ucapan ku barusan. Padahal, aku mengatakan itu sebagai ungkapan hati dan harapan di hati agar dia bisa membuka hati nya untuk ku.
Aku menunggu Arga selesai memakan bubur nya. Setelah ku pastikan ia selesai menghabiskan bubur nya, aku memberikan kembali obat demam untuk nya.
"Hari ini kamu jangan ke kantor dulu ya. Kamu istirahat saja di rumah. Besok, kalau sudah memang benar-benar sehat, baru kamu ke kantor" Ujar ku memberi saran.
Arga mengangguk mendengarkan ucapan ku. Setelah selesai meminum obat nya, Arga kembali berbaring untuk beristirahat.
Aku meninggalkan Arga untuk beristirahat.
Arga mengambil ponsel nya yang berada di atas nakas samping tempat tidur nya.
"Sandra kemana sih? Dari kemaren gak ada kabar nya. Masa iya sudah jam segini belum nyampe di paris" Ujar nya mengotak atik ponselnya.
"Kemaren katanya dia berangkat dari Pekanbaru pukul sembilan lagi. Sampai di Jakartanya pukul 11 siang. Dan katanya pesawat nya berangkat dari Jakarta ke Paris pukul satu siang, harus nya jam 4 pagi ini dia sudah sampai. Ini sudah pukul. 8 pagi, apa Sandra capek ya dan langsung beristirahat karena perjalanannya lama" Ujar nya lagi.
"Tapi kan bisa saja dia mengetik pesan mengatakan kalau dia baik-baik saja. Bukan kah mengetik pesan tidak lama ya. Jadi kan aku tidak khawatir seperti ini" Batin nya lagi.
"Ah sudah lah, lebih baik aku beristirahat. Semoga saja nanti siang dia bisa di hubungi"
***
"Assalamualaikum buk" Ujar ku saat ibu menghubungi ku siang ini.
"Waalaikumsalam nak. Apa. Kabar mu?"
"Alhamdulillah aku baik kok buk. Ibu sama ayah gimana kabar nya?"
"Sehat juga nak"
"Hmm...." Ujar Ibu tampak berpikir.
"Nak, bagaimana dengan Arga? Apa dia masih bersikap dingin dengan mu?"
Deg...
Jujur saja ketika ibu bertanya seperti itu, ingin aku ceritakan apa yang Arga katakan kepada ku. Perkataan yang sampai saat ini belum bisa ku lupakan. Perkataan yang membuat hati ini terasa perih.
__ADS_1
Ketika aku mengingat kembali ungkapan demi ungkapan yang menyakiti itu, spontan semua sikap dan perkataan Arga yang dia katakan sebelum kami menikah terngiang kembali di ingatan ku.
"Dia adalah wanita yang paling baik" Ujar nya saat itu memuji Sandra.
"Rea dan Sandra seperti langit dan bumi beda jauh. Aku hanya pantas bersanding dengan Sandra yang penampilan nya modis, terkini, berbeda dengan Rea yang bisa di lihat sendiri bagaimana penampilan nya"
"Rea menikahi ku karena dia mempunyai maksud tertentu untuk mendekati ku" Ujar nya lagi.
"Rea, kenapa kamu diam? Ada malasah?" Tanya Ibu terdengar cemas.
"Gak kok buk, aku hanya kangen sama ibu dan ayah" Ujar ku berbohong.
"Buk, ibu dan ayah jaga kesehatan ya di sana. Maafin Rea ya bu aku sudah mengecewakan ibu dan ayah" Ujar ku beberapa air bening kini mengalir di pipiku. Itu lah aku, jika sudah ngobrol bersama ibu, pasti bawaan nya sedih. Apa lagi jauh seperti ini. Mungkin jika Arga adalah suami yang mencintai ku, aku tidak merasa sesedih ini.
***
"Hallo" Ujar Sandra saat ponsel nya berdering.
"Sayang, kamu kemana saja sih? Sudah pukul satu siang kamu baru bisa aku hubungin" Ujar Arga ngerocos.
"Maaf sayang, ponsel ku mati habis batere nya. Sesampainya di Paris, aku langsung ke hotel dan beristirahat. Ponsel ku, aku cas lupa di aktifkan kembali" Ujar Sandra.
"Maaf ya sayang. Jangan marah ya" Tambah nya lagi.
"Ya sudah, gak apa-apa sayang. Aku hanya khawatir sama kamu. Maka nya aku secemas ini. Soal nya kamu jauh di sana. Gak ada yang jagain" Ujar Arga.
"Kamu tenang aja, aku bisa kok jagain diri ku di sini"
"Oh ya sayang, aku tutup dulu ya ponsel nya. Aku mau keluar sebentar cari makanan"
"Oke, kamu hati-hati ya di sana. Ingat jaga mata dan hati mu ya untuk ku"
"Iya Arga sayang. Hati dan mata ini selalu untuk mu" Sandra menutup ponsel nya.
***
"Rea, malam ini kamu sibuk?" Tanya Arga kepada ku saat aku sibuk membereskan kamar kami.
"Gak, kenapa?" Jawan ku terus mengerjakan pekerjaan ku.
"Gimana kita pergi dinner malam ini"
"Iya dinner. Bahasa indonesia nya makan malam jika kamu tidak paham arti dinner" Ujar Arga yang sedari tadi hanya duduk di tempat tidur nya dan memperhatikan pekerjaan ku.
"Ya aku ngerti emang aku sebodoh itu apa" Batin ku.
"Maksud ku kenapa? Tumben" Ujar ku
"Ya aku mau ngajak kamu makan malam karena sebagai ungkapan terima kasih aku ke kamu. Kamu telah merawat ku tadi malam saat aku demam" Jelas nya.
"Oke" Jawab ku.
***
"Ma, pa, malam. ini kami mau makan malam berdua ya di luar" Ujar Arga saat kami sudah siap untuk pergi makan malam.
"Makan malam?" Tanya Rina tampak kaget.
"Iya, makan malam" Ulang Arga.
Rina dan Rudi saling pandang seakan tidak percaya atas apa yang mereka dengar barusan.
"Kenapa ma, pa?" Tanya Arga tampak heran melihat wajah kedua orang tua nya penuh dengan kebingungan.
"Kami gak boleh keluar ya" tanya nya lagi.
"Enggak, enggak bukan begitu. Ya sudah kalau begitu Kalian pergi saja makan di luar ya have fun ya" Ujar Rina.
Kami pun pergi meninggalkan kedua manusia paruh baya yang berlainan jenis kelamin itu.
Rina tersenyum senang melihat kami pergi.
"Ya Allah pa, seperti nya Arga sudah mulai membuka hati untuk Rea. Terbukti dia mau mengajak Rea makan malam di luar" Ujar Rina senang.
"Iya ma, semoga saja mereka semakin dekat ya ma" Balas Rudi.
***
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Arga saat kami sudah berada di sebuah restoran yang cukup terkenal di kota itu.
__ADS_1
Aku melihat buku menu yang diberikan oleh para pelayan restoran itu.
"Spaghetti aja dan air putih" Ujar ku.
"Baik, mbak spaghettinya 2 Jus apelnya 1 dan air putih 1 terima kasih." Ujar Arga kepada pelayan tadi.
"Baik, tunggu sebentar ya pak" Ujar pelayan itu kepada kami.
"Hallo sayang" Ujar Arga saat ponsel nya berdering.
"Kenapa sayang? Kamu jangan ngambek gitu dong" Ujar Arga.
"Tadi aku lagi di jalan, gak ke dengeran ponsel ku berbunyi" Arga memberi alasan.
"Udah dong sayang Jangan ngambek seperti itu aku jadi nggak tenang kalau kamu ngambek seperti itu"
"Iya iya aku minta maaf Udah ya kita baikan Jangan ngambek lagi"
"Sekarang Kamu sudah makan apa belum?"
"Kenapa kamu belum makan ayo makan ini mumpung aku juga lagi makan Ayo kita makan sama-sama"
"Iya iya sebagai gantinya aku temenin kamu makan. Jadi kita makannya sama-sama cuma beda tempat oke sayang. Atau kita video call aja biar melepas rindu. Ya walaupun hanya melewati via video call tapi akan bisa mengobati sedikit kerinduan aku ke kamu" Saran Arga
"Sebentar aku alihkan ke video call dulu ya" Arga mengalihkan panggilannya ke Vidio call.
"Halo Sayang Cantik banget sih kamu malam ini" Ujar nya saat Sandra sudah mengangkat vidio call nya.
"Jadi,i cuma malam ini nih aku cantiknya. Malam-malam biasanya aku nggak cantik gitu?" Ujar Sandra saat mereka melakukan video call.
"Ya nggaklah sayang. Kamu itu memang selalu cantik dan akan tetap cantik untuk selamanya. Cuman malam ini kamu tampak cantik double double cantiknya" Puji Arga kepada Sandra
Sejujurnya hati ini merasa sakit saat mereka melakukan video call bersama seperti itu. Aku merasa aku seperti obat nyamuk yang tidak dianggap yang menemani mereka saat bercinta seperti ini.
Aku terus menerus menyodorkan sesuap demi sesuap spaghetti ke dalam mulutku dengan hati yang perih mendapati suamiku orang yang aku cintai sedang asik-asik kan bervideo call dengan wanita lain.
"Jika kamu ingin mengumbar kemesraanmu kepada Sandra, lebih baik kamu jangan mengajakku untuk makan malam seperti ini. Meskipun aku tahu kamu sangat mencintai Sandra dan menganggapku hanyalah orang ketiga. Tapi kamu juga tidak seharusnya berbuat hal ini kepadaku. Andai kamu tahu perasaanku, apakah kamu akan membalas atau bahkan mencampakkan perasaan ini menganggapnya seperti sampah yang tidak berguna?" Batin ku.
"Sayang kamu masih lama ya di sana? Aku kangen beratnya sama kamu" Ujar Arga.
"Sayang aku kan di sini Baru juga dua hari ya masih lama lah aku di sini kan kamu tahu sendiri aku di sini selama sebulan Nah kamu yang sabar ya menungguku pulang sejujurnya aku juga kangen loh sama kamu tapi aku kan melakukan ini untuk masa depan kita juga sayang nanti ketika para pelayan mau bertanya kerjaan istrimu apa kamu akan bangga menjawab Istriku adalah seorang desainer terkenal" Ujar Sandra.
"Berbeda jauh kan dengan istri kamu yang sekarang. Jika para klien mu akan bertanya apa pekerjaan istrimu kamu? Pasti bingung kan mau jawab apa. Dan tidak ada yang bisa kamu banggakan dari gadis kampungan itu kan?" Sindir Sandra kepada ku.
"Iya kamu bener sayang memang kamu adalah wanita yang cocok untuk menjadi istriku" Ujar Arga tersenyum bangga mempunyai wanita sehebat Sandra.
Deg...
Aku menatap Arga yang berada di depan ku. Kembali hati ini terasa teriris saat ia seolah-olah menghinaku di depan wanita yang ia cintai. Meskipun aku selalu mendapat cemoohan dan hinaan darinya namun tetap saja hati ini masih terasa perih saat mendengar kata-kata yang tidak enak didengar itu yang keluar dari mulutnya Arga.
bisa kulihat raut wajah Arga begitu lagi sumringah saat berbicara seperti itu tentangku kepada Sandra. aku menundukan kepala merenungi tiap kata demi kata yang menyakitkan hati. Tak terasa beberapa air bening mengalir di pipiku. Meski aku berusaha untuk menahan agar aku tidak mengeluarkan air mata di depan Arga. Aku tidak mau Arga berpikir aku adalah wanita yang lemah yang bisa ditindas oleh mereka berdua. namun tetap saja hati ini bukanlah batu yang bisa tahan banting saat dihina dan cemoohan seperti itu oleh orang yang aku cintai.
"Oh ya sayang dimana sih?" tanya Sandra kepada Arga.
"Di luar sayang. Bosen di rumah jadi aku putuskan untuk makan malam nya di luar" Jawan Arga.
"Sendirian?" Tanya Sandra.
"Ya iyalah sayang sendirian sama siapa lagi kalau aku keluar jika tidak bersama kamu" Jawab Arga.
"Pasti kamu di rumah merasa bosan ya sama istri kamu. Makanya kamu makan di luar seperti ini dan aku minta maaf ya sayang aku nggak bisa nemenin kamu di sana"
"Iya Nggak apa-apa kok Sayang santai aja aku memang lagi suntuk di rumah. makanya aku keluar untuk mencari udara segar" Jawab Arga.
Deg....
Seketika hati ini terasa seperti disambar petir di siang bolong mendengar ucapan Arga yang tidak mau mengakui bahwa saat ini ia bersamaku di depan Sandra.
Bahkan ia mengatakan bahwa ia benar bosan dengan keberadaanku di rumah padahal kenyataannya dia yang mengajakku keluar untuk makan malam bersamanya atas ucapan terima kasih kepadaku karena aku telah merawatnya saat dia sakit demam tadi malam.
Kembali aku menatap dengan rasa pedih di hati dan kembali beberapa air bening mengalir di pipiku. Entah yang demi untaian kata yang menyakitkan hati. Kini terucap lagi oleh Arga di hadapanku.
"Ya Allah, bisa-bisa nya ia mengatakan itu kepada Sandra. Jika aku tahu makan malam ini hanya untuk menyakiti hatiku lebih baik aku menolak nya" Batin ku.
"Apa sih kalau aku sama kamu Ga? Sampai kamu tidak melakukan semua ini kepadaku" Batin ku lagi.
Dengan cepat aku menghapus air mata mengalir di pipiku.
"Ya Allah, sabar kan hati ini. Kuat kan diri ini" Doa ku dalam hati.
__ADS_1